Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 64 Kecupan Pangeran


__ADS_3

Maret di tahun 2011, tiga bulan lagi ujian kenaikan kelas akan di laksanakan tapi kali ini Ratna cukup percaya diri. Ia belajar dengan tekun meski sambil bekerja paruh waktu, segala kondisi dalam hidupnya kini dalam keadaan baik entah itu masalah pertemanan, keluarga atau asmaranya.


Amus memberikan banyak perhatian kecil yang tidak biasa dan ia senang akan hal itu, hari ini mereka membuat janji akan menonton film bersama dengan yang lain.


Jimy, Rere, Amus dan Ratna sudah tiba di lokasi sejak lima belas menit yang lalu. Mereka masih berdiri di luar menunggu Ardi yang belum juga tiba, setelah sekian lama akhirnya ia datang dengan seorang gadis yang baru mereka lihat.


"Lihatlah bagaimana kelinci putih bisa mendapatkan gadis cantik dengan mudah" bisik Jimy.


"Berkacalah maka kau akan lihat dimana letak perbedaannya" jawab Ratna.


"Hai teman-teman, maaf kami terlambat" ujar Ardi.


"Tidak apa, aku sudah tahu alasan di balik keterlambatan mu" ucap Ratna menatap gadis yang di gandeng Ardi.


Meski ini hanya nonton biasa tapi baik Jimy maupun Ratna memiliki pasangan sendiri, tentu akan menyebalkan bagi Ardi jika dia harus datang sendiri. Beruntung beberapa hari yang lalu ada gadis yang menyatakan cintanya, meski awalnya Ardi menolak tapi ia tetap mengajaknya pergi sebagai teman.


"Lima menit lagi filmnya akan di mulai, sebaiknya kita masuk sekarang" ajak Jimy.


"Eh tunggu, kita belum membeli popcorn" tukas Ratna.


"Aish..... kenapa kau tidak bilang dari tadi jika ingin popcorn, baiklah kalian masuk duluan biar aku yang membelinya" ujar Amus.


"Terimakasih... kau sangat baik" kata Ratna seraya tersenyum.


Mereka pun segera masuk dan duduk di kursi seusai dengan nomor yang tertera di tiket, tak lama kemudian Amus muncul dengan popcorn di tangannya. Ia duduk tepat di samping kanan Ratna sedang Ardi duduk tepat di samping kirinya.


Meski film yang mereka tonton cukup bagus tapi mata Ardi selalu saja menengok ke sisi kanan Ratna dimana Amus dan Ratna menikmati popcorn berdua, hal sederhana yang membuat Ardi termakan api cemburu.


Satu jam lebih berlalu, film sudah selesai dan mereka melanjutkan perjalanan ke tepi danau untuk menikmati angin maret yang cukup sejuk.


"Hei mau naik perahu? aku yakin rasanya pasti menyenangkan" tawar Rere.


"Aku mau!" teriak Ratna bersemangat.


Mereka menyewa satu perahu kecil yang hanya muat empat orang, Ardi dengan sengaja bilang tidak perlu ikut sehingga hanya pasangan Jimy dan Ratna yang naik.


Ia duduk ditepian danau menatap keceriaan Ratna yang tak bisa diam, ada senyum tipis saat menatap gadis yang disukainya bahagia dengan orang lain meski belum ada status.


"Apakah.... dia alasan di balik penolakan mu?" tanya teman Ardi yang sejak tadi banyak diam dengan memperhatikan semuanya.


"Mm"


"Kau... suka gadis yang ceria seperti dia ya?"


"Tidak juga, aku hanya menyukainya tanpa tahu alasan pasti. Mungkin karena kami terbiasa bersama sejak kecil, atau mungkin karena dia tidak pernah menganggap ku sebagi pria"


"Tapi.... apa kau melihat senyumnya untuk orang lain?"


"Aku sudah menyadarinya belum lama ini, tapi meski begitu aku masih ingin mencoba"


"Begitu rupanya, kau masih punya kesempatan ya? padahal aku pikir kau akan menerimaku sebab sebelumnya aku sudah banyak mendengar tentangmu, tak ku kira ternyata kini kau sudah jatuh cinta" ujar gadis itu menatap Ratna dengan seksama.


Sedang dalam perahu Ratna masih tidak bisa diam dengan bermain air, kadang perahu menjadi goyang sampai membuat yang lain panik.


"Diam! bagaimana jika perahunya terbalik?" teriak Amus.


"Maaf, tapi kan kalian bisa berenang"


"Bukan masalah bisa berenang atau tidak, jika sampai perahu terbalik bisa-bisa kita jatuh dan terperangkap di bawah perahu" jelas Jimy.


"Baiklah.... eh ada ikan!" teriak Ratna tiba-tiba sambil menunjuk.


Eh


Byurr.......


"Ratna.... " teriak Rere panik.


Pijakan Ratna tidaklah tepat saat ia akan duduk lebih dekat ke tepian, hal itu mengakibatkan perahu bergoyang dan membuatnya jatuh seketika.


Ratna bisa berenang tapi dalam danau yang tanpa arus kakinya tiba-tiba keram sehingga tidak dapat di gerakkan, ia menatap permukaan air yang makin lama makin gelap saat tubuhnya semakin tenggelam.


Suara-suara yang memanggilnya pun semakin kecil hingga tak bisa ia dengar, tangannya terulur mencoba menggapai siapa saja sebab meski ia membuka mulut untuk meminta tolong tapi suaranya tidak keluar. Perlahan dadanya mulai sesak karena terlalu banyak menelan air, dalam kondisi yang semakin lemah matanya perlahan menutup namun samar-samar dilihatnya seseorang yang berusaha berenang ke arahnya. Ia melihat sosok pangeran yang kemudian berhasil meraih tangannya, menariknya hingga berhasil mendekapnya.

__ADS_1


Antara sadar dan tidak ia merasakan satu kecupan yang memberinya hidup, lalu suara-suara mulai memanggilnya. Semakin lama semakin jelas dan kencang, ia membuka mata dan seketika memuntahkan air yang sempat ia telan.


Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk


"Kau baik-baik saja?" tanya Ardi.


Ratna mengangguk sebagai jawaban sebab tenggorokannya masih terasa sakit.


"Sudah ku bilang kan untuk diam! ah... kau benar-benar ceroboh" hardik Amus.


"Maaf... " ujar Ratna pelan setelah mampu bernafas dengan lebih baik.


Masih dalam ketakutan samar ingatannya mencoba mencaritahu siapa yang telah menyelamatkannya dan memberikan kecupan itu, tapi saat ia mengangkat wajah pakaian Amus dan Ardi sama-sama basah. Dari nafas mereka pun ia bisa tahu bahwa keduanya sudah berusaha menyelamatkannya, antara Amus dan Ardi ia tak tahu siapa pangeran yang ia lihat.


"Sudahlah yang penting kalian semua selamat" ujar Jimy.


Ia segera melepaskan jaketnya dan memberikannya kepada Ratna agar ia tidak kedinginan.


"Sebaiknya kita pulang saja, kau harus segera mengganti baju mu sebelum masuk angin" saran Jimy.


"Baiklah... ayo pulang" ajak Amus.


Ratna tetap diam selain karena ia masih syok benaknya juga kepikiran sosok pria yang telah menyelamatkannya, perasaan tenang saat tangan itu berhasil menariknya lalu kecupan yang membuatnya seakan di beri kehidupan.


Ia berharap itu adalah Amus tapi entah mengapa ia tak yakin sebab pakaian Ardi juga basah, mengingat bagaimana dia selalu menjaganya bisa saja Ardi yang telah menolongnya.


"Bagaimana kabarmu? aku benar-benar khawatir sampai tidak bisa tidur" tanya Rere saat mereka di sekolah.


"Aku sudah baik, kau tidak perlu khawatir" jawab Ratna.


"Syukurlah kalau begitu"


"Um.... Re, saat aku terjatuh siapa yang telah menolong ku?" tanya Ratna teringat Rere adalah saksi hidup yang melihat kejadian itu.


"Oh itu Ardi dan Amus, mereka langsung berenang untuk menyelamatkan mu"


"Apa? keduanya menyelamatkan ku?" tanya Ratna tak percaya.


Tentu saja karena yang ia ingat hanya ada satu sosok yang menarik tangannya dan memberikan kecupan.


"Tentu saja bisa, mereka memegang mu di kiri dan kanan. Memangnya kenapa?" tanya Rere penasaran.


"Ah tidak apa-apa" jawab Ratna cepat.


Seperti biasa jawaban itu tidak membuat Rere diam, sebaliknya Rere terus memaksa Ratna agar mau bicara. Jika tetap tidak mau bicara maka Rere akan memancingnya dengan pertanyaan menjebak.


"Amus itu... adalah pria yang kau sukai kan?" tanya Ratna.


"Apa maksud mu?" balas Ratna dengan wajah yang mulai memerah.


"Kalian sebenarnya pasangan yang cocok, kata orang pasangan yang sering berantem justru yang paling setia dan tulus. Ku perhatikan dia juga sepertinya menaruh hati padamu"


"Jangan asal bicara, dari mana kau tahu dia punya perasaan padaku?"


"Ratna... saat seorang pria sedang jatuh cinta maka dia akan bersikap kekanak-kanakan, terkadang dia melakukan hal konyol atau sesuatu yang membuat kita jengkel. Tapi itu semua demi perhatianmu padanya, lagi pula kalian berteman sejak kecil mana mungkin tidak ada perasaan"


"Wah... hebat sekali motivator memberiku nasihat" olok Ratna.


"Aish.... kenapa kau tidak percaya padaku?"


"Karena dia pernah menjodohkanku dengan teman satu tongkrongannya, jika dia memang menyukai ku pasti dia tidak akan melakukan itu"


"Dia pernah melakukan itu?" tanya Rere menegaskan.


Akhirnya Ratna mengungkap juga kisah pacar pertamanya itu, alasan mengapa sampai saat ini meski Amus nampak baik dan seperti menaruh hati tapi ia tidak berani berfikir seperti itu.


Rere pun cukup kaget mengetahui kisah Ratna dengan Jaya, tapi hatinya tetap mengatakan bahwa Amus memang mencintai Ratna. Hingga sampai saat ini Rere tidak pernah salah pada firasatnya, itulah yang membuatnya yakin.


"Mungkin saat itu dia belum menyadari pada perasaannya sendiri, saat kau telah putus dia baru sadar bahwa dia juga mencintaimu" ujar Rere menduga.


"Entahlah, kadang aku merasa hubungan diantara kami seperti permainan layangan. Dia menerbangkan ku dengan cukup tinggi hingga ke langit yang biru, satu waktu angin kencang seolah akan menarik ku darinya dan ia berusaha dengan keras agar tali itu tidak putus. Tapi beberapa saat kemudian ia menambah panjang benang hingga aku benar-benar jauh darinya, selalu seperti itu. Jujur aku sudah lelah dengan permainan tarik ulur ini " jawab Ratna yang tanpa sengaja mengatakan isi hatinya.


Rere cukup mengerti perasaan Ratna, sebagai sesama wanita masalah hati memang cukup rumit untuk di pikirkan sendiri.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak mencoba cari tahu bagaimana perasaannya terhadap mu?"


"Bagaimana caranya? aku tidak ingin menyatakan perasaan begitu saja"


"Tidak perlu, kau cukup memberinya hadiah. Jika dia memakai hadiah yang kau berikan itu artinya dia menyukai mu meski dia hanya memakai sekali, tapi jika dia tidak memakainya artinya selama ini kalian memang hanya sebatas sahabat" ujar Rere memberi saran.


Ratna termenung, tiba-tiba ia teringat sebentar lagi Amus akan ulangtahun. Saran dari Rere patut untuk di coba, jika dia memberi hadiah di hari yang spesial tentu tidak akan mengundang kecurigaan.


* * *


Hhhhhhhhaaaaaaaacccciiiiihhhh


"Kau kena flu?" tanya Ardi.


"Entahlah, tapi hidungku terasa gatal" jawab Amus sambil menggosok hidungnya.


"Sebaiknya kau minum obat sebelum sakit ku menjadi parah"


"Aku tahu" ujar Amus.


Ia bangkit dari kursinya dan mencari obat di laci, sudah sejam mereka di rumah Jimy hanya untuk bermain PS tanpa tuan rumah. Padahal Jimy berkata hanya akan pergi membeli cemilan tapi ia tak kunjung kembali.


"Wah... dia menyimpannya di sini" ujar Amus tiba-tiba.


"Apa?" tanya Ardi penasaran.


Amus pun mengeluarkan sebuah album foto yang tak sengaja ia temukan, itu merupakan album foto masa kecilnya. Terdapat juga beberapa foto mereka dan Ratna di sana, salah satunya foto saat mereka pergi sekolah untuk yang pertama kalinya.


"Astaga si dolar terlihat sangat manis di sini, aku tidak menyangka sekarang dia berubah jadi gadis yang menyebalkan" ujar Amus menatap foto itu.


"Tapi aku menyukainya" ucap Ardi tiba-tiba.


"Apa?" tanya Amus seolah ia tak mendengar.


"Meski dia tidak secantik gadis lain, meski dia selalu ceroboh, meski dia bodoh, meski dia hanya suka makanan dan uang aku tetap menyukainya. Rasa suka sebagai pria kepada wanita, aku mencintainya" jawab Ardi menegaskan.


Sejenak mereka terdiam, saling menatap sampai Amus sadar bahwa Ardi serius pada ucapannya. Ia pun teringat pada beberapa momen dimana Ardi dan Ratna selalu bersama, ia pun cukup peka hingga bisa merasakan bahwa perasaan itu nyata.


"Begitu ya" jawab Amus mencoba tersenyum.


"Apakah... kau akan mendukung kami sebagai seorang teman?" tanya Ardi.


"Tidak! aku..... akan mendukung mu sebagai seorang saudara"


"Terimakasih" ucap Ardi segera memeluk Amus.


Hampir jatuh air mata membasahi punggung Ardi, tapi ia harus kuat dan terus tersenyum. Ini bukan yang pertama kalinya, ia pernah melewati ini dan sudah terbiasa untuk kembali pada kenyataannya yang memilukan.


Jika pada orang lain mungkin kali ini ia akan menolak, tapi tidak jika itu Ardi atau Jimy. Sebab mereka bukan hanya teman tapi saudara yang selalu ada di saat dia sendirian, hanya hatinya yang terluka dan itu bukanlah masalah.


Bruk


Ardi dan Amus melepaskan pelukan mereka saat tiba-tiba Jimy menatap mereka berdua dengan tatapan Syok, bahkan cemilan yang sudah ia beli jatuh tanpa terasa.


"Kalian.... ... " ujar Jimy tak kuasa mengatakan kalimat yang ia benci.


"Kau kenapa?" tanya Ardi.


Pikiran Jimy semakin negatif saat tangan kedua orang itu masih saling berpegangan, ia hanya bisa mengisyaratkan dengan tangan untuk mempertanyakan hubungan diantara mereka yang terlarang.


"Sial! kami tidak seperti itu! kau salah paham!" teriak Amus yang segera berdiri dan menjauh dari Ardi.


"Bagaimana mungkin hal itu terjadi dasar bodoh! kau terlalu banyak menonton film biru" sambut Ardi.


"Lalu.... adakah alasan logis yang membuat kalian..... " Jimy melanjutkan ucapannya dengan isyarat pelukan.


"I-itu.... hanya pelukan seorang sahabat, seperti ini!" jawab Ardi yang segera memperagakannya kepada Jimy.


Huft hahahahahaha hahaha


"Aku mengerti, aku mengerti, aku hanya bercanda" ucap Jimy sambil mengambil cemilan yang ia jatuhkan.


"Sialan, itu tidak lucu" hardik Amus.

__ADS_1


Hahaha


Jimy kembali tertawa di ikuti gelengan kepala dari Ardi, mereka meneruskan permainan sedang Amus larut dalam benaknya sendiri.


__ADS_2