Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 13 Trauma seorang ayah


__ADS_3

"Gemericik air yang semakin deras itu memang mampu menyematkan kehampaan menjadi kecemasan, penyesalan ku yang hanyut andai sampai ke parit dan sungai dalam kehidupan mu mungkin saat ini aku bisa mengucapkan kata 'Selamat malam' tepat di telingamu dan 'Selamat pagi' tepat saat kau membuka mata. Tapi tidak! apa bedanya kau ada atau pun tidak, duniaku tetaplah kejam dengan permainan yang bermain dalam takdirku."


Di kutip dari arsip pribadi Ratna Mangalih.


* * *


Surya tiba cukup cepat saat mata Ratna masih rapat, tubuhnya enggan melepaskan tempat tidur yang hangat sebab udara di luar masih dingin. Terlebih ketika ia sadar jika bangun maka ia harus berangkat ke sekolah, tempat dimana masalah membuat kepalanya pening.


'Kenapa... aku bisa berfikir Amus yang menulis surat itu? hanya karena aku menyukainya, bukan berarti dia juga menyukai ku' batinnya merasakan kehampaan di pagi hari.


Hhhhhhh


"Sudahlah, memang lebih baik kami berteman saja dengan begitu kami bisa terus bersama tanpa canggung. Jaya juga lumayan baik, aku harus bisa bersikap benar kepadanya" gumamnya sambil bangun dari tempat tidur yang nyaman.


"Oh, ayah mau kemana sepagi ini?" tanyanya saat melihat Sapardi sudah berpakaian rapi dan menyiapkan tas perabotannya.


"Pekerjaan di restoran keluarga Jimy belum selesai, jadi ayah mau segera pergi ke sana. Malam ini ayah akan pulang terlambat jadi sebaiknya kau makan dengan Jimy lagi" ujarnya.


"Um.. baiklah"


"Jangan lupa sarapan sebelum berangkat sekolah ya, ayah pergi dulu"


"Baiklah hati-hati di jalan" ujar Ratna menatap punggung ayahnya yang menghilang dari balik pintu.


Sejak kedatangannya ke rumah itu ia jarang sekali mengobrol dengan ayahnya, padahal ia ingat betul waktu kecil ayahnya begitu ceria dan selalu mengajaknya bermain bersama. Entah apa yang terjadi padanya sehingga berubah menjadi pria pendiam, bahkan di umurnya yang masih 40-an Sapardi terlihat sudah berumur setengah abad.


Hal ini cukup mengganggunya, bahkan lebih mengganggu dari masalah percintaannya sendiri. Akibatnya ia sering melamun dan tidak fokus pada pelajaran.


"Master, menurut mu apa yang terjadi pada ayahku?" tanya Ratna di jam kosong.


"Tentu saja frustasi, apa lagi?"


"Maksudmu?"


"Di tinggal mati oleh orang yang dicintai bukanlah hal yang mudah untuk dihadapi"


"Lalu apa yang harus aku lakukan?"


"Hibur dia, berikan sesuatu yang bisa membuatnya tersenyum kembali dan bersemangat" saran Jimy.


Ratna segera merenungkan ucapan Jimy, berfikir keras apa yang sebaiknya ia lakukan sampai kenangan masa kecilnya memberikan sebuah ide yang cukup bagus.


Teng Teng Teng


Jam istirahat akhirnya tiba juga, murid-murid berhamburan keluar kelas dengan perut yang kelaparan. Seperti biasa geng Ratna pergi ke kantin bersama dan memesan makanan favorit mereka, namun tak di sangka seseorang datang ikut bergabung.


"Tumben kau pergi ke kantin, biasanya kau selalu menyuruh anak buahmu kan?" ujar Ardi menatap heran.


"Se-sesekali aku juga ingin pergi ke kantin" jawab Jaya setengah gugup.


"Mau ku pesankan sesuatu?" tanya Ratna.


"Boleh, terimakasih" jawab Jaya cepat dengan gembira.

__ADS_1


Ratna segera pergi meninggalkan meja sedang yang lain masih menatap heran kepada Jaya, membuatnya semakin tertunduk malu dengan senyum yang tertahan.


"Aku sudah selesai, ayo pergi!" ajak Jimy setelah beberapa suapan cepat yang menghabiskan makanannya tanpa sisa.


"Siap! ayo Jay!" ajak Ardi.


"Kalian duluan saja, makanan ku belum habis"


"Baiklah kami pergi dulu."


Meski berat untuk bangkit Amus ikut berdiri dan mencoba tak menghiraukan niat Jaya yang sudah ketahuan olehnya, ia hanya bisa berharap Ratna tak menanggapinya meski itu harapan bodoh sebab ia tahu mereka telah menjalin hubungan.


"Um.... apa ayahmu baik-baik saja?" tanya Jaya saat mereka hanya tinggal berdua.


"Hah? oh ya, dia baik-baik saja... mungkin" jawab Ratna ragu sebab pagi tadi jelas Sapardi terlihat kelelahan.


"Sepertinya kau masih mengkhawatirkannya"


"Dia selalu bekerja keras tanpa memikirkan kesehatannya, bahkan malam ini dia juga akan pulang terlambat"


"Begitu ya, dia pasti ayah yang hebat di matamu"


"Bukan hanya hebat, dia adalah cinta pertama ku" ujar Ratna mengingat kerutan di wajah ayahnya saat ia tertawa.


Jaya tak bisa berkomentar lagi setelah mendengar ucapan itu, jelas memang karena ia paham posisi anak perempuan yang tak bisa jauh dari ayahnya.


"Maaf, aku mau kembali ke kelas" ujar Ratna yang merasakan tak enak pada hatinya.


"Um ya, baiklah" jawab Jaya.


"Hai" sapanya dengan wajah malu.


"Hai... juga" balas Ratna yang cukup canggung sebab di jam istirahat tadi mereka baru saja bertemu.


"Boleh aku mengantarmu pulang?" tanya Jaya.


"Oh aku... ada urusan jadi tidak langsung pulang ke rumah"


"Begitu ya.. " ujar Jaya jelas merasa kecewa.


"Maaf, aku pergi dulu" ucap Ratna yang segera berlalu.


Sejauh ini Jaya menunjukkan sikap perhatiannya, sangat normal bagi pasangan kekasih. Tapi entah mengapa Ratna merasa tak nyaman akan hal itu, ia bahkan tak mengerti mengapa Jaya seolah ingin bertemu dengannya terus padahal besok mereka bisa bertemu lagi.


Dengan terus di bayangi sikap Jaya tanpa terasa kini ia sudah sampai di apotik yang menjual obat herbal juga, ia membeli satu bungkus teh herbal dan minyak kelapa.


Cukup itu saja barang yang ia perlukan untuk saat ini, dengan wajah penuh senyum ia pun berjalan pulang ke rumah.


"Oi kau dari mana saja?" tanya Ardi yang duduk di luar rumahnya.


"Aku pergi membeli teh dan minyak kelapa dulu"


"Ku lihat tadi kau sempat bertemu dengan Jaya saat pulang sekolah, apa yang kalian bicarakan?" tanya Ardi penasaran.

__ADS_1


Memang saat bel berbunyi Ratna terlihat cepat berkemas dan berlari keluar kelas, tentu hal itu mengundang tanda tanya bagi ke tiga sahabatnya. Saat mereka keluar nampak Ratna dan Jaya tengah bicara setelah itu Ratna pergi duluan.


"Akhir-akhir ini aku lihat dia sering menjumpaimu, sebenarnya ada apa diantara kalian?" tanyanya lagi.


'Apanya yang akhir-akhir ini? dia baru mendekatiku hari ini saja' batin Ratna meluruskan ucapan itu.


"Bukan urusan mu" tukas Ratna sambil berlalu.


"Dasar gadis dollar, kau bahkan tidak punya pribadi yang baik" gumam Ardi menatap kepergian itu.


Sesuai perintah ayahnya Ratna makan malam di rumah Jimy lagi, kali ini tak hanya Ardi yang ikut tapi Amus juga ikut makan bersama. Sesuai dengan rutinitas mereka Jimy dan Ardi main PS setelah makan sedang Ratna memilih pulang untuk menunggu ayahnya.


Tepat pukul sebelas malam saat Ratna sudah tak kuasa menahan kantuk Sapardi pulang dan di sambut Ratna tepat di depan pintu.


"Kau belum tidur? ini sudah malam" ujar Sapardi kaget melihat putrinya masih terbangun.


"Aku sengaja menunggu ayah pulang, sini biar kubawakan tas ayah" jawabnya sambil mengambil tas di tangan Sapardi.


Tindakan kecil itu rupanya membuat Sapardi cukup terharu, badannya yang letih tiba-tiba bertenaga kembali. Tak hanya itu, setelah membersihkan diri Ratna sudah menyiapkan teh herbal untuknya dan ember berisi air hangat untuk merendam kaki.


"Ayah duduklah disini, rendam kaki ayah agar peredaran darah ayah menjadi lancar. Biar ku pijit juga bahu ayah" ujar Ratna.


"Kenapa kau repot-repot? kau tidak perlu melakukan ini semua" ucap Sapardi mencoba menutupi kegembiraan hatinya.


"Ayah membutuhkan semua ini, setelah bekerja keras tentu ini yang paling bagus untuk kesehatan. Sudahlah ayo duduk!" perintahnya.


Akhirnya Sapardi menurut, sambil sesekali menyeruput teh panasnya ia menikmati setiap pijatan yang di berikan Ratna pada bahunya.


"Aku menggunakan minyak kelapa, bukankah aromanya harum? dulu saat kecil aku pikir ibu membuat kue ternyata dia sedang memijit ayah" ujar Ratna bernostalgia.


"Hehe ayah ingat! kau bahkan merengek sambil mencari-cari kuenya"


"Ibu juga masih sering menggunakan minyak ini untuk memijit ku"


"Benarkah? ia memang menyukai aromanya."


Kedua benak ayah dan anak itu melambung tinggi pada kenangan masa-masa indah mereka, meski hidup hanya berkecukupan tapi Ratna tidak pernah kekurangan kasih sayang dan perhatian. Itulah mengapa ia sempat bingung mengapa orangtuanya bercerai sedang ia merasa baik-baik saja, kini ia cukup mengerti bahwa uang memang bisa menjadi alasan kebahagiaan seseorang.


"Na... maafkan ayah" ujar Sapardi tiba-tiba.


"Kenapa ayah minta maaf?"


"Ayah tidak bisa membahagiakanmu dan ibumu, setiap melihatmu membereskan rumah ini atau bahkan saat kau baru bangun tidur ayah teringat waktu dimana ibumu membawamu pergi. Ayah berjanji mulai sekarang ayah akan bekerja lebih keras lagi agar kau bahagia, ayah akan memenuhi semua kebutuhan mu."


Ratna menghentikan tangannya yang memijit, kini ia sudah tahu bahwa di balik sikap pendiam ayahnya rupanya tak hanya karena di tinggal pergi oleh sang istri tapi juga trauma karena pernah di tinggalkan hanya karena miskin.


"Aku tidak butuh itu!"


"Apa?" tanya Sapardi yang kaget mendengar jawaban putrinya.


"Tidak mengapa kita hidup sederhana, makan seadanya atau tidur beralaskan tikar. Asal ayah tahu selama aku hidup dengan ibu aku selalu memakai pakaian bersih yang bagus, tapi aku tidak pernah merasa senang. Aku bisa makan enak tapi aku tidak pernah berselera makan, tempat tidurku hangat dan empuk tapi aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Semua itu karena aku di tuntut harus patuh pada saudara tiriku, orang bilang aku beruntung karena memiliki masa depan yang cerah tapi aku tidak pernah bahagia. Dan ayah juga harus tahu, ibu juga tidak pernah bahagia setelah meninggalkan ayah. Satu kesalahan yang pernah ibu buat adalah percaya bahwa uang dapat membuatnya bahagia, untuk itulah ibu menyuruh ku pulang dan tinggal bersama ayah karena meski hidup ku kekurangan aku bisa bahagia"


"Ratna.... " panggil Sapardi tak kuasa menahan air matanya.

__ADS_1


"Mulai sekarang jangan memaksakan diri lagi, ayah sudah bekerja keras" ujar Ratna dengan senyum yang penuh ketulusan.


__ADS_2