
Ia sudah menghabiskan waktu selama berjam-jam hanya untuk mencari ide, meski pak guru memberikan kebebasan untuk berkreatifitas tetap saja hal itu malah membuatnya pusing.
"Sebaiknya apa yang ku buat?" gumamnya untuk kesekian kalinya.
Hhhhhhh
Ratna kembali menghembuskan nafas panjang, di tatapnya luar jendela yang gelap. Lalu di liriknya jam yang menunjukkan waktu pukul sembilan malam, kemudian dia beralih pada buku-buku yang berjejer di meja belajarnya.
"Argh.... aku benar-benar frustasi" erangnya.
Meski hari sudah malam tapi ia memutuskan untuk pergi keluar demi mencari inspirasi, dengan memakai jaket sepanjang jalan gang itu ia terus berjalan sampai tiba di jalan besar.
"Apakah toko sudah tutup ya?" gumamnya menatap jalan yang sepi itu.
Ia memutuskan untuk mencaritahu dulu, tapi setelah tiba di sana tokonya sudah tutup bahkan sepanjang jalan itu sepi. Ratna pun memutuskan untuk kembali pulang.
Aaaahh..... hhhhhhh
"Astaga, kau membuatku terkejut" ujarnya sambil mengusap dada.
"Aku tidak mengejutkan mu, kau saja yang sedang melamun" ucap Amus.
"Kau berdiri tepat di belakang ku tanpa suara! bagaimana bisa aku tahu ada kau di sana?" hardiknya.
"Terserah kau saja"
"Apa yang kau lakukan?"
"Hmm, aku mau ke toko tapi ternyata sudah keburu tutup"
"Owh... " gumam Ratna sambil menganggukkan kepala.
Setelah jantungnya kembali berdetak dengan normal ia pun berjalan di ikuti Amus tepat di sampingnya, tanpa kata mereka berjalan kembali pulang.
"Ada yang sedang kau pikirkan?" tanya Amus menatap mata Ratna yang seolah kosong.
"Aku sedang bingung, guru kesenian memberi tugas dan aku tidak tahu apa yang harus aku buat"
"Hmmm, kenapa tidak membuat vas bunga saja? kita pernah membuatnya sewaktu SMP"
"Itu terlalu biasa, lagi pula pasti akan ada yang membuatnya juga"
"Ah... sudah malam, akan ku pikirkan besok lagi. Sampai jumpa!" ujar Ratna saat mereka sudah sampai di rumah.
Ratna berjalan lebih dulu dan sempat melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam rumah, sedang Amus tetap berdiri di sana sambil menatap Ratan hingga ia masuk ke dalam rumah.
* * *
"Kau sudah dapat ide?" tanya Rere saat mereka bertemu di depan gerbang sekolah.
"Belum" jawabnya.
"Ada apa dengan otak mu? biasanya kau penuh dengan kreatifitas" ujar Rere yang tak di tanggapi.
Ratna masuk ke dalam kelas dan segera duduk di kursinya, kembali berfikir mencari ide sampai ia lihat salah satu teman kelasnya yang laki-laki bercanda dengan menggunakan kain taplak meja. Di ikatnya kain itu di leher dan berlagak seperti superman yang sedang terbang di langit.
"Ah... kenapa tidak terpikir oleh ku" gumamnya.
Segera ia memanggil rekan satu timnya untuk rapat dadakan, Ratna telah memutuskan akan membuat taplak meja sebagai tugas dari guru kesenian.
"Aku punya kain yang bagus, besok akan ku bawa" ujar Rere.
"Bagus, kita tinggal membeli benang wol atau benang sulam"
"Lebih bagus lagi jika di tambah tali pita" saran Sonu.
"Aku setuju, baiklah kita iuran masing-masing sepuluh ribu untuk membeli bahan-bahannya. Besok sepulang sekolah kita mulai mengerjakannya" ujar Ratna memutuskan.
"Bisakah jika sore saja? sekitar pukul tiga, aku ada kegiatan ekstrakurikuler setelah pulang sekolah" tanya Adinda.
"Baiklah, ada lagi yang mau memberi saran lagi?"
"Kita akan melakukan kerja kelompok di rumah siapa?" tanya Sonu.
Tak ada yang menjawab, mereka saling menatap dan menunggu sang ketua tim memutuskan.
"Baiklah kita kerjakan di rumah ku tapi kalian harus bawa makanan" ujar Ratna.
"Kita mau mengerjakan tugas atau piknik?" tanya Jaya.
"Keduanya, rumah ku sepi jadi tidak akan ada yang menganggu. Hanya saja benar-benar sepi hingga tidak ada makanan, jadi jangan lupa bawa makanan"
"Baiklah, baiklah.. aku akan minta ibuku buatkan kue untuk besok" ujar Rere.
"Aku juga akan bawakan makanan, kau tidak perlu khawatir" tambah Adinda.
"Jangan suruh aku bawa makanan, aku masih punya malu jadi sebagai gantinya akan ku berikan uang lebih" sahur Sonu.
Kini mata Ratna beralih pada Jaya, dengan senyum pengharapan ia menunggu keputusan Jaya untuk esok.
"Aku benci senyuman mu itu, bagaimana kalau ku bawakan bunga?" tanyanya.
"Kau mau melayat siapa?" tanya Ratna dingin.
__ADS_1
"Mantanku"
Plak...
Aw......
Erangnya sambil menggosok kepalanya yang baru saja di pukul.
"Setidaknya kau harus memberi tambahan uang" ujar Ratna lebih seperti ancaman.
"Akan ku bawakan buah-buahan" sahutnya.
"Ah... kalian memang teman-teman yang sangat ku cintai, terimakasih" ujar Ratna dengan suara lembut dan kembali tersenyum.
Total Ratna mendapatkan uang sebanyak lima puluh ribu, sepulang sekolah ia segera pergi ke toko peralatan untuk membeli beberapa benang, jarum dan juga tali pita.
"Banyak sekali benang yang kau beli" ujar pemilik toko.
"Iya, ini untuk tugas sekolah"
"Begitu ya, baiklah totalnya empat puluh ribu tapi kau hanya perlu membayar tiga puluh ribu saja"
"Sungguh?" tanya Ratna tak percaya.
"Tentu saja, anggap ini diskon khusus untuk anak sekolah"
"Ah... terimakasih... bapak sangat baik, semoga toko bapak laku terus" ujarnya senang.
"Amin.. " jawab pemilik toko seraya tersenyum.
Ia pun membayar sesuai dengan yang diminta, sebelum pergi membawa barang belanjaannya ia kembali mengucapakan terimakasih.
"Sepertinya ini hari keberuntungan ku, aku bahkan tidak mengeluarkan uang sepeser pun dan justru mendapat uang lebih. Wah... anak piatu memang penarik rezeki yang kuat" gumamnya sambil berjalan menuju kedai.
Sampai di kedai ia bekerja seperti biasa dan tak lupa meminta ijin libur untuk besok, Hamdani mengijinkan tapi hal itu membuatnya sadar akan kesibukan Ratna yang sudah di mulai.
Sebelum pulang kerja ia mengajak Ratna bicara empat mata, ini mengenai tentang pekerjaannya.
"Aku sudah memikirkan hal ini baik-baik, karena itu aku memutuskan bagaimana jika kau berhenti kerja saja" ujar Hamdani yang membuatnya kaget.
"Apa..... aku baru saja di pecat?" tanyanya.
"Oh... tidak, bukan begitu! aku senang memiliki karyawan seperti mu dan jika bisa aku ingin kau selamanya bekerja di sini, tapi sekarang kau sudah kelas tiga. Kau mulai sibuk dengan segala tugas sekolah, lagi pula masa SMA tidak akan bisa di ulang lagi. Apakah kau tidak keberatan mengisi kenangan SMA mu dengan bekerja di sini?" jelas Hamdani meluruskan kesalahpahaman.
"Ratna... mumpung ini masih semester satu, kau masih punya kesempatan untuk membuat kenangan indah dengan teman-teman mu. Setelah lulus sekolah kau bisa kembali bekerja, bahkan setelah itu mungkin seumur hidup kau akan bekerja"
"Tapi paman.... kau tahu alasanku bekerja di sini" ujar Ratna pelan.
"Paman mengerti, jika untuk masalah uang paman bisa meminjamkannya"
"Kalau begitu bagaimana jika kau ambil dulu gaji mu selama setahun untuk membayar uang sekolah, setelah lulus nanti kau tinggal bekerja di paman selama setahun tanpa bayaran karena telah kau ambil duluan" saran Hamdani.
Ratna terdiam, memikirkan saran yang di ajukan Hamdani. Sejujurnya ia juga ingin menghabiskan waktu dengan teman-temannya, memiliki pacar yang bisa di banggakan dan membuat kenangan lainnya.
"Untuk saat ini... biaya sekolah ku masih aman, meski terlambat beberapa minggu tapi ayah mampu membayarnya. Jika... nanti aku butuh uang untuk biaya lainnya, bisakah uang itu benar-benar aku ambil? mungkin hanya gaji ku selama beberapa bulan saja karena setelah lulus sekolah aku ingin bekerja di kota jadi tidak bisa di sini lama-lama" ujar Ratna.
"Tentu saja, kita bisa bicarakan lagi nanti"
"Baiklah... kalau begitu aku terima tawaran paman, terimakasih karena selama ini paman mau menerima ku di kedai ini"
"Apa yang kau katakan, paman yang seharusnya berterimakasih" ujar Hamdani.
Meski berat untuk meninggalkan kedai tapi ia tahu keputusan yang telah ia ambil sudah tepat, walau pun kondisi keuangannya kurang beruntung tapi sebagai gadis remaja ia pun berhak untuk bahagia dengan caranya.
Sekali lagi ia mengucapkan terimakasih sebelum berpisah dengan Hamdani untuk pulang, ia juga sempat melambaikan tangan dan tersenyum.
"Bagaimana bisa aku setega itu, baik memberimu pinjaman atau memperkerjakan mu tanpa imbalan. Keduanya tidak bisa aku lakukan pada anak baik yang malam seperti mu" ujar Hamdani menatap kepergian Ratna.
Sampai di rumah ia mengatakan apa yang telah ia putuskan kepada Sapardi, ia meminta maaf karena akan membebankan ayahnya dalam masalah keuangan.
Awalnya Sapardi tak bicara, tapi air mata menetes dari pipinya yang membuat Ratna merasa bersalah.
"Aku... aku akan bekerja lagi jika ayah tidak sanggup, aku akan bicara lagi dengan paman" ujarnya.
"Bagaimana bisa kau sedewasa ini?" tanya Sapardi.
"Hah?"
"Kau ini adalah anak ayah, kau tanggung jawab ayah, harusnya ayah yang minta maaf karena salah ayah kau jadi harus bekerja. Jangan minta maaf, jangan bilang kau terpaksa membebani ayah! karena hal itu telah melukai martabat ayah sebagai kepala keluarga"
"Ayah... maafkan aku... " ujar Ratna yang ikut menangis.
"Berhentilah khawatir masalah keuangan kita, kita memang miskin tapi setidaknya kita punya tubuh sehat dan rumah tempat bernaung. Justru kita sangat kaya karena meski kita makan dengan garam kita tidak punya hutang sama sekali pada orang lain. Lihatlah orang-orang kaya! mereka punya segalanya tapi juga memiliki hutang"
"Ayah... " panggil Ratna kini dengan senyum mengembang di wajahnya meski masih ada air mata yang menetes.
"Nikmatilah masa remaja mu, paman Hamdani berkata benar"
"Aku mengerti, ayah besok teman-teman ku akan datang ke rumah. Kami mau mengerjakan tugas dari guru, bolehkan yah?" tanya Ratna.
"Tentu saja, ajak semua teman mu" jawab Sapardi.
* * *
__ADS_1
Ardi dan Amus berjalan bersama menuju rumah Jimy, mereka sudah janjian akan main PS namun langkah mereka terhenti saat melihat Jaya yang berjalan ke arah mereka.
"Hei, lama tidak bertemu" sapanya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Amus.
"Kalian tahu dimana rumah Ratna?" ujarnya balik bertanya.
"Tahu, tapi tidak akan ku beritahu" jawab Ardi sinis.
Mungkin mereka memang teman satu tongkrongan, tapi semenjak Ratna dan Jaya putus dengan cara yang tidak baik mulai saat itu juga Ardi membenci Jaya tanpa tahu bahwa Jaya dan Ratna kini sekelas.
"Aku ada urusan dengan Ratna" ujar Jaya.
"Urusan apa?" tanya Ardi curiga.
"Ini sedikit pribadi, jadi aku tidak bisa memberitahu mu"
"Kau.... kurang ajar!" hardik Ardi.
"Ah, sudahlah jika kau tidak mau memberitahuku" ujar Jaya.
Ia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan singkat kepada Ratna bahwa ia sudah sampai tapi Ardi dan Amus menghalanginya.
"Hei! sebaiknya kau pergi sebelum kami hajar" ujar Ardi memperingatkan.
"Hahaha kalian berani mengeroyok ku?" ejek Jaya.
"Kenapa tidak! orang seperti mu harus di beri pelajaran sampai paham!"
Plak Plak
Aw... Aw...
Ardi dan Amus mengusap kepala sambil menengok ke belakang, dengan melotot Ratna menatap mereka berdua.
"Apa yang kalian lakukan? minggir!" teriaknya.
Perlahan mereka berdua memberi jalan.
"Jangan hiraukan mereka, ayo pergi!" ajak Ratna sambil menggandeng tangan Jaya.
Sambil berjalan mengikuti Ratna ia tersenyum dan melambaikan tangan kepada Ardi dan Amus, membuat mereka hanya bisa mematung dengan berbagai macam dugaan.
"Apa mereka kembali jadian?" tanya Ardi.
"Aku bersumpah kali ini aku tidak tahu apa-apa" jawab Amus.
Bergegas mereka berlari menuju rumah Ratna, tanpa undangan mereka masuk demi melihat apa yang di lakukan Jaya di sana. Terlihat Ratna menyuguhkan segelas es teh manis kepada Jaya, bahkan dia terlihat sangat sopan bagi Ratna yang mereka kenal.
"Kalian ada perlu apa?" tanya Ratna.
"Ka-kami... kami hanya ingin main saja, kenapa?"
"Ah aku sedang sibuk, tolong kalian jangan ganggu kami" ujar Ratna sambil duduk tepat di samping Jaya.
Hal itu membuat senyum Jaya mengembang sedang Ardi dan Amus terpaku, pikiran mereka mulai kacau dengan berbagai kesibukan yang mungkin di lakukan Jaya dan Ratna.
"Tidak bisa! pokoknya aku akan tetap di sini" ujar Ardi bersikeras.
"Jangan membuat ku marah, kenapa kau seperti anak kecil?" hardik Ratna.
"Sudahlah... biarkan saja mereka, kau tidak perlu marah-marah aku tidak keberatan" ujar Jaya yang membuat Ardi semakin kesal saja.
Terlebih saat Jaya menyenderkan tangan kirinya di atas kursi sehingga terlihat seperti merangkul Ratna dan tersenyum mengejek.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Jimy sambil masuk ke dalam rumah.
"Oh kalian sudah datang" ujar Ratna melihat teman-temannya sudah tiba.
"Kau sendiri mau apa kemari?" balas Ardi.
"Aku mengantar Rere dan teman-temannya kemari, mereka mau mengerjakan tugas di rumah Ratna"
"Jadi... " ujar Amus sambil menatap Jaya yang tersenyum.
"Jaya, kenapa kau ada di sini?" tanya Jimy heran yang tidak tahu juga soal kepindahannya ke kelas Ratna.
"Aku satu regu dengan Ratna, tentu saja aku juga datang kemari untuk mengerjakan tugas"
"Apa?" tanya Ardi, Amus dan Jimy berbarengan.
"Ah... aku lupa tidak memberitahu kalian, Jaya pindah ke sekolah ku saat kelas dua dan dia satu kelas dengan ku. Karena itulah kami bisa satu regu" jelas Ratna.
"Satu tahun yang lalu... dan kau baru menceritakan ini pada kami... " ujar Jimy kecewa.
"Maafkan aku... lagi pula tidak ada gunanya aku ceritakan, aku takut kalian malah akan membuat masalah karena itu... "
"Buat maslah katamu? kapan kami membuat masalah untuk mu?" hardik Jimy.
Ratna hanya bisa diam, dia tahu memang cukup keterlaluan karena tidak menceritakan masalah Jaya tapi alasannya adalah sungguh karena hal itu tidaklah begitu penting.
"Rere... sebenarnya apa yang terjadi?" bisik Adinda penasaran.
__ADS_1
"Sssttt... ini hanya masalah hubungan diantara teman masa kecil."