
Akhirnya ujian nasional resmi berlangsung, pagi sekali Ratna sudah datang ke sekolah dan duduk di bangkunya. Dengan seragam putih abu-abu yang bersih kartu namanya tergantung di bagian saku, rambutnya yang panjang di ikat rapi agar tidak menghalangi saat mengerjakan soal.
Beberapa menit kemudian pengawas datang dengan map coklat berisi lembar soal dan jawaban, setelah bel berbunyi kedua kertas itu pun di bagikan. Ratna mulai mengisi biodata terlebih dahulu sebelum terdiam untuk menyiapkan mentalnya, ia masih ingat bagaimana keteledoran yang ia buat saat di SMP sehingga tidak lulus.
Itu menjadi trauma ringan yang membuatnya cukup ketakutan, tak ingin melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya maka kini ia harus lebih siap.
"Baiklah.. aku bisa melakukannya" gumamnya.
Ia pun mulai membaca soal pertama dan mengisi lembar jawaban secara perlahan, sejauh ini semuanya baik dan berjalan dengan cukup lancar sampai ujian di hari itu selesai.
Rasanya lega setelah ia berhasil mengisi semua lembar jawaban, setelah pulang ke rumah ia segera mandi untuk menyegarkan diri yang lelah secara batin.
"Ah bukanlah itu Yuki Kato?" ujarnya saat melirik TV.
"Dia juga sedang ujian? itu artinya... kami seumuran, ah aku tak menyangka artis favorit ku ternyata seumuran dengan ku. Astaga... filmnya yang Heart series sangat bagus, meski tomboi tapi dia terlihat cantik di film itu" ucapnya sambil melihat TV yang menayangkan wawancara sang artis.
Selama seminggu lebih Ratna melaksanakan ujian nasional dengan penuh percaya diri, ia yakin jika dengan percaya diri maka dia tidak akan melakukan kesalahan apa pun yang bisa merusak nilainya.
Setelah ujian itu selesai maka anak-anak kelas tiga itu bebas sampai waktu pengumuman kelulusan, waktu yang ia miliki kini dia manfaatkan dengan menghabiskan waktu bersama teman-temannya.
Ia pergi bermain dengan Mita yang selama ini jarang ia temui karena beda sekolah dan kesibukan masing-masing, mereka pergi ke kafe dan mengobrol tentang banyak hal.
"Na, sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu"
"Apa itu?" tanya Ratna penasaran.
"Um.... itu... kak Angga berniat ingin melamar ku setelah aku lulus"
Aaa...
"Benarkah?" tanya Ratna histeris.
"Dia... ingin hubungan kami lebih serius lagi, aku sudah katakan kalau aku ingin melanjutkan sekolah ke fakultas tapi katanya itu bukan masalah. Aku masih bisa meraih cita-cita ku meski kami sudah bertunangan"
"Kalau begitu terima saja, tidak ad ruginya kan?"
"Apa.. menurut mu aku harus menyetujuinya?"
"Dengar, aku kenal baik kak Angga. Dia pasti akan menepati janjinya padamu, jika dia bilang kau masih bisa melanjutkan studi mu maka dia pasti akan mendukung mu terus. Mungkin dia hanya takut akan ada pria yang merebut mu darinya, karena itulah dia ingin tunangan dengan cepat"
"Sembarangan, siapa yang akan merebutku darinya?"
"Setelah kau masuk kuliah kau akan bertemu dengan banyak orang dan pria keren, mengertilah keresahan kak Angga" jelas Ratna.
Mita merenungkan ucapan itu yang jika di pikir lagi memang tidak ada ruginya, kalau pun ia kehilangan cita-cita setidaknya dia dapat pria mapan yang baik.
"Lalu bagaimana dengan mu?" tanya Mita.
"Sudah jelas aku pasti akan bekerja setelah lulus nanti"
"Bukan itu, maksud ku hubungan mu dengan Amus"
"Itu.... sebenarnya aku berniat untuk mengutarakan isi hatiku padanya sebelum ia pergi"
"Pergi? kemana?"
"Setelah lulus dia akan ikut tinggal di rumah orang tuanya di Bekasi, setelah dia pergi kemungkinan kami tidak akan bertemu lagi"
"Begitu ya, lebih baik memang kau ungkapkan saja"
"Sebenarnya... ada sesuatu yang cukup mengangguku juga"
"Apa itu?" tanya Mita penasaran.
Ratna mulai menceritakan perlakuan Ardi kepadanya, ia merasa Ardi memiliki perasaan kepadanya dan sedang mencoba mendekatinya. Tapi sejauh ini Ardi pun belum menyatakan perasaannya, itulah yang membuatnya bingung.
"Lalu bagaimana dengan mu?" tanya Mita.
"Kau tahu kan aku menyukai Amus"
"Bukan itu, bagaimana perasaan mu terhadap Ardi? apakah kau juga menyukainya atau tidak?"
"Itu... aku tidak tahu pasti, aku masih menganggapnya sebagai kakak tapi ada saat di mana aku juga memandangnya sebagai seorang pria"
"Ratna, hidup dalam mimpi itu sangat menyenangkan tapi mau sampai kapan kita akan hidup seperti itu? kita sudah akan beranjak dewasa dan cinta bukan satu-satunya hal yang harus kita pikirkan. Menurut ku kau harus ambil keputusan sendiri, apakah kau akan hidup dengan harapan atau menerima cinta yang datang" ujar Mita.
Ratna pulang dengan perasaan yang bercampur aduk, ia sangat pandai dalam masalah keuangan tapi payah dalam percintaan. Hatinya tetap bersikukuh pada Amus tapi kenyataan selalu menamparnya dengan keras agar ia kembali sadar.
"Kau dari mana?" tanya Ardi yang tak sengaja melihat Ratna berjalan pulang seorang diri.
"Ah.. aku habis bertemu dengan Mita, apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku membeli obat pegal" jawab Ardi menunjukkan obatnya.
Ratna mengangguk dan duduk di kursi yang ada di depan toko, Ardi pun akhirnya juga ikut duduk di sampingnya.
"Ada yang sedang kau pikirkan? wajah mu terlihat kusut" tanya Ardi.
"Mm tidak, aku hanya sedang memikirkan Mita"
__ADS_1
"Ada apa dengannya?"
"Setelah lulus nanti kak Angga berencana untuk melamarnya"
"Benarkah? wah... hebat!" ujar Ardi salut.
"Ya, aku tidak mengira kak Angga berani mengambil langkah seperti itu. Tapi jika di pikir lagi kak Angga sudah mapan tentu dia siap untuk naik ke pelaminan"
"Aku setuju, mereka adalah pasangan yang bagus. Ah... membuat ku iri saja"
"Kenapa? pacarmu juga cantik-cantik kan?"
"Apa gunanya? aku sama sekali tidak menyukai mereka, toh mereka juga menyukaiku karena aku tampan. Pacaran itu hanya sebuah perjanjian tak tertulis, saling menguntungkan dengan tampang masing-masing" jawab Ardi.
"Apa itu isi hati kelinci putih? aku tak percaya seorang playboy baru saja mengeluh karena pacarnya cantik"
"Aku kesal karena mereka terus menyatakan perasaannya kepadaku tapi aku sendiri tidak bisa menyatakan perasaan ku kepada gadis yang aku suka"
"Benarkah? kau tidak berani mengatakannya? kenapa?"
"Karena dia tidak pernah menyadari bahwa aku selalu mencintainya"
"Memangnya siapa gadis itu?"
"Kau!" jawab Ardi yang membuat Ratna terdiam.
"Rasanya sangat menyakitkan saat aku memperhatikan mu dengan cinta tapi kau membalasnya sebagai seorang sahabat, aku sudah lama mencintai mu tapi kau masih tidak sadar juga dan itu sangat menyebalkan" lanjutnya.
"A.. pa? aku?" tanya Ratna pelan.
"Ya, kau... aku sangat mencintaimu" jawab Ardi.
Ratna terdiam, dadanya terasa sesak oleh berbagai perasaan yang menumpuk. Berbagai kenangan lalu nasehat dari teman-temannya tiba-tiba muncul di benaknya, bergelut hingga membuatnya pusing.
"Ratna... aku mencintaimu, aku ingin menjalin hubungan sebagai pacar dengan mu" ujar Ardi lagi.
"Terimakasih... " jawab Ratna pelan.
"Aku.... sebenarnya sudah lama menunggu mu mengatakan hal ini padaku"
"Apa?" tanya Ardi kaget.
"Bukan aku yang tidak sadar, hanya saja kau tidak pernah mengatakannya. Itu membuatku berfikir bahwa mungkin aku salah menduga" jawab Ratna.
"Kau... sudah menyadari perasaan ku padamu?" tanya Ardi memastikan lagi.
Ratna mengangguk sambil tersenyum meski ada air mata yang mengalir di pipinya, begitu pun dengan Ardi yang mulai tersenyum sebab ternyata selama ini perkiraannya salah.
Dengan cepat Amus pergi dari tempat itu tanpa menimbulkan suara agar tidak di ketahui, ia pulang ke rumah dengan hati yang berantakan. Dari dalam laci di ambilnya jam tangan pemberian Ratna, jam tangan yang selalu ia gunakan saat akan tidur.
Dengan lapang dada kini ia menyimpan jam tangan itu di dalam kotak, sebagai seorang sahabat tugasnya telah selesai maka ia sudah tidak punya alasan apa pun lagi untuk tetap tinggal di sana.
* * *
Hari ini ia punya rencana dengan teman masa kecilnya, hanya menonton film di rumah Jimy namun sebagai rangka menyambut hari kelulusan mereka akan banyak menghabiskan waktu bersama.
"Ah kau datang juga, ayo bantu aku membuat minuman" ujar Jimy.
"Apa kau akan memasak mie goreng juga?" tanya Ratna segera menuju dapur.
"Kita sudah punya banyak cemilan"
"Itu kan hanya makanan ringan" keluh Ratna.
"Jangan terlalu banyak makan, itu tidak baik bagi kesehatan mu" ujar Ardi.
"Ah... baiklah, apa Amus belum datang?" tanyanya.
Mereka saling menatap satu sama lain.
"Aneh, kemana orang itu? rumahnya juga kosong" ujarnya.
"Biar aku telpon" ucap Jimy.
Ia segera mencuci tangan dan mengambil handphone di kamarnya, beberapa menit kemudian dia datang dengan wajah kesal.
"Bagaimana?" tanya Ratna.
"Si bodoh itu ada janji dengan tim futsalnya"
"Itu artinya dia tidak ikut nonton dengan kita?" tanya Ardi.
"Sudah jelas bukan?" ujar Jimy masih kesal.
Akhirnya mereka menghabiskan waktu hanya bertiga saja, tidak terlalu menjadi masalah karena mereka bisa mengerti Amus. Sebelum pergi meninggalkan kota pasti ada banyak teman selain mereka yang ingin ia temui, meski Amus pendiam tapi ia punya banyak teman yang cukup dekat.
Selama dua hari itu entah Amus pergi kemana mereka tak tahu, Amus juga tidak memberi kabar. Hal itu membuat Ratna menjadi resah, seolah Amus menghindari mereka dengan sengaja.
Akhirnya sampai hari kelulusan tiba Ratna pergi ke sekolah seperti biasa, sebelum surat di bagikan seperti biasa pak Kepala Sekolah memberikan sambutan dan lain-lain.
__ADS_1
Barulah setiap wali kelas memberikan surat kelulusan itu kepada setiap murid di kelasnya, jantungnya berdegup kencang saat wali kelas memberikan surat kelulusan miliknya.
Perlahan Ratna membuka amplop putih besar itu, lalu di atas kertasnya ia membaca tulisan namanya yang di muat dan kata 'LULUS' di cetak dengan huruf besar.
Yeeeyy......
Soraknya penuh kegembiraan, sorakan yang lain pun mulai bersahutan dengan selangan tawa bahagia. Ratna menghampiri Rere dan saling berpelukan penuh suka cita, ucapan selamat saling di ucapkan dan pesta kelulusan pun di mulai.
Ada banyak teman yang menulis nama dan tanda tangan di seragamnya, Ratna pun juga tak lupa membalasnya.
"Ratna! kau mau menulis nama mu?" tanya Jaya.
"Boleh" jawabnya.
Ratna bersiap untuk menulis, tapi ia tidak melihat tempat kosong di pakaian Jaya.
"Kau ini populer atau koran? seragam mu sudah penuh" ujarnya.
"Benarkah?" tanya Jaya menatap seragamnya.
"Benar juga, bagaimana kalau di celana ku saja"
"Ah baiklah" jawab Ratna.
Setelah selesai mereka pun bergantian, Jaya memberi tanda tangannya di bagian punggung.
"Setelah ini kau mau pergi ke mana?" tanya Jaya.
"Sepertinya aku akan pulang saja"
"Bukan itu, maksud ku kau akan kuliah atau kerja?"
"Oh, sepertinya aku akan kerja. Bagaimana dengan mu?"
"Aku akan ke kota pendidikan untuk melanjutkan kuliah"
"Wah.... sepertinya semua orang memilih untuk kuliah" gumam Ratna.
"Ijazah SMA memang cukup untuk mencari pekerjaan, tapi aku ingin menjadi pengacara karena itu aku harus kuliah"
"Kau? jadi pengacara?" tanya Ratna tak percaya.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa, hanya saja aku tidak menyangka kau akan memilih profesi seperti itu" ujarnya.
"Kau meremehkan ku" tukas Jaya.
"Tidak benar, aku mendukung mu" jawab Ratna sambil mencoba menahan tawa.
Tapi ia tetap tak bisa menahannya sebab ia sangat tahu sifat Jaya yang arogan, rasanya tidak pantas murid nakal seperti dia memilih profesi yang harus rapi dan tenang. Pertikaian tak dapat dielakkan, mereka saling mengolok dan mengejek tapi pada akhirnya berbaikan lagi.
"Sepertinya kau sangat menikmati kelulusan mu" ujar Jimy melihat Ratna yang pulang dengan pakaian penuh coretan.
"Aku lulus, bagaimana dengan mu?" tanya Ratna sambil tersenyum.
"Tentu saja aku juga lulus"
"Baguslah, kalau begitu malam ini kita bisa berpesta. Bagaimana dengan Ardi dan Amus?"
"Ah itu.... "
"Kenapa? apa mereka tidak lulus?" tanya Ratna sebab Jimy menghentikan ucapannya.
"Amus.... dia baru saja pergi ke terminal" jawab Jimy dengan perasaan menyesal.
"Apa? kau bilang apa?" tanya Ratna seolah pendengarannya terganggu.
"Setelah dia menerima surat kelulusan dia segera pulang dan berpamitan, dia ingin mengejar bisa terakhir."
Hampir ia terjatuh karena guncangan yang hebat, tapi tak ada waktu untuk merenung. Dengan cepat ia mengambil langkah seribu, sialnya entah kenapa tak ada satu pun angkutan umum yang lewat sehingga ia hanya bisa terus berlari.
Jika Amus baru saja pergi mungkin ia masih punya kesempatan untuk bertemu, beruntung di separuh perjalanan ada juga angkutan umum yang lewat. Dengan tak sabar ia menyuruh pak supir untuk mempercepat laju mobilnya.
Begitu sampai kakinya segera menghambur keluar, kembali berlari mencari-cari keberadaan Amus. Ia mencoba bertanya tentang bis yang kemungkinan dinaiki Amus, tapi saat ia melihat ke dalam bis Amus tak ada di sana.
Mencoba menahan tangis dengan nafas yang hampir habis sekali lagi ia berkeliling namun Amus tak ada di mana pun.
"Ah, telpon" ujarnya yang baru teringat.
Ratna segera mengambil ponselnya, dengan tangan yang gemetar ia mencoba menekan tombol dan mengunjungi Amus.
Tuuuuutttt Tuuuuutttt Tuuuuutttt
"Halo" jawab sebuah suara di seberang sana.
"Halo! Amus! kau di mana?" tanya Ratna cepat.
"Aku dalam perjalanan menuju rumah orang tuaku"
__ADS_1
"Apa?" tanya Ratna yang mengetahui bahwa dia sudah terlambat.
"Maaf, aku tidak sempat berpamitan dengan mu. Setelah mendapat surat kelulusan ibu ku menyuruhku untuk segera pergi, dia ingin membuat pesta kelulusan untuk ku karena itulah aku tidak bisa menundanya lagi. Ratna... sampai jumpa! semoga kau selalu bahagia."