Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 55 Jujur Pada Diri Sendiri


__ADS_3

"Apa yang bisa ku katakan? aku terjebak pada permainan yang telah aku ikuti, hal itu cukup menyebalkan seperti kau punya sayap tapi tak bisa terbang. Terlebih lagi ini merupakan permainan hati, siapa yang menyangka seorang pujangga sekali pun akan berubah menjadi badut demi pujaannya. Satu nasihat yang bisa ku katakan, mungkin juga sebuah pengingat untuk diriku di masa depan. Jujurlah pada hatimu sendiri."


Di kutip dari arsip pribadi Ratna Mangalih.


* * *


Ratna dan Ian bertemu kembali di sekolah, mereka sengaja mencari tempat sepi agar bisa bicara berdua saja.


"Sesuai perjanjian kita di awal ini bayaran mu, selanjutnya jika Sela menanyakan mu lagi akan ku jawab bahwa kita sudah putus" ujar Ian sambil menyerahkan sejumlah uang.


Ratna mengambil uang itu dan menghitungnya.


"Terimakasih, senang berbisnis dengan mu" jawabnya.


"Kalau begitu sampai jumpa"


"Tunggu!" sergah Ratna menghentikan langkah Ian.


"Ada apa?" tanya Ian.


"Apa kau mau berpura-pura menjadi pacarku? sebagai gantinya aku akan membayar mu"


"A.... pa?" tanya Ian heran.


Ratna tersenyum dan mengembalikan uang yang baru saja ia terima.


"Aku sangat menyukai uang dan makanan, aku bisa berbisnis dengan mudah tapi bukan berarti hidupku hanya soal uang. Ini semua gara-gara sifat pengecut mu! kau membuatku tidak bisa mengambil uang itu dengan tenang jadi mari lanjutkan sandiwara kita sampai kau bisa jujur pada dirimu sendiri."


Ian kurang mengerti apa maksud dari perkataan Ratna, tapi ia paham Ratna hanya ingin membantunya. Oleh karena itu Ian setuju untuk meneruskan sandiwaranya.


Sandiwara mereka cukup sederhana, Ian hanya perlu mengantar Ratna pulang ke rumah dari tempatnya bekerja jika ada waktu. Tidak benar-benar sampai rumah, hanya sampai depan gang tempat dimana dulu Ian untuk pertama kalinya mengantar ia pulang.


Hari demi hari berlalu begitu saja, malam itu tanpa sengaja Jimy melihat Ratna turun dari mobil dan nampak seorang pria mengucapkan kalimat selamat malam dengan mesra sebelum pergi. Sontak hal itu membuat Jimy penasaran, saat Ratna berjalan hendak pulang ke rumahnya dengan cepat ia berlari menyusul.


"Tunggu!" teriaknya menghentikan langkah Ratna.


"Master? ada apa?" tanya Ratna bingung.


"Siapa dia?"


"Hah?"


"Laki-laki itu? yang mengantar mu pulang dengan mobil!" jelas Jimy.


"Oh dia kakak kelas ku"


"Kakak kelas? kenapa dia mengantarmu pulang? lalu apa maksud ucapan selamat malam itu?" tanya Jimy curiga.


"Memangnya kenapa jika ada yang mengantarku pulang dan mengucapkan selamat malam? apa urusannya dengan mu?" balas Ratna.


"Kau... " panggil Jimy pelan.


Ingin rasanya Jimy mengumpat dan mengutuk saat Ratna tak memperdulikannya, tapi yang bisa dia lakukan akhirnya hanya bergumam dengan tidak jelas.


Tak tahan oleh rasa penasaran itu Jimy segera pergi ke rumah Amus dan mengajak Ardi serta untuk membahas pria yang baru saja dia lihat.


"Apa pria itu tinggi, berkulit putih dan tampan?" tanya Ardi.


"Benar, kenapa kau bisa tahu?" balas Jimy.


"Sepertinya aku tahu siapa pria itu"


"Benarkah?" tanya Amus dan Jimy berbarengan.


"Kemungkinan besar dia adalah Ian, dia pacar baru Ratna"


"Apa?" teriak Amus dan Jimy kembali berbarengan.


"Tapi saat aku tanya Ratna bilang dia hanya kakak kelas" ujar Jimy.


"Beberapa hari yang lalu aku melakukan kencan ganda, pacarku mengatakan mantannya yang bernama Ian akan mengenalkan pacar barunya kepada kami. Saat kami bertemu rupanya dia adalah Ratna, ku dengar dari pacarku Ratna dan Ian menyembunyikan hubungan mereka karena mereka satu sekolah" jelas Ardi.


"Apa-apaan ini? kenapa dia tidak memberitahu kita masalah ini?" omel Jimy kesal.


"Entah apa yang terjadi tapi meski sudah di paksa Ratna tetap tidak mau angkat suara jika ditanya masalah pacarnya itu, dia malah balik marah-marah tidak jelas"


"Menyebalkan! pokoknya kita harus menggali informasi lebih dalam lagi" ujar Jimy kesal.


Ardi mengangguk setuju sebab ia pun ikut kesal juga, hanya Amus yang tak menjawab sebab hatinya hancur seketika. Harapannya untuk mendapatkan hati Ratna lenyap begitu saja, saat ini yang bisa ia lakukan hanya menyesal.


Esok malamnya Ardi, Amus dan Jimy dengan sengaja menunggu kepulangan Ratna untuk memastikan pria yang mengantarnya pulang. Cukup lama mereka bersembunyi di sana sampai akhirnya sebuah mobil berhenti tepat di depan gang, tak berapa lama terlihat seorang pria keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Ratna.


"Itu dia orangnya!" ujar Jimy.


"Benar! itu Ian" ucap Ardi.


"Jadi pria itu benar-benar pacar Ratna?" tanya Amus.


Ardi mengangguk tanpa memalingkan pandangannya dari Ratna, ia mulai panas saat melihat Ratna dan Ian berbincang dan nampak tertawa bersama.


Tak tahan melihat hal itu Ardi pun bergegas menghampiri mereka di ikuti oleh yang lain, Ratna cukup terkejut saat teman-temannya tiba-tiba datang begitu saja.


"Mau sampai kapan kau berdiri di sini? ini sudah malam sebaiknya kau cepat pulang" ujar Ardi ketus.


"Aku mengerti, kau tidak perlu mengingatkan ku seperti itu" ujar Ratna.


"Ini memang sudah larut, lagi pula kau pasti lelah habis bekerja" kata Ian yang paham betul maksud dari ucapan Ardi.


"Baiklah sampai jumpa!" ucap Ratna kemudian meninggalkan tempat itu.


"Sebaiknya aku juga pergi" ujar Ian.

__ADS_1


Ardi hanya mengangguk untuk menanggapi ucapan itu, sedang Jimy memandangnya dengan tatapan dingin yang membuat Ian tak nyaman. Setelah kepergian Ian mereka segera menyusul Ratna, mengajaknya bicara lebih dulu sebelum masuk ke dalam rumah.


"Apa lagi?" tanya Ratna kesal saat langkahnya di hadang.


"Kau belum menjelaskan tentang pria itu" ungkap Jimy.


"Apa yang harus aku jelaskan?"


"Semuanya! bahkan kau tidak memberitahu kami kalau kau punya pacar, sejak kapan kalian pacaran?"


"Kenapa aku harus melaporkan dengan siapa aku jalan?"


"Apa kau sudah melupakan Jaya? bagaimana jika pria itu bersifat buruk sepertinya? bagaimana jika kau di sakiti?" tanya Jimy mulai emosi.


"Dia sangat baik, kalian tidak perlu khawatir. Sudahlah kita bicarakan nanti saja, aku sudah mengantuk" jawab Ratna.


"Dia benar! sampai kapan kau akan memperlakukan dia seperti anak kecil? Ratna juga privasi yang ingin dia jaga jadi berhentilah mengorek urusan pribadinya" ujar Amus setelah kepergian Ratna.


Jimy mengaku kalau dia memang berlebihan, tapi apa yang menimpa Ratna saat berhubungan dengan Jaya membuatnya cukup trauma. Adik kecilnya yang selalu dia jaga, meski terkadang menyebalkan tidak mungkin akan dia biarkan tersakiti lagi.


Sementara itu Ratna mulai menyadari tanda-tanda perubahan pada Sela, dari Ian dia mengetahui bahwa terkadang ia bertemu dengan Sela dan mengobrol. Kali ini Sela jauh lebih pengertian, entah karena dia sudah berubah atau karena mereka sudah putus dan menjadi orang asing.


Satu hal yang pasti Ratna ketahui bahwa Sela dan Ian masih saling mencintai tapi malu untuk mengungkapkannya, perasaan mereka terlalu kalah oleh ego masing-masing dan tugas Ratna di sini adalah untuk menyadarkan mereka.


Suatu hari Ratna memiliki ide untuk mengundang Ardi dan Sela ke kedai, hari itu dalam rangka menyambut hari kasih sayang kedai memberikan diskon untuk setiap pembelian double.


"Selamat datang" sapa Ratna menyabut Sela dan Ardi yang baru datang.


"Sepertinya kau sangat sibuk" ujar Ardi melihat jumlah pengunjung yang cukup banyak.


"Lumayanlah, ini kan hari valentine jadi banyak pasangan yang datang"


"Begitu ya"


"Silahkan duduk dulu, akan ku buatkan jus yang enak untuk kalian" ujarnya.


Sela dan Ardi pun duduk di tempat yang sudah di sediakan, tapi tak berapa lama kemudian Ian datang yang membuat mereka cukup terkejut.


"Kalian di sini juga?" tanya Ian.


"Ya, Ratna mengundang kami untuk datang ke sini" jawab Sela.


"Begitu ya" jawab Ian yang kemudian bergabung dengan mereka.


Tak berapa lama kemudian Ratna datang dengan nampan berisi dua gelas jus, ia terlihat senang juga saat mengetahui Ian sudah sampai.


"Maaf menunggu lama" ucap Ratna.


"Tidak masalah, biar ku bantu" jawab Ardi yang segera menaruh jus itu di meja.


"Terimakasih" balas Ratna.


"Silahkan nikmati jus nya, maaf aku tidak bisa menemani kalian karena ada banyak pekerjaan. Oh dan jus untuk mu akan segera ku bawakan" lanjutnya.


Ratna tersenyum ramah dan mulai berbalik arah, namun saat ia melangkah tiba-tiba.


Aaaahhh....


Gep


Kakinya terpeleset dan hampir saja terjatuh, beruntung Ardi berada di sana dan menangkapnya tepat waktu. Mereka saling menatap dalam waktu beberapa detik, merasa tak asing dengan apa yang baru saja terjadi.


"Kau baik-baik saja?" tanya Ardi pelan.


"Um... itu... aaahh... kakiku.... " erang Ratna.


"Kenapa? ada apa dengan kaki mu?" tanya Ardi panik.


Perlahan ia membantu Ratna berdiri dengan benar tanpa melepaskan pegangan tangannya.


"Sepertinya kaki ku keseleo" jawab Ratna.


"Kau ini... selalu saja tidak hati-hati, kalau begitu duduk lah dulu"


"Bagaimana ini? sekarang aku tidak bisa bekerja, rasanya kakiku sakit sekali jika di gerakkan"


"Sebaiknya kau istirahat dulu, aku yakin bos mu akan mengerti" ujar Ian.


"Mana boleh begitu, dengan pelanggan sebanyak ini aku harus tetap bekerja"


"Sudahlah jangan membantah! aku bisa menggantikan mu" jawab Ardi.


"Benarkah?" tanya Ratna riang.


Ardi mengangguk sebagai jawaban.


"Kalau begitu bisakah kau membantuku masuk ke dalam? setidaknya aku bisa membantumu memotong buah-buahan" lanjutnya.


"Baiklah" jawab Ardi.


Perlahan Ardi kembali membantu Ratna untuk berjalan, sebelum pergi Ratna sempat melambaikan tangan kepada Sela dan Ian sebagai isyarat bahwa mereka bisa melanjutkan tanpa khawatir.


Tiba di dalam kedai Ardi segera memakai celemek dan melihat pesanan sedang Ratna mulai menyiapkan buah-buahan untuk jus, ia hanya perlu memotong-motong buah itu dan menghaluskannya menggunakan blender sambil duduk.


Ardi menjadi sibuk saat pesanan semakin banyak, ia hilir mudik ke depan untuk memberikan pesanan para pelanggannya.


"Ratna! bisakah kau membantuku membawakan buah-buahan itu ke dalam?" tanya Hamdani.


"Oh baiklah paman" jawab Ratna setelah memastikan Ardi berada di luar.


Ia segera bangkit dan membawakan keranjang buah-buahan untuk bahan jus, masih ada sisa dua keranjang lagi dan Ratna melakukannya dengan cepat sebelum Ardi kembali.

__ADS_1


Tapi dia memang sial, saat membawa keranjang terakhir Ardi masuk kedalam dan kaget melihatnya yang bisa berjalan bahkan membawa keranjang berisi buah-buahan.


"Kau... kaki mu tidak sakit?" tanya Ardi.


"Hehe... um... itu... " gumam Ratna kebingungan.


Tak ada alasan masuk akal yang bisa ia pakai untuk berbohong, pada akhirnya ia menceritakan juga apa yang sebenarnya dia rencanakan.


"Aku.... hanya pura-pura keseleo, sebenarnya kaki ku baik-baik saja" ungkapnya.


"Kenapa kau melakukan hal ini?"


"Agar kau mau membantuku bekerja"


"Hanya itu? kenapa kau tidak minta tolong saja, kenapa harus berpura-pura segala?" tanya Ardi yang masih belum mengerti.


"Itu akan terlihat oleh mereka berdua"


"Maksud mu?"


Hhhhhh


"Aku sedang mencoba membuat Sela dan Ian kembali balikan, karena itu aku sengaja mengundang mereka datang ke sini dan membuat semua sandiwara ini agar mereka punya kesempatan untuk bicara"


"Apa? kenapa kau melakukan hal itu?" tanya Ardi kaget.


"Tentu saja karena mereka masih saling mencintai, hanya saja mereka terlalu naif sehingga tidak bisa mengungkapkannya"


"Bukan itu, maksud ku bukankah Ian pacarmu? lalu bagaimana bisa kau membiarkan pacarmu kembali pada mantannya?"


"Oh itu... um... sebenarnya... " gumam Ratna ragu.


Ratna telah sepakat bahwa sandiwaranya dengan Ian harus di tutupi tanpa ada seorang pun yang tahu, tapi ia tak mungkin menjelaskan kepada Ardi jika tidak memberitahu tentang hubungan palsu itu.


Pada akhirnya ia memang harus menceritakan segalanya, termasuk sandiwara yang masih berlanjut itu demi kesuksesannya membuat Sela dan Ian berbaikan.


"Jadi begitu" komentar Ardi.


"Maaf, bukannya aku tidak perduli pada perasaanmu. Tapi aku yakin kau pun tidak mencintai Sela jadi seharusnya itu tidak masalah kan?" ujar Ratna menyesal.


"Baiklah, kalau begitu aku akan membantumu" ucap Ardi memutuskan.


"Apa?"


"Katakan apa yang harus aku lakukan? aku akan membantumu membuat mereka kembali baikan" jelas Ardi.


"Sungguh?" tanya Ratna riang.


Ardi mengangguk yakin, membuat Ratna loncat kegirangan. Tentu tak masalah bagi Ardi putus dengan gadis secantik Sela karena dia memang tidak pernah tertarik padanya, hingga saat ini gadis mana pun tidaklah penting jika di bandingkan dengan Ratna. Ia pun bersyukur sebab hubungan antara Ratna dan Ian rupanya hanya sandiwara belaka.


Lama mereka membiarkan Sela dan Ian bicara berdua sampai akhirnya Sela mengatakan untuk pamit pulang.


"Kenapa harus sekarang? pekerjaan ku masih banyak" ujar Ardi.


"Tidak masalah, aku bisa pulang sendiri" jawab Sela.


"Mana boleh begitu! tidak baik berjalan seorang diri, bagaimana jika Ian mengantarmu pulang?" ucap Ratna.


"Apa? aku?" tanya Ian.


"Tidak masalah kan? hanya kali ini saja, lagi pula sebagai seorang pria sudah seharusnya kau menemani seorang gadis pulang"


"Oh, ya.. aku tidak masalah"


"Tapi... "


"Sudahlah, anggap ini ucapan terimakasih ku karena kau mengijinkan Ardi membantu pekerjaan ku. Mau bagaimana pun dia adalah pacarmu" ujar Ratna memotong ucapan Sela.


"Mm baiklah, kalau begitu sampai jumpa"


"Hati-hati di jalan" ujar Ratna.


Meski canggung tapi Ian tetap mengantar Sela pulang, setelah berpamitan mereka pergi meninggalkan kedai.


Di sepanjang jalan tak ada yang bicara padahal kursi yang Sela duduki adalah tempatnya yang biasa saat masih berpacaran dengan Ian, di masa itu bahkan mereka sering bercanda dan tertawa bersama.


"Kau... masing menggantungnya" ujar Sela menatap kalung yang di gantung di kaca spion.


"Oh... aku tidak pernah menyentuhnya, jadi benda itu tetap ada di sana" jawab Ian.


Mereka tentu masih ingat jelas bahwa itu merupakan kalung yang Sela berikan untuk kado ulang tahun Ian, karena Ian tidak biasa memakai kalung jadi dia menggantungnya di sana agar selalu ia lihat.


Mereka larut dalam lamunan masing-masing, mengenang apa saja yang telah terjadi selama masa pacaran mereka yang lama. Ada kenangan manis, lucu hingga suka duka yang berhasil mereka lewati.


Pada akhirnya sungguh ironis memang hubungan itu harus kandas karena keegoisan masing-masing. Sampai di depan pintu gerbang rumah Sela, mereka masih saling terdiam satu sama lain.


"Terimakasih telah mengantarkan ku pulang" ujar Sela pelan.


"Tidak masalah"


"Kalau begitu sampai jumpa"


"Tunggu!" sergah Ian saat Sela hendak membuka pintu mobil.


"Ada... apa?" tanya Sela berbalik perlahan.


"Jika.... aku menciummu... apakah kau akan marah?" tanya Ian ragu.


Sela tak menjawab, ia hanya terpaku memandang Ian. Tetap menatapnya saat Ian mulai mendekatinya, hingga bibir Ian mengecupnya dengan lembut.


Hanya beberapa detik saja tapi Sela telah larut pada perasaan cinta yang masih ia pendam, saat Ian menjauhkan bibirnya dan berbisik.

__ADS_1


"Selamat malam."


Sela sadar bahwa hatinya masih terpaut pada Ian, kali ini ia beranjak dan membalas kecupan itu. Membuat Ian cukup kaget tapi menerimanya dengan senang, sebab ia tahu Sela akan menjadi miliknya lagi.


__ADS_2