Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 81 Ratna


__ADS_3

Hati itu ada perayaan untuk memperingati ulang tahun supermarket yang membuat mereka bekerja ekstra sepanjang hari, banyak pembeli yang datang membuat mereka sangat sibuk hingga sulit untuk minum sekali pun. Tiba di jam istirahat Irma mengeluhkan tubuhnya yang terasa pegal-pegal karena terus bekerja.


"Sabarlah... beberapa jam lagi juga kita pulang" ujar Ratna.


Karena supermarket memberikan diskon besar-besaran sudah pasti banyak pembeli yang datang, selain itu juga anak-anak kecil di berikan balon gratis.


Setelah bekerja sepanjang hari akhirnya mereka bisa pulang juga, Irma mengatakan akan langsung pulang dan tidur untuk mengembalikan energi tubuhnya yang hilang. Mereka berjalan keluar sambil berbincang-bincang, namun perhatian Ratna teralihkan oleh anak kecil yang menangis sebab balonnya terlepas dan terbang ke depan sedang ibunya tak bisa mengejar karena tangannya membawa banyak belanjaan.


Ratna berinisiatif untuk mengejar balon itu sebab terbangnya tak begitu tinggi, beruntung angin pun tidak bertiup kencang sehingga balon itu berhasil ia dapatkan. Namun sebuah suara menyadarkannya bahwa ia telah berdiri di tempat yang salah.


Tiiiiitttt..... Tiiiiiittttt..... Tiiiiiittttt...


Ciiiiiiittt.....


Bruk


* * *


Dengan tergesa-gesa Ardi cepat berlari menyusuri koridor sampai ia menemukan Irma yang sedang duduk di bangku, perlahan ia menghampirinya dan berdiri tepat di depannya.


"Ardi.... " panggil Irma sambil memeluk dan menangis dalam dekapannya.


Ardi hanya bisa mengusap kepala Irma, menenangkannya dan menghibur dengan kata-kata bahwa Ratna pasti akan baik-baik saja. Meski kenyataannya saat ini Ratna berada di ruang ICU dan mereka belum tahu bagaimana keadaannya yang sebenarnya.


"Aku sudah memberitahu Jimy dan paman, mereka pasti akan tiba sebentar lagi" ujar Ardi saat Irma telah mampu menguasai diri.


Beberapa jam kemudian Dokter mendatangi mereka dan mengatakan Ratna dalam keadaan baik meskipun ia belum sadarkan diri, ia memang mengalami benturan yang cukup keras di kepala tapi tak ada organ vital yang rusak.


Sejauh ini bisa di katakan sebuah mukjizat bagi Ratna yang telah mengalami kecelakaan hebat namun tak mengalami luka serius, satu-satunya luka besar hanya kulit di kakinya yang sobek dan mendapat tujuh jahitan.


"Untuk barang-barang korban silahkan ambil" ujar Dokter itu sebelum pergi.


"Biar aku yang ambil" ucap Irma.


"Kau bisa?" tanya Ardi sebab Irma kelihatan sangat lemah.


Irma menganggukkan kepala dengan sedikit tersenyum kemudian ia pun pergi, setelah menandatangani surat pernyataan seorang suster memberinya semua barang Ratna yang dia bawa hari itu.


Ada jaket, tas, pakaian dan kalung yang ia kenakan. Saat itulah ponsel Ratna berdering yang membuat Irma cukup kaget, ia melihat nama Jaya di layar dan segera sadar bahwa itu adalah pacar Ratna yang telah ia ceritakan.


"Halo.... " jawab Irma mengangkat telpon itu.


"Halo... maaf ini ponsel Ratna kan?" tanya Jaya sebab ia tak mengenali suara Ratna.


"Ini memang ponsel Ratna"


"Apa Ratna ada di sana?"


"Dia.... dia kecelakaan" ujar Irma yang tak bisa menutupi fakta itu.


"Apa? apa kau bilang?"


"Ratna mengalami kecelakaan, sekarang dia masih belum siuman. Akan ku kirimkan alamat rumah sakitnya padamu"


"Baiklah, tolong cepat kirim" ujar Jaya cemas.


Irma segera mengirimkan alamatnya dan kembali pada Ardi, tak butuh waktu lama bagi Jaya untuk sampai. Tentu kedatangannya mengundang pertanyaan bagi Ardi, setelah mendapat informasi jelas dari Irma ia pun ikut duduk di sana.


"Kalung itu... apa dia memakainya saat kejadian?" tanya Jaya melihat barang-barang Ratna yang di pegang Irma.


"Kau mengenalinya?" tanya Irma.

__ADS_1


Irma memberikan kalung itu kepada Jaya, membiarkannya untuk melihat dengan lebih jelas.


"Aku memberikan kalung ini kepadanya sebagai hadiah untuk merayakan hari jadian kami" ujar Jaya.


"Kau... dan Ratna... kalian kembali pacaran?" tanya Ardi tak percaya.


"Beberapa waktu lalu kami tak sengaja bertemu, setelah itu kami mulai berkomunikasi. Aku memutuskan untuk menyatakan perasaan ku meski aku tahu dia masih belum bisa menerima ku, butuh setidaknya dua hari untuknya menjawab ya. Tapi aku tahu dia masih mencoba membuka hatinya untukku, karena itu aku memberinya hadiah agar ia tahu bahwa aku serius pada perasaan ku" jelas Jaya.


Rupanya Jaya pun sadar akan hati Ratna yang tidak bisa berbohong, meski begitu ia tetap mencoba peruntungannya. Karena ia tak mau diam sebagai pengagum rahasia, ia ingin Ratna tahu bahwa ada orang yang mencintainya dengan tulus.


Beberapa saat kemudian Dokter datang hanya untuk mengatakan bahwa mereka boleh menjenguk Ratna tapi secara bergiliran dan tidak boleh berlama-lama, Ardi dan Irma sepakat membiarkan Jaya menengok lebih dulu.


Saat pintu ia buka betapa hancur hati Jaya melihat gadis yang ia cintai terbaring tak berdaya di atas ranjang, matanya tertutup dengan selang-selang yang menempel pada tubuhnya.


"Hai Na... " sapa Jaya pelan.


"Apa yang mau kau lakukan hingga berakhir seperti ini? padahal aku berniat mengajak mu pergi ke Bandung lagi, aku ingin melihat mu tersenyum dan bercanda lagi dengan ku. Cepatlah buka matamu.... aku ingin melihat matamu yang indah.. " ujarnya lirih.


Sebenarnya Jaya ingin terus berada di sana, di samping Ratna dan memastikan bahwa ia akan semakin membaik. Tapi ia harus taati peraturan rumah sakit karena itu pun demi kebaikan Ratna, setelah ia keluar Ardi dan Irma pun giliran masuk.


Mereka hanya memastikan bahwa Ratna benar-benar baik dan tidak mengalami luka serius, puas melihat keadaan sahabatnya itu mereka pun keluar.


Sapardi tiba di rumah sakit saat hari sudah sore, rupanya Jimy, Mita, Angga, dan Rere pun ikut serta juga karena cemas pada keadaan Ratna. Sapardi lebih dulu di ijinkan masuk untuk melihat kondisi putrinya, sedang yang lain menunggu di luar sambil mendengarkan keterangan dari Irma yang melihat kejadian itu.


"Kau juga datang!?" ujar Jimy melihat Jaya.


"Tentu saja, sebagai pacarnya aku pasti datang"


"Apa? sejak kapan kalian berhubungan?" tanya Jimy.


Karena semua teman sekolahnya ada di sana tahu bagaimana kisah cintanya dengan Ratna maka Jaya pun memberitahu bahwa kini ia dan Ratna memang sedang berpacaran namun baru berlangsung beberapa hari saja.


Kabar ini tentu membuat Mita dan Rere kaget sebab ia kenal baik dengan Jaya dan bagaimana hubungan keduanya.


"Aku sudah mencoba menghubunginya tapi tak ada jawaban" jawab Ardi.


"Ya, aku juga sudah mencoba" sahut Jimy.


"Kenapa kalian diam? terus coba hubungi dia sampai di jawab" perintah Irma kesal.


"Oh.. baiklah" jawab keduanya yang segera pergi meninggalkan tempat itu.


Jaya yang melihat sikap Irma merasa bahwa Amus teramat penting untuk hadir, mungkin ia memang teman masa kecil Ratna tapi rasanya sikap Irma terlalu berlebihan. Sadar tengah di perhatikan Irma mengambil keputusan untuk mengajak Jaya bicara berdua, tentu yang akan mereka bahas adalah tentang Ratna.


"Mungkin aku mengenal Ratna belum lama ini, jika di bandingkan dengan mu apalagi yang lain aku hanyalah orang asing yang baru di akui. Tapi aku tahu yang tidak kalian ketahui" ujar Irma.


"Apa itu?" tanya Jaya.


"Pria yang di cintai Ratna, dari pernyataan mu sepertinya kau sadar bahwa dia memang tidak mencintai mu. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti hatimu, tapi inilah kenyataannya"


"Pria itu... apakah dia Amus?" tanya Jaya.


"Kau bisa menebaknya, kau pasti sudah sadar kalau Ratna mencintai Amus bahkan sejak dulu"


"Aku tidak bodoh, kau bersikukuh ingin Amus datang itu artinya ada sesuatu yang terjadi"


"Dengar, mungkin ini sedikit menyakitkan tapi Ratna menerima mu karena kau sangat baik dan dia ingin memulai hidup baru. Aku pun tahu bahwa Amus sudah memiliki pacar, hanya saja aku pikir kau harus tau kebenarannya. Kedepannya aku harap kau bisa memaklumi jika sikap Ratna tidak sesuai dengan keinginan mu" ujar Irma.


"Kau tenang saja, aku sudah terbiasa. Aku sudah tahu resiko ini dan siap menghadapinya" jawab Jaya.


Memang begitulah kini hati Jaya, ia sudah ikhlas menerima bagaimana pun sikap Ratna sebab yang terpenting baginya adalah cintanya telah di ungkapkan. Jika pada akhirnya ia harus melepas Ratna pun itu tidak masalah, ia sudah pernah menjalin hubungan dan kisah itu berakhir dengan kegagalan karena dia bukanlah prioritas utama. Karenanya jika memang harus melepaskan maka ia akan melepaskan Ratna dari pada memaksanya dalam hubungan yang tidak ia inginkan.

__ADS_1


Ardi dan Jimy kembali tanpa hasil, entah apa yang di lakukan Amus namun ia tak menjawab juga telpon dari mereka. Semua pesan yang mereka kirim pun tak ada satu pun yang di balas.


Setelah malam tiba semua pria sepakat untuk berjaga, sedang semua yang perempuan akan menginap di kosan Ratna meski awalnya mereka semua ingin ikut menunggu juga. Kunci kamarnya berada di tas Ratna sehingga Irma bisa membukanya, ia masuk dan memberitahu bahwa itulah tempat tinggal Ratna selama ini.


"Si Dolar itu rupanya tidak pernah berubah, tidak ada barang yang terbuang percuma" ujar Mita melihat tempat pensil yang terbuat dari bekas minuman yang telah di rombak.


Ada beberapa hiasan kamar juga yang di buat dari bahan bekas, kamarnya cukup rapih dengan nuansa pink dan biru khas seorang gadis.


"Apa kau sering berkunjung kemari?" tanya Rere.


"Sangat sering, dia selalu menjadikan ku bahan percobaan untuk menata rambut. Dia sangat suka menata rambut untuk itulah dia juga bekerja ekstra di salon"


"Ah... mau sampai kapan dia bekerja keras seperti itu, bukankah dia sudah punya penyakit magh?" omel Mita.


"Tidak ada yang berani membantahnya, aku pun tidak bisa mengatakan apa pun jika ia sudah memutuskan" jawab Irma.


Mita dan Rere yang sudah menjadi sahabat Ratna sejak masa sekolah tentu paham betul apa yang di rasakan Irma, pada akhirnya mereka bicara bertiga dengan Ratna adalah topik utamanya.


Banyak kisah yang di ceritakan Rere kepada Irma selama mereka di SMA, begitu pun dengan Mita yang tak mau kalah. Semua rahasia mengenai Ratna terkuak sudah bahkan tentang cintanya kepada Amus, rupanya sebelum kepada Irma Mita adalah orang pertama yang tahu tentang perasaan itu.


Lalu Rere menjadi orang kedua yang tahu kebesaran cinta Ratna kepada Amus hingga Irma menjadi orang ke tiganya, sebagai teman perempuan Ratna wajar jika mereka mengetahuinya.


"Aku tidak menyangka Ratna akan kembali berpacaran dengan Jaya" tukas Rere.


"Ya, sekian lama memendam cinta pasti Ratna sangat sakit hingga memutuskan untuk menyerah" balas Mita.


"Tapi bukankah dia sangat hebat? jarang ada orang yang bisa memendam cinta selama itu, bahkan tetap dengan harapan yang belum tentu akan terwujud" ujar Irma.


Mereka mengangguk tanda setuju, satu kali mereka memuji kesetiaan Ratna yang begitu hebat lalu beberapa waktu kemudian mereka memarahi kebodohan Ratna yang tidak bisa move on.


Esok harinya para perempuan bergantian untuk berjaga, mereka memaksa Sapardi untuk istirahat sejenak di kosan Ratna.


Awalnya tentu ia menolak tapi setelah di bujuk oleh semua orang akhirnya ia pun mau juga, sedang Jaya pulang dulu Jimy, Angga dan Ardi memutuskan untuk mencari hotel murah. Irma sendiri tak bisa ikut menunggu karena ia harus bekerja, maka tinggallah Mita dan Rere saja yang berjaga.


Cukup lama mereka menunggu dan dokter jaga telah bergantian masuk untuk mengecek kondisi Ratna, tapi ia belum juga sadar. Dokter hanya mengatakan itu akibat dari benturan di kepalanya, tapi tak ada yang perlu di kuatir kan.


Saat siang hari Jaya kembali lagi ke rumah sakit, ia membelikan Mita dan Rere minuman kaleng dan beberapa roti bungkus.


"Kelihatannya sekarang kau sudah sukses" ujar Mita kepada Jaya.


"Sekarang aku seorang pengacara" jawabnya.


"Wah hebat sekali, aku tak menyangka anak nakal seperti mu bisa menjadi pengacara" sahut Rere.


"Mungkin ini alasan mengapa sekarang Ratna mau menerima mu lagi, bagi gadis dolar bukankah kau adalah kunci menuju kekayaan?" tukas Mita yang membuat mereka tertawa.


Di saat-saat suasana sedih itu sudah mulai mencair Amus datang dengan berlari di lorong, Mita yang pertama kali melihat Amus bangkit dari tempat duduk dan menatap Amus hingga ia sampai di sana.


"Apa... apa aku terlambat?" tanya Amus sambil mengatur nafas.


"Dari mana saja kau? kenapa baru datang sekarang?" tanya Jaya.


"Kau... kau juga ada di sini?" tanya Amus heran.


"Kami semua ada di sini, Ardi, Jimy, kak Angga dan ayahnya Ratna. Kami datang begitu mendengar kabar itu" jawab Rere.


"Maaf... aku... sedang bekerja dan tidak ada waktu untuk mengecek ponsel sebab ponsel ku ada di tas" ujar Amus menyesal.


"Sudahlah, keadaan Ratna baik-baik saja. Ia tidak mengalami luka serius tapi sampai saat ini ia masih belum sadarkan diri, pergilah tengok dia" ucap Mita.


Amus mengangguk, perlahan ia masuk ke dalam ruangan itu. Di balik gorden ia melihat sosok gadis kuat yang pemberani terbaring lemah tak berdaya, tubuhnya yang berisi karena suka makan kini kurus bagaikan triplek.

__ADS_1


Tanpa sadar air mata mengalir begitu saja, perlahan ia mendekat dan duduk di samping Ratna. Mengelus rambutnya yang panjang dan mengecup tangannya yang terhubung selang.


"Ratna.... hei... gadis dolar, aku datang... maaf... aku terlambat" ujarnya pelan.


__ADS_2