Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 16 Minggat


__ADS_3

"Aku pulang.... " teriak Amus sambil membuka pintu.


"Kau dari mana saja? kenapa pulang selarut ini?" tanya nenek.


"Tentu saja main, apa yang bisa di lakukan oleh anak laki-laki selain bersenang-senang? sebaiknya ibu masuk ke kamar ini sudah malam tidak baik untuk kesehatan ibu" tukas ibu Amus.


"Sebaiknya kau yang masuk ke dalam Yati, besok kau pergi lagi bukan? jangan sampai kurang istirahat"


"Baiklah, tapi ibu juga harus istirahat"


"Aku mengerti" ujar nenek.


Yati sempat melirik tajam kepada Amus yang bahkan tidak bergerak sedikit pun, andai ibunya tidak ada di sana sudah pasti ia akan mengomel terus meski Amus tidak akan mendengarkan.


"Apa kau sudah makan?" tanya nenek mengusap bahu Amus.


"Sudah, sebaiknya nenek masuk ke dalam aku juga ingin istirahat" jawab Amus menatap lembut.


"Baiklah."


Amus masih berdiri di sana hanya untuk memastikan neneknya masuk ke dalam kamar, meski ia tak melakukan aktivitas berat tapi rasa lelah cukup membuatnya mengantuk dan tidur dengan cepat.


* * *


Tok Tok Tok


Tok Tok Tok


Tok Tok Tok


"Mmmm.... siapa yang bertamu malam-malam begini?" gumam Ratna sambil mengucek matanya.


Ketukan di pintu yang amat keras itu terus berbunyi tanpa henti, dengan malas Ratna terpaksa bangun dan tepat saat ia hendak membuka pintu Sapardi juga keluar kamar dengan rambut yang acak-acakan.


"Siapa itu Na?" tanya Sapardi mencoba menyesuaikan penglihatannya.


"Entahlah.. aku juga penasaran" jawabnya.


Kreeettt....


Pintu perlahan di buka dan.


"Na... Ratna.... " panggil nenek dengan wajah khawatir dan uraian air mata.


"Nenek! apa yang terjadi?" tanya Ratna serta merta.

__ADS_1


Huu..... Hu....


"Ratna.... tolong.... " ujar nenek di tengah tangisannya.


"Nenek bicaralah pelan-pelan, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sapardi cepat menghampiri.


Untuk beberapa saat nenek hanya menangis, tak ada kata yang ia ucapkan selain memanggil Ratna dan meminta tolong. Akhirnya, setelah menunggu cukup lama nenek mengutarakan apa yang telah terjadi.


Mendengar hal itu Ratna langsung pergi ke rumah Ardi dan memberitahu kabar itu, ia juga pergi ke rumah Jimy untuk mendiskusikan hal itu. Sama-sama bingung mereka hanya bisa diam sambil berfikir keras, sampai akhirnya nenek kembali bicara dan minta tolong.


* * *


Bukan kali pertama baginya untuk bepergian sendiri, bahkan sudah sejak kecil Amus biasa dengan kesendiriannya. Terkadang ia akan menghabiskan banyak waktu dengan bermain bersama teman-teman yang lebih dewasa darinya, kadang ia juga bisa menghabiskan waktu hanya dengan melamun di bawah langit selama berjam-jam.


Dari jauh orang hanya akan memandang seorang remaja yang nakal, hal yang biasa dan tidak menarik perhatian. Tapi dari dekat mereka akan melihat jelas air mata yang mengalir tanpa suara, dan senyum hampa yang memilukan.


"Aku baru tahu ada tempat seperti ini" ujar Ardi yang tiba-tiba datang.


Amus cukup terperanjat hingga bangkit dan menatap ke tiga sahabatnya di sana.


"Apa.... yang kalian lakukan di sini?" tanyanya.


"Ini! kau pasti lapar" ujar Ratna menyerahkan sekantong makanan.


"Aku ingat Bagus pernah bercerita ada tempat yang selalu kau kunjungi setiap hari, ternyata dugaan ku benar! kau ada di sini" ucap Jimy.


"Nenek menangis di pintu depan rumah ku, selama beberapa menit ia tidak mengatakan apa pun sampai membuat kami bingung. Setelah mendengar apa yang terjadi aku baru memberitahu master dan Ardi, tentu saja ini karena aku tidak tega melihat nenek terus menangis" jawab Ratna.


Beberapa saat yang lalu, Amus yang terbangun dari tidurnya tak sengaja mendengar percakapan antara ibu dan ayahnya. Awalnya Amus tak menghiraukan percakapan itu, tapi saat namanya di sebut-sebut rasa penasaran itu akhirnya membuat ia berdiri tepat di depan pintu kamar dan menguping.


Obrolan itu rupanya tentang SMA yang akan Amus masuki nanti, ayahnya ingin Amus ikut tinggal bersama mereka di kota dan masuk SMA yang bagus. Tapi tentu ibunya menolak, dengan nada tinggi ia mengancam jika Amus ikut bersama mereka maka ibunya akan melayangkan gugatan cerai.


Amus sadar ibunya memang tidak pernah menginginkannya, secara terang-terangan ia mengatakan bahwa ia ingin anak perempuan tapi ayahnya tiba-tiba membawa Amus ke rumah dan mengatakan sudah mengadopsinya.


Semenjak itu Yati selalu menunjukkan sikapnya yang membenci Amus secara terang-terangan, bahkan ia selalu tega menyebut Amus sebagai anak pungut.


Saat itu setelah perdebatan yang cukup hebat Yati memergoki Amus yang sedang menguping, tentu Yati semakin emosi melihat tingkah Amus yang di nilai tak sopan hingga keluar ucapan yang tak bisa lagi Amus tahan.


Dengan perasaan yang dirundung emosi Amus memilih untuk pergi dari rumah, mencoba kabur dari teriakan Yati yang tak henti mengutuknya.


"Maaf sudah merepotkan kalian, tapi...aku akan kembali besok" ujar Amus pelan.


"Kenapa harus besok jika bisa sekarang! nenek sangat mencemaskan mu" ujar Ratna yang tak tahan akan sikap Amus.


"Sampaikan saja padanya aku baik-baik saja"

__ADS_1


"Mana bisa seperti itu? nenek tidak akan pernah tenang sebelum melihat wajahmu" ujar pula Ardi.


"Dia benar, setidaknya kau bisa menginap di rumahku yang penting pulang lah dulu" bujuk Jimy.


Amus tak bisa menjawab, ia tahu nenek pasti mengkhawatirkannya dan sejujurnya dia juga tak tega meninggalkan nenek seperti itu. Tapi ucapan Yati yang kelewat batas sudah terlalu menyakitinya hingga ia enggan untuk kembali ke rumah itu lagi.


"Kali ini saja, singkirkan egomu demi nenek. Kau boleh benci ibumu dan menjauhinya tapi bagaimana dengan nenek? selama ini dia mengasuhmu dari kecil, balaslah kebaikannya dengan tidak membuatnya khawatir" bujuk Ratna.


Ia tahu ucapan Ratna benar, tapi tetap saja kakinya berat untuk melangkah.


"Baiklah, tapi... master izinkan aku menginap di rumah mu malam ini" ujar Amus akhirnya.


"Begitu donk dari tadi!" teriak Ardi lega.


Empat sekawan itu pun berjalan pulang, nenek yang menemui Amus di rumah Jimy akhirnya berhenti menangis dan mengucapakan terimakasih kepada mereka karena telah membawa Amus pulang. Malam itu Ardi juga ikut menginap untuk menemani sahabatnya yang sedang sedih, namun bukannya cepat tidur selepas Ratna pulang mereka malah bergadang.


"Besok hari minggu, bagaimana kalau kita pergi nonton" ujar Jimy.


"Ini tanggal tua, aku tidak punya uang lagi pula kenapa harus pergi ke bioskop? kita bisa membeli DVD dan menontonnya di rumah" ucap Ardi.


"Oh aku baru ingat, aku ada pertandingan futsal besok. Kalian mau ikut?" tanya Amus.


"Kau mau menjadikan kami pemain cadangan lagi?" tanya Jimy.


"Apa salahnya menjadi pemain cadangan?"


"Tentu saja salah, pemain cadangan itu duduk di bangku cadangan bukan menggantikan teman mu" protes Jimy.


"Aish, kau tidak mau membantuku menang?"


"Bukan begitu, apa gunanya teman-teman mu jika tidak ikut main? sudah dua kali kami menggantikan mereka, jika begini terus aku takut mereka akan dendam pada kami" jelas Ardi.


"Mau bagaimana lagi? mereka tidak bisa diandalkan, lagi pula teman ku yang lain tidak keberatan kalian selalu ikut. Aku juga sudah menyarankan kalian untuk ikut bergabung tapi kalian tidak mau"


"Aku tidak punya waktu untuk berlatih futsal, lagi pula besok aku ada janji dengan seseorang" ujar Ardi.


"Dengan siapa?" tanya Amus.


"Pacarnya, kau pikir siapa lagi yang akan dia temui di hari minggu?" ujar Jimy menjawabkan.


"Dasar buaya! kau lebih memilih pacar dari pada teman mu sendiri"


"Hei kenapa kau tidak ajak pacarmu saja? kita juga bisa mengajak Ratna agar pacarmu tidak kesepian" ucap Amus tiba-tiba.


"Ha... dia benar! akan lebih seru jika ada para gadis yang menyemangati kita" ujar Jimy setuju.

__ADS_1


Ardi terlihat berfikir, dia tidak yakin pacarnya akan mau di ajak ke lapangan futsal tapi rasa tidak ada salahnya mencoba.


__ADS_2