Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 30 Pencuri


__ADS_3

"Hal yang ku takutkan adalah sesuatu yang membuat ku melupakan harapan, lalu terombang-ambing di lautan tanpa dayung. Memang terasa baik awalnya, tapi hatiku merasa terasing secara bersamaan. Seolah pendaki yang kehilangan petanya, aku tahu tujuan ku tapi tak tahu kemana arahnya."


Di kutip dari arsip pribadi Ratna Mangalih.


* * *


Sejak pagi mereka buka kedai sudah ramai meski ini hari Rabu, mungkin karena sekolah sudah libur sehingga banyak orang bepergian. Ketimbang buah-buahan segar jus yang mereka jual lebih laku hingga membuat mereka cukup kewalahan.


"Paman tolong bawakan buah alpukat yang sudah matang!" teriak Ratna sambil memotong apel.


"Ini!" ujar Hamdani sambil menaruh sekeranjang alpukat tepat di bawah kaki Ratna.


"Terimakasih, maaf aku sudah menyuruh paman padahal paman adalah atasan ku" ujar Ratna merasa tak enak hati.


"Aish.... ini bukan waktunya memikirkan hal itu, lihatlah pelanggan kita yang kehausan" jawab Hamdani menunjuk antrian di depan mereka.


Ratna tersenyum senang karena Hamdani tak keberatan akan hal itu, dengan penuh semangat ia melanjutkan pekerjaan.


Di dalam kedai itu ia dan Ardi saling hilir mudik bergantian membuat jus dan menerima pembayaran, sedang Hamdani mengambil buah-buahan yang di butuhkan.


Bruk


Aw...


"Maaf... aku buru-buru" ujar Ardi yang tak sengaja menabrak Ratna saking sibuknya.


"Tidak apa-apa, lanjutkan saja pekerjaan mu" jawab Ratna karena ia memang tidak terluka.


Saking sibuknya tanpa terasa hari sudah mulai gelap saat pengunjung mulai berkurang, akhirnya mereka bisa istirahat dan bersantai.


"Ah... aku benar-benar lelah" ucap Ardi memukul-mukul bahunya.


"Baru kali ini kita benar-benar sibuk, hampir semua pengunjung memesan jus" ujar Ratna menanggapi.


"Mungkin karena siang tadi matahari cukup terik, bagi mereka yang bepergian atau sekedar jalan-jalan memang akan menyegarkan jika minum jus" jawab Hamdani.


"Paman benar, aku sampai menabrak Ratna karena terlalu banyak pelanggan bahkan sempat salah memberikan jus nya"


"Sepertinya kita harus merubah cara kerja kita" ujar Ratna menemukan sebuah ide.


"Maksudmu?" tanya Ardi.


"Kita lakukan pembagian tugas, karena aku mudah mengingat pesanan maka tugasku adalah menerima pesanan dan pembayaran sedang kau bertugas membuat jusnya"


"Aku rasa itu ide yang cukup bagus, dengan begitu aku tidak perlu mengingat pesanan setiap pelanggan dan kita tidak akan terlalu lelah karena terus hilir mudik" jawab Ardi setuju.


"Dan paman akan tetap mengurus persediaan buah-buahan yang akan di butuhkan nanti" timpal Hamdani.


"Ya paman benar" jawab Ardi.


"Baiklah kalau begitu kita tutup sekarang!"


"Kenapa? inikan baru jam tujuh malam" tanya Ratna.


"Hei... kita sudah bekerja keras hari ini, paman tidak mau kalian sakit karena kelelahan"


"Tapi bagaimana kalau nanti ada pengunjung lagi?"


"Tidak masalah, kita sudah dapat banyak pelanggan hari ini"


"Tapi kalau kita buka sampai malam kita dapat untung yang lebih besar!"


"Hei gadis dolar! sampai kapan kau mau menghitung untung rugi terus? jika paman bilang tutup maka itu yang harus kita lakukan" ujar Ardi menepuk pundaknya.


"Baiklah... " jawab Ratna beranjak dari tempat duduknya.


Mereka mulai membereskan tempat itu dengan menumpuk semua kursi dan memasukannya ke dalam kedai, mengepel lantai dan akhirnya menutup kedai.


"Baiklah paman duluan!" ujar Hamdani.


"Sampai besok paman" jawab Ardi.


"Hati-hati di jalan" tambah Ratna.


"Ayo! kita pulang juga" ajak Ratna mulai melangkahkan kaki, tapi tiba-tiba.


Ah...


Bruk


Matanya yang kaget beradu pandang dengan Ardi yang jatuh menimpanya, tak ada rasa sakit sebab tangan Ardi tepat di bawah kepalanya untuk melindungi tapi hatinya berdebar cukup kencang.


Lagi-lagi Ardi menatap dengan pandangan yang membuat sensasi aneh di hatinya, membuatnya tak nyaman sebab debaran jantungnya semakin kencang.


"Ma-maaf" ujar Ardi sambil bangkit.

__ADS_1


"Apa kau terluka?" tanyanya.


"Tidak, aku baik-baik saja" jawab Ratna pelan.


"Kaki ku menginjak tali sepatuku sendiri, jadi aku terjatuh" ujar nya sambil menunjukkan tali sepatu yang memang tidak di ikat.


"Ah.. kalau begitu kenapa tidak kau ikat dari tadi?"


"Aku.... tidak bisa mengikatnya" jawab Ardi sedikit malu.


"Apa?"


"Aku tidak bisa melakukanya, aku tidak tahu cara mengikatnya" ujar Ardi dengan nada bicara yang lebih kencang.


"Lalu bagaimana caramu mengikatnya selama ini?"


"Itu... ibuku yang selalu mengikatkannya untuk ku"


"Hah... hahaha kau sangat pandai mengikat seorang gadis tapi tidak bisa mengikat tali sepatu sendiri, apakah ini trik membuat gadis berlutut di bawah kakimu?" olok Ratna.


"Anggap saja itu benar" balas Ardi sedikit jengkel.


Baru pertama kali ia melihat ekspresi malu bercampur jengkel di wajah Ardi, dan itu cukup manis baginya. Ratna pun membungkuk dan mengikatkan tali sepatu itu.


"Aku mengakui kehebatan kelinci putih, kau bisa membuat ku menunduk padamu tanpa merasa rendah diri" ujar Ratna selesai mengikatnya.


"Ayo pulang, kau bilang kau lelah" ajaknya kembali berjalan.


Gep


Tiba-tiba Ardi menarik tangannya hingga masuk kedalam pelukannya, dengan penuh percaya diri Ardi menatap matanya di tambah senyum yang sanggup membuat gadis mana pun meleleh.


"Aku tidak menyuruh mu tunduk kepadaku, tanpa kau sadari hatimu telah menggerakkan tubuhmu untuk melakukan hal itu. Semua gadis melakukan hal yang sama, bedanya ketika mereka sudah tunduk mereka menyalahkan pesonaku. Tidak masalah, aku mengakui pesonaku sebagai salah satu kehebatan ku" ujarnya.


"Kau sangat percaya diri, aku mengakui kehebatan mu karena alasanku tunduk tidak seperti mereka dan kau telah salah menafsirkannya" balas Ratna yang tak mau kalah sambil menyunggingkan senyum.


"Benarkah? dengan pengalaman ku rasanya aku tidak salah menafsirkan"


"Tuan...saat kau kira sudah berhasil menundukkan seorang wanita sejujurnya kau sendiri yang sudah jatuh dalam perangkap, seperti itulah mengapa aku merendah sekaligus meninggikan"


"Ou... jadi ini permainan yang cukup rumit, siapa yang sebenarnya jatuh dalam perangkap kita tidak tahu kecuali bisa membaca isi hati. Sekarang aku mengerti kenapa Jaya bisa mengirim surat cinta hanya dalam sekali bertemu"


"Dari pada membaca hati sebaiknya kau mulai berhati-hati, sebab saat kau menatap mata seorang gadis tanpa kau sadari kau telah kehilangan segalanya. Tidak ada pencuri yang lebih hebat kecuali pandangan seorang wanita" ujar Ratna sambil perlahan melepaskan rangkulan Ardi.


Bahkan saat ia sampai di rumah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanya melamun di kamar, mengingat kembali tatapan mata Ratna yang indah. Lalu ucapan Ratna yang ia akui, tanpa sadar tatapan itu memang telah mencuri segala yang ia miliki termasuk hembusan nafas.


Diam-diam ada kerinduan yang mendesak adrenalinnya, semakin meronta lagi saat ibu jarinya kembali merasakan kelembutan bibir Ratna yang penuh.


"Aku pikir Jaya pria yang brengsek, ternyata memang sulit berada di dekatnya tanpa benak yang travelling. Sial! padahal dia jarang bersikap seperti gadis pada umumnya" gumamnya bertempur dengan naluri.


* * *


"Ah... pagi Amus" sapa Ratna yang sengaja bangun pagi.


"Kau mau kemana?" tanyanya menatap keranjang belanja.


"Aku mau ke pasar, hari ini aku ingin sekali makan bayi cumi. Kau sendiri mau kemana? tumben sekali bangun pagi"


"Aku mau olahraga"


"Rajin sekali, apa kau sedang diet?"


"Apa aku terlihat gemuk?" balas Amus dengan nada tinggi.


"Aku kan hanya bertanya" gumam Ratna.


"Ayo pergi" ajak Amus pelan.


"Kemana?" tanya Ratna bingung.


"Kita satu arah, apa kau tidak mau berjalan bersama ku?" tanya Amus jengkel.


"Oh, baiklah...tidak perlu marah begitu kau tahu aku sulit memahami sesuatu" jawab Ratna sambil berjalan tepat di samping Amus.


"Pernyataan mu membuatku bingung kenapa kau bisa di terima kerja"


"Itu karena aku pekerja keras, pintar menghitung uang dan mudah mengingat pesanan"


"Rinci sekali" ujar Amus yang tak bisa menahan senyum.


Ratna ikut tersenyum melihat ekspresi senang Amus, saat-saat yang paling ia inginkan ketika mereka bersama. Sampai di pasar Amus membantu Ratna berbelanja, meski bantuan yang ia berikan hanya membawakan barang belanjaan.


Selama sejam lamanya puas hatinya melihat bagaimana cara Ratna berbelanja seperti ibu-ibu, ia pandai memilah bahan makanan yang bagus dan juga menawar harga.


Sesuai ucapannya tadi Ratna menunjukkan keahliannya dalam mengingat pesanan dan menghitung uang, ia tak lupa barang apa saja yang harus ia beli dan mengatur pengeluaran. Melihatnya menyusuri pasar, mampir di setiap kedai membuat pernyataan pekerja keras bukanlah isapan jempol.

__ADS_1


"Sudah semuanya?" tanya Amus setelah mereka keluar dari pasar.


"Ya, sudah semuanya" jawab Ratna setelah melihat kembali barang belanjaannya.


"Biar aku yang bawa, simpan tenagamu untuk nanti kerja" ujar Amus membawa keranjang itu.


Bagi Amus tindakannya hanya hal kecil jika dibandingkan dengan Ratna, tapi bagi Ratna sendiri tindakan kecil itu merupakan sebuah perhatian yang teramat penting baginya.


Hal kecil yang mampu mencuri hatinya, hal kecil yang tidak pernah membiarkannya tidur dengan nyenyak sebab harapan-harapan yang menggelisahkan.


Andai ada sedikit keberanian untuk mendengar kenyataan, ia sanggup memangku gunung demi memastikan cintanya yang tak bertuan. Namun apalah daya, ia hanya gadis yang diam-diam hatinya telah dicuri.


* * *


Strategi yang di buat Ratna cukup ampuh, hari ini pun meski dengan pelanggan yang banyak mereka tidak terlalu kewalahan. Sayang beberapa buah yang di pesan sudah habis sehingga mereka harus kehilangan pelanggan yang tak mau jenis buah lain.


"Sepertinya kita harus memesan buah alpukat yang sudah masak, buah yang lain hanya perlu menambah jumlah saja dan kita harus menambah variasi jus lagi. Beberapa pelanggan menanyakan buah kiwi, bisakah paman mencarinya?" ujar Ratna di saat pelanggan sudah berkurang.


"Baik, paman mengerti. Tolong catat saja buah apa yang kau butuhkan agar paman tidak lupa" jawab Hamdani.


"Beberapa pelanggan juga mengeluh jusnya kurang manis"


"Aku menggunakan gula dan susu sesuai takaran yang biasa" ujar Ardi cukup heran.


Ratna segera memeriksa gula dan susu sebab ia tahu Ardi tidak mungkin berbohong.


"Masalahnya di gula, ini bukan gula yang kemarin kita pakai" ujar nya


"Benarkah? bukankah kita memakai gula yang sama setiap hari?" tanya Ardi cukup kaget.


"Tidak! kemarin tekstur gulanya lebih keras, butirannya lebih besar dan warnanya agak kekuningan. Aku tidak tahu jenis-jenis gula tapi aku tahu gula yang kita pakai sekarang tidaklah cukup bagus untuk jus"


"Benarkah? kalau begitu paman akan menggantinya"


"Jika paman mengijinkan aku juga ingin menambahkan sup buah kedalam daftar menu, cara membuatnya mudah bahkan lebih menguntungkan dari jus"


"Ratna! apa kau pernah bekerja sebelumnya?" tanya Hamdani sambil mengerutkan kening.


"Tidak, ini pengalaman pertama ku kerja. Kenapa? apa aku membuat kesalahan?" jawabnya khawatir.


"Kesalahan katamu? kau bahkan lebih pandai mengelola bisnis ini dari pada paman, kau membuat ide-ide baru dan itu selalu berhasil membuat kedai sukses. Arh.... aku mulai khawatir kau akan mencuri kedai ku ini"


"Paman bisa saja, tidak mungkin aku mencuri kedai ini" ujar Ratna yang senang mendengar pujian itu.


"Pokoknya aku harus hati-hati memiliki pegawai sepintar dirimu" ucap Hamdani sambil mengangkat kedua tangannya.


Ratna hanya bisa tertawa sambil menatap kepergian Hamdani, tanpa menyadari pandangan seseorang yang tak akan melepaskannya.


Bruk


Aw....


"Apa yang kau lakukan?" tanya Ratna kaget melihat Ardi yang tersungkur.


Segera Ratna membantunya bangkit, mereka duduk di lantai dan segera mengetahui penyebabnya adalah tali sepatu Ardi yang terlepas.


"Ah... kenapa kau tidak memakai sepatu yang tidak menggunakan tali? jika kau jatuh lagi seperti tadi akan bahaya bukan?" omel Ratna sambil mengikatkan tali itu.


Dengan senang Ardi memperhatikan keseriusan wajah Ratna, ia tampak lebih manis dari biasanya jika sedang khawatir.


"Sudah ku ikat dengan kuat, dengan begini dia tidak akan terlepas lagi" ujarnya selesai mengikat.


"Benarkah?" tanya Ardi mencoba melepaskan ikatan.


"Ups!" gumamnya saat ia berhasil melepaskan ikatan itu.


Dangan takut ia memandang wajah Ratna yang menahan amarah, untuk menghindari omelan ia hanya bisa tersenyum bak bayi.


"Kau ini aneh sekali, bisa melepaskan ikatan tapi tapi tidak bisa mengikat kembali. Jika seperti ini sebaiknya jangan pernah melepaskan ikatan apa pun" omel Ratna mengikat kembali tali sepatu itu.


"Termasuk pertemanan?" tanya Ardi tiba-tiba.


"Apa?" tanya Ratna bingung.


"Aku ingin melepaskan ikatan pertemanan dan merubahnya menjadi ikatan yang lain, tapi setelah melakukan hal itu aku tidak bisa merubahnya kembali menjadi ikatan pertemanan."


Seketika Ratna terdiam, entah mengapa pertanyaan Ardi seolah merujuk pada hubungan yang tak pernah ia bayangkan sampai untuk pertama kalinya ia merasakan sensasi aneh dari Ardi.


"Jangan diam sayang, itu membuatku merasa mudah menjatuhkan keagungan mu" ujar Ardi sambil tersenyum menggoda.


"Jika diam ku membuat kepercayaan dirimu terbang mengapa tidak?" balas Ratna kembali bernafas normal.


"Hentikan permainan mu! kita banyak pekerjaan" lanjutnya sambil bangkit berdiri.


Tapi Ardi masih duduk, hanya untuk menelan ludah setelah mencoba mengungkapkan kegelisahan hatinya. Serta menenangkan jantung yang berdegup kencang sebab menatap mata yang meredup di wajah manis Ratna, melihat ekspresi bingung itu ia tahu semuanya terlalu cepat untuk di ungkapkan.

__ADS_1


__ADS_2