
Dua hari kemudian saat empat sekawan tengah menghabiskan waktu bersama dengan menonton film di rumah Jimy Ardi mengumumkan bahwa ia sudah putus dengan Sela.
"Tidak perlu kau katakan, itu tidak penting!" ujar Jimy.
"Aku tidak mengatakannya kepadamu, aku mengatakannya untuk Ratna" balas Ardi.
"Aku tidak heran, Ian sudah memberitahu ku bahwa dia balikan lagi dengan Sela itu sudah termasuk artinya kalau kau putus dengan Sela" jawab Ratna.
"Apa? bukankah Ian itu pacarmu? lalu bagaimana hubungan kalian?" tanya Jimy.
"Oh, soal itu sebenarnya kami tidak pernah pacaran. Kami hanya bersandiwara saja"
"Apa-apaan itu? kenapa kalian melakukan hal itu?" tanya Amus.
"Ah, ceritanya panjang. Sudahlah tidak perlu membahasnya lagi"
"Dasar kau ini!" hardik Amus.
Meski begitu mereka tidak bertanya lagi, jawaban itu cukup memberitahu bahwa saat ini tak ada laki-laki yang memiliki hubungan spesial dengan Ratna. Amus kembali riang, sebab ia kembali memiliki harapan.
* * *
Ratna cukup kaget saat Rere memberitahu kalau Ian mencarinya, beruntung saat itu jam kosong karena ada guru yang tidak masuk. Ratna cepat keluar kelas dan menemui Ian yang sudah menunggunya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Ini untuk mu" ujar Ian memberikan paperback kecil.
"Apa ini?" tanya Ratna sambil melihat isinya.
"Ini hadiah dariku dan Sela karena kau telah membuat kami kembali balikan"
"Ah.. ini kan!" jerit Ratna mengeluarkan sebuah ponsel dari dalamnya.
"Apa ini sungguhan?" tanyanya tak percaya.
"Tentu saja! aku sudah menyimpan nomorku dan Sela di dalamnya jadi kita bisa saling mengirim pesan"
"Tapi... ini terlalu berlebihan" ujar Ratna pelan.
"Tentu saja tidak! apa yang telah kau lakukan sangat membantu kami, justru rasanya benda ini saja tidak cukup untuk membalas kebaikan mu"
"Kau terlalu berlebihan, semua ini berkat kalian sendiri yang mau terbuka"
"Sudahlah terima saja atau kami akan marah padamu" desak Ian.
"Baiklah kalau begitu terimakasih" jawab Ratna seraya tersenyum.
Layaknya anak kecil yang di beri mainan baru, Ratna sangat tak sabar untuk memainkan handphonenya. Setelah pulang sekolah, sebelum bekerja dia menyempatkan diri untuk menyimpan nomor Amus yang dia hapal di luar kepala.
Dengan sengaja ia mengirim pesan singkat hanya sebatas menyapa dan memberitahu bahwa itu adalah dirinya.
"Kau mengganti nomor mu?" balas Amus di pesan itu.
"Tidak! aku sudah punya handphone sendiri, jadi sekarang ini adalah nomor ku sedang yang lalu adalah punya ayah" jawabnya.
Mereka masih berkirim pesan secara singkat sampai satu pelanggan datang, Ratna pun mengatakan akan menyudahinya bahkan mengucapkan sampai nanti.
Amus tersenyum senang membaca pesan itu, kini ia dapat berkirim pesan tanpa di ketahui siapa pun. Rasanya kesempatan dirinya untuk menyadarkan Ratna akan cintanya sudah semakin baik.
"Haruskah.... ku katakan sekarang?" gumam Amus berfikir keras.
Ia tidak ingin lagi kehilangan kesempatan itu, tapi rasanya akan sia-sia jika ia menyatakan sekarang jika Ratna sendiri belum sadar akan perasaannya.
"Sebaiknya aku tunggu beberapa waktu lagi" ujarnya memutuskan.
Amus kembali pada hari-hari dimana ia selalu memperhatikan Ratna, seperti biasa saat senja semakin temaram di ufuk barat maka jantungnya akan semakin berdetak kencang.
Ia akan memandang jam setiap beberapa menit sekali sambil sesekali menengok ke luar jendela hanya untuk memastikan bahwa Ratna sudah pulang.
Sementara itu Ratna yang masih sibuk karena banyaknya pelanggan tidak sadar bahwa waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam sampai Hamdani memberitahunya.
"Tapi kita masih punya pelanggan, tidak apa-apa jika aku pulang sekarang?" tanya Ratna.
"Kau ini bicara apa? ini sudah jadwal mu pulang kan? tidak perlu memikirkan pelanggan, paman bisa mengatasinya"
"Baiklah kalau begitu" jawab Ratna.
Segera ia bergegas membereskan barang-barangnya, setelah berpamitan dengan Hamdani ia pun pergi meninggalkan kedai.
Saat berjalan pulang tiba-tiba terlintas dalam benaknya untuk mengirimi Amus sebuah pesan, dengan cepat Ratna mengambil handphonenya dan menuliskan.
__ADS_1
"Apa kau sudah tidur? aku baru saja pulang kerja."
Amus yang tengah menanti kepulangannya tentu saja kaget sekaligus senang menerima pesan itu, ia pun menjawab.
"Oh, begitu" tentu karena ia bingung harus menjawab apa.
"Apa Ardi dan master ada di rumah mu?" tanya Ratna lagi lewat pesan.
"Tidak!" jawab Amus singkat.
Ratna ingin mengirim pesan lagi tapi ia bingung apa yang harus ia tanyakan atau katakan, sambil berjalan menyusuri trotoar ia berfikir dan mendapatkan ide.
"Aku ingin nonton film dan makan cemilan, apa krhsgdtsna."
Handphone Amus bergetar tanda adanya pesan yang masuk, dengan senyum yang mengembang ia segera melihat handphonenya dan membaca isi pesan yang Ratna kirim untuknya.
"Apa ini? apa maksudnya?" gumamnya yang tak mengerti kata terakhir dari pesan itu.
"Apa maksudmu?" tanya Amus membalas pesan itu.
Beberapa menit telah berlalu tapi Ratna belum juga membalasnya, penasaran Amus kembali mengirim pesan tapi kali ini pun tak di jawab. Awalnya ia berfikir mungkin baterai handphone Ratna habis karena saat mencoba menelponnya operatorlah yang menjawab.
Dalam rasa penasaran Amus diam menunggu kepulangan Ratna, tapi sudah lewat pukul delapan dan Ratna belum juga muncul. Mulai panik dan gelisah Amus tak bisa duduk dengan tenang, ia bulak balik di kamar sambil sesekali menengok ke luar jendela.
Tak bisa hanya menunggu Amus mulai pergi ke depan gang tapi jalanan itu sepi tanpa ada satu orang pun.
"Kemana dia sebenarnya?" gumam Amus khawatir.
Ia mencoba menunggu beberapa menit lagi, di malam yang semakin larut dengan udara yang dingin benaknya tak pernah berhenti memikirkan alasan kemana perginya Ratna dan apa yang membuatnya terlambat.
"Sial!" umpatnya yang sudah tak bisa menunggu lagi.
Tanpa pikir panjang Amus segera berlari mencari keberadaan Ratna, dari pesan yang ia terima menyatakan bahwa Ratna sudah pulang dari kedai. Itu artinya seharusnya Ratna berada dalam perjalanan pulang, jika tidak ada masalah seharusnya sudah sejak tadi Ratna sampai di rumah.
Tapi kenyataannya setelah mengirim pesan aneh itu handphone Ratna mati dan tak bisa di hubungi, hal itu membuat Amus mulai berfikiran negatif. Dengan dada yang terasa sesak sebab berlari di tengah dinginnya malam tanpa henti ia terus berlari, mencari-cari Ratna di sepanjang jalan yang seharusnya ia lewati.
Cukup lama Amus mencari namun ia tak kunjung menemukannya juga, sampai tanpa sengaja ia mendengar percakapan pemilik warung pinggir jalan.
"Kasian sekali, aku rasa dia tidak akan selamat"
"Dari lukanya sudah pasti sangat parah, aku tidak bisa membayangkan wajah keluarganya saat di beritahu bahwa putrinya kecelakaan"
"Pastinya sangat sedih, aku bisa merasakan hal itu. Mungkin saja keluarganya sekarang masih menunggunya di rumah, tanpa berfikir bahwa sesuatu telah terjadi pada anaknya"
"Ma-maaf permisi" ujar Amus kepada pemilik warung.
"Iya dek, mau beli apa?"
"Ti-tidak, tadi saya tidak sengaja mendengar percakapan bapak. Apakah... tadi ada sebuah kecelakaan?" tanyanya harap-harap cemas.
"Oh benar, itu tabrak lari. Kejadiannya baru saja terjadi, mungkin sekitar setengah jam yang lalu."
Hati Amus seketika hancur, ia ingat setengah jam lalu tiba-tiba handphone Ratna mati dan tak bisa di hubungi.
"A-apakah... korbannya seorang gadis SMA?"
"Benar, dia masih memakai seragam dengan rok abu-abu. Tapi... kenapa adek bertanya? apa adek kenal gadis itu?" tanya pemilik warung.
Kini air mata benar-benar jatuh di pipi Amus, ia tak bisa lagi menguatkan hatinya yang sudah sejak tadi hancur. Padahal beberapa saat lalu mereka saling berkirim pesan, andai ia tahu hal ini akan terjadi maka dia akan menjemput Ratna.
"Lalu dimana dia sekarang?" tanya Amus.
"Di bawa kerumah sakit, sebaiknya adek cepat jika memang dia kenalan adek soalnya lukanya parah" jawab pemilik warung.
"Terimakasih pak" ujar Amus.
Dengan cepat Amus berlari, menyusuri trotoar dengan air mata yang terbang diterpa angin malam. Setiap langkahnya semakin berat dan dadanya pun semakin sesak, benaknya yang beberapa waktu lalu berfikiran negatif kini telah kosong dengan hati yang hancur.
Sampai di rumah sakit ia pun memburu resepsionis untuk bertanya.
"Suster, apakah di rumah sakit ini ada pasien bernama Ratna Mangalih?"
"Tunggu sebentar ya, biar saya periksa dulu" jawab suster itu yang kemudian melihat daftar pasien.
"Maaf, tapi tidak ada pasien bernama Ratna di sini" ujar suster itu memberitahu.
"Apa suster yakin? dia baru saja masuk karena kecelakaan"
"Oh, tadi memang ada pasien yang baru masuk karena kecelakaan tapi datanya belum ada karena tidak ada tanda pengenal nya"
"Bisakah saya melihatnya?" tanya Amus cemas.
__ADS_1
"Kamu siapanya ya?"
"Saya temannya"
"Oh baiklah, suster! tolong antarkan dia ke ruang ICU" ujar suster itu kepada temannya.
"Terimakasih" ujar Amus sebelum pergi.
Bersama dengan seorang perawat yang mengantarkannya Amus terus berjalan dengan jantung yang terus berdetak kencang.
"Apakah lukanya memang parah?" tanya Amus kepada perawat itu.
"Kaki kanannya patah, dia juga kehilangan banyak darah. Sampai saat ini dia masih di ruang ICU dan belum sadar, kami tidak bisa menghubungi pihak keluarga karena tidak ada kartu pengenal."
Mendengar kabar itu kesedihan semakin mencambuk hatinya, rasa bersalah yang tiada tara membuat Amus tak mampu berjalan dengan baik. Hingga ia sampai di ruangan itu sang perawat mempersilakannya masuk, perlahan Amus masuk dan berjalan pelan mendekati ranjang yang di tutupi gorden.
Ia mencoba menenangkan hatinya meski pada akhirnya hal itu malah membuat dadanya terasa sesak, tinggal satu langkah lagi mendekati ranjang dengan mencoba menguatkan diri Amus mengangkat tangannya dan menyibakkan gorden.
"Ratna.... " panggil Amus menatap seorang gadis yang tengah terbaring di atas ranjang.
"Dia... bukan Ratna!" gumamnya melihat wajah gadis itu.
"Apa?" tanya perawat.
"Dia bukan temanku" ujar Amus jelas tidak mengenali gadis itu.
"Benarkah? kau sudah memastikannya?"
"Suster! aku tidak mengenalinya, dia bukan Ratna!"
"Begitu ya, sepertinya kau salah orang" jawab perawat itu.
Amus menghembuskan nafas lega, bersyukur bahwa gadis yang kena musibah itu bukan Ratna. Tapi senyum leganya menghilang saat sadar bahwa artinya Ratna masih belum di temukan, segera Amus pun berlari keluar rumah sakit dan mencoba mencari lagi.
Kini hatinya semakin kuat dengan harapan bahwa Ratna baik-baik saja, dengan lebih tenang mencari di setiap tempat yang mungkin Ratna kunjungi atau jalan yang ia lewati.
"Amus....... " panggil seseorang dari belakang.
Suara itu, suara yang tak asing dan selalu ia dengar setiap saat. Suara yang hanya di miliki oleh gadis periang, perlahan Amus membalikkan badan dan menatap sosok gadis yang selama ini telah ia cari.
"Amus.... " panggil Ratna kembali.
Perasaan bahagia yang tak terkira membuat Amus hanya bisa mematung, menatap gadisnya yang berlari dan tiba-tiba memeluknya dengan erat. Perlahan, Amus mengusap rambut Ratna memastikan bahwa itu bukan khayalannya.
"Kau... ini kau.. " gumam Amus menyadari bahwa gadis itu memang Ratna.
Perasaan lega yang bercampur aduk dengan kesal, bahagia dan haru membuatnya membalas pelukan Ratna dengan cukup erat.
"Apa yang kau lakukan? dari mana saja kau?" hardik Amus melepaskan pelukan Ratna saking khawatirnya.
"Jangan marahi aku sekarang.... aku baru saja di timpa musibah" jawab Ratna sambil merengek.
"Musibah? apa yang terjadi padamu?" tanya Amus kembali khawatir.
Beberapa waktu yang lalu, saat Ratna saling berkirim pesan dengan Amus tanpa sadar seorang pria yang sejak tadi mengikutinya dari belakang. Beberapa menit kemudian tiba-tiba pria yang mengikutinya itu mengambil handphone Ratna dan kabur begitu saja, Ratna yang kaget hanya bisa mematung sebelum kemudian berteriak jambret.
Beberapa saat ia sempat mengejar pencuri itu tapi sayangnya ia kehilangan jejak, putus asa dan bingung membuat Ratna hanya bisa diam menyesali apa yang telah menimpanya.
Dengan perasaan sedih bercampur marah ia pergi ke kantor polisi untuk melaporkan apa yang telah terjadi padanya, itulah alasan mengapa ia tiba-tiba menghilang. Rupanya saat Amus mencoba memastikan ke rumah sakit Ratna pergi ke kantor polisi sehingga mereka tidak bertemu.
"Jadi itu jawaban mengapa kau mengirim pesan yang aneh, rupanya saat kau sedang mengetik pencuri itu mengambil handphone mu. Tapi tidak ada yang luka kan?" tanya Amus.
"Satu-satunya yang terluka hanya hatiku" jawab Ratna masih menyeka air matanya.
"Sudahlah, barang seperti itu bisa di beli lagi yang penting nyawa mu aman"
"Mudah bicara seperti itu karena kau anak orang kaya, sekali saja cobalah hidup menjadi diriku agar kau tahu rasanya" balas Ratna dengan kesal.
"Padahal aku baru memegangnya, itu hadiah dari Ian dan Sela tapi aku malah menghilangnya" gumam Ratna penuh sesal.
"Benda itu tidak hilang begitu saja, sudah jelas kan kau di jambret. Jika mereka bertanya katakan saja apa yang terjadi, aku yakin mereka akan mengerti"
"Tetap saja aku belum ikhlas"
"Ah kau ini, bagaimana jika ku traktir eskrim?"
"Yang ukuran jumbo?" tanya Ratna.
Amus tak bisa menahan tawanya mendengar pertanyaan konyol itu, di saat-saat seperti ini pun Ratna masih bisa memikirkan makanan. Tapi hal itu membuatnya tenang, karena itu tandanya Ratna baik-baik saja.
"Baiklah yang ukuran jumbo"
__ADS_1
"Yey..... "