
Teng Teng Teng
Akhirnya pelajaran hari ini usai juga, rasanya letih memaksakan otak terus berfikir. Belum lagi pada tugas yang mulai menumpuk, meski sebentar Ratna ingin sekali pergi liburan untuk menghilangkan penat.
"Biar aku bantu!" ujar Ratna melihat Mita yang kesulitan membawa semua buku.
"Terimakasih" ucap Mita menyerahkan sebagian buku-buku itu.
Mereka mulai berjalan ke luar kelas sambil berbincang-bincang dan masuk ke ruang guru untuk menyimpan buku-buku tersebut.
"Na, nanti kamu mau masuk SMA mana?"
"Ah... kita baru akan menghadapi ujian semester satu, kenapa kalian semua terburu-buru?" ujar Ratna letih.
"Semua?" tanya Mita heran.
"Ya, master juga menanyakan hal yang sama. Apa kita memang harus menyiapkannya sekarang?"
"Oh... tidak juga, hanya saja.... kau pasti punya satu SMA yang ingin sekali kau masuki misalnya SMA 7. Hampir semua anak di kelas kita ingin masuk sekolah populer itu, namun syarat untuk memasukinya cukup berat setidaknya nilai mu harus di atas lima"
"Kau ingin masuk sekolah itu?"
"Um....rasanya bagai mimpi jika aku berhasil masuk" jawab Mita seraya tersenyum.
"Kenapa? kau pintar!"
"Tapi biaya di sekolah itu cukup mahal, aku pikir orang tuaku tidak akan sanggup"
"Setidaknya berusahalah, mungkin kau bisa mendapatkan beasiswa. Berbeda dengan ku, sudah miskin bodoh juga!"
"Kau tidak seburuk itu, hasil prakarya mu bagus"
"Itu buatan master, aku cedera saat akan membuat prakarya jadi master yang membuatkan vas itu untuk ku"
"Oh..... " gumam Mita.
Jauh di dasar hatinya ia mengakui sangat iri pada Ratna yang di kelilingi teman-teman pria, bahkan ia di perlakukan bak putri oleh mereka. Berbeda dengan dirinya yang selalu jadi musuh di dalam kelas, padahal ia yakin tak pernah melakukan kesalahan.
"Aku sangat iri padamu!"
"Apa?" tanya Mita terperanjat.
"Kau pintar dan cantik, apalagi yang kurang darimu? kau bahkan punya orangtua lengkap dan hidup berkecukupan meski tidak kaya, sedangkan aku.... bahkan tidak mampu membeli sepatu baru" ujar Ratna menatap ke bawah.
Tiba-tiba Mita teringat bahwa Ratna sudah tidak punya ibu dan hal itu membuatnya malu karena telah iri padahal benar ucapan Ratna bahwa ia lebih beruntung.
"Jangan risaukan sepatu, nasib itu bisa di ubah jadi belajarlah lebih tekun agar kau juga bisa mendapatkan beasiswa. Lalu bekerja keraslah agar kau bisa mengganti sepatu seminggu sekali" ujar Mita sambil menggosok bahu Ratna.
"Tentu saja, meski aku tidak suka belajar tapi aku akan mengubah nasibku menjadi lebih baik. Mari berusaha bersama!" jawab Ratna sambil tersenyum.
Tepat di gerbang sekolah mereka mengakhiri obrolan itu dan berpisah sebab arah rumah mereka berbeda, seorang diri Ratna melanjutkan perjalanannya sampai tiba-tiba Yuni datang mendekatinya.
"Aku ingin bicara denganmu" ujar Yuni serius.
"Ada apa?" tanya Ratna yang merasakan hawa mencekam.
Yuni tak langsung menjawab, ia mengajak Ratna pergi ke suatu tempat yang lebih sepi. Tanpa di duga tiba-tiba Yuni mendorong Ratna hingga ia terjatuh.
"Kau dengar baik-baik! ini bukan pertama kalinya aku berbuat seperti ini jadi jangan harap kau akan lepas dari ku" bentaknya.
"Apa maksud mu? kenapa kau lakukan ini padaku?" tanya Ratna sambil berusaha bangkit.
Tapi dengan kasar Yuni kembali mendorong Ratna, membuatnya tetap di bawah. Dengan raut wajah penuh amarah ia kembali berkata.
"Jangan sembunyi di balik kata teman masa kecil, aku tahu kau mengincar Ardi dan mencoba meraih hatinya. Asal kau tahu saja wanita seperti mu membuat ku jijik hingga ingin muntah"
__ADS_1
"Apa... yang kau katakan?" tanya Ratna lagi pelan.
"Aku melihatnya dengan mata kepala ku sendiri, kau menggodanya terus hingga membuat Ardi mau menggendong mu."
Ucapan Yuni mengingatkannya pada peristiwa saat kakinya cedera, rupanya Yuni berada di sana dan melihat kejadian itu namun tak mengetahui penyebab mengapa Ardi menggendongnya.
"Astaga... kau salah paham, kami.... "
"Kami? sekarang kau mulai menggunakan kata kami! sejak kapan kalian bermain di belakang ku?" tukas Yuni memotong ucapannya.
"Yun tidak seperti itu" ujar Ratna berusaha menjelaskan.
"Pokoknya aku tidak akan tinggal diam, kau lihat saja! aku akan membuatmu menderita" ancamnya.
Tanpa memberi kesempatan kepada Ratna untuk bicara Yuni berlalu membawa serta amarahnya yang masih memuncak, masih tergeletak di tanah Ratna hanya bisa menghela nafas panjang.
Ia tak menyangka Yuni akan berprasangka buruk kepadanya hanya karena melihat Ardi cukup dekat dengannya, jika di ingat lagi pertemuan pertama mereka juga kurang baik. Sejak awal Yuni sudah menunjukkan ketidaksukaannya hanya karena Ardi tidak mengijinkan dirinya mendukung Jaya.
"Ah... benar-benar, baik Jaya atau Yuni mereka salah paham pada hubungan pertemanan kami" gumamnya meratapi nasib.
Jika di pikir lagi tindakan Yuni cukup beralasan karena rasa cintanya kepada Ardi membutakan matanya oleh rasa cemburu, meski itu memang berlebihan baginya.
"Pacaran itu ternyata merepotkan, jika seperti ini berteman memang lebih baik dari hubungan apa pun" gumamnya lagi.
Ancaman Yuni tak di ambil pusing sebab ada masalah yang lebih menyita perhatiannya, tugas matematika yang harus di kerjaan besok. Jika ia tak bisa menyelesaikannya maka bukan hanya pengurangan nilai yang ia dapat tapi juga hukuman.
"Astaga... bisa mati aku besok!" gerutunya.
Setibanya di rumah Ratna cepat mengganti pakaian dan kembali membuka buku pelajarannya, namun bukannya menyelesaikan tugas ia malah melamun sebab tak mengerti sama sekali.
"Arghhhh.... aku benci matematika!" teriaknya frustasi.
"Sebaiknya aku minta bantuan Amus saja" ujarnya memutuskan.
"Um..... sebaiknya aku coba minta bantuan Ardi saja" ujarnya memutuskan.
Beruntung Ardi ada di rumah dan sedang mengerjakan tugas juga, meski sedikit tidak sabaran tapi ia guru yang cukup baik. Perlahan Ratna mengerti dan bisa mengerjakan tugas itu meski tetap membutuhkan waktu.
"Sebaiknya kau mulai menghafal rumus, apa kau punya buku belajar cepat? di dalam buku itu ada cara menghitung cepat dengan jari dan rumus-rumus matematika" ucap Ardi mengusulkan.
"Aku tidak punya buku seperti itu"
"Kalau begitu belilah, harganya tidak mahal"
"Dimana aku bisa membelinya?"
"Tentu saja di toko buku"
"Maksudku tempatnya dimana? aku tidak tahu toko buku di mana" ujar Ratna memperjelas.
"Oh, baiklah besok setelah pulang sekolah aku akan mengantarmu" jawab Ardi.
Sesuai janji, esok harinya setelah pulang sekolah Ardi menemaninya membeli buku yang ia perlukan. Mumpung di luar seperti biasa Ardi membelikannya satu kap kecil eskrim saat sedang berjalan berdua, berkatnya suasana hati Ratna kembali berpelangi setelah melewati pelajaran di sekolah yang melelahkan.
"Oh... aku lupa!" ujar Ardi tiba-tiba dalam perjalanan pulang.
"Ada apa?"
"Aku janji akan ikut Amus main futsal, sial! apa masih sempat ya... "
"Dasar kau ini, kalau begitu cepat pergi!"
"Kau tidak apa-apa pulang sendiri?"
"Tenang saja, sebaiknya khawatirkan dirimu saja"
__ADS_1
"Baiklah aku pergi dulu"
"Dah... " ucap Ratna sambil melambaikan tangan kepada Ardi yang berlari dengan cepat.
Setelah Ardi hilang dari pandangannya ia kembali berjalan, tapi tiba-tiba seseorang menarik tangannya dengan kasar dan membawanya ke tempat pembuangan sampah yang sepi.
"Yuni... " panggilnya kaget mengenali sosok yang menyeret tubuhnya.
Plak
Tanpa peringatan satu tamparan melayang tepat di pipi Ratna, rasa perih bercampur kaget membuat jantungnya berdegup kencang.
"Aku sudah memperingati mu, aku tidak akan tinggal diam" bisik Yuni dalam amarahnya.
Seketika Ratna sadar bahwa kesalahpahaman antara dirinya dan Yuni belum selesai, sudah di pastikan Yuni melihat lagi kebersamaannya dengan Ardi yang menyulut api cemburu.
"Yun, kamu salah kami.... "
"Diam! lagi-lagi kamu berani menggunakan kata kami" bentak Yuni memotong ucapan.
Ratna hanya bisa terdiam, menunggu api dalam hati Yuni sedikit mengecil setelah itu ia akan menjelaskan apa yang terjadi.
"Kau benar-benar membuat ku muak!"
Bruk
Aw....
Dorongan tangan Yuni begitu kuat sampai membuat Ratna menghantam bak sampah, mengakibatkan rasa nyeri di punggungnya saat ia terjatuh dalam genangan air.
"Hehehe rasakan itu... kau memang pantas mendapatkannya" ucap Yuni mengolok.
Ratna tak bisa bergerak, bukan karena kakinya cedera tapi kalimat yang ia dengar telah melumpuhkan hatinya. Ucapan yang sering kali ia dengar selama lima tahun lamanya, ucapan yang membuatnya bergidik hingga tak sanggup bahkan untuk mengangkat kepala sekali pun.
Apa pun yang ia lakukan sekali pun benar pada akhirnya ia akan terjatuh dengan ucapan itu yang pertama kali ia dengar, ucapan Sari dengan seringai yang menjadikannya mimpi buruk.
Ia masih terduduk di sana, menundukkan kepala dengan perasaan terbuang dan hampa. Kerinduannya pada kematian muncul kembali sesaat setelah rasa getir yang membuat tubuhnya gemetar, hal yang paling ingin ia lakukan adalah menyobek telinganya agar tawa mencemooh itu tak lagi di dengarnya. Tapi sayang, tangannya tak memiliki kekuatan untuk melakukan hal itu.
Batinnya mulai menjerit, meminta pertolongan pada siapa pun yang bisa melepaskan rantai neraka itu. Ia ingin meminta pertolongan ibunya tapi sayang ibunya sudah lebih dulu terbebas dari rantai itu, bahkan jika ia masih ada pun ibunya tak pernah mampu menolongnya.
"Dengarkan ibu nak... mulai sekarang.... jangan pernah... menundukkan kepalamu... kepada... siapa pun...., pulanglah.... ke ayahmu..."
Kalimat itu, ucapan terakhir mendiang ibunya sebelum ajal menjemputnya. Di saat-saat terakhir dalam nafasnya sebuah wasiat yang lebih berarti dari segunung emas memberinya kekuatan untuk bicara.
Untuk pertama kalinya ia berani mengatakan kehendaknya dan hal itu terkabul, ia sudah hidup bahagia bersama ayahnya tanpa gangguan iblis mana pun.
Perlahan Ratna mengangkat kepalanya, menatap iblis baru yang mencoba memakaikan rantai padanya. Otaknya yang selalu susah di pakai belajar memotret tepat seringai dan wajah musuh, menyimpannya dalam memori benak yang tak akan terhapus oleh apa pun.
"Tidak untuk kali ini, ibu sudah memberiku ijin mengangkat kepalaku dan tidak pernah tunduk pada siapapun" ujar Ratna keluar dari sangkarnya.
"Ka-kau mau apa?" tanya Yuni yang merasakan aura dingin dari Ratna.
"Kita lihat saja, apa yang bisa aku lakukan."
Plak
Satu tamparan keras cukup untuk membalas tamparan yang ia terima di awal tadi, ia masih punya hutang dua dorongan yang beluk terbalaskan.
"Ratna... kamu jangan macam-macam!" teriak Yuni mundur beberapa langkah.
Tapi Ratna tak menggubris ucapan itu, ia terus maju dan berjanji tidak akan pernah mundur lagi.
Kyaaaaa.......
"Ratna...... "
__ADS_1