
"Nenek aku berangkat dulu" teriak Amus selesai mengikat tali sepatunya.
"Ya... hati-hati di jalan" jawab nenek dengan suara khasnya.
Amus mulai melangkah pergi bertepatan dengan Ratna yang keluar dari rumah dan mengunci pintunya.
"Oh, kau baru mau berangkat?" sapa Ratna saat membalikkan badan.
Amus mengangguk sebagai jawaban, Ratna tersenyum membuat mata sembabnya semakin besar.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Tentu, kenapa?" tanya Ratna heran.
"Tidak apa-apa, ayo pergi!" ajaknya sambil berjalan duluan.
Ratna sempat bingung dengan sikap Amus yang tiba-tiba lembut terhadapnya, tentu hal ini membuat benaknya berfikir tentang sesuatu. Dengan cepat ia berlari mengejar Amus dan bertanya.
"Apa kau mengkhawatirkan aku?"
"Tidak!" bentak Amus menyembunyikan perasaannya.
"Bohong! jarang sekali kau bersikap baik seperti ini"
"Apa kau tidak lelah berkelahi setiap pagi denganku? jujur saja aku lelah" ujar Amus.
Ia semakin mempercepat langkah kakinya meninggalkan Ratna di belakang yang senyum-senyum sendiri.
Tapi senyuman itu hilang saat ia hampir sampai di sekolah, dari kejauhan ia bisa melihat Jaya berdiri di dekat gerbang sekolah. Dari gelagatnya ia tahu Jaya sedang menunggunya, rasanya ia ingin pulang saja namun tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Jangan melamun di jalan" ujar Ardi dengan wajah yang masih mengantuk.
"Apa semalam kau bergadang lagi?" tanya Ratna yang di jawab oleh senyuman.
"Astaga... berhentilah bergadang, sebentar lagi kita akan menghadapi ujian semester satu"
"Aku tahu, tidak perlu mencemaskan aku" jawab Ardi.
Mereka mulai berjalan kembali, dengan perasaan yang tak karuan Ratna sengaja berjalan tepat di samping Ardi. Bahkan ketika matanya beradu pandang dengan Jaya dengan sengaja ia berjalan melewatinya begitu saja sambil menarik tangan Ardi agar mempercepat langkahnya.
Tak berhasil menyapa pagi tadi Jaya mencoba peruntungannya di jam istirahat, ia mendekati Ratna yang sedang makan di kantin bersama yang lain. Namun sebelum sempat ia bicara Ratna lebih dulu beranjak pergi dengan alasan mau ke toilet.
Setelah pulang sekolah pun Jaya sudah menunggunya di pintu kelas, namun lagi-lagi Ratna menghindar tanpa memberinya kesempatan untuk mendekat.
"Apa kau berkelahi dengan Jaya?" tanya Jimy saat mereka makan malam bersama di rumah Amus.
"Apa?" tanya Ratna pura-pura bodoh.
"Aku perhatikan sudah tiga hari kau menghindarinya"
"Teliti sekali kau" komentar Ratna.
__ADS_1
"Na.... " panggil nenek tiba-tiba.
"Ada apa nek?"
"Ada seorang anak laki-laki mencarimu, dia bilang ingin bertemu denganmu.. dia berdiri di depan rumah mu dari tadi" ujar nenek.
Empat sekawan itu segera menghambur keluar rumah untuk melihat siapa yang di maksud nenek, dan alangkah terkejutnya mereka saat melihat Jaya berdiri di sana dengan seikat bunga di tangannya.
"Kau... apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ratna menghampiri.
"Kau tidak memberi sedikit pun kesempatan kepadaku di sekolah, karena itu... aku pikir untuk berkunjung saja" jawabnya.
Ratna menghembuskan nafas panjang kelelahan menghadapi kegigihan Jaya, ia sempat melihat berkeliling dan mendapati Jimy, Ardi dan Amus tengah memperhatikan mereka.
"Ayo ikut aku!" ujar Ratna mengajak Jaya pergi jalan di depan, dimana pembicaraan mereka tidak bisa di dengar oleh orang lain.
"Ah... kenapa dia selalu bersikap seperti itu? membuatku jengkel saja" gumam Ardi melihat kepergian mereka.
Dari jarak sejauh itu mereka hanya dapat melihat apa yang dilakukan Jaya dan Ratna tanpa bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Sepertinya Jaya melakukan sesuatu yang membuat Ratna marah" ujar Jimy melihat tindakan Jaya yang akan memohon sambil duduk, tapi Ratna tak mengijinkannya.
"Kira-kira apa masalah mereka sampai bertengkar?" tanya Ardi.
"Hanya mereka yang tahu" jawab Jimy.
Setelah obrolan yang cukup panjang itu akhirnya Jaya pulang sambil melambaikan tangan, Ratna cepat kembali dengan membawa seikat bunga di tangannya.
"Bukan urusanmu! ayo masuk, aku masih lapar" jawab Ratna.
Tentu Ardi mengomel karena jawaban itu, namun Ratna tidak menanggapinya sama sekali. Ia hanya fokus pada makanannya sampai semua hidangan di meja itu habis.
"Ayo pergi!" ajak Jimy sambil menepuk pundak Ardi.
"Kalian mau main PS lagi?" tanya Ratna.
"Kenapa? kau mau ikut?" tanya Amus yang sudah siap untuk ikut.
"Tidak! aku lelah ingin tidur, sebaiknya kalian jangan bergadang ingat! sebentar lagi ujian semester satu"
"Kami tahu!" jawab ketiga orang itu serempak.
Keesokan harinya nampak Jaya dan Ratna bicara berdua di depan kelas sebelum pelajaran di mulai, tak ada yang menarik dari obrolan itu. Hanya seputar pelajaran, sekolah dan teman tongkrongan Jaya. Obrolan mereka berakhir saat bel berbunyi dan Ratna cepat masuk ke dalam kelas.
"Jadi... kau sudah berbaikan dengannya" ujar Amus.
Ratna mengangguk dan tersenyum, malam itu sebenarnya Ratna sudah berencana untuk memutuskan hubungan mereka. Namun karena kegigihan Jaya dan kesungguhannya dalam meminta maaf hatinya luluh juga, ia tak tega mengakhiri hubungan di saat Jaya menyesali perbuatannya.
Hari mereka sebagai pasangan kekasih pun kembali berjalan, meski kini Ratna lebih menjaga dirinya sendiri. Ia tak mau lagi bicara dengan Jaya jika mereka hanya berdua saja, dan Jaya pun tak keberatan lagi akan hal itu.
* * *
__ADS_1
Lewat tengah hari Ratna berjalan menyusuri jalan di teriknya matahari, badannya terasa lesu dengan keringat yang mengucur di keningnya. Tapi saat ia sampai di rumah sepasang sepatu yang tersimpan di lantai membuatnya ceria seketika, tangannya bergerak cepat memutar kenop pintu dan masuk ke dalam rumah.
"Ayah... " panggilnya.
Sapardi yang mendengar panggilan dari putrinya segera keluar kamar untuk menunjukkan diri.
"Ayah kapan pulang?"
"Baru saja, ayah baru saja selesai menyiapkan makan siang. Cepat ganti baju mu dan kita makan bersama" ujar Sapardi riang.
" Ah, ayah kan baru pulang kenapa langsung menyiapkan makan" erang Ratna.
"Tidak apa-apa, sudah cepat ganti seragam mu"
"Hmm, baiklah" ujar Ratna menyerah.
Tak butuh waktu lama baginya untuk mengganti pakaian, saat ia pergi ke dapur nampak Sapardi menyiapkan hidangan istimewa untuknya.
"Ayah... banyak sekali nuggetnya.. " ujar Ratna terpana.
"Ayah mendapatkannya dari teman ayah, ayo duduk!" jawab Sapardi.
Ia menurut, melihat hidangan mewah yang tersaji di atas meja makannya tentu Ratna tak akan sungkan. Ia makan begitu lahap hingga tak perduli di tertawakan oleh Sapardi.
"Ratna... ayah punya sesuatu untukmu"
"Benarkah? apa itu?" tanyanya antusias.
Sapardi mengeluarkan sebuah kantung plastik hitam dan menyerahkannya kepada Ratna, dengan penasaran ia segera mengeluarkan sebuah kotak di dalamnya. Di kotak itu terdapat sebuah gambar ponsel, dengan hati yang lebih penasaran lagi Ratna membuka kotak itu dan sesuai dugaannya isi kotak itu adalah ponsel.
"Ayah tidak bisa memberikanmu ponsel yang bagus, tapi ponsel ini juga tidak terlalu buruk. Kau bisa mengirim pesan, bisa menelpon dan kau juga bisa memainkan game. Oh, kau juga bisa mendengarkan radio kau hanya perlu menggunakan earphone" jelas Sapardi.
"Bagaimana dengan ayah?"
"Ah ayah tidak perlu, dengan ponsel ini kau bisa saling kirim pesan dengan temanmu."
Tak di sangka Ratna menyimpan kembali ponsel itu kedalam kotak nya dan menyerahkannya kepada Sapardi sambil berkata.
"Ayah lebih memerlukannya dari pada aku, gunakan ponsel ini untuk bekerja. Dengan alat ini teman ayah bisa menghubungi ayah dengan cepat, ayah juga bisa mempromosikan jasa ayah kepada yang lain lewat ponsel. Berikan nomor ayah agar mereka bisa menghubungi ayah kapan pun"
"Tapi... bagaimana denganmu?"
"Aku tidak perlu, untuk apa aku berkirim pesan yang tidak penting."
Ucapan putrinya itu cukup membuat Sapardi terharu, kedewasaan Ratna dan pengertiannya telah membuat Sapardi menitikkan air mata bahagia.
"Sejak kapan putri ayah menjadi dewasa? kau bahkan lebih bisa di andalkan dari ayah"
"Hehe, ayah ini bicara apa? aku masih suka berkelahi dengan Amus kata orang aku masih seperti anak SD"
"Hmm, baiklah kita gunakan ponsel ini bersama. Selama ayah di rumah kau juga bisa menggunakan ponsel ini bagaimana?"
__ADS_1
"Terserah ayah saja" ujar Ratna sambil tertawa.