
Ardi berlari dengan cepat menyusuri jalan, tapi ia melihat Amus dan Jimy tepat di depannya sedang membeli minuman.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanyanya menghampiri.
"Oh, tanding futsalnya di batalkan karena terlanjur keluar jadi kami berbelanja dulu" jawab Amus.
"Kau sendiri sedang apa?" tanya Jimy.
"Aku mengantar Ratna membeli buku, aku lupa ada janji denganmu jadi aku meninggalkannya sendiri untuk pergi menemui kalian"
"Dasar laki-laki tidak bertanggung jawab, setidaknya antar dia sampai rumah keselamatan seorang gadis lebih penting dari main futsal" omel Jimy.
"Maaf"
"Sudahlah ayo pergi temui dia, mungkin dia masih ada di sana" ujar Amus.
Ketiga sahabat itu pun berjalan kembali, saat mereka tiba di toko buku Ratna sudah tidak ada di sana lagi. Mereka juga tidak menemukannya di mana pun, saat mereka pikir Ratna sudah pulang sebuah teriakan seorang gadis mengagetkan mereka.
Dengan cepat mereka berlari ke arah sumber suara, perasaan yang tidak enak membuat mereka berfikir jelek tentang keselamatan Ratna. Tapi Ardi yang pertama kali menemukan dua orang gadis di dekat tempat sampah segera memanggil Ratna untuk menghentikan apa yang akan ia lakukan.
Jimy dan Amus yang baru menyusul hanya bisa tertegun menatap pemandangan mengerikan itu, untuk sesaat waktu seolah berhenti tiba-tiba.
Bruk
Uhuk Uhuk Uhuk uhuk
Yuni jatuh dengan kondisi leher yang merah akibat cekikan, ia tak bisa berhenti batuk meski beberapa menit telah berlalu. Sedang Ratna menatap kosong pada ketiga sahabatnya itu.
"Ar.... di... uhuk tolong a... ku... " ujar Yuni lirih sambil merangkak maju.
"Yuni!" panggil Ardi yang tersadar kemudian berlari untuk membantu Yuni bangkit.
"Ratna.... apa yang kau lakukan?" tanya Jimy masih syok.
Ratna tak menjawab sebab baginya tak ada yang perlu ia katakan, mereka sudah melihat apa yang terjadi dan meski ia mengatakan kenyataannya tak akan ada yang percaya. Sama seperti dulu, saat Sari lebih dulu merundungnya dan ketika ia mencoba membalas dialah yang kena hukuman tanpa ada yang mau mendengarkannya. Belajar dari masa lalu ia mengerti tak ada yang perlu di katakan ketika orang lain lebih percaya dengan apa yang mereka lihat tanpa mencari tahu kebenarannya.
Masih membisu Ratna berjalan begitu saja melewati Amus dan Jimy, bahkan ketika ia sampai di rumah pun wajahnya tetap tanpa ekspresi.
"Na.. kenapa baju kamu basah dan kotor?" tanya Sapardi yang melihat putrinya pulang dalam keadaan berantakan.
"Aku terjatuh di genangan air" jawab Ratna dingin.
"Oh... baiklah, bersihkan dirimu biar ayah yang cuci pakaian mu"
"Tidak perlu, aku akan mencucinya sendiri"
"Ba-baiklah... " jawab Sapardi canggung sekaligus heran pada sikap putrinya yang dingin.
Saat waktu makan malam tiba Ratna tetap dalam mode dingin yang membuat suasana rumah terasa angker, tak ada yang bisa Sapardi katakan atau pun lakukan sebab ia tak memiliki keberanian untuk hal itu.
Selesai makan seperti biasa Ratna membereskan meja dan mencuci semua piring, setelah itu ia pergi mengunci diri di dalam kamar. Rasa lelah begitu hebat menyerang tubuhnya membuat seakan tulang-tulangnya patah, ia mencoba memejamkan mata berharap akan tertidur.
Tapi dalam kegelapan matanya yang ia lihat adalah seringai Sari yang memuakkan, kemudian Yuni dengan tawanya yang mengejek. Tangannya terkepal erat menahan emosi sampai titik dimana ia melepaskan perasaan itu, tangannya cepat bergerak mendorong dan mencekik Yuni secara bersamaan.
Beberapa detik itu dengan jelas ia melihat wajah Yuni yang memerah, matanya mulai berkaca-kaca setelah meronta-ronta mencoba membebaskan diri dari cengkramannya namun tidak berhasil. Ratna membuka mata dan tersenyum menikmati sensasi yang terasa nikmat.
* * *
Matahari tiba menandakan hari baru dengan cuaca yang cerah, Ratna bangun dari tempat tidurnya dan beraktivitas seperti biasa namun tetap dengan ekspresi yang dingin.
Ia tak banyak bicara saat sarapan begitu pun saat mendengar Sapardi akan kerja dan pulang terlambat, saat ia bertemu dengan Amus pun yang juga hendak pergi sekolah ia tak menunjukkan ekspresi apa pun.
Yang membuat Amus heran jangankan menyapa, Ratna bahkan bersikap seolah dirinya tak ada di sana. Mereka yang biasanya adu mulut di pagi hari tiba-tiba menjadi orang asing dalam waktu semalam, di kelas pun Ratna tak menyapa Jimy maupun Ardi.
__ADS_1
"Aku masih tak percaya Ratna bisa melakukan hal mengerikan seperti itu" gumam Jimy.
Setelah Ratna pergi mereka membantu Yuni dan menanyakan apa yang telah terjadi pada mereka, Yuni menjawab awalnya mereka berpapasan dan mengobrol seperti biasa namun tiba-tiba Ratna marah dan melakukan hal tersebut.
Tentu mereka bertanya lebih lanjut tentang apa yang menyebabkan Ratna marah hingga tega berbuat demikian, dengan wajah bersalah Yuni menjawab sejujurnya ia agak cemburu melihat kedekatan antara Ardi dan Ratna. Namun dengan wajah ketakutan Yuni berkata kembali ia hanya ingin Ratna lebih menjaga hatinya sebagai sesama perempuan, tapi Ratna tersinggung akan ucapan itu dan menyerang Yuni secara brutal.
"Jika aku tidak melihat dengan mata kepala ku sendiri aku tidak akan pernah percaya Ratna melakukan hal itu, sekarang pun setelah aku melihatnya aku masih tak percaya" ujar Ardi.
Hhhhhhhh
Mereka menghembuskan nafas panjang sambil menatap Ratna dengan frustasi, entah apa yang sebenarnya terjadi sampai Ratna tiba-tiba berubah.
"Hei! mungkinkah... dia kesurupan?" tukas Jimy.
"Jangan bercanda! kau percaya hal semacam itu?" tanya Amus.
"Hanya itu satu-satunya alasan yang tepat!"
"Bagaimana pun juga kita harus mencaritahu" ujar Ardi.
Amus tak berhenti memperhatikan Ratna sambil berpikir keras sampai ia menyadari ada luka lecet di sikut Ratna, tak besar tapi cukup membuatnya bertanya-tanya dari mana Ratna mendapatkan luka itu sebab keliatannya luka itu masih baru.
Biasanya sepulang sekolah mereka tak langsung pulang ke rumah, Jimy akan pergi membeli beberapa DVD di temani Ardi sedang Amus akan menemui teman klub futsalnya. Tapi hari itu mereka semua berjalan tepat di belakang Ratna, memperhatikannya dari jarak yang cukup jauh dalam perjalanan pulang.
"Aish.... aku tak tahan lagi, aku akan bertanya langsung kepadanya!" ujar Ardi yang tak sabar.
"Eh tunggu!" teriak Jimy yang tak dipedulikan.
Amus dan Jimy segera berlari menyusul Ardi yang sudah menghentikan langkah Ratna, tanpa pikir panjang ia bertanya.
"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi kemarin? kenapa kau melakukan hal itu kepada Yuni?"
"Apa Yuni tidak memberitahu mu alasannya?" tanya Ratna santai.
"Itu.... dia... di-dia bilang kau marah padanya sebab kau tersinggung oleh perkataannya, apa itu benar?"
"Kau... kau marah hanya karena Yuni meminta mu menjaga perasaannya? Ratna ada apa denganmu? bagaimana bisa kau setega itu kepadanya padahal dia hanya meminta pengertian mu!?" teriak Ardi marah.
Sekali lagi momen itu terulang kembali, saat dimana ibunya marah padanya yang bertindak kasar kepada Sari hanya karena masalah sepele. Lagi-lagi ia disalahkan padahal tidak sepenuhnya berbuat salah, ia hanya mencoba membela diri bukan menyerang tanpa sebab.
"Ku pikir aku bisa menganggapmu sebagai kakak ku, tapi ternyata kau hanya teman yang bisa hilang kapan saja" ujar Ratna tersenyum pahit.
Ia sudah bertekad tidak akan menangis kali ini, air matanya terlalu berharga untuk menangisi orang yang sama sekali tidak perduli padanya. Sebagai gantinya ia akan pergi dengan tersenyum.
Senyum yang pertama kali Amus lihat ada dalam wajah Ratna, senyum aneh yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata sebab dalam senyum itu ada banyak perasaan di dalamnya. Senyum yang terus mengganggu dirinya sampai malam hari, bahkan saking tak nyamannya ia tak bisa tidur sama sekali.
Amus memutuskan untuk pergi keluar rumah mencari sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya dari ekspresi dan senyum Ratna yang membayanginya.
"Oh Amus! kau belum tidur? ini sudah cukup larut" ujar Sapardi yang tak sengaja bertemu di luar.
"Aku belum bisa tidur, apa paman baru pulang kerja?"
"Iya, aku mendapatkan kerja borongan jadi ingin ku selesaikan dengan cepat meski harus pulang larut"
"Begitu ya"
"Um... Amus, aku ingin bertanya sesuatu padamu" ujar Sapardi yang mendadak berubah serius.
Mereka pergi ke angkringan dan memesan susu jahe untuk menghangatkan tubuh dari udara malam yang cukup dingin.
"Apa yang ingin paman tanyakan?" tanya Amus memulai obrolan.
"Arrhhh... ini mengenai Ratna" jawab Sapardi yang membuat Amus tertegun.
__ADS_1
"Kemarin dia pulang dengan pakaian yang kotor dan basah, aku juga melihat ada lecet di beberapa bagian tubuhnya. Saat aku tanya ia hanya menjawab terjatuh di genangan air tapi aku tak bisa percaya begitu saja pada ucapannya, sebab ada sesuatu yang salah"
"Salah?"
"Sikapnya! ia mendadak jadi orang yang pendiam bahkan dingin" jawab Sapardi yang membuat Amus tahu bahwa sikap itu ia tunjukkan kepada semua orang.
"Apakah... kalian sedang bertengkar?" tanya Sapardi membuyarkan lamunannya.
"Ah.. tidak! kami berteman seperti biasa" jawab Amus cepat.
"Ya... aku percaya, kalian sering berkelahi tapi aku tahu sekali pun marah padamu dia akan ceria seperti biasanya" ujar Sapardi sambil menganggukkan kepala.
"Jujur... aku sangat khawatir padanya, sikapnya ini sangat tidak biasa. Aku bahkan menemukan sorot mata yang sama pada Ratna di hari dimana dia baru pindah kemari, sorot mata yang hampa tanpa emosi. Aku khawatir seseorang merundungnya di luar sana sampai membuatnya trauma kembali"
"Apa? Ratna... memiliki trauma?" tanya Amus kaget.
Hhhhhhh
"Selama lima tahun ia tinggal bersama saudari dan ayah tirinya yang terus merundungnya, bahkan mendiang ibunya tak bisa melakukan apa pun untuk membelanya. Hal itu membuatku benar-benar terpukul, andai aku kaya raya Ratna tidak mungkin di bawa pergi dan tinggal serumah dengan orang-orang biadab itu. Selama ini dia sudah tersiksa hingga tak memiliki kehidupan dalam matanya, tubuhnya hanyalah raga tanpa jiwa."
Amus cukup kaget mendengar kisah kelam Ratna, selama ini ia hanya tahu sedikit tentang keluarga tiri Ratna tanpa pernah bertanya lebih jauh. Ratna juga sedikit pun tidak pernah menyinggung masalah pribadinya itu.
"Tapi... semenjak dia pindah kemari, setelah ia bertemu dengan kalian dalam waktu sekejap ia berubah kembali menjadi Ratna kecil yang ceria. Aku bersyukur akan hal itu dan berharap ia akan terus bahagia, karena itu aku minta tolong padamu. Tolong rahasiakan masa lalu Ratna dan cari tahu apa yang terjadi padanya sehingga ia berubah dingin, mungkin ini merepotkan tapi.... tolong buat Ratna kembali ceria seperti dulu" ujar Sapardi penuh harap.
"Kenapa paman bicara seperti itu? Ratna sudah ku anggap sebagai adik ku sendiri, aku pasti akan melakukan yang terbaik"
"Terimakasih" ujar Sapardi bersungguh-sungguh.
* * *
Ardi tak bisa menerima pernyataan Ratna yang membenarkan tindakannya, karena itu tanpa di sadari ia membuat jarak antara dirinya dan Ratna. Tapi hal itu tak diambil pusing oleh Ratna, ia santai seperti biasa dengan ekspresi dinginnya meski Jimy juga terlihat kecewa kepadanya.
Hanya Amus yang masih bersikap seperti biasa, bahkan setelah pulang sekolah Amus datang berkunjung sambil membawa makanan kesukaannya.
"Kau sudah mengerjakan tugas sekolah?" tanya Amus.
"Hmm, sedang ku kerjakan" jawab Ratna dingin tanpa memalingkan wajah dari buku.
Amus mulai memperhatikan Ratna dengan lebih teliti, di lihatnya satu tangan Ratna tak berhenti menggaruk sikutnya yang ia ingat ada bekas luka lecet di sana.
"Berhentilah menggaruknya!" teriak Amus sambil menarik tangan Ratna.
"Ah... lihat apa yang kau lakukan? jika di garuk terus lukanya tidak akan pernah sembuh malah jadi infeksi! luka yang sudah kering memang akan menimbulkan gatal tapi kau tidak boleh menggaruknya" omel Amus melihat seberapa parah luka itu.
Tanpa di minta Amus mengoleskan salep dengan hati-hati agar luka itu cepat sembuh dan tak menimbulkan gatal, perhatian itu rupanya membuat Ratna sadar bahwa Amus berbeda dengan yang lain. Ia tetap bersikap seperti biasa meski telah melihat perbuatannya dan mendengar pengakuannya.
"Apa... kau tidak benci padaku?" tanya Ratna tiba-tiba.
"Kau tahu aku sangat membencimu, kau selalu merepotkan dan hanya peduli pada makanan meski sedang sedih" jawab Amus yang membuat Ratna kembali tersenyum setelah beberapa hari kehilangan hidup.
"Jika tidak makan aku akan mati!" balasnya.
"Meski ada orang yang mati kelaparan tapi setidaknya butuh waktu seminggu baru mati, kau hanya mengosongkan perut selama beberapa jam saja bagaimana bisa mati?" bentak Amus.
"Tapi aku akan lemas jika tidak makan" rengek Ratna.
Amus menatap ekspresi manja Ratna sampai membuatnya malu dan mereka pun tertawa bersama, melepaskan kepenatan yang selama ini membelenggu hati mereka.
Entah mengapa tapi ada kehangatan yang menyelimuti hati Ratna sampai tanpa ia sadari kepada Amus ia curahkan segala isi hatinya, tentang bagaimana perlakuan Yuni yang kelewat batas hingga membuatnya naik pitam dan perasaan terbuang yang menjadikan hatinya sedingin es.
"Kenapa kau tidak ceritakan semuanya sejak awal?" tanya Amus heran sekaligus prihatin.
"Apakah kalian akan mempercayai ku? selama ini kalian begitu perhatian dan baik padaku tapi hanya karena setengah kebenaran yang kalian lihat sendiri tiba-tiba ada pembatas diantara kita, lalu bagaimana caraku memberitahu sedang pembatas itu lebih tebal setelah pernyataan ku yang membenarkan peristiwa itu padahal belum menceritakannya dengan lengkap."
__ADS_1
Amus hanya bisa tertunduk lesu, malu pada diri yang tidak bisa melindungi Ratna dengan benar. Perasaan hampa karena terbuang kini dapat ia rasakan juga, perasaan Ratna yang baru sampai padanya setelah semua penderitaan itu.
"Ratna... mulai sekarang aku berjanji padamu, aku tidak akan ragu lagi!" ujar Amus tiba-tiba.