Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 49 Bahu Yang Nyaman


__ADS_3

Pelajaran kimia di jam pertama memang sangat menguras otak, masih pagi sudah di suguhkan dengan berbagai rumus membuat seakan kepala Ratna keluar asap saking pusingnya. Saat bel berbunyi tanda pelajaran itu telah usai ia nampak lesu bersandar pada meja.


"Kau baik-baik saja?" tanya Rere.


"Tidak.... aku mabuk rumus.... " erang Ratna.


"Hahaha sudahlah tidak perlu berlebihan, ayo ganti pakaian! guru olahraga sudah menunggu kita di lapangan" ajak Rere.


Ratna mulai bangkit dan mengambil pakaian olahraganya, selesai berganti pakaian mereka pergi ke lapangan dan mendapatkan hukuman berlari keliling lapangan sebanyak 10 kali sebab terlambat.


Selesai hukuman pelajaran berlanjut dengan memainkan olahraga futsal untuk anak laki-laki sedang voli untuk anak perempuan, Ratna tak begitu pandai memainkan olahraga itu tapi ia tetap ikut.


"Awas....... " teriak seseorang tiba-tiba.


"Hah?"


Dug


Secepat kilat tanpa sempat menghindar sebuah bola menghantam kepalanya dengan cukup keras, sedetik kemudian orang-orang bergerombol mendatanginya dan ia pun tak sadarkan diri.


Peristiwa itu terjadi hanya sepersekian detik saja, ia juga merasa baru memejamkan mata namun ternyata ia sudah terlelap sekitar sejam.


"Kau baik-baik saja?" tanya Rere melihat Ratna membuka matanya.


"Mm.... aku di mana?" tanyanya mencoba bangkit.


"Ruang UKS" jawab Rere.


'Benar, tadi aku kena bola' batin Ratna mengingat apa yang telah terjadi.


"Wajahmu terlihat pucat, bagaimana jika kau ijin pulang saja" ujar Rere khawatir.


"Tidak apa-apa, aku masih bisa berdiri"


"Tapi... bagaimana jika kau pingsan lagi?"


"Itu kan karena aku kena bola"


"Kau sungguh baik-baik saja?" tanya Rere memastikan.


Ratna mengangguk, ia sudah terbiasa memaksakan diri untuk terus bekerja karena itu meski pusing ia akan tetap mengikuti pelajaran hingga usai. Agar tak berujung sakit ia hanya minta obat pusing saja, meski awalnya ia merasa tubuhnya sehat kembali tapi rupanya setelah pulang sekolah kepalanya kembali pening.


Mungkin itu akibat dari panasnya matahari yang menyengat, di tambah tubuhnya yang lelah kini ia merasa sakitnya semakin menjadi.


"Tidak boleh!" ujar Hamdani bersikukuh.

__ADS_1


Begitu Ratna sampai di kedai wajahnya yang pucat adalah hal pertama yang membuat Hamdani bertanya, meski Ratna bersikukuh bahwa ia baik-baik saja tapi Hamdani tidak mau mengambil resiko.


"Pulanglah dan istirahat, bekerja bukanlah tugas utama seorang siswi seperti mu" ucapnya lagi.


"Tapi paman aku sungguh baik-baik saja" ujar Ratna bersikukuh.


"Jika aku bilang tidak boleh artinya tidak boleh"


"Halo paman!" sapa Ardi yang tiba-tiba muncul.


Raut wajahnya yang cerah tiba-tiba kaku melihat ekspresi Hamdani yang keras, seketika ia merasa telah datang di waktu yang salah. Tapi melihat wajah Ratna yang pucat serta terlihat lesu dengan penasaran ia bertanya.


"Apa kau sakit?"


"Sudah jelas bukan? dengan wajah pucat seperti itu bisa di pastikan bahwa dia sakit, tapi tetap saja bersikukuh ingin bekerja" ujar Hamdani.


"Ah... kau ini kenapa ngotot sekali, jika kau memaksakan tubuhmu untuk bekerja yang ada kau malah semakin sakit dan merepotkan banyak orang" hardik Ardi.


"Ardi bawalah dia pulang, jika terus begini lama-lama dia akan semakin sakit"


"Baik paman"


"Tapi... " ujar Ratna hendak memprotes tapi Ardi menatapnya dengan tajam seakan ia akan di makan hidup-hidup.


"Kalau begitu kami permisi dulu paman" ujar Ardi berpamitan.


Meski tak ingin tapi Ratna akhirnya tetap pulang juga, di temani Ardi mereka berjalan perlahan keluar dari kedai.


"Jangan suka memaksakan diri, kau harus ingat tindakan mu itu terkadang membuat orang lain kerepotan" ucap Ardi.


Ratna tak menjawab, terlalu malas untuk bicara. Semakin lama ia berjalan pun kakinya terasa semakin berat dan tubuhnya pun terasa semakin lemah.


"Kau baik-baik saja?" tanya Ardi menghentikan langkah dan menatap Ratna.


"Ya" jawab Ratna singkat.


Meski Ratna menjawab seperti itu tapi perasaan Ardi tetap tak tenang, di rabanya kening Ratna menggunakan tangan untuk mengukur suhu tubuhnya.


"Astaga... tubuhmu lumayan panas, sebaiknya kita ke dokter saja" ujar Ardi mulai cemas.


"Tidak perlu! nanti di rumah aku akan minum paracetamol dan tidur" jawab Ratna.


Ia kembali berjalan mendahului Ardi tapi tiba-tiba Ardi menghentikan langkahnya, tanpa di duga Ardi jongkok di depan Ratna sambil berkata.


"Naiklah kepunggungku"

__ADS_1


"Aku sungguh tidak apa-apa"


"Aku bilang naik!" ujar Ardi dengan nada yang lebih tinggi.


Percuma untuk bicara, Ratna tahu dia akan kalah jika berdebat dengan Ardi. Meski malas tapi ia tetap naik ke punggung Ardi dan berpegangan, Ardi mulai bangkit dan berjalan perlahan.


"Di.. apa yang kau lakukan di kedai paman?" tanya Ratna pelan.


"Aku hanya ingin menengok paman, rasanya sudah lama aku tidak bertemu dengannya" jawab Ardi.


"Oh... " balas Ratna yang kemudian diam.


Sebenarnya itu adalah alasan kedua bagi Ardi, alasan pertamanya berkunjung ke kedai sudah pasti karena ingin bertemu Ratna. Semenjak mereka masuk SMA yang berbeda mereka jadi jarang bertemu bahkan hampir tidak memiliki waktu bersama lagi.


Di balik sakitnya Ratna ia cukup senang karena akhirnya mereka bisa berdua saja, diam-diam ia tersenyum sambil terus berjalan menggendong Ratna di punggungnya.


"Um.... punggungmu ternyata lebar dan nyaman" ujar Ratna tiba-tiba.


"Kau bilang apa?" tanya Ardi yang merasa salah dengar.


Tapi Ratna tak menyahut.


"Ratna... Na... " panggil Ardi.


Rupanya Ratna terlelap, ucapan yang tadi ia katakan hanyalah gumaman yang mungkin saja tidak ia sadari. Tapi Ardi tetap senang mendengarnya, kepercayaan dirinya meningkat untuk bisa mendapatkan hati Ratna.


Mm.....


Ia mengerutkan kening, kepalanya masih terasa pusing tapi badannya sudah lebih bertenaga. Perlahan Ratna membuka mata dan melihat langit-langit yang putih, ia menengok ke kiri dan kanan menyadari bahwa dirinya sudah berada di kamarnya sendiri.


Setelah terbangun sepenuhnya hal terakhir yang ia ingat adalah saat seseorang menggendongnya.


"Jadi... tadi aku ketiduran ya" gumamnya.


Saat itu tubuhnya memang terasa sangat lemah, pening di kepalanya pun semakin menjadi hingga membuatnya mengantuk. Berada di posisi antara sadar dan tidak ia sempat berfikir bahwa Amus yang tengah menggendongnya, perasaan nyaman saat bersandar di bahu yang kokoh dan lebar membuatnya tenang.


Tapi kemudian ia teringat bahwa Ardi yang sudah menggendongnya, dan pundak lebar yang nyaman itu bukanlah milik Amus.


"Ah... kenapa aku kembali memikirkannya? aku tidak boleh berharap pada sesuatu yang mustahil" gumamnya menepiskan perasaan itu.


Esoknya Ratna kembali masuk sekolah seperti biasa dengan keadaan yang jauh lebih baik, Rere pun nampak senang melihat wajah Ratna yang lebih berseri.


"Kau membuat ku benar-benar khawatir" ujar Rere.


"Maafkan aku, mungkin aku kelelahan" jawab Ratna.

__ADS_1


"Lain kali jika kau merasa tidak sehat jangan memaksakan diri lagi"


"Baik... aku mengerti!" jawab Ratna.


__ADS_2