
"Kita tidak bisa menentukan dengan siapa kita akan bertemu dan jatuh cinta, hanya saja kita bisa memilih untuk terus berjalan atau berhenti. Apa gunanya memaksakan hati pada satu insan? sekali pun hal itu tejadi maka yang ada hanya kompromi. Sebaiknya perasaan itu tidak pernah di paksakan, tapi juga tidak baik di pendam. Tapi jika mental tidak mampu menahan pilu yang kemungkinan terjadi maka biarkan saja selamanya terpendam, dengan syarat jangan pernah menyesali atas apa yang telah terjadi."
Di kutip dari arsip pribadi Ratna Mangalih.
* * *
Adu mulut terjadi antara Jimy dan Ratna untuk beberapa menit, kadang Ardi juga membantu Jimy namun pada akhirnya kalah suara karena Amus lebih memihak Ratna begitu juga dengan Jaya dan Rere. Akhirnya mereka berhenti dan meminta maaf atas ketidaknyamanan yang telah mereka buat kepada Sonu dan Adinda, setelah itu mereka pun pergi dengan janji tidak akan menganggu waktu mereka mengerjakan tugas sekolah.
"Apa Jimy selalu seperti itu padamu?" tanya Rere yang baru melihat sisi lain dari kepribadian Jimy.
"Kau bercanda? bahkan kami akan saling membunuh hanya karena masalah kecil"
"Sekarang kalian tahu kenapa aku putus dengannya, mereka sangat ketat kepada Ratna" ujar Jaya.
"Ah... andai aku punya teman seperti itu, aku mengerti mereka sangat mengkhawatirkan mu. Aku sangat ingin diperlakukan dengan istimewa seperti yang mereka lakukan padamu" ujar Adinda merasa iri.
"Sudahlah jangan bahas mereka, kita mulai kerjakan tugas kita sebelum hari semakin larut" ujar Ratna.
Mereka pun mulai berkerja, secara bergantian mereka mencoba menyulam dengan membuat bentuk bunga. Cukup sulit memang tapi mereka harus bekerja keras agar mendapat nilai bagus, di samping itu mereka juga mengobrol seputar keluarga Ratna yang jarang di ketahui.
Bahkan Jaya pun baru tahu kalau Ratna tidak memiliki ibu, sekarang ia mengerti di balik sifat Ratna yang egois dan matrealistis adalah untuk menutupi kesepiannya.
Setelah senja tiba Jimy datang untuk menjemput Rere, sebenarnya tugas mereka belum selesai tapi karena sudah malam maka pekerjaan itu di tunda sampai besok.
Rere berpamitan duluan karena Jimy akan mengantarnya pulang sedang Adinda dan Sonu pulang bareng karena rumah mereka yang satu arah, tinggallah Jaya yang masih berdiri di pinggir jalan bersama Ratna.
"Kapan ayah mu pulang bekerja?" tanya Jaya.
"Mungkin nanti malam, dia belum memberitahu ku jam berapa akan pulang"
"Lalu bagaimana dengan makan malam mu?"
"Aku bisa makan sendiri, lauk yang tadi pagi masih ada"
"Mau soto?" tawarnya.
"Kau mau memberiku?" ujar Ratna balik bertanya.
"Aku tahu tempat yang enak"
"Baiklah kita pergi!" ucap Ratna dengan semangat.
Jaya hanya tersenyum melihat semangat Ratna yang membara karena masalah makanan, tapi begitulah ia. Jaya sudah lebih paham kalau bicara uang dan makanan maka semangat hidupnya akan meningkat, ia lebih periang bahkan cenderung cerewet.
Jaya membawanya ke tempat langganannya, ia memesan dua porsi soto ayam untuk mereka. Begitu pesanan datang dengan cepat Ratna memakannya, anehnya Jaya merasa saat itu Ratna begitu lucu.
Diam-diam diperhatikannya cara Ratna makan, cukup rapi tapi tetap terlalu tergesa-gesa seolah akan ada yang merebut makanannya.
"Apa kau selalu makan seperti ini?" tanya Jaya.
"Oh... maaf, aku terlalu senang jadi sangat bersemangat"
"Ah... kau tidak seperti seorang gadis" ujarnya sambil melap sisa makanan yang menempel di sudut bibir Ratna.
Tapi hal itu membuatnya fokus pada bibir Ratna yang menggoda, tiba-tiba ingatannya tentang peristiwa dimana ia memaksakan kehendaknya kepada Ratna muncul. Dengan cepat Jaya menarik tangannya, ia sedikit menundukkan kepala karena merasa malu pada dirinya sendiri.
"Ada apa?" tanya Ratna.
"Ah ti-tidak, habiskan makanan mu nanti keburu dingin" jawab Jaya grogi.
"Oh baiklah, ngomong-ngomong kau mentraktir ku makan apa pacarmu tidak marah?"
"Tidak, kami sudah putus"
"Benarkah? kenapa?" tanya Ratna kaget.
"Dia terlalu mengekang, aku capek pacaran dengannya. Lagi pula sekarang kita sudah kelas tiga, aku ingin fokus pada pelajaran ku"
Hahahaha
Tawa Ratna itu membuatnya bingung, sebab ia merasa tidak ada yang lucu.
"Akhirnya kau merasakan karma juga, begitulah yang kurasakan saat kau mengatur bagaimana caraku menjalani hidup" ujarnya.
"Jadi kau senang akan penderitaan yang ku alami?"
"Tentu saja"
"Baik, bayar makanan mu sendiri!" ujar Jaya kesal.
"Eh tidak begitu, maksudku.. baguslah kau sudah sadar. Gadis seperti itu memang tidak baik untuk mu, sudah sepatutnya kau putus dengannya" kata Ratna cepat.
Jaya kembali melembut, ia makan dengan perlahan sedang Ratna tak berani bicara lagi sebelum Jaya yang bicara duluan.
Namun setelah makanan mereka habis masih tak ada yang berani bicara, Jaya segera membayar dan mengajak Ratna pulang. Sepanjang jalan mereka masih saling terdiam yang membuat Ratna canggung.
__ADS_1
"Um..... aku rasa cukup sampai di sini saja, aku bisa pulang sendiri" ujar Ratna pelan.
"Aku akan mengantarmu sampai rumah, bahaya bagi seorang gadis berjalan sendirian" jawab Jaya.
Ratna kembali terdiam, mereka melanjutkan perjalanan dengan masih saling membisu. Di malam yang dingin dimana angin berhembus cukup kencang Ratna merasa Jaya jauh lebih dingin lagi, hal itu membuatnya menggosok kedua lengan agar lebih hangat.
"Ada apa?" tanya Ratna saat mereka berhenti berjalan.
Tiba-tiba Jaya membuka jaketnya dan memakaikannya kepada Ratna, sontak hal itu membuat Ratna kaget sekaligus bingung.
"Harusnya kau pakai jaket tadi, kau bisa masuk angin jika di biarkan" ujar Jaya.
"Jaya...kenapa aku merasa kau lebih baik padaku setelah kita putus? padahal dulu kau sangat menyebalkan" balas Ratna.
"Entahlah, tapi orang bilang setelah menjadi mantan justru rasa cinta timbul dengan lebih kuat. Mungkin karena kau merasa kehilangan"
"Aku tidak merasa kehilangan mu"
"Bagaimana dengan perasaan mu? apakah... kau masih menyimpan hati padaku?"
"Itu...jika aku boleh jujur, saat kita pacaran pun aku hanya merasa suka padamu tapi tidak pernah merasakan cinta. Saat itu aku keliru menyadari perasaan ku, tapi saat kau selingkuh dan menuduh ku yang bukan-bukan rasanya sangat sakit sekali. Sampai sekarang pun bagiku kau hanya teman biasa, aku tidak berpikir akan jatuh cinta padamu jadi... maaf" jawab Ratna.
Jaya bisa melihat bahwa Ratna berkata jujur, tapi ia senang akan jawaban itu karena ia tahu bagaimana perasaan Ratna kepadanya. Ia pun tidak berfikir untuk kembali menjalin asmara dengan Ratna, sifat mereka sama-sama egois karena itu percuma jika paksakan sekali pun.
"Aku..... sekarang mengerti mengapa Amus dan yang lain sangat memperhatikanmu" ujar Jaya.
"Hmm? apa?"
"Orangtuaku selalu sibuk bekerja, terkadang aku merasa sangat kesepian hingga bertingkah arogan agar mendapat perhatian mereka. Karena itu, aku mengerti bagaimana rasanya hidup sendiri. Aku pikir kau kuat karena kau masih bisa menjadi siswa teladan dengan perasaan kesepian itu, mungkin itu caramu juga mendapat perhatian"
"Meski tanpa ibu tapi aku tidak kekurangan perhatian, aku menjadi siswa teladan karena ingin mendapatkan nilai bagus di rapot ku. Setelah lulus sekolah aku ingin kerja karena itu aku butuh nilai-nilai itu"
"Begitu ya, kalau begitu semangat berjuang!" ujar Jaya.
"Hehe terimakasih" jawab Ratna.
Mereka kembali berjalan.
"Ratna.. "
"Hm?"
"Boleh aku menggandeng tangan mu? aku mulai kedinginan"
Hahahaha
Ia menggandeng tangan Jaya dan mendekatkan tubuhnya, hal itu membuat Jaya sedikit terkejut tapi kemudian ia tersenyum senang. Meski ia sempat jatuh cinta kepada Ratna bahkan tergoda akan kecantikan yang di miliki Ratna kini ia sendiri cukup kaget karena bisa malu atas perbuatannya, mungkin suatu saat dia dapat tergoda lagi tapi untuk saat ini perasaan yang ia miliki hanyalah teman.
"Kalian... dari mana?" tanya Amus menatap Ratna dan Jaya yang baru kembali.
"Apa yang.... kalian lakukan?" tanya Ardi melihat tangan mereka yang saling menggenggam dan Ratna yang memakai jaket Jaya.
"Oh, apa yang kalian lakukan di sini?" ujar Ratna balik bertanya tanpa menyadari tangannya yang masih memegang tangan Jaya.
Baik Amus atau pun Ardi masih terpaku dengan menatap mereka berdua.
"Kalian... kenapa memandang kami seperti itu?" tanya Jaya.
"Kau... berani bertanya... " ujar Ardi.
"Ah sudahlah jangan hiraukan mereka, ini jaket mu! sebaiknya kau pulang sebelum hari semakin larut" ucap Ratna sambil mengembalikan jaketnya.
"Oh, hmm baiklah. Sampai jumpa besok!"
"Dah... " ucap Ratna melambaikan tangan yang segera di balas oleh Jaya.
Setelah kepergian Jaya tanpa peduli akan adanya Ardi dan Amus yang masih menatapnya ia segera berjalan pergi untuk pulang ke rumah.
"Hei Amus, apa... menurut mu mereka jadian lagi?" tanya Ardi pelan.
"Aku bersumpah aku tidak tahu apa-apa."
* * *
Esoknya Jaya dan teman-temannya kembali datang ke rumah Ratna untuk menyelesaikan tugas mereka yang sempat tertunda, kali ini mereka berhasil menyelesaikannya dan puas atas kinerja yang telah mereka lakukan.
"Menurut mu kita dapat nilai berapa nanti?" tanya Sonu.
"Entahlah, tapi yang jelas kita adalah kelompok pertama yang berhasil menyelesaikan tugas" jawab Adinda.
"Berapa pun itu yang penting kita akan mendapatkan nilai, besok akan ku bawa ke sekolah dan ku berikan kepada pak guru" jawab Ratna.
Mereka melanjutkan waktu senggang yang mereka miliki dengan kembali mengobrol dan bercanda, di luar jam sekolah ternyata Ratna baru melihat sifat lain dari teman-temannya yang menyenangkan. Mereka juga terlihat berbeda jika memakai pakaian biasa selain seragam sekolah, bahkan Rere dan Adinda terlihat cantik dengan riasan yang mereka gunakan.
Setelah malam tiba mereka pun berpamitan untuk pulang, lagi-lagi kini tinggal Jaya seorang diri yang masih belum pulang.
__ADS_1
"Kau mau mengajak ku makan malam lagi?" tanya Ratna.
Hahaha
"Sepertinya kau sangat berharap"
"Ah... jujur sekarang aku sudah tidak bekerja lagi, karena itu aku tidak punya pemasukan"
"Kenapa kau berhenti?"
"Alasannya sama seperti mu, aku butuh waktu banyak untuk membahagiakan diriku sendiri"
"Ah... aku mengerti, baiklah kali ini kau mau makan apa?"
"Kau mau mentraktir ku lagi?" tanya Ratna senang.
"Apa boleh buat, tapi dengan satu syarat"
"Apa itu?"
"Jangan jatuh cinta padaku"
"Hah, apa-apaan itu?" tanya Ratna meledek.
"Biasanya perempuan akan mudah jatuh cinta jika di perlakukan dengan baik, perlu kau ketahui aku melakukan ini hanya karena kasian padamu"
"Hei.. siapa yang lebih dulu jatuh cinta? kau atau aku? perlu kau ketahui aku tidak mudah terbawa perasaan, jika aku gadis yang seperti itu saat ini aku pasti sudah jatuh cinta pada Amus, Ardi dan Jimy sebab mereka jauh lebih baik dan perhatian darimu"
"Ah benar juga, bukankah kalian sudah berteman sejak kecil?"
"Memang kenapa?"
"Rasanya mustahil seorang wanita dan pria bisa berteman tanpa adanya rasa cinta" ujar Jaya.
"Kenyataannya kami tidak seperti itu" jawab Ratna meski dalam benaknya terbayang bagaimana kedekatan dirinya dengan Amus dan Ardi.
"Begitu ya, tapi jika mereka menyukaimu siapa yang akan kau pilih?"
"Tentu saja Amus"
"Kenapa dia?" tanya Jaya yang membuatnya bingung sebab ia memberikan jawaban atas dasar hatinya.
"Itu.... karena dia kaya tentu saja, dia anak tunggal sudah pasti warisan akan jatuh semua padanya" jawab Ratna cepat.
"Aish.. dasar dolar! pikiran mu selalu saja tentang uang"
"Sudahlah.. ayo pergi! perutku sudah lapar" ajak Ratna sambil mendorong punggung Jaya agar ikut berjalan.
Pulang dari makan malam kini Ratna berjalan sendiri sebab Jaya ada urusan sehingga tidak bisa mengantarnya pulang, itu tidak tadi jadi masalah karena ia sudah biasa sendiri.
Dengan perut yang sudah kenyang ia berniat akan langsung tidur begitu sampai di rumah, tapi Ardi dan Amus menunggunya di depan rumah hanya untuk membicarakan Jaya.
"Sudah ku bilang status kami hanya teman" ujar Ratna yang lelah dengan pertanyaan yang di ajukan Ardi.
Berulang kali ia mengatakan bahwa dirinya dan Jaya hanya berteman setelah mereka putus, tak ada status lain atau perasaan lain meski mereka makan bersama.
"Lalu kenapa kalian terus berduaan?" tanya Ardi lagi.
"Apakah teman tidak boleh ngobrol berdua? kenapa kau sangat curiga pada kami?"
"Tentu saja karena kedekatan kalian mencurigakan"
"Tidak ada yang curiga kecuali kau! kau selalu berlebihan jika aku dekat dengan pria lain, sudah ku katakan berhenti ikut campur urusan pribadi ku!"
"Aku hanya tidak mau kau terluka seperti waktu itu"
"Aku sudah terbiasa terluka! sejak kecil, sejak berpisah dengan ayah, sejak ibu meninggal, aku sudah terbiasa dan tidak akan hancur begitu saja" teriak Ratna yang mulai habis kesabaran.
Amus yang paham betul perasaan itu memberi isyarat kepada Ardi untuk jangan bicara lagi, lalu dengan lembut mengelus kepalanya.
"Baiklah... kami mengerti, kami minta maaf karena telah keterlaluan. Kami sangat mengenal Jaya dan tahu bagaimana gaya berpacarannya, kami hanya takut kau akan terlena tapi sekarang kami yakin bahwa kau memang baik-baik saja" ujar Amus pelan.
"Ah... kalian memang menyebalkan!" ucap Ratna ketus.
"Sebagai permintaan maaf bagaimana kalau kau kami traktir makanan?"
"Tidak usah, aku sudah mengantuk. Tapi jika kau benar-benar menyesal aku mau kau mengantarku ke sekolah besok, aku tidak punya uang untuk ongkos"
"Baiklah besok pagi aku akan mengantarmu"
"Ya sudah, selamat malam" ujar Ratna berpamitan.
Amus tersenyum dan terus memandangi Ratna yang masuk ke dalam rumah tanpa menyadari Ardi tengah memperhatikannya, di depan matanya sendiri ia melihat bagaimana Amus begitu pengertian dan bisa meredam amarah Ratna.
Sekali lagi ia tersadar bahwa Amus memang mencintai Ratna dengan kedewasaannya, tak seperti dirinya yang penuh ego dan curiga.
__ADS_1