Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 70 CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali)


__ADS_3

Bruk


Bahkan ia tak punya waktu untuk berkedip, buku-buku itu berhamburan ke lantai tapi tak ada satupun yang mengenai tubuhnya. Rere menatap satu lengan yang memeluk tubuhnya dengan erat lalu tangan yang lain menghalau buku-buku itu, ia merasakan detak jantung seseorang yang teramat dekat dengannya dan hembusan nafas yang sempat tertahan.


Perlahan lengan itu melepaskannya, membiarkannya bergerak setelah semua aman. Tapi ia memilih untuk membalikkan badan, menatap seseorang yang telah melindunginya.


"Maaf, maafkan aku... " ujar petugas itu menyesal.


"Tidak apa-apa, lain kali ambillah satu persatu" jawab Jimy.


"Kalian tidak apa-apa kan?"


"Tidak, biar aku bantu membereskan buku-bukunya" ujar Jimy segera mengambil salah satu buku.


Rere masih tidak bergerak, ia memperhatikan Jimy yang seolah tidak mau menatap dirinya. Ia pun memutuskan untuk ikut membantu juga, tapi tanpa sengaja tangannya memegang satu buku yang sama dengan Jimy. Mereka saling bertatapan untuk sejenak, tapi kemudian Jimy melepaskan tangannya dari buku itu dan membatu sang petugas menyimpan buku-buku itu.


"Sudah semuanya, terimakasih" ujarnya.


"Tidak masalah"


"Kalau begtu aku permisi dulu."


Jimy mengangguk sambil tersenyum, membiarkan petugas itu pergi. Ia menatap Rere sejenak sebelum kemudian ia pun pergi meninggalkan tempat itu, tapi langkahnya terhenti saat sebuah tangan menahannya.


"Apa.... kau baik-baik saja?" tanya Rere.


Jimy menoleh, menatap tangannya yang di genggam Rere.


"Aku tidak apa-apa" jawab Jimy pelan.


"Bisakah... kau menerima secangkir kopi sebagai balasannya?" tanya Rere meski ragu akan di terima.


Tak di sangka Jimy mengangguk, maka ia pun melepaskan pegangan tangannya dan mengajak Jimy pergi ke kafe terdekat. Ia memesan dua cangkir kopi untuk menemani obrolan mereka yang pasti akan canggung, untuk beberapa menit mereka memang hanya terdiam tanpa ada yang saling bicara sampai Rere mencoba memecah keheningan itu.


"Bagaimana kabarmu?"


"Baik"


"Um..... ku dengar kau keponakan pemilik toko, aku tak menyangka kau mau berurusan dengan buku-buku"


"Aku hanya mencari kesibukan, tidak sepenuhnya tertarik pada buku."


Entah mengapa rasanya sakit setiap mendengar nada dingin dalam ucapan Jimy, bahkan hanya menatap wajahnya yang tanpa ekspresi membuat Rere merasa bersalah.


"Um.. terimakasih untuk yang tadi" ujarnya kembali mencairkan suasana.


"Tidak masalah" jawab Jimy.


Keheningan kembali hadir diantara mereka, cukup lama hingga kopi dia dalam cangkir itu habis. Jimy pamit pergi tanpa lupa mengucapakan terimakasih atas kopinya, meninggalkan Rere yang masih menatapnya hingga hilang dari pandangan.


* * *


Selama dua hari lamanya ia terus datang ke toko, berharap bertemu dengan Jimy atau sekedar melihatnya sedang bekerja. Tapi setelah dua hari itu ia tidak menemukannya sama sekali, ia mencoba bertanya pada petugas lain tapi tak ada yang tahu kemana Jimy.


Esoknya ia mencoba bertanya kepada Ratna, berharap mendapatkan jawaban yang benar.


"Oh master sedang sakit, dia terkena flu" ujar Ratna.


"Begitu rupanya"


"Kenapa kau bertanya soal master?" tanya Ratna curiga.


"Ah tidak apa-apa"


"Ya sudah" sahut Ratna tak ingin memaksa.


Setelah pulang sekolah Rere menyempatkan diri pergi ke toko buah Hamdani, ia membeli dua buah nanas yang manis lalu memberikannya kepada Ratna.


"Tolong berikan ini kepada Jimy" ucapnya.


"Kenapa kau menitipkannya padaku? datanglah sendiri dan lihat bagaimana keadaannya, aku tahu kau khawatir kan padanya?"


"Bukan begitu, beberapa hari lalu Jimy sudah menyelamatkan ku jadi ini sebagai balasan saja untuknya"


"Memang apa yang terjadi padamu?" tanya Ratna semakin penasaran.


"Sudahlah berikan saja ini padanya" ujar Rere menyerahkan buah itu lalu pergi begitu saja.


Ratna cukup sadar kalau Rere kembali memiliki perasaan pada Jimy, entah apa yang sudah terjadi diantara mereka sebab Jimy tidak cerita apa pun. Meski begitu pulang bekerja ia menyempatkan diri ke rumah Jimy untuk menyampaikan nanas yang di titipkan Rere.


"Kau sudah lebih baik?" tanya Ratna.

__ADS_1


"Lumayan, tapi kepalaku masih terasa pusing"


"Ini untukmu!"


"Wah... tumben kau baik sekali memberikan ku buah-buahan" ujar Jimy senang sambil menerima buah itu.


"Itu dari Rere bukan dariku"


"Apa?" tanya Jimy seolah pendengarannya bermasalah.


"Dia sengaja datang ke kedai dan meminta ku menyerahkan buah itu untukmu, kelihatannya dia sangat khawatir saat aku beritahu kau sakit" jelasnya.


Jimy hanya bisa mengucapkan terimakasih kepada Ratna tanpa mengatakan apa yang telah terjadi, sejujurnya sampai saat ini hatinya masih terpaut pada Rere. Bukan hal mudah melupakan kenangan manis yang telah tercipta, tapi kata maaf yang tidak di terima itu membuatnya hancur hingga tak punya senyum untuk di tunjukan kepada Rere.


Esoknya Jimy kembali ke toko buku untuk ikut membantu, padahal niat hati kecilnya adalah melihat Rere meski hanya sekilas.


"Apa kabar?" tanya Rere menghampiri.


"Oh, baik"


"Bagaimana dengan flu mu? apa sudah lebih baik?"


"Belum sembuh total, sebaiknya kau jangan dekat-dekat dengan ku jika tidak nanti kau bisa tertular" ujar Jimy yang kemudian bergegas pergi.


Ucapan itu bagai penolakan keras untuk Rere, kini ia yakin Jimy telah membencinya untuk hal di masa lalu. Itu cukup wajar karena memang apa yang telah ia perbuat sangat keterlaluan, sebisa mungkin Rere terima hukuman yang di berikan Jimy kepadanya.


Padahal dibalik sikap dingin itu diam-diam Jimy merasa senang karena perhatian yang di berikan oleh Rere, hal itu membuatnya menjadi bersemangat lagi.


Tes Tes Ddrrsssssss.....


"Ah kenapa tiba-tiba hujan? padahal tadi cerah" gumam Rere menatap langit yang memuntahkan air.


Hari semakin senja dan perutnya mulai meronta meminta makan, tapi dengan hujan yang begitu deras ia terjebak di sana tanpa bisa melakukan apa pun. Angin yang bertiup dengan kencang membawa hawa dingin pada tubuh Rere, ia bergidik sebab hal itu membuat perutnya semakin keroncongan.


Tiba-tiba secangkir kopi tersuguh di depannya, ia menatap tangan itu dan terus mengikutinya ke lengan sampai di wajah.


"Ini bisa membuat tubuhmu lebih hangat" ujar Jimy.


"Te-terimakasih" ucap Rere mengambil kopi itu.


Mereka menatap hujan yang kian deras sambil menikmati secangkir kopi panas di tangan, kecanggungan hadir kembali tanpa ada kata yang bisa terucap.


Kkkkkkrrreeeoookkkk


Rere baru mengangkat wajahnya ketika Jimy pergi meninggalkannya, dia mulai menggerutu sendiri sebab menahan malu yang tak tertahankan. Jimy kembali dengan roti di tangan, ia memberikannya kepada Rere sambil berkata.


"Makanlah, lebih enak jika kau celupkan dulu ke dalam kopinya. Aku selalu melakukan itu agar rotinya lebih lembut lagi"


"Te-terimakasih" ujar Rere sambil mengambil roti itu.


Walau sebenarnya ia malu tapi akan lebih memalukan lagi jika ia menolak, Rere makan dengan tenang tanpa mengatakan apa pun dan cukup kaget saat melihat ada senyum di wajah Jimy yang ternyata sangat ia rindukan.


"Kau... mau?" tawar Rere.


"Tidak, untuk mu saja" jawab Jimy masih dengan tersenyum sebab baginya wajah Rere yang sedang malu sangat menggemaskan.


Kini senyum itu bertahan di sana, tetap hadir setelah hujan reda. Jimy menawarkan diri untuk mengantar pulang dan Rere menerimanya, mereka bisa mengobrol seperti biasa meski topiknya tak jauh dari buku.


Hari berlanjut begitu saja dan Rere selalu hadir ke toko secara rutin, ia bertemu Jimy dan kecanggungan itu telah hilang. Mereka menghabiskan waktu bersama dengan makan siang atau sekedar membahas buku keluaran terbaru.


Sampai pada suatu hari Rere membicarakan topik yang lebih serius.


"Aku benci pria yang tidak jujur, kau tahu masalah ku di situ. Saat aku melihat mu merokok sebenarnya aku bisa mentolerir hal itu, tapi kau mencoba mengelak dan memberikan alasan. Hal itu yang paling tidak aku suka, tapi aku juga sadar sikapku telah keterlaluan oleh karena itu aku minta maaf" ujar Rere.


"Bahkan sejak awal cara ku untuk mendekatimu sudah salah, itu tidak masalah sekarang semua itu sudah menjadi kenangan jadi biarlah berlalu"


"Terimakasih kau telah mau mengerti aku"


"Tidak masalah, lagi pula sekarang hubungan kita hanya sekedar teman" ujar Jimy.


Kebenaran yang sesungguhnya tidak mau Rere akui, kali ini ia sadar bahwa dirinya yang menginginkan Jimy oleh sebab itu ia terus datang ke toko.


"Bagaimana... jika aku ingin hubungan yang dulu?" tanya Rere.


Jimy terdiam, ia tak menyangka seorang gadis akan menyatakan perasaannya kepadanya.


"Bagiku yang dulu tidaklah bagus, hubungan itu tidak akan pernah berhasil" jawabnya belajar dari pengalaman.


"Kenapa? kita belum mencobanya"


"Karena aku ingin privasi ku terjaga" jawab Jimy.

__ADS_1


"Di satu sisi kau akan terus mengorek hidupku sedang di sisi lainnya aku berusaha untuk menutupinya, kita sama-sama berjuang keras dengan arah yang berlawanan maka hal itu tidak mungkin berhasil" jelasnya.


"Jika.... aku mau berusaha untuk tidak melangkah jauh melebihi batasan yang telah kau buat, apakah kau mau mencobanya?"


"Tidak perlu, wanita dan keegoisannya tidak bisa di pisahkan" jawab Jimy.


Ada suara patah yang kencang dan itu berasal dari dalam hatinya, rasanya sakit tapi Rere menampilkan senyum terbaiknya.


Mungkin ini karma untuknya, merasa tinggi hanya karena di cintai kini ia merengek minta kembali setelah membuang tanpa mau melihat. Wajar memang jika Jimy menolaknya dengan mentah, tapi tetap saja rasanya itu masih tidak adil setelah ia meminta maaf.


Kepada Ratna dia merajuk, mengadukan sikap Jimy yang terlalu berlebihan. Seharusnya dia bisa menolak dengan kata yang lebih lembut atau alasan lain, bukan dengan menyakiti seperti ini.


Tak tega melihat temannya sedih Ratna datang kepada Jimy untuk meminta pertanggungjawaban, tapi yang ia dapat adalah penjelasan yang lebih masuk akal hingga dukungannya tertinggal penuh pada Jimy.


"Dia terlalu egois, segalanya harus berjalan sesuai keinginannya. Terlebih tidak boleh ada apa pun yang aku sembunyikan meski itu keburukan, memang tidak salah juga tapi setiap orang butuh privasi meski dengan pacarnya sendiri. Nyatanya setelah melihat sisi yang tidak dia sukai dengan mudahnya dia marah dan mengabaikan ku, harusnya dia terima saja kan?" jelas Jimy.


"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Ratna penasaran.


"Aku butuh bantuan mu, apa kau mau membantu?"


"Jika tidak sulit maka tidak masalah bagiku"


"Baiklah aku mau kau melakukan ini.... "


* * *


Rere masih sedih atas tindakan Jimy kepadanya, di sekolah ia menjadi tidak bersemangat dan tidak fokus dalam mengikuti pelajaran.


"Apa kau akan menyerah begitu saja?" tanya Ratna.


"Apa yang bisa aku lakukan? di menolak ku begitu saja"


"Kalau begitu seharusnya kau buktikan bahwa kau sungguh-sungguh, buat dia sadar kalau kau tidak main-main"


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Tentu saja buat dia senang, pria tidak suka jika tanya berbagai macam hal tapi pengertian yang mereka butuhkan"


"Maksudmu?" tanya Rere tak mengerti.


"Contohnya seperti waktu kau mengetahui Jimy merokok, meski kau marah karena alasan kebaikan dia tetap tidak suka tapi dengan memberikan dia pengertian dan bicara baik-baik dia akan merasa senang dan menghargai mu"


"Baiklah, akan aku coba" ujar Rere.


Sepulang sekolah Rere datang ke toko buku dan mendapati Jimy tengah asik mengobrol dengan salah satu petugas, kedekatan itu membuat ia kesal dan hampir membuat kesalahan.


Untung ia ingat nasehat Ratna dan mencoba bersikap biasa saja, terlebih ia juga harus sadar kalau sekarang statusnya tak lebih dari sekedar teman.


Rere menghampiri mereka dan ikut mengobrol, tak ada yang menarik dalam obrolan itu. Hanya beberapa candaan ringan namun Jimy dan petugas wanita itu dapat tertawa yang semakin membuat Rere kesal.


"Keliatannya kau sangat dekat dengannya" ujar Rere setelah petugas itu pergi.


"Kami bekerja di tempat yang sama tentu kami cukup dekat" jawab Jimy.


Tak ada yang salah pada jawaban itu tapi hati Rere semakin sakit saja rasanya.


"Um... aku sedang mencari novel bagus, apa kau bisa merekomendasi sesuatu untuk ku?" tanya Rere.


"Belum lama ini aku sedang tertarik pada novel misteri karya R. L. STINE bukunya cukup bagus untuk kau baca"


"Um, maksud ku novel romansa"


"Oh maaf, kau tahu aku tidak suka pada hal yang seperti itu. Kalau begitu aku pergi dulu, ada banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan" jawab Jimy.


Dulu saat Jimy berpura-pura menyukai novel romansa ia tak suka ekspresinya yang sengaja di buat-buat, kini melihat kejujuran di mata Jimy rasanya ternyata lebih menyakitkan.


Hal ini membuatnya sadar yang selama ini bermasalah ternyata memang dirinya, tanpa jadi meminjam buku Rere pamit pulang. Jimy menawarkan tumpangan tapi setelah pekerjaannya selesai, dengan sopan ia menolak karena tidak ingin mengganggu pekerjaannya.


Sikap Rere yang demikian membuat Jimy tersenyum senang karena tugas yang dia berikan kepada Ratna telah sukses, ia menyuruh Ratna untuk menasehati Rere tentang apa yang ia inginkan dari diri Rere. Tidak sulit, itu hanya pengertian yang harus selalu ada pada sifat Rere.


Hari itu saat langit begitu cerah dengan langit biru dan awannya yang putih berarak tertiup angin, Jimy membeli jus untuk ia berikan kepada Rere yang sedang tenang membaca.


"Terimakasih" ujar Rere menerimanya.


"Jika aku katakan bahwa aku ingin memulai sesuatu yang baru dengan mu apakah kau akan meminta syarat padaku?" tanya Jimy tiba-tiba.


"Apa?" tanya Rere tak mengerti.


"Aku ingin kembali memiliki hubungan yang spesial dengan mu, tapi tanpa syarat apa pun sebab kali ini aku ingin hubungan yang sehat" jawab Jimy memperjelas ucapannya.


Rere terdiam, butuh beberapa menit sebelum ia mengerti maksud dari ucapan Jimy sampai perlahan senyumnya mengembang.

__ADS_1


"Aku tidak akan memberikan syarat apa pun" jawabnya.


__ADS_2