Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 50 Pahlawan


__ADS_3

"Re! hari ini Ziyan gak masuk sekolah, tadi pagi dia kirim pesan sama aku katanya ada perlu jadi tolong tulis ijin ya di buku absen" ucap Anggi yang langsung menghampiri.


"Suratnya mana?"


"Kan dia kirim pesan lewat handphone!"


"Tapi kalau gak ada suratnya gak bisa aku tulis, kata wali kelas kita harus ada buktinya kalau dia memang ijin"


"Ribet banget sih! kan tinggal tulis aja Re!" ucap Anggi dengan nada tinggi.


Sontak semua anak menatap kepada mereka berdua termasuk Ratna, ia dapat melihat wajah Rere yang memerah. Perlahan Rere menurunkan pandangannya sebab tak mampu membalas tatapan Anggi yang melotot padanya.


"Jangan sok anak baik deh Re, dasar penjilat! hanya karena mau di puji guru hal sepele aja di permasalahankan!" bentak Anggi.


"Udahlah Re, toh guru juga jarang nanyain suratnya kan?" teriak yang lain membela Anggi.


"Iya bener"


"Dia memang seperti itu, orangnya cari muka"


"Pagi-pagi udah bikin ramai."


Ratna dapat melihat dengan jelas setiap wajah yang mencibir, ia juga bisa mendengar cemoohan mereka dengan jelas meski suara mereka cukup pelan hampir seperti bisikan.


Senyum menghina dan tatapan benci yang sering ia lihat namun kini dengan jumlah yang lebih banyak, perlahan ia menatap Rere dan menemukan Ratna kecil ada padanya.


Kepala yang hanya bisa menunduk, tangan yang bergetar karena rasa takut membuat jantungnya berdegup kencang. Dalam waktu sepersekian detik itu Ratna baru muncul tiba-tiba, menyuarakan apa yang terpendam.


BRAK....


"Kalau Rere bilang harus ada surat artinya harus ada!" teriaknya berbarengan dengan gebrakan di meja.


Suara yang kencang itu membuat semua mata tertuju padanya, sedang Anggi yang tepat di depannya hanya bisa menatap karena terkejut.


"Ka-kamu apa-apa sih? bikin kaget aja" ucap Anggi setelah tersadar.


"Aku bilang... kalau kata Rere harus ada surat artinya harus ada, jadi kalau tidak ada surat artinya Ziyan absen tanpa keterangan alias alfa" ulang Ratna dengan suara yang lebih pelan.


"Kamu ngapain belain Rere sih Na? ini kan cuma masalah sepele, masa sama temen satu kelas aja masalah absen jadi ribut" ujar yang lain.


"Rere cuma menjalankan tugasnya sebagai sekertaris, lagi pula kenapa kalian yang ribet? toh yang kena absen Ziyan" balas Ratna.

__ADS_1


"Tapi kan Ziyan teman kita! kalau di tulis alfa nanti Ziyan bisa kena hukuman" sergah Anggi.


"Terus Rere bukan teman kalian?" balas Ratna berteriak.


Seisi kelas tiba-tiba hening, begitu pun dengan Anggi yang tak bisa menjawab pertanyaan itu.


"Kalau Rere nurutin apa kata kamu dan guru nanyain surat yang bakal disalahin pasti Rere" lanjutnya.


"Heh, jangan sok jadi pahlawan kesiangan deh Na! itu resiko jadi sekertaris" ujar Anggi.


Bagai cambuk yang menghantam hatinya, ucapan itu membuat rasa perih yang tak tertahankan membuat Ratna kehilangan kesabaran.


"Hehe jangan sok belain bajingan seperti Ziyan! dia tidak akan berterimakasih hanya karena kamu belain dia di masalah kecil seperti ini, anak badung seperti Ziyan cuma manfaatin kebaikan kamu! dia tidak pernah tertarik dengan gadis rendah seperti mu!" balas Ratna dengan tatapan penuh menghina.


"Kamu... keterlaluan!"


Gep


Dengan cepat Ratna menangkap tangan Anggi yang hampir saja menamparnya, kekuatan mereka sangatlah jauh. Ratna yang sudah biasa bekerja bukanlah tandingan gadis biasa seperti Anggi, terlebih Ratna kini dalam mode negatifnya.


Bruk


Hanya dengan satu dorongan saja Anggi sudah jatuh ke lantai, dengan segera teman-temannya yang lain menghampiri untuk membantunya berdiri.


"Kamu kasar banget sih Na! kamu ko bisa tega gini sama teman sendiri cuma gara-gara si Rere?" tanya salah seorang teman kelasnya.


"Kasar? lu gak liat dia mau nampar gue?" jawab Ratna dengan berteriak.


Semua mata menatapnya, beberapa diantaranya ada tatapan benci yang sudah ia sadari sejak tadi. Tapi Ratna membalas setiap tatapan itu dengan mata amarahnya tanpa rasa takut sedikit pun.


"Kenapa? lu semua gak terima? kalau berani sini semua lawan gue!" teriaknya menantang semua anak kelas itu.


Tapi tak ada satupun dari mereka yang berani maju, perlahan Anggi pun di bantu temannya duduk dan tak mengatakan apa pun lagi. Untuk beberapa menit Ratna masih sanggup menatap setiap anak yang ada di kelas itu, memastikan mereka bungkam hingga tak berani menatapnya.


Hari itu, kelas usai dengan penuh ketenangan. Meski ada jam kosong pun tak ada yang berani ribut saat Ratna menyuruh mereka mengerjakan tugas mencatat yang telah di berikan guru sebelumnya.


"Terimakasih Na, hari ini kamu sudah mau bela aku" ujar Rere saat mereka dalam perjalanan pulang.


"Tidak perlu berterimakasih, aku melakukannya bukan untuk mu" jawab Ratna.


"Lalu untuk siapa?"

__ADS_1


"Untuk diriku sendiri, aku sangat benci orang-orang seperti mereka. Padahal jelas mereka salah, tapi karena satu orang yang dominan akhirnya mereka melakukan hal yang sama" ujar Ratna.


"Pokoknya terimakasih, tadi kamu benar-benar keren!" ucap Rere seraya tersenyum.


"Dengar! jangan biarkan orang lain menindas mu, jika menurut kamu benar maka jangan pernah takut untuk bersuara"


"Tapi... Anggi itu anak yang paling cantik di kelas, dia populer dan kaya. Aku tidak berani.... " akui Rere.


"Lalu kenapa aku yang biasa ini bisa membuat satu kelas bungkam?" tanya Ratna.


"Itu karena aku berani mengatakan apa yang tidak aku suka, secantik apa pun dia meski banyak yang mendukungnya tapi mereka hanya pandai menggertak saja" lanjutnya.


"Baiklah.. aku mengerti" jawab Rere pelan.


"Sebagai ucapan terimakasih bagaimana kalau aku traktir jus?" tanya Rere.


"Boleh juga, bagaimana kalau jusnya kita buat sendiri di tempat ku kerja? bukankah kau sudah janji akan mampir?"


"Benar juga, baiklah ayo pergi!" teriak Rere penuh semangat.


Dengan menggandeng tangan Ratna mereka pun pergi, memiliki teman seperti Ratna membuat Rere sangat bersyukur. Cukup satu saja dan itu hanya Ratna ia sudah merasa memiliki pahlawannya sendiri, seperti pahlawan di kebanyakan film yang akan datang menolong di saat dia membutuhkannya.


Pekerjaan di kedai selesai begitu saja tanpa ia sadari, rasanya waktu berjalan dengan cepat di saat banyak pekerjaan yang harus dia kerjaan. Tumben sekali hari itu kedai ramai sehingga Ratna larut dalam pekerjaannya tanpa istirahat, tahu-tahu badannya terasa letih saat Hamdani memberitahu sudah waktunya ia pulang.


Setelah berpamitan Ratna segera melangkah pergi meninggalkan kedai, tak di sangka sebuah sepeda motor tiba-tiba berhenti di sampingnya dan itu adalah Amus.


"Kau baru pulang?" tanyanya.


"Mm, kau dari mana?"


"Selesai main futsal"


"Oh, kebetulan sekali... kalau begitu ayo pulang bareng" ujar Ratna hendak naik.


"Eh apa yang kau lakukan?" sergah Amus tiba-tiba.


"Pulang bersama mu, rumah kita kan satu arah"


"Tidak! aku mau pergi ke suatu tempat dulu, kau kan sudah biasa jalan kaki" jawab Amus sambil menghidupkan motornya kembali dan berlalu begitu saja.


"Amus..... aku akan mengutukmu jadi katak!" teriak Ratna kesal.

__ADS_1


__ADS_2