
Ia berjalan terhuyung di atas trotoar, energinya hilang seketika seolah makhluk telah menghisap habis darahnya. Pikirannya kacau dengan sanubari yang terus cekcok untuk menentukan langkah selanjutnya, isi surat yang ia terima dan yang ia tulis bergentayangan di atas kepalanya tanpa henti.
'Jika di pikir lagi... semua salahku, aku tidak bertanya siapa yang menulis surat itu' batinnya.
Hhhhhhh
"Rasanya aku ingin menghilang saja!" ujarnya semakin menundukkan kepala.
Kini ia sudah tiba di rumah, tapi Ratna memilih duduk dulu di kursi untuk menghirup udara bebas. Menyadari tindakan bodohnya membuat rasa malu berkecamuk di dalam hatinya, di tambah kekecewaan sebab nyatanya semua berjalan tak sesuai keinginannya.
"Haruskah... aku katakan yang sebenarnya kepada Jaya?" tanyanya pada diri sendiri.
"Oh, hei Amus!" teriaknya tiba-tiba saat melihat Amus yang baru kelihatan.
"Kau dari mana saja?" tanyanya tanpa beranjak dari kursi.
"Bukan urusanmu" jawab Amus ketus.
"Cih! semakin hari dia semakin sombong, membuatku jengkel saja" ujarnya menatap kepergian Amus yang masuk ke dalam rumah.
"Eh, jika di pikir-pikir Jaya dan Amus pasti sudah berteman lama. Jika aku memberitahunya apakah pertemanan mereka tetap akan berjalan baik, lagi pula... sepertinya aku tidak punya keberanian untuk mengungkapkan yang sebenarnya" gumamnya.
Tak ingin terus larut dalam pikirannya sendiri Ratna memutuskan untuk mengesampingkan masalah itu, ayahnya sudah bekerja keras demi menyekolahkannya maka sebagai anak yang berbakti ia harus membalas kebaikan itu.
Seperti biasa karena ia sudah biasa mengerjakan pekerjaan rumah setelah mengganti seragam ia mulai menyiapkan makan malam.
"Na.... " panggil seseorang dari luar rumah.
Segera Ratna bergegas menuju pintu depan dan melihat siapa yang memanggilnya.
"Master! ada apa?"
"Ibuku tadi menelpon, katanya ayahmu sedang membetulkan kursi di restoran keluarga ku jadi ayahmu akan pulang terlambat. Aku juga di suruh mengajakmu makan malam bersama ku"
"Begitu ya! untung aku belum mulai masak"
"Baiklah ayo pergi ke rumahku!" ajak Jimy.
Dengan riang Ratna mengunci pintu rumah dan berjalan mengikuti Jimy di belakang, hanya butuh waktu beberapa menit saja dan mereka sudah sampai di pintu gerbang.
"Sedang apa kalian?" tanya Ardi yang kebetulan lewat.
"Oh, ayahnya pulang terlambat malam ini jadi aku mengajaknya ke rumah ku" jawab Jimy.
"Bukankah... di rumah mu tidak ada orang?" tanya Ardi sambil berfikir.
"Memang benar? lalu kenapa?"
__ADS_1
"Ah... kau benar-benar lebih agresif dari yang aku bayangkan" ujar Ardi dengan tatapan penuh arti.
"Sialan! tidak seperti itu! ibuku menyuruh ku untuk mengajaknya makan malam bersama sebab ayahnya bekerja di restoran kami" teriak Jimy menepis pikiran Ardi yang kotor.
Hahahaha
"Aku mengerti, aku hanya menggoda mu saja" ujar Ardi tak kuasa menahan tawa.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Ratna yang benar-benar tidak paham.
"Kau tidak perlu mengerti, sudahlah ayo masuk!" ujar Jimy membuka gerbang.
"Kalau begitu aku ikut!" teriak Ardi dengan wajah penuh senyuman.
Sudah cukup lama Ratna tidak berkunjung ke rumah Jimy, terakhir kali tentu saat mereka masih kecil. Sejak pindah lagi pun ia belum bertemu dengan orangtua Jimy ataupun Amus sebab mereka selalu sibuk bekerja.
Rumah itu berpagar putih dengan halaman yang cukup luas, pintu depannya cukup lebar dan tinggi. Seingatnya bahkan total kamar di rumah itu berjumlah lima padahal keseluruhan anggota keluarga hanya empat orang, itu pun hanya Jimy seorang yang selalu ada di rumah.
"Aku juga belum masak, sebaiknya kita makan apa malam ini?" tanya Jimy.
"Aku ingin mie goreng" ujar Ardi sambil mengangkat tangan.
"Aku juga ingin mie" sahut Ratna.
"Kalian sudah terlalu banyak makan mie! kita harus makan nasi, itu lebih baik dan sehat" ucap Jimy membuat senyum kedua orang itu hilang.
"Baiklah kalau begitu buatkan aku nasi goreng dengan toping telur mata sapi diatasnya" balas Ratna.
Jimy segera ke dapur untuk menyiapkan semua bahannya, sementara Ardi dan Ratna hanya menonton dari belakang.
Jimy cukup cekatan saat di dapur, berbeda dengan Ratna yang bisa memasak karena membantu pekerjaan ibunya Jimy justru memasak karena kewajiban sebagai penerus usaha keluarga.
Saat kecil ia memang bercita-cita ingin menjadi pilot, tapi setelah masuk SMP ia sadar orangtuanya sangat berharap banyak padanya. Itu karena kakaknya tidak mau ikut terlibat dalam bisnis keluarga, mau tidak mau Jimy pun mulai mempelajari usaha orangtuanya.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya nasi goreng buatan Jimy siap di hidangkan, tampilannya cukup menggiurkan dengan potongan sosis dan toping telur mata sapi.
"Sepertinya enak" ujar Ratna menatap betapa mewahnya nasi goreng tersebut.
"Silahkan makan... " ucap Jimy.
Tanpa menunggu lagi mereka mulai menyendok makanan tersebut, di suapan pertama rasa gurih dan manisnya kecap bercampur menjadi satu di tambah dengan pedas yang membuat perpaduan nikmat.
"Aku tidak menyangka kau pandai memasak" ujar Ratna.
"Dia adalah calon penerus bisnis keluarga, selain memasak dia juga harus pandai dalam bicara dan hitung menghitung. Itulah mengapa julukan master bukan asal julukan saja, sebab selain mengetahui banyak hal dia juga pandai di berbagai hal" ujar Ardi.
"Tidak perlu memuji ku seperti itu"
__ADS_1
"Tapi jika di pikir lagi meski peringkat mu di kelas hanya masuk sepuluh besar nyatanya pengetahuan mu memang lebih luas dari yang lain" akui Ratna.
"Terimakasih, silahkan habiskan nasinya" ujar Jimy.
"Hehe akan ku lakukan" balas Ratna sambil menyendok nasi lagi.
Total Ratna sudah menghabiskan dua piring nasi goreng, tentu itu membuatnya kekenyangan hingga malas untuk bergerak.
"Kau mau ikut kami atau tetap disini?" tanya Ardi.
"Kemana?"
"Ke kamar, kami mau main PS"
"Aku ikut!" teriak Ratna memaksakan diri untuk bangkit.
Jimy menunjukkan kamar tempat biasa mereka main PS, rupanya itu kamar yang jarang di pakai sehingga di gunakan untuk menyimpan mainan Jimy sejak kecil hingga sekarang.
Lebih tepatnya itu adalah ruangan tempat Jimy main, hanya saja di lengkapi selimut dan bantal sebab Jimy sering ketiduran di sana.
"Wah... mainan mu cukup lengkap, kau memang kaya sejak lahir!" ujar Ratna kagum melihat jenis mainan mulai dari bola, tamiya, hingga buku-buku cerita dan komik.
"Boleh aku meminjam sesuatu?" tanyanya.
"Ambilah" jawab Jimy sembari menghidupkan PS-nya.
Ratna memutuskan untuk meminjam Nintendo, meski sekarang sudah ada ponsel sehingga sudah jarang ada yang memainkan barang itu tetap saja Ratna masih menyukainya.
Jimy dan Ardi begitu ramai memainkan PS sedangkan Ratna asik sendiri dengan mainannya, tapi lama kelamaan masalah yang sedang di hadapinya muncul kembali dalam benaknya.
Besok di sekolah dia pasti bertemu dengan Jaya dan dia tidak tahu harus bersikap seperti apa tau bicara apa, ia ragu dapat menghadapi Jaya dengan baik sebab Jaya sudah berfikir bahwa mereka telah memiliki hubungan.
"Um....kalian sudah berapa lama kenal dengan Jaya" tanya Ratna pelan.
"Tentu saja sejak kelas masuk SMP, kami pernah sekelas dengannya waktu kelas satu karena itu kami masih suka nongkrong bersama" ujar Jimy.
"Begitu ya.. sebenarnya... dia anak yang seperti apa?" tanyanya lagi penuh kehati-hatian.
"Sama seperti yang lainnya, tidak ada yang istimewa" ujar Jimy.
"Tapi menurut ku dia orang tidak mau rugi dan sedikit pemaksa" tukas Ardi.
"Benar juga, meski begitu dia setia kawan. Ingat saat kita di hukum karena mencoba bolos? padahal dia berhasil kabur tapi kembali lagi untuk menerima hukuman dengan kita"
"Ah... kejadian itu ya... aku masih ingat"
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentangnya?" tanya Jimy.
__ADS_1
"Ah tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu saja sebab kalian terlihat sangat akrab" jawab Ratna beralasan.
'Setia kawan ya.. sepertinya dia bukan pemuda yang buruk, mungkin aku harus mencoba menjalani hubungan ini dulu. Hubungan yang berasal dari salah paham ini mungkin tidak seburuk yang ku kira, lagi pula cintaku bertepuk sebelah tangan' batin Ratna akhirnya memutuskan.