
"Dengan begini kita sudah impas" ujar Jaya setelah menyerahkan sejumlah uang.
"Senang berbisnis denganmu tuan!" jawab Ratna tersenyum senang.
"Baiklah silahkan nikmati sisa jam istirahat kalian, aku kembali ke kelas duluan" lanjutnya.
"Dia benar-benar akan tutup mulut kan?" tanya Jaya sambil menatap kepergian Ratna.
"Tenang saja, dia bisa di percaya" jawab Jimy.
Kini seminggu sudah Ratna bersekolah dan telah memiliki beberapa teman baru, kadang ia pun menghabiskan waktu bersama temannya yang lain terlebih dengan Mita sang sekertaris.
Ia sering kali di mintai tolong untuk membuatkan catatan sebab sebagai sekertaris ia memang selalu sibuk.
"Na apa kau punya ponsel?" tanya Mita suatu hari.
"Tidak, kenapa?"
"Tidak apa-apa, ku pikir jika kau punya ponsel kita bisa SMS-an" jawab Mita.
"Kau ingin lihat ponselku? ada game juga yang bisa kau mainkan, paling mudah game ular kau hanya perlu mengarahkannya untuk mendapatkan makanan" tawarnya.
"Aku boleh meminjamnya?" tanya Ratna cukup kaget.
"Tentu saja, cobalah!" ujar Mita menyerahkan ponselnya.
Mungkin hal itu hanya tindakan sederhana dan biasa bagi Mita, tapi untuk Ratna yang tidak mempunyai teman perempuan hal itu cukup membuatnya terharu. Ia bersyukur mengikuti wasiat mendiang ibunya untuk tinggal bersama ayahnya, meski mereka hidup sederhana dan jauh dari kata mewah tapi setidaknya dia bahagia tanpa ada yang bicara kasar atau membentaknya.
* * *
Hampir dua jam Amus duduk di atas ranjang memandangi sebuah amplop merah muda yang wangi, terkadang dia akan menatap resah sambil menggigit ibu jari lalu menghembuskan nafas panjang.
Hhhhhhhh
"Aku harus memberikannya, harus! tapi..... aku benar-benar tidak bisa melakukannya" gumamnya.
Setelah menghabiskan waktu lama hanya karena perdebatan antara otak dan hatinya ia pun memutuskan.
"Aku tidak punya pilihan."
Akhirnya dengan langkah yang berat ia berjalan keluar rumah, hanya beberapa langkah saja dan ia sudah sampai di depan pintu rumah Ratna.
Tok Tok Tok
Perlahan diketuknya pintu itu, tak butuh waktu lama Sapardi membukanya dan dengan ramah menyapanya.
"Oh kau rupanya, masuklah"
"Tidak perlu paman, aku hanya ingin bertemu Ratna"
__ADS_1
"Kau mencariku?" tanya Ratna yang kebetulan lewat sambil membawa pakaian kering yang sudah di lipat.
"Baiklah" ujar Sapardi meninggalkan mereka berdua.
"Ada perlu apa?" tanya Ratna menghampiri.
"Aku ingin bicara dengan mu!" ujar Amus pergi lebih jauh dari pintu.
Segera Ratna meletakkan pakaian itu dan pergi keluar menemui Amus.
"Ini... " ujar Amus menyerahkan amplop itu.
"Apa ini?" tanya Ratna memandang benda itu.
"Kau bisa lihat sendiri kan? sudahlah terima ini!" bentak Amus yang segera pergi.
"Ta-tapi... " ucapan itu tak ia lanjutkan sebab Amus sudah hilang dari pandangannya.
Saat malam telah tiba, waktu yang ia miliki sebelum tidur biasanya akan ia habiskan dengan membaca buku atau menonton TV kali ini ia gunakan untuk mengurung diri di kamar.
Di hadapannya nampak amplop merah muda yang tadi sore ia terima dari Amus, perlahan di ambilnya benda itu dan mencium aroma parfum yang wangi.
Ia pun menyobek bagian atas untuk mengeluarkan sepucuk surat yang cukup membuatnya penasaran, tak ada nama si pengirim yang tertulis hanya sebuah kata demi kata yang di tulis rapi.
"Teruntuk Ratna
Sebelum ku utarakan niat, maksud dan tujuan ku mengirimi mu sepucuk surat ini ku ucapkan kata maaf, bilamana surat yang ku kirimkan untukmu ini telah membuatmu tak nyaman.
Maaf pula bila aku telah lancang, sebab dalam pertemanan kita yang masih seumur jagung sudah berani ku nyatakan hal ini kepadamu.
Ratna, begitu indah namamu seindah parasmu. Bukan niat ku menggoda, namun aku pun tak mengerti sebab senyummu selalu terbayang dalam benakku. Hingga mawar yang awalnya ku anggap elok kalah jua oleh kecantikan mu, tak dapat ku tutupi rasa kekaguman ku kepadamu teruntuk itulah ku kirimkan surat ini.
Ratna, sudikah dirimu menjalin satu hubungan yang lebih dekat denganku? satu hubungan yang dilandasi saling suka dan sayang.
Jujur betapa hebat gemetar tangan ku saat ku tulis bait itu, tapi lebih hebat rasa cintaku yang tak dapat ku pendam lagi hingga tertulislah surat ini untuk mu.
Dengan penuh harap kutunggu balasan surat mu, dan apa pun jawabanmu percayalah aku akan ikhlas menerimanya."
"I-ini.... " gumam Ratna sambil menutup satu mulutnya.
"Surat cinta.... Amus... dia...."
Aaahhhh....
Dengan jantung yang berdegup kencang ia membenamkan wajah di atas bantal untuk meredam suara pekikannya, terbayang bagaimana ekspresi Amus yang tak berani menatapnya saat ia menyerahkan surat itu.
Rasa bahagia bercampur kaget membuatnya hampir kehilangan akal dengan terus tersenyum tanpa henti, kadang ia kembali membenamkan wajah hanya untuk menjerit dan tertawa sendiri karena malu.
"Ah.. aku harus membalas suratnya, tapi apa yang harus aku tulis... " gumamnya.
__ADS_1
Entah mengapa berbagai pertanyaan tiba-tiba muncul di kepalanya, tentang bagaimana mereka akan menghadapi kehidupan mendatang. Pertemanan yang telah mereka jalin sejak kecil akan berubah hanya dengan sepucuk surat, lalu bagaimana cara mereka berperilaku apalagi jika yang lain mengetahui hal ini.
"Aku harus menjawab apa agar pertemanan kami tidak rusak, aku ingin menjawab ya... tapi apakah itu tidak menjadi masalah?" gumamnya.
Aaarrhhhhh
"Ini hanya membuatku pusing saja!" erangnya sambil kembali membenamkan wajah ke dalam bantal.
Ia hanya perlu menjawab ya atau tidak, tapi memilih antara keduanya bukanlah hal yang mudah. Saking sulitnya ia menjadi tidak bisa tidur dan bangun kesiangan.
Drap Drap Drap
"Ah.... sial! aku tidak keburu sarapan" ujarnya sambil membenahi buku ke dalam tas.
"Ayah aku berangkat dulu!" teriaknya sambil berlari ke depan pintu untuk memakai sepatu.
"Hati-hati di jalan" balas Sapardi.
Drap Drap Drap
Dengan cepat Ratna berlari meninggalkan rumah, menyusuri trotoar hingga akhirnya ia tiba di sekolah.
Teng Teng Teng
Arrhhhhh
"Syukurlah.... aku masih sempat!" erangnya sambil berjalan menuju kursinya.
"Tumben kau kesiangan" ujar Ardi memutar tubuh mengikuti langkah Ratna.
"Ya...aku tidak bisa tidur semalam" jawabnya.
"Selamat pagi anak-anak, keluarkan buku kalian" ujar seorang guru memasuki kelas.
Masih dengan kelelahan Ratna membuka tasnya dan mengeluarkan buku, namun saat ia hendak mengeluarkan bolpoin benda itu tak ada dimana pun.
"Astaga... apa tidak ku bawa?" gumamnya.
Tak ada pilihan lain, ia mencoba meminjam pada yang lain tapi baik Ardi maupun Jimy tidak memilikinya.
"Amus... apa kau punya bolpoin lagi?" tanya Ratna pelan.
"Tidak bisakah kau tidak merepotkan ku?" hardiknya.
"Kau hanya tinggal jawab punya atau tidak" balas Ratna cemberut.
'Kenapa dia kelihatan jengkel sekali padaku, apa aku punya salah?.... oh suratnya! apa karena aku belum membalas suratnya' batin Ratna menyadari sesuatu.
"Ini... " ujar Amus sambil menyodorkan bolpoin.
__ADS_1
Meski tanpa memandang Ratna tapi perhatian itu cukup membuat jantung Ratna kembali berdegup kencang.