
Zrrrrttt.....Glegar......
Kyaaaa........
Ia menunduk sambil menutup kedua telinganya dengan tangan, matanya tetap terpejam untuk beberapa saat sampai degup jantung berhenti berdebar dengan kencang.
"Ahhh.... kapan hujannya akan berhenti? jika terus begini bisa-bisa aku terlambat ke sekolah" erangnya menatap langit yang masih mendung dengan guyuran air membasahi bumi.
"Oh Amus!" panggilnya senang.
"Kau belum berangkat? hari ini ada ujian matematika jika terlambat kau akan di hukum"
"Payung ku rusak aku juga tidak punya jas hujan" jawab Ratna cemberut.
Amus terlihat menghela nafas, tanpa di duga ia menyerahkan payung yang ia pakai kepada Ratna.
"Gunakan payung ku" ujarnya sambil menarik tangan Ratna untuk memegang payung itu.
Jantungnya kembali berdegup kencang saat melihat Amus menutup kepalanya dengan topi dan berlari meninggalkannya yang masih terdiam, ia tahu debaran itu bukan akibat suara petir. Senyum khas gadis merekah di bibirnya beberapa saat kemudian, segera Ratna berlari mengejar Amus.
Gep
"Tunggu!" ujarnya meraih tangan Amus.
Amus menatap kaget saat langkahnya di hentikan, kali ini jantungnya yang berdegup dengan kencang saat Ratna tersenyum manis sambil memposisikan payung dengan tepat.
"Payungnya cukup besar, kita bisa memakainya bersama" ujarnya.
"Ba-baiklah" jawab Amus.
Dengan perlahan kini mereka berjalan beriringan, menyusuri trotoar di tengah hujan yang masih membasahi bumi.
Untuk yang pertama kalinya ada kecanggungan diantara mereka, tak ada kata yang terucap selain suara hujan yang terdengar berisik.
"Ratna awas!"
Hah
Byuuurrr...
Ia masih membatu dalam pelukan Amus saat perlahan tubuh Amus melepaskannya untuk melihat seberapa basah jaket yang ia kenakan.
"Sial! kalau bawa mobil gunakan yang benar!" teriak Amus pada mobil yang sudah melaju dengan kencang.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Ratna khawatir.
__ADS_1
"Tidak, hanya jaketku yang kena" jawab Amus membersihkan jaketnya yang terkena cipratan.
"Sebaiknya kita cepat! kau bisa membersihkannya di toilet sekolah nanti"
"Ya ayo!" jawab Amus mulai berjalan kembali.
Mereka tiba di sekolah tepat waktu, Amus segera berlari ke toilet untuk membersihkan diri sedang Ratna masuk kedalam kelas dimana hanya baru beberapa murid yang hadir sebab hujan di pagi hari.
Teng Teng Teng
Lonceng tanda pelajaran akan segera di mulai telah berbunyi, pada jam pelajaran pertama mereka sudah di suguhkan pada ujian matematika.
Ratna melirik ke samping dimana Amus sudah fokus pada lembar soal, ia juga melirik ke kiri dimana Jimy terlihat menggaruk-garuk kepalanya dan saat ia melihat ke depan dimana seharusnya Ardi duduk di sana tapi bangku itu kosong.
"Dia pasti kesiangan gara-gara main PS semalam" gumamnya.
Tok Tok Tok
"Maaf Bu.. saya kesiangan" ujar Ardi dengan wajah merah di pintu masuk.
"Ibu tahu kamu kesiangan, duduk! lembar soal kamu ibu tambah sebagai hukuman" ujar sang guru tegas.
Tak ada yang bisa di ucapkan Ardi selain kata 'ya' sebab ia tahu jika ia melawan maka hukumannya akan semakin besar. Dengan segera ia berjalan ke arah kursinya dan sempat melirik Ratna yang tersenyum padanya, tanpa suara ia bertanya.
"Apa?"
Ratna kembali menatap lembar jawabannya kembali dan mengerjakan soal yang menurutnya gampang terlebih dahulu.
Selama ujian itu kelas begitu hening, tak ada seorang pun yang berani bicara bahkan melirik ke sana kemari. Keheningan yang malah membuat Ratna teringat pada kecanggungan diantara dirinya dan Amus pagi ini, tiba-tiba terbayang dalam benaknya bagaimana Amus menyerahkan payung miliknya dan melindungi tubuhnya dari cipratan genangan air yang kotor.
Diam-diam ia melirik Amus dan menatapnya untuk beberapa saat sampai Amus tiba-tiba balik menatapnya, rasa malu yang tak tertahan membuatnya memalingkan wajah dengan cepat.
Triiing.... Triiing...
"Baik anak-anak waktunya sudah habis, letakkan lembar jawaban dan soal secara terpisah" ujar guru itu setelah bel berbunyi.
"Baik bu!" jawab semua murid serentak.
"Hei kau bisa menyelesaikan semua soalmu?" tanya Ratna sambil menepuk pundak Ardi.
"Tidak semua, lembar soal ku lebih banyak darimu!"
"Salah sendiri kenapa kau kesiangan"
"Jangan bahas itu sekarang, aku masih ngantuk bangunkan aku jika ada guru masuk" ujarnya sambil memasukkan kepala kedalam tasnya dan mencoba tidur di atas meja.
__ADS_1
"Aku heran kenapa kau masih pintar padahal kau selalu tidur di kelas" gumam Ratna.
"Semuanya.... guru sejarah tidak bisa masuk hari ini, sebagai gantinya kita di suruh mencatat" teriak Mita.
Yey.....
Sorak sorai para murid menyambut pengumuman itu, setelah ujian berat di jam pertama memang jam bebas yang mereka butuhkan agar kembali bersemangat.
Bruk
"Tolong buatkan aku catatan lagi, sebagai gantinya akan ku belikan keripik singkong kesukaanmu" ujar Amus menyimpan bukunya tepat di hadapan Ratna.
"Ah aku tidak mau!" ujar Ratna.
"Lalu kau mau apa? cemilan kesukaan mu sudah sepadan sebagai gantinya"
"Belikan aku bolpoin baru, setidaknya dua sebab bolpoin ku sudah mau habis"
"Baiklah akan ku belikan yang baru" ujar Amus sambil mengelus kepala Ratna yang membuat debaran jantungnya kembali.
'Kenapa? jantungku selalu berdegup kencang... apakah aku punya penyakit jantung?' batin Ratna mengelus dadanya.
Sesuai janji semalam saat jam istirahat telah tiba Jimy mentraktir Ratna semangkuk mie instan dengan toping telur, dengan girang Ratna berjalan lebih dulu.
"Oi master! jangan lupa ya!" ucap seseorang yang kemarin menyapa Jimy.
Sontak hal itu membuat Ratna keheranan sebab orang itu selalu mengingatkan Jimy tentang sesuatu, lalu setelah makan Jimy, Amus dan Ardi akan pergi dengan tergesa-gesa tanpa mau mengatakan kemana tujuan mereka atau apa yang akan mereka lakukan.
Hari itu, ia bertekad akan mencaritahu kemana mereka pergi. Setelah mereka menyuruhnya untuk pergi ke kelas duluan Ratna sengaja membiarkan mereka berjalan lebih dulu, sampai dia rasa jaraknya sudah cukup aman untuk menguntit ia pun beranjak.
Ketiga orang itu berjalan melewati kelas satu, sejauh ini tak ada yang mencurigakan melihat mereka berjalan sambil bercanda. Terlihat kemudian mereka berbelok dan hilang dari pandangan, Ratna cepat berlari mencari tahu kemana mereka hilang.
Rupanya mereka pergi ke arah kelas yang tidak terpakai, dan masih terus berjalan menuju area belakang kelas. Ratna mencoba mengintip dari balik tembok saat melihat ketiga temannya bertemu dengan beberapa murid lain.
"Kalian lama sekali" ujar salah satu murid.
"Maaf, hanya terlambat sedikit kan" jawab Ardi santai.
Dari dalam saku nampak Jimy mengeluarkan sesuatu berbentuk kotak, kemudian ia serahkan benda itu kepada orang yang selalu menyapanya di jam istirahat.
"Apa kau menggantinya dengan yang baru?" tanyanya.
"Tentu saja, aku sudah mencobanya dan rasanya jauh lebih enak dari yang kemarin" jawab Jimy.
'Ah itu kan....' batin Ratna kaget melihat sebuah benda yang tak asing di keluarkan dari kotak tersebut.
__ADS_1