
"Aaarhhh..... sebenarnya dimana dia?" erang Ratna.
Hampir sejam dia bersama Amus dan Jimy menunggu hingga bosan, namun Ardi belum kelihatan juga.
"Oi..... " teriak Ardi yang akhirnya datang juga.
Di sampingnya seorang gadis yang sebaya dengan mereka berjalan mengikuti langkah Ardi, nampak raut gadis itu terlihat malu saat semua mata tertuju padanya.
"Maaf, kalian menunggu lama ya.. " ujar Ardi.
"Jika lima menit lagi kau tidak datang aku akan membunuhmu" ujar Ratna.
"Maaf, maaf... perkenalkan ini Yuni" ujarnya.
"Yun, mereka teman ku sejak kecil namanya Ratna, Amus dan Jimy"
"Halo" sapa Yuni menyalami mereka satu persatu.
"Ayo pergi! kita sudah terlambat" ujar Amus memimpin jalan.
Para lelaki jalan lebih dulu sedang gadis di belakang mengikuti mereka, di sepanjang jalan itu Ratna dan Yuni sempat berbincang-bincang hal biasa seperti asal dari mana dan sekolah dimana hingga mereka sampai di lapangan futsal.
Tim Amus rupanya sudah menunggu kedatangan mereka sejak tadi, tim lawan pun nampak sudah bersiap di seberang lapangan.
Namun yang tak di duga, dari sekian banyak orang di sana mata Ratna cepat mengenali seseorang yang berdiri di tim lawan.
"Kau lihat apa?" tanya Amus yang sadar pada tatapan panjang Ratna.
"Kau... mau melawannya?" tunjuk Ratna.
Mata Amus beralih mengikuti telunjuk itu, tepat saat Ratna menurunkan jarinya orang yang di tunjuk menatap kearahnya. Cukup lama mereka berpandangan hingga orang itu berlari menghampiri mereka.
"Jaya? kamu tim lawan?" tanya Jimy yang menatap kaget.
"Sebenarnya aku menggantikan teman ku yang tidak bisa ikut main, jadi... yang akan ku hadapi adalah kalian? lucu juga kita bisa bertemu di pertandingan seperti ini" ujarnya.
"Ya.. tapi bagus juga, dengan begitu aku tidak akan sungkan" ucap Amus.
"Tenang saja jagoan, aku juga tidak akan sungkan apalagi saat pacarku ada di sini untuk mendukung ku bertanding. Aku tidak mungkin melakukan kesalahan" balasnya sambil menatap Ratna.
"Sayangnya dia datang bersama kami, jadi tentu dukungannya juga untuk kami" ucap Ardi tiba-tiba yang membuat Ratna terperangah.
"Meski dia datang bersama kalian tetap saja dia pacarku, jadi dia akan duduk di kursi ku"
"Sebelum menjadi pacarmu dia adalah tanggung jawab kami, jadi dia akan tetap duduk di belakang kami" balas Ardi dengan tatapan yang sama tajamnya.
"Cukup!" bentak Ratna mengagetkan semua orang.
Meski hanya perdebatan kecil tapi Ratna di buat tak nyaman akan hal itu, Ardi orang yang cukup egois jika menyangkut dirinya sedang Jaya ingin selalu di akui oleh Ratna. Jika di teruskan sudah bisa di pastikan perdebatan itu akan berlanjut adu jotos.
__ADS_1
"Aku tidak mendukung siapa pun, baik tim teman ku atau tim pacarku siapa pun yang menang aku tidak perduli. Aku datang kemari hanya karena di janjikan akan di belikan kentang goreng" ujarnya.
"Baiklah, tapi kau duduk di tempatku kan?" tanya Jaya.
"Sudah ku bilang dia akan di sini" balas Ardi.
"Aku tidak akan duduk dimana pun, aku menonton dari sana" tunjuk Ratna ke arah pintu masuk.
"Sebaiknya kalian cepat bersiap dan mainlah dengan sportif" lanjutnya sebelum pergi.
"Bisakah kau menemani Ratna di sana?" bisik Jimy kepada Yuni.
"Aku mengerti" ujar Yuni segera menyusul.
Jaya sempat melirik tajam kepada Ardi sebelum ia pergi ke timnya, tentu Ardi pun membalas tatapan itu tanpa rasa takut.
Sedang Ratna menonton dengan tak nyaman pertandingan di mulai dengan memanggil kedua kapten, setelah kesepakatan diambil si kulit bundar pun mulai di mainkan diantara kaki-kaki yang kokoh.
Di menit awal Amus sang bintang timnya menguasai permainan bahkan mampu mencetak gol yang membuat raut wajah Jaya cemberut.
"Sepertinya kau sangat dekat dengan Ardi" ujar Yuni yang tidak tertarik sama sekali pada permainan bola itu.
Ratna kehilangan senyum saat mendengar ucapan itu, jelas ada rasa tidak suka dari raut wajah Yuni yang Ratna tebak sebagai bentuk kecemburuan.
"Jaya adalah teman mereka di sekolah, dan aku berhubungan dengan Jaya tanpa meminta ijin mereka terlebih dahulu untuk itulah Ardi tidak suka padanya" jelas Ratna.
"Kenapa Ardi harus tidak suka? kalian kan hanya berteman? lagi pula bukankah itu hakmu untuk berpacaran dengan siapa pun yang kau suka"
"Aku rasa dia lebih dari sekedar khawatir" ujar Yuni yang membuat Ratna bingung.
"Apa maksudmu?"
"Entahlah, aku hanya merasa kau lebih dari sekedar teman di matanya"
"Jangan konyol, dia hanya menganggapku sebagai adik karena itu sikapnya kadang berlebihan"
"Aku harap juga seperti itu" ujar Yuni murung.
Pertandingan masih berjalan, kini skor tiga untuk tim Amus dan dua untuk tim Jaya. Mereka masih punya waktu beberapa menit sebelum pertandingan berakhir, tentu kesempatan ini akan digunakan sebaik mungkin oleh Jaya untuk mencetak gol.
Ia begitu melindungi bola itu sekuat tenaga, tak membiarkan siapa pun merenggut nya darinya hingga tiba waktu dimana ia menendang dan.
Aaarrrhhh
Priiiitttt......
Tendangannya meleset sesaat sebelum peluit tanda pertandingan terakhir berbunyi, tubuhnya yang bersimbah keringat terduduk lesu dan kecewa pada dirinya sendiri.
Di lain pihak tim Amus bersorak atas kemenangan yang mereka raih, senyum dan tawa menghiasi wajah Ardi yang puas akan kinerjanya saat itu.
__ADS_1
"Pertandingan sudah berakhir, ayo pergi!" ajak Yuni menghampiri pacarnya.
Namun Ratna tetap terdiam, tatapannya tertuju pada Jaya yang masih duduk dengan lemah. Kecemburuan Yuni terhadapnya membuatnya berfikir bahwa kedatangannya ke tempat itu adalah sebuah masalah.
Ia merasa tak enak pada Yuni yang tidak mengenalnya dengan baik, ia juga menjadi tak enak hati pada Jaya sebab sebagai pacar Ratna lebih condong kepada teman-temannya.
Untuk itulah ia memutuskan akan mengambil sikap agar tak ada hati yang tersakiti.
"Itukah wajah kekalahan mu?" tanya Ratna.
Perlahan Jaya mengangkat wajahnya dan menatap Ratna yang tengah tersenyum padanya.
"Aku tidak menyangka kau begitu lemah, dalam pertandingan kekalahan itu wajar jadi kau tidak perlu bersedih seperti itu" ujarnya lagi.
Perlahan Jaya bangkit dan berdiri tepat di hadapan Ratna, kini bibirnya dapat tersenyum meski hanya tipis.
"Ah.. keringatmu banyak sekali" ucap Ratna sambil me-lap leher Jaya yang basah.
Perhatian itu membuat Jaya tersenyum semakin lebar, tatapannya penuh rasa senang melihat Ratna. Sedang di lain tempat sepasang mata melihat mereka dengan tatapan sedih.
"Ah kenapa aku harus melihat pemandangan seperti ini?" gumam Jimy.
"Makanya carilah pacar, agar ada yang me-lap keringatmu juga" ujar Ardi yang tengah menikmati perlakuan yang sama dari Yuni.
"Sini biar aku saja yang me-lap keringatmu" tawar Amus.
"Sialan! kau hanya membuatku jijik" jawab Jimy menghindar.
"Teman-teman" panggil Ratna menghampiri.
"Maaf, aku tidak bisa ikut kalian jadi lain kali saja kalian mentraktir ku"
"Memang kau mau kemana?" tanya Jimy.
"Aku mau pulang"
"Kenapa kau mau pulang?" tanya pula Amus.
"Memangnya kenapa? aku tidak boleh pulang?" balas Ratna.
"Hei Dollar aku hanya bertanya, tidak seperti biasanya kau melewatkan makanan"
"Aku akan mengantarnya pulang!" ujar Jaya yang baru datang setelah mengambil tasnya.
"Oh begitu, aku mengerti! kalau begitu pastikan dia pulang dengan selamat" ujar Ardi.
"Kau tenang saja" balas Jaya.
"Baiklah kami pulang duluan, sampai jumpa!" ujar Ratna melambaikan tangan.
__ADS_1
Mereka membalas lambaian itu kecuali satu orang, tatapannya masih penuh kesedihan melihat kepergian Ratna bersama pria lain.