Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 15 Anak pungut


__ADS_3

"Pagi semuanya.... " sapa seorang guru sambil berjalan ke mejanya.


"Pagi Pak... " jawab anak-anak itu serentak.


"Hari ini kita adakan ujian, kumpulkan buku catatan kalian di meja Bapak"


Ha.....


Erangan pagi itu terdengar nyaring di seluruh kelas, semua murid nampak berwajah kusut bahkan ada yang memasang tampang marah pula.


"Mita tolong bagikan lembar jawaban dan soalnya" ucap guru itu sambil menyerahkan tumpukan kertas.


"Baik!" jawab Mita segera memberikan satu murid satu lembar.


"Dengar anak-anak! di ujian nasional nanti kalian akan mendapatkan lembar jawaban seperti yang kalian pegang, dan yang mengecek lembar jawabannya adalah komputer. Jika jawaban kalian benar tapi cara pengisian kalian salah maka di anggap salah, untuk itu kalian harus melakukannya dengan benar"


"Tapi gimana cara ngisinya pak?" tanya seorang murid yang kebingungan sambil menatap lembar jawaban.


"Akan bapa ajarkan, pertama isi dulu nama kalian di kotak nama lalu hitamkan huruf sesuai yang tertera di kotak. Untuk jawabannya sendiri pilih antara a, b, c, d atau e lalu hitamkan, ingat! jangan sampai melewati batas saat menghitamkan atau kurang"


"Baik.. " jawab lagi anak-anak itu berbarengan.


Meski soal yang mereka dapat masih tergolong mudah sebab guru mereka sendiri yang membuatnya tetap saja menguras otak mereka, tak ayal bahkan beberapa siswa nampak mengerutkan dahi karena berpikir keras.


Bagi Ratna sendiri soal itu masuk dalam kategori standar, yang cukup menyulitkan baginya adalah menghitamkan lingkaran dengan benar. Terdidik sebagai anak yang harus patuh dan tidak boleh melakukan kesalahan membuatnya selalu mengerjakan apa pun dengan penuh keseriusan, lebih parahnya ia terkadang menyita waktu hanya untuk mengecek apakah pekerjaannya benar atau tidak.


Tuk


"Jangan melamun saat berjalan" ujar Ardi yang memukul dari belakang.


"Ah... aku tidak melamun!" erang Ratna sambil mengusap kepalanya.


"Tumben kau sendiri, biasanya pulang bareng master dan Amus"


"Master ada urusan dulu, Amus tidak tahu pergi kemana" jawab Ardi sambil berjalan di samping Ratna.


"Eh ada tukang eskrim, kau mau?" tawar Ardi yang melihat dari kejauhan.


Ratna mengangguk dengan cepat sebagai jawaban.

__ADS_1


"Bang tunggu!" teriak Ardi sambil berlari menghampiri si penjual.


Rasanya seperti nostalgia, saat kecil sepulang sekolah terkadang Ardi berjalan bersamanya sambil mengantarnya pulang. Jika hanya berdua dia juga akan membelikan makanan atau pun minuman yang harus segera habis sebelum sampai ke rumah, jika di bandingkan yang lain perlakuan Ardi kepadanya lebih seperti kakak yang melindungi adiknya.


"Habiskan eskrim mu sekarang, aku pulang duluan ya" ujar Ardi saat mereka sampai di gang.


"Aku tahu" jawab Ratna menatap kepergian Ardi.


Butuh beberapa saat sampai akhirnya ia ******* habis eskrim di tangannya, setelah membuang bungkusnya ke tong sampah ia pun berjalan kembali.


Dari kejauhan nampak ia melihat seorang wanita yang tak asing sedang menyapu jalan di depan rumah Amus, perlahan ia berjalan mendekat sampai wanita itu menatap kepadanya.


"Oh, Apa kau Ratna?" tanya wanita itu dengan wajah berseri.


"Bibi.... sudah lama tidak bertemu, apa kabar?" panggil Ratna sambil menghampiri.


"Astaga... kau sudah besar dan cantik! rasanya baru kemarin kau berada dalam pelukanku."


Ratna tersenyum mengingat masa kecilnya yang selalu di manjakan oleh ibu Amus.


"Kapan bibi pulang? apa paman juga ada?"


"Paman! apa kabar?" sapa Ratna ketika masuk ke dalam rumah dan segera bertemu ayah Amus.


"Oh, kau kah Ratna? astaga...sudah lama sekali kita tidak bertemu. Masuklah nak" jawabnya riang.


"Baik paman."


Ibu Amus banyak bertanya tentang bagaimana kehidupan Ratna selama ini, ia hanya menjawab seperti biasa tanpa mengumbar keburukan Sari atau pun ayah tirinya sebab semua itu sudah menjadi masa lalu yang ingin dia lupakan.


Obrolan berlanjut pada nostalgia dimana mereka begitu dekat hampir seperti ibu dan anak sungguhan, ibu Amus juga mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Ibu Ratna yang belum lama ini.


"Jika kau butuh sesuatu jangan ragu untuk meminta, aku sudah menganggap mu sebagai putri ku sendiri" ujar ibu Amus.


"Bibi tidak perlu mengkhawatirkan aku sekarang, aku sudah besar"


"Tetap saja kau ini seorang gadis, melihatmu tumbuh dengan cantik justru semakin membuatku khawatir"


"Aku tidak secantik itu, kalau begitu aku permisi dulu terimakasih untuk oleh-olehnya"

__ADS_1


"Ya sama-sama, nanti mainlah lagi kemari" ujar ibu Amus sambil menatap kepergian Ratna yang pulang ke rumahnya.


Bertemu sekali saja tidaklah cukup bagi ibu Amus untuk melepas kerinduannya kepada Ratna, untuk beberapa hari ia terus mengajak Ratna ke rumahnya meski hanya untuk sekedar menonton televisi bersama. Anehnya sesering apa pun Ratna ke rumahnya ia tak menemukan Amus di mana pun kecuali di sekolah, tentu hal ini membuat Ratna cukup bingung sebab jarak antara rumahnya dan Amus yang dekat memungkinkan Ratna untuk mengetahui kapan Amus masuk atau keluar rumah.


Hari itu di sekolah Amus pun tiba-tiba menghilang padahal jelas tadi pagi Ratna melihat ia sudah berada di sekolah.


"Apa Amus membolos lagi hanya untuk main bola?" tanya Ratna kepada Ardi.


"Entahlah, aku rasa tidak!"


"Lalu dia pergi kemana?"


"Dia bisa dimana saja, dengan keberadaan ibunya di rumah maka ia akan mencari rumah lain yang tak ada ibunya"


"Kau ini bicara apa? aku sama sekali tidak mengerti" ujar Ratna.


"Apa kau ingat gosip yang beredar saat kita kecil? gosip tentang anak pungut" tanya Ardi mengingatkan.


"Ha... maksudmu gosip tentang Amus?" tanya Ratna yang teringat kembali.


"Gosip itu benar adanya, suatu malam ibu Amus pernah memarahinya habis-habisan dan dalam teriakannya ia menyebut Amus hanya anak pungut. Dia membeberkan semua rahasia keluarganya sendiri, sejak saat itu Amus tidak pernah pulang ke rumah jika ibunya pulang"


"Astaga..... " gumam Ratna tak percaya.


Sebagai orang yang pernah merasakan tinggal dengan saudara diri tentu Ratna paham betul perasaan Amus, apalagi di marahi oleh orang yang ternyata bukan keluarga sendiri.


Perasaan itulah yang membuat Ratna bersimpati, sepanjang jalan ia memikirkan kemana Amus pergi dan apa yang dia lakukan sampai tanpa sengaja ia melihat Amus tiduran di atas kursi taman.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Ratna yang bergegas menghampiri.


"Kau... kau sendiri apa yang kau lakukan?" balas Amus sambil bangkit.


"Aku mau pulang tanpa sengaja melihatmu di sini, kenapa kau bolos lagi?"


"Bukan urusan mu anak kecil!"


"Dasar Amus bodoh! jangan mentang-mentang sekarang kau lebih tinggi dariku jadi kau bisa seenaknya padaku" balas Ratna berteriak.


Amus tak menjawab, untuk beberapa saat mereka saling terdiam sampai akhirnya Ratna berkata sebelum pergi.

__ADS_1


"Pulanglah! aku tidak bisa masuk dan main di kamarmu jika kau tidak ada di sana."


__ADS_2