Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 61 Mak Comblang


__ADS_3

Desir angin menandai pagi yang cerah, burung berkicau seakan hari itu akan berjalan dengan penuh kebahagiaan. Masih pukul tujuh tapi sinar mentari cukup tajam menyinari permukaan bumi, membuat mata Ratna menyipit karenanya.


"Kau mau berangkat?" tanya Amus yang baru menghidupkan mesin motornya.


"Kau baru mau berangkat?" ujar Ratna balik bertanya.


"Mau ku antar?" tawar Amus.


Tentu dengan senang hati Ratna menganggukkan kepala, ia segera naik ke atas motor Amus dan mereka pun pergi bersama. Tanpa mereka sadari Ardi yang baru keluar rumah melihat kebersamaan mereka, membuat isi hatinya kembali menghitam padahal awalnya ia baik-baik saja.


Sampai di sekolah Ratna tak di sangka Rere juga baru tiba dan sempat melihat Amus.


"Lagi-lagi anak itu, kau membuat ku ragu kalau kalian hanya berteman" ujarnya.


"Rere! sejak kapan kau di sini?" tanya Ratna yang tak menyadari keberadaan Rere.


"Tidak lama, hanya sampai kau memperhatikannya pergi"


"Kau ini bicara apa?" tanya Ratna.


Bersama, mereka berjalan melewati gerbang dan masuk ke dalam kelas. Saling bertegur sapa dengan yang lain dan mengobrol tentang liburan yang terasa singkat.


Di awal masuk sekolah bahasa Indonesia menjadi pelajaran pertama yang menyapa mereka, meski sudah SMA tapi guru tetap menanyakan kegiatan apa saja yang mereka lakukan selama liburan.


Kebanyakan murid menghabiskan waktu dengan bersantai atau sekedar mengunjungi kerabat jauh, hanya Ratna satu-satunya murid di kelas itu yang memanfaatkan waktu liburan dengan bekerja.


"Tugas kali kalian harus membuat cerpen, terserah pada kalian akan mengambil tema apa atau latar yang seperti apa. Sebagai bantuan ibu akan memberikan satu paragraf sebagai awal cerita dan lanjutkan sesuai tema masing-masing" ujar sang guru.


"Ahhh... baru masuk sekolah sudah di beri tugas" erang Ratna.


"Hehe, sepertinya angin liburan masih melekat di tubuhmu" ujar Rere menatap wajah kusut Ratna.


Selama mereka mengerjakan tugas sang guru keluar agar muridnya bisa lebih berpikir kreatif tanpa tekanan, namun yang terjadi malah kegaduhan tak berarti.


"Ada apa? kau kelihatan lesu" ujar Rere.


Ratna hanya menggelengkan kepala tanpa bersuara, sebenarnya ia memikirkan permintaan Jimy. Hari itu Jimy memohon agar ia mau mengenalkan teman perempuannya kepada Jimy, mungkin saja salah satu diantara mereka ada yang cocok dan bisa menjadi pacarnya.


Intinya Jimy ingin dirinya menjadi mak comblang, tapi masalahnya Ratna tidak tahu siapa yang cocok dengan Jimy. Ia melihat sekeliling, menatap satu persatu teman perempuan di kelasnya.


Hhhhhhh


Dengan malas ia menghela nafas sebab menurutnya tak ada satu pun yang cocok, dan lagi Jimy tidak terlalu tampan apalagi populer. Ia ragu akan ada temannya yang mau.


"Baik anak-anak pelajaran telah usai, yang sudah selesai mengerjakan bisa di kumpulkan sekarang dan yang belum kumpulkan minggu depan" ujar guru bahasa Indonesia yang tiba-tiba masuk ke dalam kelas.


"Kau sudah selesai?" tanya Rere.


"Aku bahkan belum menulis apa pun" jawab Ratna sambil memperlihatkan kertasnya.


"Ah kau ini... " ucap Rere sambil menggelengkan kepala.


Tiba di jam istirahat Ratna masih tak berhenti memperhatikan setiap murid perempuan, masih mencari tipe gadis yang kemungkinan akan di sukai Jimy. Tapi rupanya hal itu lebih sulit daripada mengerjakan tugas matematika, ia bahkan mendadak pusing karenanya.


"Na, kita pulang bareng ya?" ujar Rere saat pelajaran hari itu telah usai.


"Kau mau kemana?"


"Aku mau membeli buah di toko samping kedai mu"


"Oh, baiklah ayo pergi bersamaku" ajak Ratna.


Mereka tak berhenti mengobrol di sepanjang jalan, Rere adalah tipe orang yang pendiam tapi jika sudah akrab ia sangat cerewet dan penuh dengan rasa penasaran.


Tanpa terasa mereka sudah tiba di kedai, Ratna segera masuk ke kedai sedang Rere ke toko buah-buahan milik Hamdani.


"Kau baru sampai?" tanya Jimy tiba-tiba.


"Kau... sedang apa di sini?" tanya Ratna cukup kaget.


"Aku di suruh beli nanas oleh ibuku, karena ingat kau bekerja di dekat toko buah-buahan jadi sekalian saja aku mampir ke sini"


"Oh... kau bisa pergi ke sebelah kalau begitu"


"Lalu... bagaimana?" tanya Jimy antusias.


"Bagaimana apanya?" tanya Ratna kurang mengerti.


"Kau pura-pura tidak mengerti, masalah yang itu" jawab Jimy dengan isyarat mata.


Sejenak Ratna masih terpaku, belum mengerti apa maksud Jimy tapi beberapa menit kemudian barulah ia paham.


"Oh, aku kan sudah bilang akan ku usahakan bukan berarti aku berjanji" ujarnya.


Jimy tertunduk lesu mendengar ucapan itu, membuat Ratna merasa bersalah tapi ia juga tak bisa berbuat banyak.

__ADS_1


"Baiklah... " ucap Jimy pelan.


Ia berjalan meninggalkan Ratna dan berpaling ke toko sebelah, masih dengan lemas di lihatnya beberapa buah yang nampak segar namun tak menggugah seleranya. Jimy mengangkat tangan dan hendak mengambil nanas terdekat, tapi seorang gadis secara bersamaan mengambil nanas yang sama sehingga tangan mereka bersentuhan.


Hal itu cukup membuatnya terkejut, mereka saling bertatapan dan saat itulah ada sebuah getaran dalam hati Jimy yang membuatnya tak bisa memalingkan wajah.


Gadis itu memiliki mata yang indah, dengan wajah yang cantik. Semakin lama jantungnya semakin berdetak kencang, sampai tiba-tiba gadis itu menarik tangannya.


"Kau bisa mengambilnya" ujarnya sambil hendak pergi.


"Tidak! hari ini adalah hari keberuntungan mu, kau bisa ambil buah yang kau suka" jawab Jimy menghentikannya.


Sejenak gadis itu menatapnya, baru kemudian di ambilnya nanas itu seraya berkata.


"Termakasih."


Gadis itu pergi ke Hamdani dan membayar buah yang ia beli, Jimy tetap memperhatikan dan sempat saling melempar senyum saat gadis itu berjalan melewatinya.


Jimy mengikuti gadis itu yang pergi ke kedai dan terlihat bicara dengan Ratna, mereka saling tertawa sebelum akhirnya ia melambaikan tangan dan pergi.


"Ratna!" panggil Jimy setelah gadis itu pergi.


"Ada apa?"


"Kau mengenal gadis itu?"


"Tentu saja, dia teman sebangku ku"


"Siapa namanya?"


"Rere, kenapa?" tanya Ratna penasaran.


"Sungguh gadis yang sangat cantik" gumam Jimy menatap jalan meski Rere telah pergi dari sana.


"Kau... jangan-jangan kau.... " ucap Ratna menebak.


Hanya dengan sebuah senyuman Ratna sudah mengerti bahwa apa yang ia pikirkan adalah benar, itu cukup membuatnya kaget karena Rere bukanlah tipe gadis yang Jimy sukai. Memang benar Rere cantik, tapi tubuh Rere yang mungil sangat bertolak belakang dengan keinginan Jimy yang lebih suka badan montok nan ****.


Namun itulah cinta, hanya dengan sekali pandang Jimy sudah menyukai dan berharap Ratna dapat menyatukan mereka. Sebuah PR besar baginya karena tentu tidak mudah menyatukan dua kepribadian yang bertolak belakangan.


Setelah pulang bekerja Ratna menyempatkan diri berkunjung ke rumah Jimy hanya untuk membicarakan hal-hal mengenai Rere.


"Dia adalah diriku versi dulu, hanya saja dengan wajah yang lebih cantik dan sifat yang lebih pemalu. Dia pintar dan sangat lembut, dia juga suka membaca buku-buku romantis" ujar Ratna memberitahu.


"Mana aku tahu, kenapa kau tidak tanyakan kepada Ardi? dia pasti bisa memberitahu mu masalah seperti itu"


"Tidak bisa, berjanjilah padaku kau akan merahasiakan hal ini dari Ardi dan Amus" perintah Jimy.


"Kenapa?"


"Pokoknya tidak boleh!" jawab Jimy bersikukuh.


"Ah... baiklah" kata Ratna yang tak mau memperpanjang masalah.


Pada akhirnya mereka sepakat akan mencari tahu dulu bagaimana kriteria pria yang Rere sukai, setiap hati Ratna akan mengajukan pertanyaan dan melaporkannya kepada Jimy.


Tentu hal itu membuat Rere curiga, ia tahu Ratna tidak terlalu suka hal-hal yang romantis tapi tiba-tiba ia mengatakan sedang tertarik pada hal semacam itu.


"Pulang sekolah nanti kau mau kan mampir ke kedai ku? ada resep baru, aku ingin kau mencobanya" ujar Ratna.


"Baiklah, aku akan mampir"


"Benarkah? terimakasih... " ujar Ratna senang sebab ia takut Rere akan menolaknya.


Sepulang sekolah mereka pergi bersama, sampai di kedai Rere pun duduk di tempat yang telah ia sediakan sedang Ratna pergi masuk ke dalam. Saat itulah Jimy datang dan menghampirinya.


"Boleh aku duduk di sini?" tanya Jimy.


"Tentu" jawab Rere.


Dengan senang hati Jimy pun duduk, hatinya mulai berdegup kencang saat mata mereka beradu pandang. Tak ada yang bicara sampai Ratna datang membawakan minuman.


"Hai master! kau mau sesuatu?" tanya Ratna seolah-olah hal itu merupakan kebetulan, padahal mereka telah merencanakannya sejak awal.


"Aku ingin jus jambu"


"Baiklah, akan ku bawakan" ujar Ratna yang kembali ke belakang.


"Kau teman Ratna?" tanya Rere melihat keakraban mereka.


"Oh ya, rumah kami cukup berdekatan"


"Begitu ya"


"Kau satu kelas dengannya?" tanya Jimy basa basi.

__ADS_1


Rere mengangguk sebagai jawaban, mereka pun terdiam sampai Jimy tanpa sengaja melihat buku romansa yang terselip di tumpukan buku milik Rere.


"Karya Buya Hamka" ujar Jimy.


"Maaf?" tanya Rere.


"Itu novel karya Hamka, judulnya tenggelamnya kapal van der wijck"


"Kau tahu cerita ini?"


"Ya, itu kisah yang menarik. Perbedaan adat, suku dan budaya yang memisahkan dua hati. Aku agak kecewa saat hayati lebih memilih pria yang lebih kaya, tapi melihat perjuangan zainuddin dalam merubah nasibnya membuatku sadar memang cinta kadang butuh pengorbanan juga"


"Sepertinya kau sangat paham isi ceritanya"


"Aku sudah pernah membacanya, aku juga tertarik pada cerita-cerita cinta"


"Benarkah? kebetulan sekali aku juga suka" ujar Rere.


"Sejauh ini buku apa yang paling kau sukai?" lanjut Rere bertanya.


"Novel itu, kisah cinta Zainuddin dan Hayati. Bagaimana dengan mu?"


"Aku membencinya!" ujar Rere yang membuat Jimy kehilangan senyum.


"Apa?" tanya Jimy pelan.


"Aku benci pria yang suka berbohong seperti Zainuddin, kenapa harus pura-pura cuek padahal hatinya masih cinta. Pada akhirnya dia kehilangan Hayati saat ia telah mengakui perasaannya, aku pun membencinya pria yang berbohong demi mendapatkan hati seorang gadis" jawab Rere dengan serius.


"Kau tidak suka cerita romansa, aku bisa dengan mudah menyadari bahwa kau telah menghafal teks yang sudah di persiapkan. Aku tidak suka pria yang seperti itu, maaf... aku permisi."


Rere pergi begitu saja, meninggalkan Jimy yang hanya bisa termenung menyalahkan kebodohannya. Selama dua hari lamanya Jimy kehilangan semangat yang membuat semua temannya heran, Ratna yang mengetahui alasan di balik murungnya Jimy hanya bisa mengasihani.


"Dia pintar membaca situasi, wajar jika kau ketahuan dan di tolak. Tapi bukan berarti dunia telah berakhir kan? aku akan mencoba bicara dengan Rere agar ia mau membuka hatinya untukmu" ujar Ratna saat mereka hanya berdua.


"Tidak perlu, itu hanya akan membuat ku lebih di pandang rendah lagi" jawab Jimy.


"Ah.... tapi melihat ku putus asa begini aku malah jadi khawatir"


"Aku baik-baik saja" ujar Jimy jelas bertolak belakangan dengan apa yang terjadi.


Patah hati yang dirasakan Jimy berimbas juga pada diri Ratna, seketika ia kehilangan gairah sebab tak ada lagi teman yang selau ceria. Biasanya mereka akan berebut makanan, berkelahi hanya karena satu masalah kecil tapi kemudian Jimy akan memanjakannya kembali.


"Apa kau sakit?" tanya Rere melihat Ratna yang lemas.


"Tidak, aku hanya kehilangan pelangi"


"Kau ini bicara apa?" tanya Rere tak mengerti.


"Aku ingin mengalahkan mu tapi tidak bisa, aku mengerti perasaan kalian berdua dan hal itu yang paling menyiksaku" jawab Ratna.


Rere terdiam, ia paham apa yang di maksud Ratna.


"Kau sangat dekat dengan pria itu rupanya"


"Namanya Jimy, tapi kami memanggilnya master" ujar Ratna memberitahu karena memang mereka belum berkenalan.


"Begitu, Jimy.... "


"Aku tidak punya saudara, tapi aku punya tiga kakak angkat yang baik. Salah satunya adalah master, dia sangat baik dan selalu memberiku nasehat layaknya seorang abang. Dia juga terkadang suka mengatur, kami sering berebut makanan tapi justru hak itu yang paling kami suka" ujar Ratna bercerita.


"Dia memang terkadang agak konyol, dia juga bodoh seperti ku. Tapi dia yang paling dewasa dan bisa diandalkan, dia pintar memasak juga royal"


"Kau sangat tahu tentang dirinya" ujar Rere.


"Sejak kecil dia sudah terbiasa di tinggal bekerja oleh kedua orangtuanya, karena kesepian dia akan mengajak ku bermain di rumahnya. Tentu aku sangat mengenalnya" jawab Ratna.


Rere tak bertanya lagi, ia sudah cukup tahu bagaimana Jimy hanya dengan cerita itu. Sepanjang jalan setelah pulang sekolah diam-diam ia terpikir juga tentang Jimy, ia yakin Jimy orang yang baik tapi kesan pertama mereka cukup buruk sehingga Rere kurang menyukainya.


Ia pulang sekolah dengan perasaan campur aduk, sepanjang jalan Jimy terus menjadi orang yang ia pikirkan. Sampai tiba-tiba segerombolan pemuda menghadangnya.


"Mau kemana gadis manis? ko sendirian? abang temenin yah... " ujar salah satu dari mereka.


Takut bercampur kaget membuat Rere hanya bisa berjalan mundur secara perlahan, namun.


Bruk


"Hei... mau kemana?" ujar seorang pria tepat di belakangnya.


"Aku mau pulang, tolong biarkan aku pergi" jawab Rere pelan.


"Abang antar ya... " goda para pria itu.


Mereka mulai mendekat bahkan menyentuh rambutnya, hal itu membuat Rere semakin takut dan tak kuasa menahan air mata.


"Hei! jangan dekati gadis itu!" teriak seseorang yang tak sengaja melihat.

__ADS_1


__ADS_2