Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 33 Anting-anting


__ADS_3

Amus pikir ia tak akan bisa tidur, namun saat ia memejamkan mata dengan sendirinya ia tertidur. Saat bangun hari sudah malam dan sesuai perintah Yati ia kembali ke rumah sakit membawa pakaian ganti untuk nenek, saat ia sampai rupanya sudah ada Jimy dan Ardi yang sedang menengok.


"Kau sudah datang" sapa Yati.


"Mm, ini pakaian ganti untuk nenek" jawabnya sambil menyerahkan tas berisi pakaian.


"Maaf kami baru bisa menjenguk sekarang" ujar Ardi.


"Tidak apa-apa, kalian sedang sibuk kerja. Lagi pula nenek hanya terjatuh, tidak ada yang perlu dirisaukan"


"Ya, tadi kami juga dengar dari dokter nenek sudah bisa pulang besok" ujar Jimy.


"Bu, pulanglah dan istirahat di rumah. Biar malam ini aku yang berjaga menemani nenek" ucap Amus.


"Tapi.... "


"Pulanglah Yati, jangan sampai kau ikutan sakit" ujar nenek setuju.


"Bagaimana kalau nanti malam ibu ingin ke toilet? siapa yang bisa membantu ibu?"


"Biar aku saja bibi!" ujar Ratna yang tiba-tiba muncul.


"Ratna... kau mau ijin lagi besok?" tanya Ardi.


"Tidak, nenek kan pulang besok pagi jadi aku punya waktu untuk tidur dulu sebelum kerja"


"Tidak Na, aku tidak ingin terus merepotkan mu" ujar Yati tak enak hati.


"Bibi... selama ini bibi sudah sangat baik kepadaku, kali ini ijinkan aku membalas budi" pinta Ratna.


Yati nampak bimbang namun dengan bujukan nenek akhirnya dia pun mau pulang juga bersama Ardi dan Jimy, tinggallah Amus dan Ratna untuk menemani nenek.


"Nenek sudah makan?" tanya Amus.


"Sudah... kau tidak perlu mengkhawatirkan nenek terus" jawab Nenek.


"Maafkan Amus ne, Amus tidak becus menjaga nenek" ujarnya menyesal.


"Siapa bilang? nenek sudah dengar kisah kepahlawanan mu dari dokter, katanya kau menggendong nenek dari rumah sampai rumah sakit sebab jalanan macet"


"Hanya itu yang bisa aku lakukan"


"Kau sudah berbuat banyak cucuku" ujar nenek sambil mengusap rambut Amus.


"Di balik sebuah musibah terkadang ada hikmah yang bisa kita petik, salah satunya mungkin tentang ibumu. Aku yakin kau pun sadar perlakuan bibi kepadamu berubah, dia jadi lebih baik dan perhatian bahkan mau bicara dengan mu" ujar Ratna.


Amus terdiam memikirkan ucapan Ratna dan mengakui hal itu benar adanya, diam-diam ia tersenyum senang tapi kemudian dengan wajah dingin ia berkata.


"Sejak kapan kau menjadi bijak? bukankah di otak mu hanya ada uang?"


"Hei...aku juga manusia biasa, aku punya hati dan punya perasaan" jawab Ratna jengkel.


"Sudahlah....kenapa kalian selalu bertengkar?" tanya Nenek.


"Dia yang duluan!" tuduh Ratna.


"Eh, Ratna... kau tidak memakai anting-anting?" tanya nenek yang tanpa sengaja menatap telinga Ratna.


"Oh.. tidak, aku tidak punya uang untuk membelinya" jawab Ratna sambil mengelus kupingnya.


Mendengar hal itu nenek melepaskan anting-anting yang ia pakai sambil berkata.


"Seorang wanita harus memakai anting-anting, itulah yang membedakan pria dan wanita. Selain itu anting-anting akan membuat mu nampak lebih cantik, pakailah anting-anting ini"


"Tidak! aku tidak bisa menerimanya begitu saja" jawab Ratna menolak.

__ADS_1


"Kenapa? apa kau tidak suka modelnya?"


"Bukan begitu, nenek sekeluarga sudah banyak membantu ku jika begini terus kapan aku bisa membalas budi?"


"Jangan pikirkan hal itu, anggap ini hadiah"


"Tapi jika memberikan hadiah harus ada alasannya, ini bukan hari ulangtahun ku jadi kenapa nenek harus memberi ku hadiah?"


"Karena hari ini doa ku selama empat belas tahun sudah terkabul, hari ini aku melihat ibu dan anak saling bicara dengan akur dan di hari yang istimewa ini ambilah hadiah ini sebagai bentuk syukur ku" ujar nenek senang.


Ratna tak bisa menolak lagi jika itu adalah alasan nenek, sebab ia pun tahu bagaimana kisah keluarga Amus yang sebenarnya.


"Baiklah" jawab Ratna mengambil anting-anting itu.


"Pakailah sekarang" ujar nenek.


Ratna segera mencobanya sebab nenek yang meminta namun.


Aw...


Bukannya terpasang tapi tangannya malah tertusuk oleh ujung anting-anting.


"Aish... kenapa kau selalu teledor? berikan! biar aku yang pakainkan" hardik Amus.


Dengan wajah cemberut Ratna memberikan anting-anting itu, sambil mendekatkan diri tangan Amus mulai memasangkannya di telinga Ratna.


Telinga Ratna cukup lembut saat ia sentuh, bahkan dari jarak sedekat itu ia bisa mencium wangi tubuh Ratna. Perlahan matanya mulai beranjak menatap wajah manis Ratna hingga tanpa sengaja mereka beradu pandang, ketidak sengajaan yang membuat jantung mereka berdegup kencang.


Untuk beberapa detik mereka tetap saling menatap hingga Ratna bisa merasakan nafas Amus di lehernya, namun Amus cepat memalingkan wajah dan menatap lagi pada anting-anting yang sedang ia pasang. Pada telinga yang satunya lagi Amus memasang anting-anting itu dengan cepat, sebab ia tak sanggup dekat dengan Ratna dalam waktu yang lama, ia terlalu takut untuk melakukan hal bodoh yang bisa membuatnya kehilangan muka.


"Coba nenek lihat!" pinta nenek.


Dengan malu Ratna memperlihatkan anting-anting yang sudah di pasang di telinganya.


"Nenek bercanda, dia malah membuat anting-anting itu nampak buruk" ejek Amus yang membuat senyum Ratna menghilang.


* * *


Pagi sekali Wijaya sudah berangkat untuk menjemput ke rumah sakit, begitu ia pulang membawa nenek dengan Amus ia cukup di kejutkan dengan sambutan yang Yati berikan, rupanya Yati sudah memasak banyak makanan untuk mereka.


"Ibu mari kita makan dulu setelah itu kalian beristirahat lah di kamar" ujar Yati yang di tujukan kepada Amus juga.


"Baiklah, sudah lama kita tidak makan bersama" jawab nenek setuju.


"Eh Amus! tolong berikan makanan ini untuk Ratna, nanti siang dia berangkat kerja pasti tidak ada waktu untuk memasak"


"Oh baiklah" jawab Amus mengambil kotak makanan.


Amus segera pergi ke rumah Ratna dan mengetuk pintu, tepat sekali Ratna yang membukakan pintu.


"Ada apa?" tanya Ratna dengan mata mengantuk.


"Kau baru mau tidur?" tanya Amus.


Ratna mengangguk sebagai jawaban.


"Ibu menyuruh ku memberikan ini untukmu, katanya kau harus memakannya sebelum berangkat kerja"


"Oh terimakasih" ucap Ratna menerima kotak makanan itu.


Amus memperhatikan wajah ngantuk Ratna dan saat ia menguap, nampak lebih cantik dari biasanya. Mungkin ucapan nenek benar, anting-anting itu membuatnya lebih cantik.


"Kau cocok memakainya" gumam Amus.


"Apa?" tanya Ratna yang tak jelas mendengar.

__ADS_1


"Kau keliatan sangat kacau!" ujar Amus dengan suara yang lebih tinggi.


"Sudahlah tidur sana, aku pulang dulu" ucapnya sambil pergi, takut Ratna menyadari gumamannya.


"Sudah kau berikan?" tanya Yati begitu Amus kembali.


"Sudah"


"Bagus, duduklah... cepat makan sebelum lauknya dingin. Kau begitu kurus harus banyak makan jika tidak bagaimana ibu bisa membanggakan mu pada teman-teman ibu" ujar Yati sambil menaruh berbagai jenis lauk di piring Amus.


Untuk pertama kalinya Yati memperlihatkan sikap seorang ibu kepadanya, perhatian dan omelan yang ia inginkan sejak dulu akhirnya ia dapatkan juga. Bahkan Wijaya pun hampir menangis saking bahagianya melihat Yati telah menerima keberadaan Amus.


Amus makan dengan lahap, menikmati masakan Yati untuk pertama kalinya yang di hidangkan untuknya.


"Ibu... kemana anting-anting ibu?" tanya Yati tiba-tiba yang tak sengaja melihat telinga nenek.


"Aku memberikannya kepada Ratna, dia sudah banyak menolong keluarga kita bahkan rela tidak bekerja demi menjagaku. Sudah sepantasnya aku memberikan hadiah untuknya"


"Ibu... apakah ibu sangat menyukai Ratna sampai ibu memberikan anting-anting berharga ibu kepadanya?" tanya Yati penasaran.


"Anting-anting berharga?" ulang Amus penasaran.


"Ya, anting-anting itu adalah hadiah yang di berikan kakek saat kelahiran ibu. Pada saat itu nenek mu berjuang keras demi melahirkan ibu, melihat pengorbanan nenek mu lantas kakek pun memberikan anting-anting itu sebagai hadiah dari uang tabungannya"


"Setelah menikah jangan kan hidup bahagia, kakek mu bertaruh nyawa melawan PKI dan untuk makan pun susah. Demi membahagiakan nenek yang ingin sekali anting-anting ia bekerja apa saja dan uang yang ia dapat segera di tabung dan di belikan anting-anting itu" ujar nenek bercerita.


"Anting-anting itu pasti sangat berharga untuk nenek, kenapa nenek berikan begitu saja pada Ratna?" tanya Amus getir.


"Sudah nenek bilang dia sangat baik terhadap kita, dia pantas mendapatkannya"


"Aku setuju dengan ibu, Ratna adalah anak yang rajin dan pantang menyerah. Di usianya yang masih muda ia harus kehilangan ibunya dan berjuang sendiri menapaki hidup, sejak dulu aku ingin mengangkat Ratna sebagai putriku tapi sayang mendiang ibunya tidak mau menyerahkannya" ucap Yati.


"Tentu saja tidak mau, Ratna adalah anak satu-satunya keluarga Sapardi. Sama halnya dengan kita tidak mungkin menyerahkan Amus apa pun yang terjadi" balas Wijaya.


"Kenapa repot-repot mengadopsi, kau nikahkan saja Amus dengan Ratna maka semuanya beres" tukas nenek yang membuat Amus hampir kena serangan jantung.


"Ibu benar! dengan begitu Ratna akan menjadi putriku" ujar Yati setuju.


"Apa yang kalian bicarakan? kami bahkan belum lulus SMP" bantah Amus tak kuasa menahan malu.


"Kau tidak perlu menikah sekarang, lanjutkan saja hidupmu seperti biasa setelah besar nanti baru kalian menikah" jawab Wijaya.


"Ayah... kenapa mendukung ibu dan nenek? apa yang kalian harapkan dari gadis dolar itu? dia mata duitan dan di otaknya hanya ada makanan, dia tidak pintar di sekolah dan selalu teledor"


"Amus wajar bagi seorang wanita suka uang, setelah menikah wanita di tuntut harus bisa mengatur perekonomian sedang soal makan lebih seperti itu dari pada gadis yang pemilih" jawab Yati.


"Ratna juga pandai memasak, selain itu juga mandiri. Dia pandai merawat nenek apa lagi yang kurang?" tambah nenek.


Amus tak bisa berkata apa pun, dalam hati kecilnya ia sangat senang sebab keluarganya mendukung penuh perasaannya terhadap Ratna. Tapi bagi seorang laki-laki di usia yang masih muda ia cukup malu untuk mengakui hal itu.


"Bahkan nenek sudah menyerahkan anting-anting berharganya, kau hanya tinggal bilang setuju! biar ibu yang melamarnya untukmu" tukas Yati.


"Astaga ibu... ini masih terlalu dini" sergah Amus.


"Amus benar! lagi pula kita tidak tahu perasaan Ratna, belum tentu dia mau. Jangan hanya memikirkan keinginan kita sendiri, jika berjodoh meski setelah besar mereka berpisah pasti akan di satukan kembali oleh Tuhan" ujar Wijaya mengakhiri obrolan itu.


Yati dan nenek menyerah, mengakui keegoisan mereka. Dengan tenang mereka pun melanjutkan makan dengan obrolan yang lebih santai.


Amus masuk ke dalam kamar setelah selesai makan untuk beristirahat, tapi bukannya tidur ia malah mengingat kembali momen saat ia memakaikan anting-anting di telinga Ratna.


Mereka belum pernah sedekat itu dan hal itu membuat Amus tak bisa melupakannya begitu saja, tanpa ada seorang pun yang melihat ia tertawa sendiri bak orang gila.


Pikirannya mulai melanglangbuana berkhayal tentang sesuatu yang biasa di lakukan oleh sepasang kekasih di jarak sedekat itu, andai ia punya sedikit keberanian dan hanya berdua saja mungkin satu kecupan ringan sudah ia lakukan.


Apalagi keluarganya yang mendukung, tapi kembali lagi pada kenyataan. Meski keluarganya mendukung jika ia tak pernah berani menyatakan cinta sampai kapan pun ia tak akan berhasil mendapatkan Ratna, kadang ia selalu mengutuk diri sendiri sebagai pengecut yang egois. Hanya bisa berharap tanpa bertindak.

__ADS_1


__ADS_2