Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 63 Harapan Yang Kembali


__ADS_3

Untuk merayakan keberhasilannya dalam menyatakan cinta Jimy mengajak teman-temannya makan di luar, ia berbaik hati mentraktir semua makanan yang mereka pesan.


"Bolehkah aku minta eskrim juga?" tanya Ratna.


"Tentu saja, hari ini aku berhasil mendapatkan apa yang selama ini aku inginkan dan untuk merayakannya kau boleh memesan apa pun yang kau inginkan" jawab Jimy.


Ratna bersorak kegirangan sedang Ardi dan Amus semakin terpuruk, mereka mengerti maksud dari ucapan Jimy dan tidak bisa berkata untuk itu.


Malam itu selesai makan mereka berpisah di depan rumah masing-masing, tinggallah Ratna dan Amus yang masih berjalan menuju rumah mereka.


"Oh apa yang nenek lakukan di luar? ini kan sudah malam" tanya Ratna.


"Nenek menunggu kalian pulang"


"Kenapa sampai seperti ini? nenek bisa menunggu di dalam rumah kan? jika nenek sakit gara-gara masuk angin nanti ibu pasti marah padaku" tukas Amus.


"Jangan khawatir soal itu, eh Ratna ayah mu baru saja pergi karena ada pekerjaan mendadak untuk itulah nenek menunggu mu pulang. Ayah mu akan pergi kurang lebih selama tiga hari, malam ini kau tidurlah di rumah nenek"


"Oh, baiklah kalau begitu" jawab Ratna senang sebab ia bisa terus berduaan dengan Amus.


Tapi Amus sendiri malah bingung sebab kini Ratna telah menjadi milik orang lain dan dia tidak berhak meski hanya untuk dekat.


"Kalau begitu ayo masuk, di luar cukup dingin" ajak nenek.


Mereka pun segera masuk ke dalam rumah, dengan cepat Amus berpamitan untuk pergi ke kamarnya. Hal itu tentu membuat Ratna kecewa karena ia berharap Amus mau berbincang-bincang sebentar sebelum pergi tidur, mau tak mau Ratna pun masuk ke dalam kamar nenek untuk pergi tidur juga.


Beberapa menit telah berlalu tapi baik mata Amus maupun Ratna masih tak mau terpejam, akhirnya Ratna memutuskan untuk keluar kamar sekedar mengambil air minum.


Tapi saat ia keluar dari kamar secara kebetulan Amus juga keluar dari kamarnya, mereka bertatapan sejenak sampai Amus tiba-tiba berjalan melewatinya untuk pergi ke kamar mandi.


"Ada apa dengannya?" gumam Ratna bingung.


Ia pun berjalan ke dapur, karena malam itu cukup dingin Ratna berniat minum air hangat saja. Tapi saat ia menuang air panas tanpa sengaja tangannya ikut tersiram.


Ah...


"Apa yang kau lakukan?" tanya Amus melihat wajah Ratna yang meringis.


"Tangan ku kena air panas... "


"Aish... kenapa kau selalu saja ceroboh!" hardik Amus dengan cepat menarik tangan Ratna untuk di cuci dengan air keran.


Perlahan rasa perih itu hilang, setelah beberapa menit kemudian Amus pun me-lap tangan Ratna dan memberinya salep.


"Terimakasih" ujar Ratna.


"Memangnya apa yang mau kau lakukan?" tanya Amus dingin.


"Aku mau minum air hangat... " jawab Ratna pelan.


Amus beranjak dan membuatkan air yang diinginkan Ratna, setelah selesai dia memberikannya kepada Ratna lalu kembali ke kamar tanpa sepatah kata pun.


Hal itu cukup membuat Ratna bingung, ia perhatian seperti biasa tapi sifatnya kembali seperti dulu padahal perlahan Amus sudah mulai melembut padanya.


"Apa aku melakukan sesuatu yang salah?" tanyanya pada diri sendiri.


* * *


Selesai bermain futsal Amus dan Ardi memutuskan untuk berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, sekedar melihat-lihat hanya untuk menyegarkan pikiran dari beban cinta yang membuat mereka terpuruk.


Dugh


Argh...


"Kenapa kau berhenti mendadak?" tukas Ardi sambil memegang jidatnya.


"Bukankah itu master?" tanyanya sambil menunjuk.


Mata Ardi menatap mengikuti telunjuk Amus dan dia pun menemukan sosok yang memang ia kenal, tidak salah lagi itu memang Jimy. Ia terlihat memegang bunga di tangan sambil berdiri di pinggir jalan, beberapa kali nampak ia melirik jam di tangan kemudian menatap ke kiri dan kanan seolah sedang menunggu seseorang.


"Dia seperti orang yang sedang menunggu pacar" gumam Ardi.


"Mungkinkah mereka akan berkencan?" tanya Amus.

__ADS_1


Mereka saling menatap satu sama lain dan seolah bisa membaca pikiran masing-masing secara bersamaan mereka berkata.


"Sudah pasti."


Tapi tiba-tiba seorang gadis tidak di kenal mendekati Jimy, yang tidak terduga Jimy menyerahkan bunga itu kepadanya dan dengan bergandengan tangan mereka pun pergi.


Sontak hal itu membuat Amus dan Ardi kaget, mereka saling menatap satu sama lain kemudian segera berjalan mengikuti Jimy tanpa di ketahui.


"Sial! bisa-bisanya dia melakukan hal ini, kita harus buat perhitungan dengannya" ujar Ardi emosi.


"Tentu saja, tapi sebelum itu kita harus kumpulkan bukti agar Ratna percaya" balas Amus tak kalah emosi.


Saat Jimy dan gadis itu berhenti di sebuah kafe Amus dan Ardi pun ikut masuk dan duduk tak jauh dari mereka, dengan sebuah buku menu mereka mencoba menutupi wajah agar tidak ketahuan.


Terlihat seorang pelayan mendekati Jimy untuk menuliskan pesanan, setelah pelayan itu pergi nampak Jimy asik mengobrol bahkan sambil pegangan tangan.


"Biadab, aku yang mendapat julukan kelinci putih saja tidak pernah selingkuh" gumam Ardi yang semakin emosi.


"Benar-benar di luar dugaan, ternyata master lebih hebat darimu" balas Amus.


"Jangan bandingkan kami dalam situasi ini!" hardik Ardi.


"Maaf..... " jawab Amus menyesal.


Mereka kembali memperhatikan Jimy, sekarang nampak Jimy mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Mereka menebak itu adalah cincin karena Jimy membuat gerakan seperti memakaikan sesuatu ke tangan gadis itu, hal lain yang tak terduga muncul saat Jimy mencium tangan gadis itu.


"Sial! aku tidak tahan lagi" ujar Ardi bangkit.


"Eh, tunggu dulu! kita belum punya bukti yang lebih kuat" ucap Amus menenangkan.


Setelah di bujuk akhirnya Ardi mau tenang juga, dengan benci ia kembali memperhatikan Jimy dengan selingkuhannya. Gadis itu terlihat berdiri lalu pergi meninggalkan Jimy, mereka menduga mungkin gadis itu pergi ke toilet dulu.


Tengah dalam kondisi serius tiba-tiba seorang gadis yang baru memasuki kafe mendekati Jimy dan bercanda dengan menutup kedua mata Jimy, saat Jimy bisa membuka mata ia terlihat cukup kaget tapi kemudian mereka berpelukan.


"A.... pa...yang terjadi.... " ujar Amus syok.


"Rat...... na...... kenapa... tiba-tiba ada di sini?" lanjut Ardi.


Mereka saling bertatap ngeri, membayangkan Ratna akan mengamuk saat melihat gadis yang menjadi selingkuhan Jimy. Otak mereka berputar dengan cepat mencari cara terbaik agar hal buruk tak terjadi, tapi apa pun yang mereka lakukan tetap tidak benar.


Ardi dan Amus semakin tegang saat kedua gadis itu saling bertatapan dan.


"Maaf"


Aaaaaaahhhh.......


Amus dan Ardi saling berteriak kencang sampai semua orang menatap mereka termasuk Jimy, Ratna dan Rere.


"Ma-maaf sudah membuat kalian terkejut, saya hanya ingin menanyakan pesanan" ujar seorang pelayan yang ikut kaget karena teriakan itu.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Ratna menghampiri.


"Eh hehe... itu.... " Ardi tak bisa menjawab begitu pun dengan Amus.


"Eh kau kan yang sering mengantar Ratna ke sekolah" ujar Rere jelas mengingat wajah Amus.


"Kau mengenalnya?" tanya Ardi kaget.


"Tidak!" jawab Amus karena memang ia tidak pernah memperhatikan sekelilingnya.


"Kita memang tidak saling kenal, tapi beberapa kali kita pernah berpapasan. Itu saat itu mengantar Ratna ke sekolah, oleh sebab itu aku mengingat mu"


"Begitu rupanya" ujar Ardi.


"Perkenalkan, aku Rere. Teman sekelas Ratna dan pacar Jimy."


Bukannya menyambut tangan Rere baik Amus maupun Ardi hanya terpana, perlahan mereka saling menatap dengan panik kemudian menatap Ratna dan Jimy secara bergantian. Begitu pun dengan Ratna dan Jimy, dengan susah payah mereka menutupi hubungan itu tapi Rere membukanya begitu saja kepada Amus dan Ardi.


"Ke-kenapa? apa... aku melakukan kesalahan?" tanya Rere mulai tak enak hati sebab empat sekawan itu hanya diam memasang wajah cemas.


"Ti-tidak" jawab Jimy gugup.


Set

__ADS_1


Tak bisa jika hanya tinggal diam Ratna memasang badan melindungi Jimy dan Rere, tentu hak itu membuat mereka keheranan.


"Jika kalian ingin marah salahkan saja aku, ini semua kesalahan ku jadi jangan marah pada mereka" ujar Ratna serius.


"Amus... apa kau mengerti situasinya?" tanya Ardi pelan.


"Tidak... aku sama bingungnya dengan mu" jawab Amus.


"Sebenarnya ada apa ini? bisakah kalian memberitahuku?" tanya Rere bingung.


Hhhhhhhhh


Percuma jika ingin berbohong, Jimy sudah menetapkan hatinya untuk tidak berbohong kepada Rere maka ia pun mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Tidak Ratna, aku yang seharusnya di salahkan" ucapnya memegang bahu Ratna dengan lembut.


"Master.... " panggil Ratna tak tega.


"Maaf Re, sebenarnya aku menutupi hubungan kita dari sahabat-sahabat ku ini. Aku tidak mau mereka mengetahuinya sebab aku mengatakan bahwa aku lebih suka wanita **** yang montok, jika mereka tahu pasti mereka akan mengolok-olok ku. Ma-maaf.... bukan maksud ku untuk menghinamu atau apa pun itu, aku mencintaimu mau bagaimana pun bentuk tubuhmu" jelas Jimy.


"Rere! kau adalah gadis yang baik pasti kau mengerti maksud master, bagi laki-laki terkadang memalukan jika ucapan dan tindakannya tidak sesuai. Kau juga punya tubuh yang **** jadi jangan khawatir, kau tetap masuk kriteria" sambung Ratna.


"Tunggu! kenapa kau membela master?" tanya Ardi heran sebab seharusnya saat ini Ratna marah.


"Kau ini bicara apa? tentu saja karena dia temanku" jawab Ratna.


Amus dan Ardi saling bertatapan kembali dengan heran, secara bersamaan mereka pun bertanya.


"Bukankah kau dan master pacaran?"


"Apa?" balas Ratna dan Jimy.


Akhirnya kesalahpahaman itu di luruskan, Ardi dan Amus menceritakan apa yang telah mereka lihat dan dengar. Alasan di balik pikiran mereka yang mengira bahwa Ratna dan Jimy pacaran, tentu Ratna tak bisa menahan tawa sebab ternyata mereka begitu konyol dan bodoh.


"Pernyataan cinta itu adalah latihan, sebelum mengungkapkannya kepada Rere master mencobanya kepada ku. Ia tidak ingin melakukan kesalahan karena itulah setiap hari kami bertemu dan mengobrol" jawab Ratna.


Jimy pun juga menjelaskan duduk perkaranya, memang semua berawal dari Jimy yang ingin menutupi hubungannya dengan Rere.


Hahahahahaha


"Kalian benar-benar lucu, aku tidak menyangka akan bertemu sahabat yang seperti ini" ujar Rere tak kuasa menahan geli.


Mereka hanya bisa menggaruk kepala atau sekedar nyengir sebab menyadari ucapan Rere ada benarnya.


"Kau lihat! inilah alasan ku tidak suka kebohongan, seburuk apa pun jangan pernah menutupinya dengan kebohongan karena pada akhirnya semuanya akan kacau" lanjut Rere kepada Jimy.


"Aku mengerti, maafkan aku... " jawab Jimy menyesal.


"Tidak apa-apa, toh semuanya sudah terlanjur terjadi. Hanya saja mulai saat ini kau tidak boleh berbohong lagi"


"Baik lah, aku janji" ucap Jimy sambil mengacungkan kelingkingnya.


Hari semakin cerah bersamaan dengan hati mereka yang kembali hangat, Jimy dan Rere tetap pada hubungan mereka yang semakin baik sedang Amus menemukan harapannya yang sempat hilang.


Begitu pun dengan Ardi, ia masih punya kesempatan meski tahu kini ia memiliki saingan. Belajar dari apa yang telah terjadi kali ini Ardi menetapkan hatinya untuk cepat menyatakan perasaannya, meski mungkin kemungkinan dia diterima hanya empat puluh persen.


* * *


"Ada apa?" tanya Amus melihat Ratna yang tidak berhenti tersenyum.


"Aku masih belum bisa melupakan kekonyolan kalian, itu benar-benar lucu" jawab Ratna.


Amus hanya mendengus menanggapi ucapan itu, setelah kesalahpahaman itu selesai mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama dengan makan. Setelah malam tiba mereka pun berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing, tinggallah Amus dan Ratna yang masih berjalan ke rumah mereka.


"Mana mungkin aku berpacaran dengan pria seperti master, dia itu bukan tipe ku" ujar Ratna.


"Lalu bagaimana tipe pria yang kau sukai?" tanya Amus yang membuat langkah mereka berhenti.


"Yang penting kaya raya agar aku tidak perlu bekerja keras" jawab Ratna sambil tersenyum.


"Ah dasar gadis dolar, apa dalam otak mu hanya ada uang?" hardik Amus.


"Tentu saja" jawab Ratna sambil berjalan mendahului Amus, tapi saat ia hendak belok ke pekarangan rumahnya Amus memanggil.

__ADS_1


"Ratna! ayah mu... belum pulang kan? sebaiknya kau menginap lagi di rumah ku."


Ratna tertegun, tapi kemudian ia tersenyum dan dengan senang hati kembali berjalan di samping Amus sampai mereka masuk ke dalam rumah.


__ADS_2