
Awal bulan supermarket memang lebih ramai dari biasanya, Sejak mulai bekerja hingga sebelum istirahat ia terus bekerja tanpa henti. Tiba gilirannya untuk istirahat Ratna memilih mengisi energinya dengan semangkuk baso pedas dan segelas jus sebagai penyegar.
"Na geser dong" ujar salah satu temannya yang bernama Ica.
"Tumben kamu makan sendiri, Irma mana?" tanyanya sambil duduk.
"Di libur hari ini"
"Oh iya, besok giliran kamu yang libur tanyanya lagi.
Ratna mengangguk sebab mulutnya penuh dengan makanan.
"Um.... Na, besok aku juga libur. Kamu mau gak nemenin aku jalan?"
"Kemana?"
"Um.... ketemuan"
"Sama siapa?"
"Cowok lah... "
"Kamu kenal dari mana?"
"Dari aplikasi pencarian jodoh.. " jawab Ica pelan.
"Hah? please Ca! hari gini kamu masih percaya aja sama aplikasi gituan, bahaya Ca! jangan-jangan penipu lagi" hardiknya.
"Engga kok! kita pernah videocall dan orangnya memang itu. Dia juga bakal ajak temannya jadi kamu gak bakal sendiri, lagi pula kamu gak kesel apa? setiap malam minggu di ejek mulu gara-gara gak punya pacar!"
"Dih, bodoamat! yang pacaran juga belum tentu bahagia"
"Yaelah Na, tolongin dong... aku bayar deh dua ratus ribu mau gak?"
"Mana duitnya?" tanya Ratna sambil mengulurkan tangan.
Hhhhhhhhh
"Dasar matre! nih!" ujar Ica sambil menyerahkan uang tersebut.
"Oke, nanti tinggal telpon aja soal jam dan tempat janjiannya" kata Ratna yang kemudian fokus kembali pada makanannya.
Keesokan harinya Ratna di beri kamar kalau mereka akan bertemu pukul tiga sore, untuk tempatnya sendiri adalah mall yang dekat dengan kos-annya.
Ia melirik jam, masih ada waktu sekitar dua jam sebelum waktu janjian. Ratna memutuskan untuk bersantai sambil menonton televisi meski tidak ada acara seru, saat waktu menunjukkan pukul 14.00 ia pun mulai bersiap.
Bagi seorang gadis meski pun ia tidak tertarik pada pertemuan itu tapi ia tetap harus tampil cantik dan rapi, dan untuk tampil sempurna tentu saja ia butuh waktu setidaknya satu jam termasuk mandi.
"Ah... astaga... aku tidak punya pakaian" ujarnya saat melihat lemari.
Tentu maksudnya adalah pakaian yang cocok di pakai untuk kencan karena di dalam lemarinya hanya berisi pakaian formal dan santai.
"Baiklah... kita coba yang ini" ucapnya sambil mengambil satu pakaian.
Lima belas menit ia habiskan hanya untuk memilih pakaian yang cocok, setelah itu barulah ia merias wajahnya. Hanya riasan tipis tapi cukup membuatnya cantik, sentuhan terakhir adalah parfum di pakaian.
Ica menelponnya tepat saat ia telah siap, segera ia pun bergegas pergi. Di pintu masuk mall Ica melambaikan tangan melihat kedatanganya, ia tersenyum dan memuji penampilan Ratna yang selalu terlihat cantik.
"Kenalan mu belum datang?" tanya Ratna.
"Sebentar lagi, sabar ya... " jawab Ica.
"Oh, itu mereka!" ujar Ica saat melihat dua pria berjalan ke arah mereka.
Ica nampak senang sebab kenalannya itu terlihat keren dengan jaket kulit yang ia kenakan, sedang Ratna hanya bisa terdiam menatap seorang pria yang wajahnya tidak asing.
"Apa kami terlambat?" ujar pria itu.
"Tidak, kami juga baru datang" jawab Ica tersenyum malu.
"Baguslah, oh perkenalkan ini teman ku namanya... "
"Jaya" ujar Ratna yang membuat pria itu terdiam.
"Kau... kenapa bisa tahu namanya?"
"Karena dia mantan pacarku" jawab Jaya yang tak bisa melepaskan pandangannya dari Ratna.
Sontak kedua orang itu kaget, mereka hanya bisa menatap tak percaya pada Ratna dan Jaya yang masih saling memandang.
"Hmm apa kabar? lama tak bertemu" tanya Ratna.
"Kabar baik, memang cukup lama kita tidak bertemu"
"Ini teman ku Ica" ujar Ratna memperkenalkan.
Jaya mengulurkan tangan dan di sambut baik oleh Ica, begitu pun dengan Ratna yang berkenalan dengan Dimas teman Jaya. Mereka memilih pergi ke kafe terdekat untuk mengobrol, sebagian obrolan tentu berisi kisah masa lalu antara Jaya dan Ratna.
"Bagaimana dengan kuliah mu?" tanya Ratna.
"Kau bercanda? sekarang aku sudah menjadi pengacara" jawab Jaya.
"Benarkah? jangan bilang ini hanya taktik agar aku mau kembali lagi padamu"
"Kenapa kau berfikir seperti itu?"
__ADS_1
"Kau kenal baik siapa aku bukan?" tanya Ratna.
Jaya hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum, ia memang sangat kenal baik Ratna dan tahu ia tak kan pernah berubah.
"Ah... ternyata dunia ini memang kecil, aku tak menyangka kalian dulunya adalah mantan pacar" ujar Ica.
"Itu sudah lama sekali, ingatlah itu hanya cinta monyet" jawab Ratna.
Hahahaha
Mereka tertawa bersama dan melanjutkan obrolan yang santai itu hingga malam tiba, mereka pun berpisah tapi Ratna sempat bertukar nomor dengan Jaya sehingga mereka bisa lanjut komunikasi lewat ponsel.
Baru saja Ratna selesai bersih-bersih dan bersiap untuk tidur tapi Jaya menelponnya, Ia segera mengangkat telpon itu.
"Halo"
"Hai, kau sudah tidur?" tanya Jaya.
"Aku baru berencana mau melakukannya"
"Ini baru pukul sembilan, apa kau memang biasa tidur cepat?"
"Hmm, besok aku kerja pagi jadi aku harus tidur cepat agar tidak kesiangan"
"Oh... begitu rupanya, um..... kapan kau libur kerja?"
"Minggu depan tentunya, kenapa?"
"Tidak, ku pikir hari Minggu besok kita bisa bertemu"
Hahaha
"Kita baru bertemu tadi sore dan kau sudah merindukan aku?" gurau Ratna.
"Hehe.. aku... tidak ada kegiatan, jadi ku pikir aku bisa menghabiskan waktu dengan mu"
"Um.... baiklah, aku bisa minta tukar dengan teman ku"
"Benarkah? bisa kita bertemu jam delapan pagi? aku akan menjemput mu"
"Baiklah, sampai ketemu nanti" ujar Ratna menutup telpon itu.
Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang, mengingat kembali sosok Jaya yang baru saja ia temui. Sejak lulus SMA mereka berpisah dan ini adalah kali pertama mereka bertemu kembali, tak di sangka sekian lama berpisah kini Jaya menjadi sosok pria yang lebih tampan dan keren.
Dari caranya bicara dan bertingkah sungguh kebalikan dari sosok Jaya di jaman dulu, Ratna mengakui Jaya lebih dewasa bahkan berwibawa.
Tiba di hari minggu pagi-pagi sekali Ratna sudah rapi dan tampil cantik, sesuai janji Jaya menjemputnya.
"Pakai ini" ujar Jaya sambil menyerahkan helm.
"Kita akan ke Bandung, teman ku merekomendasikan tempat yang bagus"
"Naik motor?" tanya Ratna sebab ia membayangkan perjalanan yang cukup jauh.
"Tentu saja, aku jamin perjalanannya akan sangat menyenangkan"
"Baiklah" jawab Ratna yang di buat penasaran.
Ia segera memakai helmnya dan naik ke atas motor, setelah siap mereka pun pergi. Angin berhembus cukup kencang sebab Jaya melaju dengan cukup cepat, tapi Ratna mulai menikmatinya.
Ia merasa bebas diantara hembusan angin, rasanya berbagai energi negatif tertinggal jauh di belakang dan menyisakan kedamaian yang mutlak. Dua jam tanpa terasa kini mereka sudah setengah jalan, Jaya memutuskan untuk berhenti sejenak untuk istirahat dan menikmati pemandangan asri di pinggir jalan.
"Bukankah ini indah?" tanya Jaya.
"Ya, rasanya semua beban ku hilang seketika" jawab Ratna.
"Apa pinggang mu baik-baik saja?"
"Sedikit pegal tapi aku baik"
Hahahaha
"Apa ini kali pertama kau bepergian jauh dengan sepeda motor?" tanya Jaya.
"Tentu saja, perjalanan terjauh ku adalah saat pulang kampung dan aku menggunakan bis"
"Begitu rupanya, bagaimana kabar teman satu geng mu?"
"Sesuai dugaan Master melanjutkan usaha orang tuanya, setahuku Ardi kini bekerja jadi teknisi sedang Amus aku tidak tahu pasti tapi terakhir bertemu waktu itu dia masih kuliah"
"Kenapa kau tidak yakin dengan keadaan teman-teman mu? bukankah kalian geng?"
"Kami hanya teman masa kecil yang bersama sampai SMA, setelah lulus kami memilih jalan yang berbeda dan sibuk dengan dunia kami sendiri jadi bagaimana bisa aku tahu dengan pasti"
"Benar juga, pada akhirnya kalian berpisah juga" ujar Jaya.
Mereka melanjutkan perjalanan kembali, rupanya ini bukan pertama kali Jaya ke Bandung sehingga ia ada beberapa tempat yang mereka lewati di ketahui olehnya. Sambil melaju mereka mengobrol tentang tempat-tempat itu, dengan riang Ratna pun banyak bertanya dan menanggapinya.
Sampai tibalah mereka di tempat tujuan, itu merupakan tempat wisata yang cukup ramai di akhir pekan. Setelah memarkir motor Jaya menyuruhnya untuk menunggu sementara ia membeli tiket.
"Ini punya mu" ujar Jaya menyerahkan tiket miliknya.
Ratna menerima tiket itu dan mereka pun masuk, pemandangan asri perbukitan begitu memanjakan matanya yang sudah lelah dengan kondisi perkotaan. Ia melihat banyak wahana yang bisa ia naiki seperti sepeda, balon udara dan lain-lain.
"Ada wahana yang ingin kau naiki?" tanya Jaya.
__ADS_1
"Entahlah, semuanya berada di ketinggian" jawab Ratna ragu.
"Bagaimana dengan ayunan itu? menurut ku tidak terlalu tinggi dan kau bisa berpegangan" tawar Jaya.
Tapi Ratna masih belum memberikan jawaban, dari wajahnya Jaya tahu Ratna cukup khawatir.
"Aku akan naik bersama mu, kau bisa memegang tangan ku nanti" ujar Jaya lembut.
Ratna masih sedikit menimbang tapi akhirnya ia mau juga, bahkan sebelum naik ayunan Jaya sudah memegang tangan Ratna agar ia merasa lebih baik. Jantung Ratna mulai berdegup kencang saat ia duduk di papan ayunan, bahkan meski petugas mengikatnya dengan tali pengaman tetap saja ia masih gugup.
Jaya mengelus lembut tangan Ratna agar perhatiannya teralihkan saat petugas menggeser ayunan itu, saat tersadar Ratna sudah berada di atas jurang yang cukup dalam.
"Lihat aku!" ujar Jaya.
"Mm.... " erang Ratna yang tak bisa memalingkan wajahnya dari bawah.
"Ratna lihat aku! jangan lihat ke bawah!" perintah Jaya dengan suara yang lebih kencang.
"Mmm, o... ke.... " jawab Ratna perlahan memalingkan wajah.
Saat Ratna mulai menatap Jaya ia melihat senyuman tulus, lalu perlahan Jaya mengelus rambutnya dengan lembut hingga perlahan ia taj takut lagi. Pada akhirnya setelah beberapa menit yang terasa lama ia mulai bisa menikmati wahana itu.
"Huuuuhhhhh yang tadi itu cukup mengagetkan" ujar Ratna setelah ia mereka turun.
"Payah, gadis galak seperti mu ternyata takut ketinggian" ujar Jaya.
"Ini tidak ada hubungannya dengan itu" omel Ratna.
"Sudahlah, bagaimana kalau kita cari makan dulu? aku sudah mulai lapar" ajak Jaya.
Ratna pun setuju karena ia juga butuh asupan energi agar kembali bersemangat, mereka masuk ke salah satu restoran yang ada dan segera memesan.
Ddddrrrrtttt Ddddrrrrtttt
Ratna menatap ponselnya yang bergetar dengan tulisan Irma di layar, setelah menggeser tombol hijau ia pun berkata.
"Iya Ir!"
"Na kamu dimana?"
"Di luar, kenapa?"
"Luar mana? katanya kamu mau ketemu pacar aku, kami mau pergi sekarang juga"
"Astaga... aku lupa Ir kalau kita ada janji" ujar Ratna sambil menepuk jidatnya.
"Payah... emang kamu dimana? biar kita samperin"
"Jauh Ir, aku ada di Bandung"
"Bandung? ngapain?" tanya Irma penasaran.
"Um.... ngedate!" jawab Ratna sambil menatap Jaya yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Hah? serius? sama siapa?"
"Nanti aku ceritain, sekarang kalau kamu mau pergi silahkan. Kamu bisa kenalin pacar kamu lain kali"
"Ya udah, happy fun ya... " ujar Irma yang segera menutup telpon.
"Siapa Na?" tanya Jaya penasaran.
"Temen kerja, aku lupa kalau hari ini ada janji"
"Yah.. terus gimana? aku jadi gak enak sama teman kamu"
"Santai aja, bisa lain kali kok" jawabnya.
Jaya pun mengangguk dan tidak bertanya lagi, saat pesanan mereka sampai dengan tak sabar Ratna segera menikmati makanan itu sambil mengobrol santai. Setelah perut kenyang dan energinya kembali mereka melanjutkan perjalanan di tempat itu dengan berselfie ria, mengabadikan momen yang belum tentu akan terulang lagi.
Lelah berjalan-jalan mereka memutuskan untuk duduk di sebuah kursi sambil menikmati pemandangan yang sangat indah.
"Rasanya jadi malas pulang, pemandangan di sini sangat indah sampai membuat hatiku damai" ujar Ratna.
"Kerja di supermarket itu berat ya?" tanya Jaya.
"Tidak juga, tapi selain di supermarket aku juga kerja di salon karena itu rasanya melelahkan"
"Apa? kenapa kau mengambil dua pekerjaan sekaligus? apa gaji di supermarket tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mu?" tanya Jaya heran.
"Cukup, hanya saja aku ingin cepat kaya karena itu aku mengambil dua pekerjaan"
"Astaga... kau hanya menyiksa tubuhmu sendiri"
"Aku tahu, bagiku hanya ada dua pilihan jika ingin cepat kaya. Pertama nikahi kakek kaya dan kedua bekerja keras, aku tidak mau menikahi kakek-kakek jadi aku memilih bekerja keras"
"Bagaimana dengan pengacara yang egois?" tanya Jaya yang membuat Ratna terdiam.
"Apa maksud mu?" tanyanya pelan.
"Aku benci mengatakannya karena aku merasa harga diriku turun, tapi aku kembali terpikat oleh kecantikan mu meski aku tahu sifat mu sangat buruk dan tidak akan pernah berubah" jawabnya.
Ratna masih terdiam, menafsirkan kalimat yang Jaya ucapkan.
"Aku mencintaimu, aku ingin kembali memilikimu, aku ingin hubungan yang lebih dari sekedar teman. Kali ini aku akan belajar lebih menghargai keinginan mu, aku akan belajar untuk menahan diri saat cemburu karena kau lebih dekat dengan pria lain meski itu teman masa kecil mu. Karena aku.... sungguh mencintaimu" ujar Jaya lagi.
__ADS_1