
Akhirnya, ujian nasional tinggal tersisa dua bulan lagi. Sekolah mengadakan acara liburan khusus untuk anak kelas tiga sebelum mereka sibuk dengan les dan lainnya, setiap murid sudah diberi surat pernyataan yang di dalamnya pun berisi informasi biaya yang harus di bayar.
Awalnya Ratna berniat memberikan surat itu kepada Sapardi, tapi ketika ia pulang Sapardi tengah membereskan sebuah kain putih dan abu-abu.
"Ayah sedang apa?" tanyanya.
"Oh, ini adalah kain untuk membuat seragam sekolah SMA mu nanti. Ayah sengaja membelinya sekarang agar dapat harga murah, setelah kau lulus nanti kita pergi ke tukang jahit ya!" jawab Sapardi.
Ratna cukup terpukul mendengar jawaban itu, bahkan Sapardi sudah menyiapkan segalanya sejak dini agar ia bisa melanjutkan sekolah. Ia hanya bisa tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban, dan mengurungkan niatnya untuk menyerahkan surat itu.
Biaya liburan cukup mahal dari segi perekonomian keluarganya, jika di pikir lagi akan lebih baik dia tidak perlu ikut. Hanya membuang uang demi kesenangan yang tidak seberapa, akan sangat bijak jika di gunakan untuk menambah tabungan untuk biaya masuk SMA.
Guru memberi tenggat waktu selama seminggu sampai hari pemberangkatan, tapi Ratna yang belum juga membayar sepersen pun akhirnya di panggil ke ruang guru.
Semua mata tertuju padanya termasuk gengnya saat ia berjalan keluar kelas demi memenuhi panggilan tersebut, dia mengetuk pintu dan di suruh duduk tepat di depan wali kelasnya.
"Tiga hari lagi kita pergi liburan, tapi kau belum juga membayar. Apa ada kendala?" tanya wali kelas itu.
"Saya tidak berminat ikut pergi bu" jawabnya.
"Kenapa? ujian nasional sebentar lagi, ini adalah momen yang cocok untuk saling mendekatkan diri dengan teman-teman yang lain. Kalian bisa mengambil foto sebagai kenang-kenangan, liburan ini juga bertujuan untuk membuatmu santai sebelum lelah menghadapi persiapan ujian"
"Saya rasa saya sudah cukup dekat dengan teman-teman saya, membuat kenangan tidak perlu pergi ke tempat wisata. Lagi pula badan saya mudah lelah jika bepergian jauh, saya takut nantinya malah sakit dan merepotkan yang lain"
"Benar begitu? apa kau benar-benar tidak bisa ikut?"
"Saya tidak bisa" jawab Ratna serius.
"Baiklah kau boleh kembali ke kelas"
"Baik bu" ujarnya sambil sedikit menundukkan kepala.
Saat ia kembali ke kelas satu kelas ribut menanyakan mengapa ia di panggil, sebab Ratna bukanlah murid bermasalah dan ini adalah kali pertama ia di panggil.
"Tidak ada apa-apa" jawabnya tak mau banyak bicara.
Mereka termasuk Jimy tak lantas diam, sebisa mungkin ia mengorek informasi tapi ternyata Ratna pandai membungkam diri. Jimy si master tentu tak tinggal diam, ia bahkan sengaja mengunjungi Ratna ke rumahnya setelah sepulang sekolah demi mendapatkan informasi yang ia mau.
Mau tak mau akhirnya Ratna buka suara juga perihal perilakunya selama ini, alasan di balik semua penolakan Ratna meski di iming-imingi ayam goreng kesukaannya.
"Jika aku cukup kaya aku pasti tidak perlu bersusah payah seperti ini, aku bisa pergi liburan dengan yang lain tanpa memikirkan biayanya" ujar Ratna.
Hhhhhhh
"Aku tahu kau miskin, tapi sikap mu terlalu berlebihan!" hardik Jimy.
"Mau bagaimana lagi? aku harus menabung untuk masa depan ku"
"Apa aku pernah memintamu membayar atas semua makanan yang ku berikan? kau sudah menghina ku dengan sikap mu itu, setidaknya tetaplah berkumpul dengan kami. Kau bisa melakukannya sambil belajar, jika ada yang tidak kau pahami kau juga bisa bertanya kepada Amus atau Ardi"
"Maaf... " ujar Ratna menyesal.
__ADS_1
"Ah sudahlah kau membuatku naik pitam" ucap Jimy meninggalkan kediaman Ratna.
Ratna menyesal atas sikapnya tapi tetap tak merubahnya, ia melanjutkan rutinitas belajarnya seperti biasa sampai tiba hari dimana seharusnya dia berangkat liburan bersama teman-temannya.
Tok Tok Tok
Ketukan di pintu pagi hari itu cukup membuat Ratna heran, masih dengan rambut berantakan ia membuka pintu dan melihat Jimy berdiri di sana.
"Ada apa?" tanyanya.
"Cepatlah bersiap apa kau lupa hari ini kita liburan?" ujarnya.
"Oh...aku tidak ikut liburan"
"Apa maksud mu tidak ikut?"
"Sudah ku bilang kan aku tidak punya uang untuk pergi liburan"
"Kita tidak akan ikut acara dari sekolah, ini adalah liburan khusus geng kita jadi kau tidak perlu khawatir mesti dompetmu kosong melompong"
"Apa maksud mu?" tanya Ratna bingung.
"Kita akan pergi ke Bekasi, liburan di rumah orangtua Amus" jawab Jimy sambil tersenyum.
Ratna masih bingung dengan pernyataan Jimy, namun karena di desak terus akhirnya ia bersiap juga. Dengan satu tas berisi keperluannya Ratna pergi bersama Jimy menemui Ardi dan Amus yang rupanya sudah menunggu mereka sejak tadi.
"Kenapa kau kalian lama sekali?" tanya Amus.
"Sudahlah, saat kita sampai di sana orangtuaku sudah berangkat bekerja. Tapi ia meninggalkan kunci untuk kita jadi tidak perlu khawatir"
"Kalau begitu ayo pergi.... " teriak Ardi antusias.
Empat sekawan itu pergi dengan menggunakan bus, Ratna duduk bersama Jimy sedang Ardi dengan Amus. Sepanjang perjalanan Amus menceritakan bahwa mereka membatalkan kepergian mereka dari tur sekolah karena tidak bisa meninggalkan Ratna sendirian. Amuslah yang memberi ide untuk mengganti liburan mereka menjadi kunjungan ke rumah orangtua Amus, meski di bilang kunjungan tapi mereka juga berniat akan pergi ke tempat-tempat menarik selama dua hari.
Karena mereka belum tahu wilayah sana maka Yati yang akan memberitahunya, Amus juga mengatakan bahwa Yati sangat senang saat di beritahu bahwa ia dan teman-temannya akan berkunjung.
Cerita Jimy telah membuat Ratna sadar bahwa persahabatan mereka lebih dari sekedar teman biasa, saling melengkapi dan saling membantu satu sama lain membuatnya bersyukur telah di pertemukan dengan orang-orang yang tulus kepadanya.
"Lain kali jangan pendam masalah mu sendiri, sejak kecil tugas kami adalah menjagamu jadi jangan pernah menyembunyikan apa pun dari kami" ujar Jimy.
"Maafkan aku Master, aku hanya tidak ingin merepotkan kalian terus. Aku merasa sudah waktunya aku berdiri di atas kakiku sendiri, karena itu aku melakukan hal ini"
"Kau tidak salah, hanya saja jangan tiba-tiba mengasingkan dirimu dari kami. Jika kau bertingkah seperti ini lagi aku tidak akan pernah memaafkan mu" ujar Jimy bersungguh-sungguh.
"Baiklah.... " jawab Ratna kembali tersenyum.
Mereka sampai beberapa jam kemudian, Ratna di buat kagum melihat betapa besarnya rumah orangtua Amus. Bahkan ada kolam ikan di depan rumah yang nampak cantik dengan berbagai macam tumbuhan di tata di sekitarnya.
Amus mengambil kunci dari rak sepatu yang ada di luar, begitu dia buka pintu mata Ratna lebih kagum lagi melihat kemewahan rumah itu. Ia menyadari betapa kayanya orangtua Amus hingga bisa memiliki rumah sebesar dan sebagus itu.
"Kalian istirahatlah dulu, biar ku ambilkan air" ujar Amus.
__ADS_1
Mereka duduk di sofa yang empuk untuk menghilangkan penat, tak lama kemudian Amus datang dengan minuman dingin yang menyegarkan.
"Tiba-tiba aku bergidik membayangkan orangtuamu tinggal di rumah sebesar ini hanya berdua saja" ujar Jimy menatap ke sekeliling ruangan.
Meski rumah Jimy juga bagus dan besar tapi masih kalah besar dan mewah dari rumah Yati, Jimy yang sudah terbiasa tinggal sendiri di rumah masih bisa tahan sebab malam hari orangtua mereka pulang.
"Biasanya seminggu sekali akan ada asisten rumah tangga yang membersihkan rumah ini, jadi kalau masalah perawatan rumah ibu tidak pernah pusing" ucap Amus.
"Ayo pergi! akan ku tunjukkan kamar kalian" lanjutnya.
"Di sini hanya ada empat kamar, satu kamar milik orangtua ku dan satu lagi kamar ku. Tersisa dua kamar untuk Ratna dan tidak ada pilihan lain Ardi dan master harus satu kamar" jelasnya sambil menunjukkan satu persatu kamar.
"Aku tidak masalah" ujar Ardi.
"Aku juga" balas Jimy.
Ratna di beri kamar tepat di tengah, kamar yang bersebelahan dengan kamar Amus. Kamar yang sebenarnya di fungsikan untuk tamu, dengan ruangan yang cukup luas dan jendela yang menghadap taman membuat kamar itu nampak mewah.
"Ada kamar mandi di dalamnya, jadi kau tidak perlu risau" ujar Amus.
"Terimakasih" ucap Ratna.
Mereka memutuskan untuk istirahat dulu sebelum melakukan aktifitas lain, meski Ratna tak bisa tidur tapi ia sangat betah tiduran di kamar sambil mendengarkan musik box pemberian Amus yang dia bawa.
Tok Tok Tok
Ketukan di pintu kamarnya cukup membuatnya kaget, segera Ratna menaruh musik box itu di dalam laci dan pergi membuka pintu.
"Keluarlah, aku membuat mie untuk makan siang kita" ujar Amus.
"Oh baiklah" jawab Ratna mengikuti langkah Amus ke ruang makan.
Nampak Ardi dan Jimy sudah mengambil bagian mereka dan menyantapnya dengan penuh nikmat.
"Curang! kenapa kalian tidak menungguku?" ujar Ratna.
"Kami tidak sarapan jadi perut kami sudah kelaparan dari tadi" jawab Jimy.
"Setidaknya tunggulah aku sebentar"
"Sudahlah... cepat makan sebelum mienya mengembang" ujar Ardi sambil memberikan garpu.
Mereka melanjutkan makan siang dan menghabiskan semua makanan yang ada di meja, masih bingung harus berbuat apa akhirnya mereka hanya bersantai sampai Yati dan Wijaya pulang.
"Maaf bibi harusnya menyambut kedatangan kalian" ujar Yati begitu sampai.
"Tidak apa-apa bibi, justru harusnya kami yang minta maaf karena telah merepotkan" jawab Jimy.
"Eh kalian tidak merek sama sekali, justru bibi senang kalian mau main kemari. Ini! bibi bawakan donat, mari kita makan bersama"
"Wah... keliatannya enak" seru Ratna yang mendapat reaksi sorakan dari yang lain.
__ADS_1
Meski malam semakin larut tapi kediaman Yati semakin riuh, mereka tak berhenti mengobrol di temani makanan dan minuman hingga kantuk menyerang.