Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 38 Berdamai Dengan Hati


__ADS_3

"Bukan hal mudah untuk memutuskan, terlebih masalah hati yang telah lama menanti. Bukan pula ku menyerah tapi kadang terasa lelah, bagai mengejar bulan di bumi...kemana pun ku pergi dia akan mengikuti tapi terlampau jauh untuk ku genggam kecuali aku dapat pergi ke angkasa raya. Kau bukanlah kesalahan, hanya aku telah memutuskan untuk jujur kepada hati. Maka kini, dengan senyum ku lepaskan kesempatan untuk meraih mu, semoga nanti bila kita bertemu lagi senyum kita tak berubah meski kemungkinan hati ku telah berubah."


Di kutip dari arsip pribadi Ratna Mangalih.


* * *


Dengan bangga Ratna memperlihatkan nilai yang ia dapat kepada Ardi, tak sia-sia ia merenung sendiri dikamar beberapa hari hanya untuk membuat puisi. Tanpa memperhatikan sepasang mata sedang menatapnya sejak tadi, sejak ia mulai berdiri di depan kelas.


Tatapan mata itu milik Amus, menatapnya dengan perasaan campur aduk mengingat semua hal yang telah mereka lewati bersama. Puisi yang di bacakan Ratna seolah menegur ketidakmampuannya dalam menyatakan perasaan, puisi itu juga mengingatkannya pada ucapan Yati agar mulai mendekati Ratna sebagai seorang pria jika memang dirinya ingin hubungan yang lebih dari sekedar teman.


Sebagai seorang pria ia sadar terlalu pengecut, jika begini terus ada kemungkinan Ratna akan memberikan hatinya kepada orang lain. Mulai sekarang, ia bertekad akan lebih berjuang lagi agar Ratna menyadari perasaannya.


Ratna masih saja mengoceh untuk membanggakan nilainya tanpa peduli meski Ardi sudah tak tertarik lagi pada hal itu, ada hal lain yang lebih menarik perhatiannya.


Senyum dan tawa yang begitu riang terdengar, statusnya boleh saja berpacaran dengan gadis lain tapi hatinya tetap untuk Ratna. Puisi yang di bacakan oleh Ratna tadi membuatnya sadar bahwa jika dia harus lebih berusaha lagi demi bisa menaklukkan kepolosan Ratna.


Mereka sudah cukup dekat sebagai seorang pria dan wanita semenjak bekerja bersama, beberapa kali mereka berada dalam situasi yang canggung dan cukup romantis namun tak membuat Ratna sadar akan perasaan Ardi.


Dia tidak berniat buru-buru karena memang di mata Ardi Ratna bukanlah sosok yang bisa di ajak berpacaran, meski begitu ia tak akan diam saja.


Ratna sendiri kini justru telah berdamai dengan hatinya, perasaan suka yang diam-diam di pendam nya kepada Amus akan tetap berada di sana namun tanpa usaha pendekatan.


Mengingat dirinya telah memasuki fase akhir SMP perjuangan hidup yang sebenarnya baru di mulai, ia harus fokus belajar terlebih dahulu untuk menghadapi ujian nasional nanti.

__ADS_1


Ia telah memutuskan akan mengesampingkan masalah cinta, tujuan utamanya kini adalah persiapan masuk ke SMA.


Hari-hari berikutnya Ratna membuat terkejut teman gengnya dengan menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan, ia juga jadi jarang berkumpul bahkan menolak pesta makanan demi belajar.


Sapardi sangat senang melihat ketekunan Ratna namun tidak dengan ketiga kawannya, mereka merasa kehilangan sebab tak ada lagi anak yang biasa meramaikan suasana.


Sore itu, Amus yang kebingungan mencari alasan agar bisa bicara dengan Ratna cukup terkejut melihat Ratna keluar rumah padahal langit begitu mendung. Ia menunggu sampai Ratna berjalan ke depan dan dengan waktu bersamaan Amus pergi keluar membuat seolah mereka tak sengaja bertemu.


"Kau mau kemana?" tanya Amus.


"Aku mau ke toko buku, kamus bahasa Inggris ku sudah jelek dan tidak lengkap jadi aku mau membeli yang baru"


"Ini sudah sore, kenapa kau tidak pergi dari tadi?" hardik Amus.


"Aku baru ingat tadi, sudahlah aku pergi dulu!" jawab Ratna yang kemudian berlalu.


Matanya kemudian menemukan lagi buku yang lebih menarik, pada akhirnya dia malah menghabiskan waktu di sana hanya untuk melihat-lihat buku yang ada. Saat ia memutuskan untuk pulang hujan sudah lebih dulu turun, ia yang tak membawa payung terpaksa berdiri di luar sambil menunggu reda.


"Kau sedang apa?" tanya seseorang kepadanya.


* * *


Beberapa menit berlalu setelah kepergian Ratna hujan turun dengan derasnya, angin bertiup kencang hingga membuat jendela rumah Amus bergerak tutup buka. Hatinya mulai khawatir saat teringat Ratna pergi tanpa membawa payung, ia sudah bisa mengira Ratna pasti terjebak di toko buku menunggu hujan reda.

__ADS_1


Perasaan khawatir itulah yang membuatnya beranjak pergi sambil membawa payung, di hari yang sudah senja itu akan cukup rentan bagi seorang gadis jika berada di luar rumah terutama di cuaca seperti ini.


Sepanjang jalan ia mencoba memikirkan alasan logis agar Ratna tak curiga sebab bukan caranya berterus terang, tapi belum juga ia sampai dari jauh ia bisa melihat Ratna berdiri di luar toko di temani Ardi.


Mereka terlihat sedang asyik bercanda tanpa menyadari kehadirannya di sana, dengan langkah lesu Amus memutuskan untuk pulang sebab tak ada gunanya ia melanjutkan perjalanan.


"Ada apa?" tanya Ardi saat Ratna tiba-tiba melihat jalan yang kosong.


"Tidak, hanya saja... rasanya ada seseorang yang memperhatikan ku"


"Kau bercanda! di tengah hujan lebat begini tak ada orang lain selain kita di sini, mungkin itu cuma perasaan mu saja"


"Ya.. mungkin" jawab Ratna pelan.


* * *


Meski ia tak basah kuyup tapi setelah sampai di rumah Amus tetap mandi, sambil mengeringkan rambut dengan handuk dihidupkannya radio demi mengubah suasana hati yang kurang baik.


"Halo sahabat FM kembali lagi bersama Fiki di sini dengan udara sejuk dari hujan yang mengguyur kota dan sekitarnya, ada cerita apa hari ini? sahabat FM bisa ceritakan di 089xxxxxxxxx via SMS atau telpon.


Biasanya hujan selalu membawa suasana melow, tiba-tiba teringat mantan atau yang LDR-an bisa curahkan kerinduan kalian disini. Kita lanjut baca SMS yang sudah masuk ada Mita di kamar, halo Mita! 'Kak Fiki aku mau cerita sedikit tentang sahabat ku, dia orang yang periang dan sedang jatuh cinta tapi gak bisa menyatakan perasaannya. Tiba-tiba dia mengatakan akan mengubur perasaannya dan fokus pada hal lain, aku mau nitip salam buat sahabat ku ini semoga dia dengar dan doaku buat dia semoga pada akhirnya dia bisa menyatakan perasaannya. Mau request juga Jamrud pelangi di matamu yang aku persembahkan buat dia, terimakasih kak Fiki.


Wah.... cerita yang cukup menarik ya, memang menyatakan perasaan itu tidak mudah dan butuh kesiapan mental juga. Kalau begitu buat kamu di sana Fiki persembahkan, Jamrud... ada pelangi di matamu."

__ADS_1


Musik mulai mengalun lewat radio di kamar Amus, lagu yang cukup mewakili keadaannya sekarang ini. Tapi satu hal yang lebih menyita perhatiannya adalah nama si pengirim SMS, ada kemungkinan orang itu adalah teman satu kelasnya sang sekertaris.


Jika memang benar, ia cukup bertanya-tanya siapa sahabat yang di maksud Mita. Apakah itu dirinya? jika benar, maka cukup mengherankan mengapa Mita tahu isi hatinya padahal ia tak pernah menceritakan soal perasaannya kepada siapa pun. Yang ada justru selama ini Amus berusaha menutupinya dari semua orang.


__ADS_2