Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 46 Perjuangan


__ADS_3

Di hari biasa kedai tak terlalu ramai apalagi orang-orang sibuk sekolah dan bekerja, kebanyakan dari mereka akan langsung pulang karena lelah seharian. Ratna sedikit lega sebab setelah sibuk bersekolah ia butuh waktu istirahat juga, dengan pengunjung yang hanya bisa di hitung jari ia tak perlu mengeluarkan tenaga ekstra.


Wajahnya masih terlihat segar saat Hamdani memberitahu waktunya tutup kedai, segera ia membereskan tempat itu dan berpamitan.


Sepanjang jalan ia berjalan dengan santai sampai tiba di depan rumahnya, saat itulah sebuah sepeda motor melaju dan berhenti tepat di depan rumah Amus.


"Kau baru pulang?" tanya Ratna melihat Amus yang masih memakai seragam sekolah.


"Oh, ya"


"Kenapa begitu larut?"


"Aku habis latihan dulu"


"Latihan apa?" tanya Ratna penasaran.


"Paskibra"


"Kau ikut paskibra?" tanya Ratna sambil berlari menghampiri.


"Me-memangnya kenapa?" ujar Amus bertanya balik dengan gugup sebab tindakan Ratna yang tiba-tiba mendekatinya.


"Wah... aku tidak menyangka anak bandel sepertimu mau ikut kegiatan seperti itu"


"Apa urusannya dengan mu?" bentak Amus.


"Tidak ada salahnya kan ikut kegiatan positif seperti itu? sudahlah! aku lelah mau istirahat" lanjutnya sambil berjalan masuk.


"Amus!" panggil Ratna.


"Semangat ya.... " ujarnya sambil mengepalkan tangan dan tersenyum.


Ekspresi Amus tetap cuek seperti biasa, membuat senyum Ratna menghilang dan pergi sambil menggerutu. Tapi setelah kepergian Ratna Amus tiba-tiba jingkrak kegirangan sambil tersenyum senang, hanya beberapa detik saja kemudian ia kembali bertingkah biasa lagi.


Esok harinya di sekolah ketua kelas memulai rapat mendadak untuk membahas lomba yang akan di adakan dalam rangka memperingati HUT RI, ia ingin kelasnya dapat berpartisipasi dengan baik bahkan keluar sebagai juara.


Lomba sepak bola antar kelas sudah pasti akan di adakan, selain itu ada juga lomba membaca puisi, cerdas cermat, dan lain sebagainya. Lomba berlangsung selama seminggu yang artinya selama itu mereka bebas dari pelajaran, di penghujung hari nanti akan menjadi puncak acara dimana akan ada seni pementasan.


"Dengar semuanya.... sekarang tinggal lomba puisi, siapa yang mau ikut serta?" tanya Galih sang ketua kelas.


Semua anak diam, tak ada yang berani dan mau mengangkat tangan sampai akhirnya Galih menunjuk Ratna.


"Kenapa aku?" tanya Ratna kaget.


"Sebagai bendahara seharusnya kau ikut berpartisipasi"


"Tugasku mengumpulkan uang kas" bantah Ratna.


"Setidaknya berilah contoh yang baik, kau ini teladan anak-anak yang lain"

__ADS_1


"Bicaralah dengan masuk akal, setidaknya memohonlah jika kau butuh bantuan ku" tukas Ratna dengan mata mendelik.


"Baiklah... Ratna yang cantik kau adalah satu-satunya harapan kami, kau mau kan ikut lomba itu?" ucap Galih dengan ekspresi seperti badut.


"Kau membuat ku jijik"


"Ayolah Na, tidak ada salahnya kan? kalah juga tidak apa-apa yang penting kelas kita ada perwakilan" bujuk Rere.


"Arrrhhhh..... baiklah... " jawab Ratna menyerah.


"Baik! karena semua sudah di putuskan aku harap kalian bersungguh-sungguh dalam mengikuti lomba ini" teriak Galih penuh semangat.


Tidak sulit tidak juga mudah membuat puisi dan membacakannya, Ratna punya pengalaman di SMP saat di beri tugas membuat musikalisasi puisi. Ia mendapat nilai bagus tapi bukan berarti kali ini ia juga bisa membuatnya dengan mudah, mengingat lomba ini di adakan untuk memperingati HUT RI meski tema puisi bebas tetap saja ia harus membuat tema dari HUT RI.


Ia memikirkan haruskah membuat tema perjuangan atau kebanggaan, pilihan ini terus muncul dalam benaknya hingga ia selesai bekerja.


Tttiiiiiittttt


Suara klakson kotor mengagetkannya di malam buta yang sepi, rupanya Amus tepat di belakangnya saat ia tinggal beberapa langkah lagi sampai di rumah.


"Bisakah kau berjalan lebih pinggir lagi? ini bukan jalan nenek moyang mu jadi jangan seenaknya!" teriak Amus.


"Berisik! kau hampir saja membuat jantung ku copot" balas Ratna.


"Apa yang kau lakukan? jika berjalan seperti itu di jalan raya sudah pasti kau akan tertabrak" omel Amus.


"Maaf... aku hanya sedang berfikir"


"Aku ikut lomba puisi dalam rangka memperingati HUT RI, aku sedang bingung puisi apa yang harus ku buat"


"Ah... hanya masalah itu saja kau sampai melamun di jalan, tanyakan saja pada master dia pasti bisa menjawab pertanyaan mu itu. Sudahlah minggir! aku mau masuk rumah"


"Benar juga, waktu itu aku sekelompok dengannya. Baiklah... besok aku akan bertanya" gumamnya sambil melangkah ke pinggir, membiarkan Amus melaju mendahuluinya.


Biasanya Ratna akan berangkat pagi sekali, tapi karena ia sudah berniat akan bertanya kepada Jimy maka hari itu sebelum berangkat sekolah ia menyempatkan diri ke rumah Jimy.


Ia mengetuk pintu dua kali sebelum Jimy membukanya, nampak Jimy sudah rapi dengan seragam sekolahnya namun sepertinya masih sarapan terlihat dari mulutnya yang sedang menguyah.


"Ada apa?" tanyanya.


"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan"


"Apa itu?"


"Um.... aku ikut lomba puisi di sekolah ku, menurut mu... puisi jenis apa yang harus ku buat nanti? aku hanya punya waktu dua hari lagi jadi bisakah kau merekomendasikan tema yang bagus?" ujar Ratna.


Jimy nampak bengong mendengar ucapan Ratna.


"Apa kau gila? sepagi ini berkunjung ke rumah ku hanya untuk menanyakan hal tidak penting?" omel Jimy.

__ADS_1


"Siapa bilang tidak penting? justru ini sangat penting, aku harus juara pertama karena itu tolong aku... " rengeknya.


"Ah... kau membuatku pusing di hari yang masih pagi, masuklah! kita pikirkan sambil sarapan" ajak Jimy.


Meski Ratna sudah sarapan di rumah tapi ia tetap masuk dan ikut makan meski hanya beberapa suap, Jimy merekomendasikan jenis puisi yang menceritakan perjuangan. Menurutnya itu lebih bagus dan mudah di terima apalagi di saat seperti ini, Ratna hanya tinggal membacakannya dengan penuh penghayatan saat lomba nanti.


Dengan bekal saran itu ia pun mulai di sibukkan dengan membuat puisi, di kelas maupun di tempat kerja pikirannya menjadi terbagi dua karenanya. Tinggal satu hari lagi menuju hari dimana lomba akan dilaksanakan, Ratna telah membuatnya tapi ia masih merasa puisi itu kurang bagus.


Tiiiiiitttt


Bunyi klakson di malam itu terdengar begitu nyaring terlebih lagi berada di tempat yang sempit, dengan wajah datangnya Amus menghentikan laju motornya tepat di belakang Ratna.


"Aish... kenapa kau suka sekali membunyikan klakson?" bentaknya.


"Kenapa kau suka sekali menghalangi jalanku?" balas Amus.


Ratna mengerutkan kening dan siap untuk menumpahkan amarah, tapi tiba-tiba dia menghela nafas dan bertanya.


"Apa latihan mu berat?"


"Hah? um.. itu.. lumayan" jawab Amus sedikit bingung.


"Apa kau kesulitan menghadapinya?"


"Tidak juga, kenapa?"


Hhhhhhhhh


"Aku hanya punya waktu satu hari lagi sebelum lomba itu di mulai, master memberiku saran yang baik dan aku sudah membuatnya tapi.... entah mengapa aku merasa puisi yang ku buat tidaklah bagus, aku merasa ada sesuatu yang kurang padahal kata temanku puisi ku sempurna."


Amus menatap wajah muram itu dengan seksama, ekspresi yang sering kali Ratna tunjukkan ketika dia sedang bingung.


"Karena kau bukanlah pejuang" ujar Amus.


"Maksudmu?"


"Bagaimana bisa kau mengerti perasaan para pejuang yang gugur di medan perang jika kau sendiri tidak pernah merasakan berperang, hanya melihat dari film atau membaca dari buku tidak akan memberimu perasaan mereka. Itu hanya membuatmu tahu seberapa besar pengorbanan mereka bukan setegar apa hati mereka, kau berhasil membuat puisi yang bagus karena kau tahu perjuangan mereka tapi kau tidak bisa menuangkan perasaan mereka ke dalamnya. Yah.... kira-kira seperti itu, mungkin karena itu kau merasa ada yang kurang"


"Lalu... aku harus bagaimana?"


"Jika di tanya seperti itu aku juga tidak bisa menjawab dengan pasti sebab kita sudah merdeka jadi tidak mungkin melawan penjajah, tapi mungkin kita bisa melawan masalah kita sendiri. Anggap saja dirimu pejuang dan masalah mu penjajah"


"Ah... itu... " gumam Ratna yang tiba-tiba teringat masa lalunya.


Ia bukan pejuang yang berani mati demi kemerdekaan, tapi ia pernah berjuang demi kehidupan yang lebih layak.


"Benar juga... " ucapnya.


"Baiklah... aku akan berjuang"

__ADS_1


"Mm, mari berjuang" timpal Amus.


__ADS_2