Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 28 Ujian Semester Satu


__ADS_3

Satu minggu berlalu begitu saja, meski ini ujian semester tapi Ratna masih bisa tenang dan menghadapinya dengan penuh percaya diri. Sebab ia yakin hasil kerja kerasnya dan les yang ia dapat telah memberikan kemajuan terhadapnya.


Dalam ujian ini mulai dari kelas satu sampai tiga di acak sehingga mereka dalam satu ruang ujian akan ada anak kelas satu, dua dan tiga. Ratna sendiri mendapatkan ruang nomor tiga, dimana dia terpisah dengan gengnya.


Hari senin dimana ujian pertama di mulai cukup membuat gugup juga sebab pengawas ruangan tak bisa diam, ia terus hilir mudik melihat peserta ujian yang mencoba mengisi lembar jawaban.


Meski begitu Ratna cukup senang sebab karena sedang ujian ia bisa pulang lebih cepat dari biasanya, sebelum pukul dua belas siang dia sudah di rumah bersantai di kursi depan.


"Kau terlihat senang, apa kau bisa menjawab semua soal itu?" ujar Amus yang tak sengaja melihatnya.


"Meski ada beberapa soal yang cukup susah tapi aku yakin hasilnya cukup memuaskan nanti, kau sendiri bagaimana?"


"Sama seperti mu"


"Benarkah? kau kan pintar pasti bisa menjawab semuanya" ujar Ratna cukup kaget.


"Aku tidak sepintar itu, mungkin kau yang sudah berkembang lebih baik"


"Oh..... terimakasih atas pujiannya" ujar Ratna riang.


"Aku tidak memujimu! jangan besar kepala, maksudku kak Angga sudah berhasil membuatmu sedikit pintar" ucap Amus cepat untuk menutupi groginya.


"Baiklah, baiklah aku akui memang kak Angga pandai mengajar. Eh ngomong-ngomong liburan nanti kau mau pergi kemana?"


"Entahlah aku tidak pernah pergi kemana pun saat liburan"


"Aku juga sama, tapi setidaknya aku ingin bersenang-senang saat liburan nanti" gumam Ratna sambil menyandarkan tubuh pada kursi.


Amus menatap mata Ratna yang melanglang buana entah kemana, mungkin tempat-tempat indah dan keren yang sulit di capai.


"Selesaikan dulu ujiannya dengan baik setelah itu kita bisa berfikir akan menghabiskan waktu kemana" ujar Amus.


"Kau benar, kita harus fokus dulu pada ujian" balas Ratna setuju.


Hari kedua ujian semester satu, seperti biasa Ratna masuk ke dalam ruangan untuk bersiap lima menit sebelum waktunya. Namun rasa percaya dirinya hilang saat ia sadar kotak pensil yang ia bawa salah, ia malah membawa kotak pensil warna.


Kepanikan membuatnya bingung seketika dan tak tahu harus berbuat apa sampai pengawas datang membawa lembar soal ke dalam ruangan, bergegas ia menghampiri pengawas dan bicara.


"Pak, maaf... saya salah membawa kotak pensil, bisakah... saya pulang dulu dan membawanya? rumah saya tidak jauh hanya beberapa kilometer saja"


"Aish... kenapa kau sangat teledor, baiklah aku akan memberikan lembar soal setelah kau membawa kotak pensil mu"


"Terimakasih! aku akan kembali dengan cepat" ujarnya senang.


Dengan cepat ia segera berlari keluar ruangan, melewati pos satpam menuju jalan raya. Panik dan takut membuat setiap langkahnya diiringi dentuman jantung yang sangat kencang, mengejar waktu seakan ia akan mati di lahapnya.


Bruk


Aw.....


Tanpa memperhatikan langkah ia tersungkur hingga seluruh tubuhnya menghantam tanah, rasa perih di tangan dan lututnya sempat menghambat tapi tak ada waktu untuk meratapi.


Ia kembali berlari hingga sampai di rumah, segera di ambilnya kotak pensil yang benar dan kembali berlari ke sekolah.


Beruntung ia hanya terlambat selama lima belas menit saja, pengawas dengan cepat memberinya lembar soal dan jawaban ketika Ratna sudah duduk di bangkunya.


'Tarik nafas...... hembuskan....' batinnya mengontrol diri.


Perlahan ia mengambil pensil dan mencoba menulis namanya, namun tangannya bergetar begitu hebat hingga tak mampu di pakai untuk menulis.


"Sial! jika begini kapan aku bisa mengerjakan soalnya?" bisiknya mengutuk diri sendiri.


Beberapa kali ia mencoba menarik nafas lagi sampai bisa tenang dan menghilangkan gemetar di tangan, akhirnya setelah beberapa menit yang menyiksa ia bisa tenang dan mulai mengisi lembar jawaban meski akibat kepanikannya ia menjadi sulit berkonsentrasi.


Satu demi satu soal ia jawab sebisa mungkin sambil melihat jam yang seakan mengoloknya, hingga pada akhirnya waktu ujian pun selesai.


"Ah.... mati aku! semoga aku tidak diramedial" gumamnya penuh harap.


Dalam satu hari mereka harus menyelesaikan ujian dalam empat mata pelajaran, di pelajaran pertama Ratna tak begitu yakin akan mendapatkan nilai memuaskan akibat kelalaiannya tapi ia berjanji akan lebih teliti lagi di pelajaran yang lain hingga ujian hari itu selesai.


"Kenapa jalan mu pincang?" tanya Ardi saat pulang sekolah.


"Oh, aku tadi jatuh"

__ADS_1


"Ah... kau ini selalu saja ceroboh, memang apa yang kau lakukan sampai bisa terjatuh?" tanya Amus mulai emosi.


"Aku salah membawa kotak pensil jadi aku berlari pulang untuk mengambilnya, dalam perjalanan itulah aku terjatuh"


"Astaga kenapa kau tidak bilang padaku? aku membawa cadangan pensil" ujar Jimy.


"Aku tidak tahu, lagi pula aku terlanjur panik sampai tidak bisa berpikir jernih. Aku rasa juga di pelajaran pertama nilai ku tidak akan bagus, karena panik otak ku tidak bisa berfikir"


"Ah... lihatlah lututmu sampai luka seperti itu, kemari! berpegangan padaku" ujar Ardi menyodorkan tangannya.


Ratna sempat melirik Amus melihat uluran tangan itu, ia akui meski bibirnya berkata pertemanan jauh lebih baik tapi dalam beberapa kesempatan ia selalu ingin Amus lah yang memberikan perhatian.


"Terimakasih" jawab Ratna menyambut uluran tangan itu.


Tapi entah mengapa justru Ardi yang memberikan hal itu, perhatian-perhatian kecil yang ia dambakan.


"Tunggu di sini biar ku bawakan obat" ujar Jimy setelah mereka tiba di rumahnya untuk mengobati luka di lutut Ratna.


"Ini!" ujar Jimy yang kembali dengan kotak P3K.


"Kau ini mudah sekali panik, lain kali tenangkan dulu dirimu lalu berfikir jernih lah" omel Amus.


"Aku tahu... " rengek Ratna.


"Sudah! dengan begini lukanya akan cepat kering dan sembuh" ujar Ardi yang selesai memberikan pengobatan.


"Terimakasih, aku pulang dulu"


"Kau ingin ku bantu?" tanya Ardi.


"Tidak perlu! rumah ku sudah dekat" jawab Ratna mencoba berjalan meski pincang.


Selangkah demi selangkah yang cukup merepotkan hingga ia tiba di depan rumah tanpa menyadari seseorang yang terus berjalan tepat di belakangnya hanya untuk memastikan ia pulang dengan selamat.


Akibat keteledorannya ia sadar harus bangun lebih pagi agar tidak terlambat masuk kelas, sebab kecelakaan kemarin membuatnya tak mampu berjalan dengan cepat.


"Ayah aku pergi dulu" teriak Ratna sambil berjalan keluar rumah.


"Kau yakin tidak apa-apa? ayah bisa mengantar mu pakai sepeda" ujar Sapardi yang khawatir.


Meski masih pincang tapi kini ia bisa berjalan dengan lebih baik, langkah yang tenang dan perlahan menyusuri jalan sampai tiba di sekolah.


"Ratna!" panggil Mita yang segera berlari menghampirinya.


"Kenapa jalan mu seperti itu?" tanyanya heran.


"Aku jatuh kemarin sampai lututku sakit"


"Lalu bagaimana sekarang? apa masih sakit?" tanya Mita khawatir.


"Sedikit, tapi sudah lebih baik"


"Syukurlah... ayo biar ku bantu masuk ke dalam kelasmu"


"Terimakasih" ujar Ratna yang tertolong.


"Um.... apa kau sedang berkelahi lagi dengan Amus?" tanya Mita tiba-tiba setelah mereka masuk kelas.


"Kau bercanda? setiap hari kami berkelahi tapi pagi ini kami belum bertemu jadi hari ini kami belum berkelahi"


"Bukan itu maksudku bertengkar hebat, pertengkaran yang membuat kalian tidak bicara satu sama lain"


"Um... tidak, kenapa?" tanya Ratna bingung.


"Aku hanya penasaran saja, sebab tadi aku lihat Amus berjalan tepat di belakang mu jadi aku pikir kalian sedang bertengkar hingga tidak berjalan bersama."


Ia tertegun mendengar ucapan Mita, cukup heran juga karena ia tak tahu sejak kapan Amus berjalan di belakangnya dan bingung mengapa ia tak menyapanya. Pikiran negatif pun melintas di benaknya saat teringat peristiwa kemarin dimana ia menerima batuan Ardi.


"Ratna!" panggil Mita kencang membuyarkan lamunannya.


"Ma-maaf, kau bicara apa tadi?"


"Apa yang kau pikirkan? apa... kau memikirkan Amus?" tebak Mita.

__ADS_1


"Ti-tidak! kenapa aku harus memikirkan dia?" jawabnya gugup.


"Kau.... menyukai Amus" ujar Mita meneliti wajah Ratna yang tersipu malu.


"A-aku... aku... ah kenapa kau tiba-tiba menjengkelkan seperti ini? tidak seperti biasanya"


"Hahaha kau tidak pandai berbohong" ujar Mita yang tahu tebakannya benar.


"Maksudmu apa? memang aku berbohong soal apa?" sergah Ratna.


"Ah benar juga kau tidak menampiknya, dengan begitu semuanya memang benar"


"Kau menyebalkan! aku tidak mau bicara lagi padamu" ujar Ratna memalingkan wajah sedang Mita tertawa dengan senangnya.


"Bibirmu bisa saja berkata bohong, tapi tidak dengan matamu. Kau langsung salah tingkah saat aku membicarakan perasaan, kau juga langsung tertegun mendengar namanya. Kau sering kali berkelahi dengannya bisa saja itu perbuatan yang di sengaja agar kau mendapatkan perhatiannya."


Serapat apa pun ia menutup hati tapi terlalu tipis hingga mudah koyak dan terbuka, beberapa bulan yang terkadang terasa menyiksa sebab menyimpan harapan yang jelas tidak pasti. Perlahan Ratna mengangkat wajah menatap Mita dengan memperlihatkan harapan itu.


"Aku harus berkata apa? perasaan ku bertepuk sebelah tangan, jika ku ungkapkan pun hanya kesedihan yang ku dapat. Oleh karena itu pertemanan lebih baik dari hubungan apa pun" ujarnya.


"Kau tahu dari mana kalau cintamu bertepuk sebelah tangan?" tanya Mita.


"Jika memang dia menyukaiku tidak mungkin dia membuat aku pacaran dengan Jaya"


"Maksudmu... Amus yang jadi mak comblang kalian?" tanya Mita kaget.


Ratna menganggukkan kepala untuk membenarkan ucapan itu.


"Aku tidak percaya ini, ku pikir Amus juga menyukaimu sebab sering kali ku lihat diam-diam dia mencuri pandang padamu"


"Amus melakukan itu?" tanya Ratna kaget.


"Ya, aku sering mendapati dia memperhatikan mu saat jam pelajaran. Ah... begini saja, setelah selesai ujian kau harus menyatakan cinta mu agar kita tahu kebenarannya" usul Mita.


"Mana bisa seperti itu? aku tidak punya keberanian untuk melakukannya"


"Tapi jika kau tidak melakukannya kau tidak akan pernah tahu isi hatinya terhadapmu."


Ratna cukup di buat berpikir keras akan hal ini, sebagai orang yang sedang di mabuk cinta bahkan ia sanggup membuat spanduk untuk mengumumkan seberapa besar cintanya itu. Hanya satu hal yang ia takut kan, yaitu mendengar penolakan.


"Aku hanya bisa menyarankan selebihnya kau yang memutuskan, aku kembali ke kelas ku dulu" ujar Mita berpamitan.


Sial bagi dirinya mengapa harus memikirkan hal semacam itu di saat sedang ujian, tanpa ia sadari ucapan Mita telah mempengaruhi otaknya hingga sulit untuk fokus pada ujian.


Setelah mengerahkan segala tenaganya untuk berfikir Ratna berjalan pulang tanpa energi, menyusuri jalan yang hampir lenggang.


Puk


"Jangan melamun di jalan, nanti kau malah celaka lagi" ujar Amus yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.


Ratna hanya bisa menatap sambil mengusap pelan kepalanya yang di pukul pelan, tiba-tiba ia teringat ucapan Mita tadi pagi yang membuatnya tak sanggup menatap Amus.


"Ada apa denganmu?"


"Tidak apa-apa" jawab Ratna pelan.


"Apa kau sakit?" tanya Amus sambil menempelkan tangannya di jidat Ratna.


Sentuhan tiba-tiba itu membuat jantung Ratna berdegup dengan kencang, akhirnya Amus menunjukkan perhatian yang ia inginkan selama ini.


"Tidak panas, apa ini karena sakit di lututmu yang membuatmu jadi pendiam?" tanya Amus.


"Haruskah aku jadi gadis pemarah setiap bertemu dengan mu? aku hanya lelah" omel nya.


"Baiklah, naik ke punggungku" ujar Amus yang tiba-tiba jongkok di depan Ratna.


"Ka-kau sedang apa?" tanya Ratna kaget.


"Kau bilang lelah, biar aku gendong sampai rumah. Cepatlah sebelum aku berubah pikiran" jawab Amus.


Haru campur senang membuat Ratna menurut dan tersenyum selama di perjalanan, menimbang kembali ucapan Mita dalam gedongan Amus.


Berfikir apakah benar cintanya bertepuk sebelah tangan sebab dalam beberapa peristiwa Amus selalu menjadi orang pertama yang selalu ada saat ia butuh, kadang ia pun merasakan bahwa Amus memiliki perasaan yang sama dengannya.

__ADS_1


Namun lagi-lagi ia takut semua itu hanya perasaan ciptaannya sendiri, ia takut semua kebaikan Amus hanyalah solidaritas sebagai teman sejak kecil. Bagaimana pun ia akan memutuskan, ia akan menyiapkan hati untuk mengungkapkan isi hatinya dan mendengarkan jawaban apa pun dari Amus.


Sebelum itu ia harus kembali menyiapkan hati untuk melanjutkan ujian yang tinggal beberapa hari saja, ia tak mau momen pernyataan cintanya rusak gara-gara ramedial.


__ADS_2