
Tahun ajaran baru telah di mulai, menyandang status kaka kelas membuat Ratna cukup berbangga terlebih kini ia kembali di pilih sebagai bendahara di kelas barunya. Begitu pun dengan Rere yang kembali menjadi sekertaris, sedang untuk ketua kelasnya sendiri seorang anak laki-laki bernama Seno.
Kelas 2 IPS-2 adalah kelasnya dengan jumlah murid 53 orang, Ratna bertemu lagi dengan beberapa teman yang dulu satu kelas dengannya sewaktu di kelas 1.Tapi kebanyakan dari mereka adalah murid kelas lain yang belum Ratna kenal sehingga ia mulai berkenalan lagi.
Satu pekan berlalu semuanya lancar begitu saja, tidak ada yang aneh, tidak ada yang spesial juga tidak ada yang baru. Tapi setelah satu pekan itu datang murid baru yang membuatnya cukup kaget, dia seorang anak laki-laki yang telah ia kenal sebelumnya.
"Anak baru tuh Na, mau deketin gak?" tanya Rere menatapnya.
"Aku tidak akan pernah mendekatinya kecuali urusan pelajaran" jawab Ratna.
Beberapa murid laki-laki mendekatinya dan mengajaknya bicara, ia terlihat santai dan cepat membaur tanpa menyadari ada Ratna yang memperhatikannya.
"Anak-anak keluarkan buku pelajaran kalian" ujar seorang guru sambil masuk ke dalam kelas.
Seketika semua murid duduk dengan rapi dan mengeluarkan buku pelajaran mereka.
"Kali ini bapak akan berikan tugas kelompok, bapak yang akan buat kelompoknya dan kalian tidak boleh protes"
"Baik pak!" jawab murid-murid itu kompak.
Guru itu mulai menulis setiap kelompok di papan tulis, melihat nama Rere dan Ratna satu kelompok mereka cukup senang karena memang akan lebih mudah mengerjakan tugas bersama orang di kenal.
"Sudah semua, apa ada yang belum kebagian kelompok?" tanya pak guru.
Seorang murid baru mengangkat tangan, tentu ia belum kebagian kelompok karena namanya belum tercantum di buku absen.
"Siapa namamu?" tanya pak guru.
"Jaya pak"
"Oh sebentar, kalau begitu... um.... bapak masukan kamu ke kelompok Ratna"
"Kenapa harus kelompok aku?" tanya Ratna memprotes.
Saat itulah Jaya sadar bahwa nama Ratna yang ada di papan tulis adalah orang yang pernah memiliki hubungan spesial dengannya, Jaya cukup terkejut mengetahui hal itu karena ia tak pernah menduga akan bertemu lagi dengannya bahkan satu kelas.
"Kelompok kamu yang jumlah orangnya paling sedikit, sudah jangan protes! kita mulai pelajarannya" ujar pak guru.
"Sebaiknya kau hati-hati kawan, aku satu kelas dengan Ratna sewaktu di kelas satu jadi aku paham betul bagaimana sifatnya" bisik seorang murid di belakang bangku Jaya.
"Kamu kenapa gak mau satu kelompok sama anak baru?" tanya Rere setelah pelajaran usai.
"Dia orang yang menyebalkan, berandalan dan tidak kompeten" jawab Ratna dengan pandangan benci.
Sepulang sekolah kelompok Ratna mengadakan rapat mendadak hanya untuk menentukan tempat dan waktu pengerjaan tugas mereka, bagi Ratna hal itu harus segera di putuskan dengan baik karena dia tidak punya banyak waktu luang.
"Baiklah semuanya sudah di putuskan, hari Rabu pulang sekolah di rumah Rere. Pokoknya semua harus hadir kalau nggak aku keluarin dari kelompok" ujar Ratna mengumumkan.
"Oke kalau begitu kita udah boleh pulang ya?" tanya salah satu temannya.
Ratna mengangguk dan mereka pun bubar, Ratna sendiri segera pergi sebab ia sudah terlambat datang ke kedai. Sepanjang jalan yang ia lalui ternyata sama dengan Jaya, tanpa menghiraukan Jaya yang berada tepat di belakangnya ia terus berbelok untuk mengambil jalan pintas.
Melihat Ratna yang hilang di belokan ia cukup kaget juga sebab ia baru ingat bahwa itu bukan arah ke rumahnya.
"Mau kemana dia?" gumam Jaya sambil berfikir.
Esok harinya Jaya kembali menemukan Ratna mengambil jalan yang sama dan hilang di belokan, kali ini ia cukup penasaran sehingga untuk yang ke tiga kalinya ia dengan sengaja mengikuti Ratna.
"Di-dia... bekerja di sana?" ujar Jaya kaget setelah melihat Ratna masuk ke kedai dan mengganti pakaiannya.
Ia terlihat gesit mengerjakan semua pekerjaan itu dan nampak ramah saat melayani pelanggan, hal itu membuatnya teringat pada pertemuan pertama mereka. Tak heran jika kini ia bisa bekerja sambil sekolah, sejak awal Jaya memang sudah tahu sifat Ratna yang pekerja keras dan pemberani.
Tiba di hari rabu dimana mereka sudah janjian untuk mengerjakan tugas sekolah, kelompok Ratna secara bersama pergi ke rumah Rere. Orangtua Rere sangat baik dan membebaskan mereka agar tidak sungkan, mereka di suguhkan biskuit dan jus jeruk agar lebih semangat dalam mengerjakan tugas.
"Baiklah pertama kita tentukan kampungnya, sebagai warga menurut mu kita harus pergi ke mana?" tanya Ratna.
"Kampung Naga, jaraknya tidak terlalu jauh sehingga bisa kita capai dengan berjalan kaki. Menurut ku itu kampung yang bisa kita jadikan bahan dari tugas kita" jawab Rere.
"Kau kenal kepala desanya?" tanya Jaya.
"Kita bisa cari tahu nanti" jawab Rere.
Setelah membuat daftar pertanyaan mereka pun mulai pergi, pertama untuk mencari tahu rumah kepala desanya lalu mengajukan pertanyaan yang telah mereka siapkan.
Semua pertanyaan itu seputar sejarah kampung mulai dari alasan diberikannya nama tersebut hingga hal-hal unik yang hanya ada di kampung tersebut, kepala desa hanya mengajak mereka berkeliling kampung sambil menjelaskan sampai sore hari dan tugas mereka masih belum selesai.
Untuk itulah mereka akan kembali besok lagi sepulang sekolah, Ratna dan teman-temannya berpamitan dengan Rere sebelum pulang, tak lupa juga berterimakasih kepada orangtua Rere yang sudah menyambut mereka sebagai tamu.
__ADS_1
"Kau mau kemana?" tanya Jaya melihat Ratna yang jalan sendiri.
"Tentu saja pulang"
"Jalan kaki? bukankah ini sudah malam?"
"Aku bisa menggunakan jalan pintas, selama aku mengambil libur aku tidak memiliki pemasukan sama sekali karena itu aku harus berhemat" jawab Ratna sambil terus berjalan.
"Tunggu!" teriak Jaya.
Ratna menurut dan tanpa di duga Jaya berjalan ke arahnya lalu memberikannya sejumlah uang.
"Akan butuh waktu lama untuk sampai ke rumah mu" ujarnya.
"Aku tidak mau berhutang padamu"
"Aish..... kau menyebalkan seperti biasanya, dengar! aku mungkin buruk di matamu tapi sebagai laki-laki aku tetap tidak bisa membiarkan seorang gadis pulang sendirian saat hari sudah malam" ujar Jaya dengan nada tinggi.
Mungkin Jaya memang berandalan, tapi sebagai orang yang pernah memiliki hubungan Ratna tahu ia memiliki sisi baik juga.
Esoknya mereka kembali ke kampung itu untuk melanjutkan tugas kelompok yang sempat tertunda, kali ini kepala desa mengajak anak-anak itu untuk ikut bergabung dalam kegiatan masyarakat yaitu mengolah sampah menjadi benda yang bernilai.
Para anak laki-laki bertugas mengumpulkan sampah sedang yang perempuan membersihkannya, kebanyakan sampah yang ada adalah plastik dan botol.
Di kampung itu mereka belajar membuat tas belanja dari sampah plastik, ada juga pot dan bunganya yang masih berdasar sampah plastik.
"Biar aku yang angkat" ujar Jaya melihat Ratna mencoba mengangkat satu keranjang penuh sampah plastik yang sudah ia cuci.
"Tidak perlu, ini ringan ko" jawab Ratna yang tetap mengangkat keranjang itu.
Aaaaaaaaa......
Bruk
Plastik-plastik itu berhamburan ke tanah sebab kaki Ratna yang kepeleset, namun tubuhnya berhasil di tangkap oleh Jaya yang berada tepat di sampingnya. Dalam hitungan detik itu mereka saling bertatapan sampai salah satu dari teman mereka bersorak.
"Ciee....... " sahut yang lain melihat betapa mesranya mereka.
"Te-terimakasih" ujar Ratna yang segera bangkit.
Mereka kembali pada pekerjaan masing-masing meski masih menertawakan Jaya yang menjadi salah tingkah, saking gugupnya bahkan Jaya sampai membuat kesalahan dengan menyenggol botol-botol bekas yang sudah di susun rapi.
Hahahaha
"Ada apa dengan mu?" tanya Ratna sambil membantu Jaya memungut botol-botol itu.
"A-aku tidak apa-apa" sahut Jaya meski jelas ia semakin gugup.
"Ckck ternyata kau lucu jika sedang gugup" ujar Ratna yang tak bisa berhenti tertawa.
Sejenak Jaya menatap wajah manis itu, masih segar dalam ingatannya bagaimana hatinya bisa terpaut padahal saat itu mereka belum kenal lama. Ia menggeleng malu mengingat kebodohannya yang menulis surat cinta, jika di pikir lagi itu sangat memalukan.
Dengan penuh perjuangan akhirnya pekerjaan mereka selesai, tak hanya itu tugas kelompok mereka juga sudah selesai. Dengan begini kelompok mereka bisa menyerahkan hasilnya kepada guru dan bebas, untuk merayakan keberhasilan itu sebelum pulang mereka menyempatkan diri untuk mengabadikan momen itu ke dalam sebuah foto.
"Aaah.... akhirnya aku bisa bekerja lagi" ujar Ratna dalam perjalanan pulang.
"Sepertinya kau merasa sangat rugi jika tidak pergi bekerja" komentar Jaya.
"Tentu saja, aku kehilangan dolar ku" sahut Ratna.
Huft hahahaha
"Kenapa?" tanya Ratna melihat Jaya yang tiba-tiba tertawa.
"Sepertinya gelar gadis dolar itu sudah melekat padamu" jawabnya.
"Bukan urusanmu" ujar Ratna sambil cemberut.
Mereka kembali berjalan menyusuri trotoar, kadang sambil mengobrol kadang sambil berkelahi. Tapi pada akhirnya mereka tertawa lagi dan bicara lagi seperti biasa sampai tanpa terasa mereka sudah dekat dengan rumah Ratna.
"Kita berpisah di sini" ujar Jaya karena memang jalan ke rumahnya berbeda arah.
"Baiklah, hati-hati di jalan"
"Seharusnya aku yang mengatakan itu, ini sudah malam!" ucap Jaya yang hanya di tanggapi oleh senyuman.
"Sampai jumpa besok!" ucap Ratna sambil mengangkat satu tangannya.
__ADS_1
"Ratna!" panggil Jaya tiba-tiba.
"Ya?" tanya Ratna menghentikan langkahnya.
Jaya berjalan menghampiri dan berdiri tepat di hadapan Ratna.
"Hari ini sangat menyenangkan, terimakasih untuk itu. Dan..... aku minta maaf karena pernah membuatmu menangis, saat itu aku hanya anak SMP yang penuh ego dan haus perhatian jadi aku harap kau mau memaafkan ku" ujarnya pelan.
"Kita semua pernah membuat kesalahan, tidak masalah" jawab Ratna.
Mereka saling tersenyum kemudian berpisah dengan mengambil jalan ke rumah masing-masing.
* * *
"A-apa itu?" gumam Ratna syok.
Bruk
"Apa yang kau lakukan? kenapa diam di tengah jalan?" hardik Jaya yang tak sengaja menabrak Ratna.
Perlahan tangan Ratna menunjuk ke depan, Jaya pun mengikuti arah telunjuk Ratna dan ikut terpaku menatap apa yang tertulis di papan tulis. Seseorang, entah siapa telah menuliskan namanya dengan Ratna sedang di tengah kedua nama itu ada tanda cinta.
Beberapa murid di kelas itu saling berbisik menggosipkan mereka berdua yang kemarin terlihat mesra, bahkan tersiar rumor bahwa mereka tengah pacaran diam-diam.
Ratna dan Jaya saling menatap tapi kemudian mereka tertawa bersama yang membuat satu kelas malah heran, dengan santai Ratna menghapus tulisan di papan tulis itu sedang Jaya duduk di kursinya.
"Wah... sepertinya kalian sudah berani mempublikasikan hubungan kalian" ujar seseorang.
"Apa pun rumor yang kalian gosipkan tentang aku dan Jaya itu tidak akan mempengaruhi kami sebab sebenarnya kami sudah putus" jawab Ratna.
"Apa?" teriak mereka kaget.
"Sejak kapan kalian putus?"
"Lalu kalian sudah pacaran berapa lama?"
"Kenapa kalian putus?"
Berbagai pertanyaan merundung Ratna dan Jaya sampai Kelas itu menjadi gaduh, Ratna membuat isyarat dengan tangan agar mereka diam dan menjawab semua pertanyaan itu.
"Kami pacaran saat kelas 3 SMP, hubungan kami hanya berlangsung beberapa bulan saja kemudian putus"
"Benarkah? lalu apa Jaya pindah kemari karena ingin baikan dengan mu?" tanya Rere penasaran.
"Itu tidak benar!" teriak Jaya.
"Aku pindah karena sebelumnya bermasalah dengan sekolah ku yang lama, aku juga baru tahu kalau Ratna sekolah di sini karena semenjak putus kami sudah tidak berhubungan lagi" lanjutnya menjelaskan.
"Kenapa kalian putus?"
"Karena dia selingkuh dengan wanita lain" jawab Ratna sambil menunjuk.
He.....
Teriak anak-anak itu tak menyangka, merasa disudutkan Jaya bicara sebagai pembelaan.
"Kau yang mulai duluan dengan mengacuhkanku, bayangkan pria mana yang tidak sakit hati saat pacarnya lebih mementingkan teman prianya?"
"Kenapa kau mengungkitnya lagi? kau sendiri tahu sebelum aku pacaran dengan mu aku sudah berteman dengan Amus dan yang lain" balas Ratna dengan kesal.
"Tapi setidaknya kau bisa menghargai sedikit perasaan ku, kau harusnya lebih memprioritaskan ku sebagai pacar"
"Aku sudah melakukan yang terbaik, kau memintaku datang ke pesta ulang tahunmu sendiri dan aku melakukannya!"
"Ya! dan jika tidak aku perintahkan kau pasti tidak akan datang sendiri, kau pasti akan lebih memilih Amus dan yang lain. Buktinya kau pergi ke taman bermain dengan teman-teman mu, bukan dengan ku padahal aku pacarmu"
"Kau sendiri pergi dengan gadis lain!"
"Sudah jelas kan itu karena kau pergi dengan teman-teman mu"
"Ah, pacar macam apa kau yang ingin di mengerti tapi tidak bisa mengerti orang lain?"
"Jangan membuat alasan lagi!"
Pertengkaran hebat antara Ratna dan Jaya masih berlangsung dengan saling mengungkapkan kekesalan mereka sebagai kekasih, tanpa mereka sadari terungkap sudah alasan di balik putusnya hubungan mereka dan bagaimana kisah cinta mereka.
"Aku yakin seperti itulah mereka putus" gumam Rere yakin sambil menatap pasangan itu.
__ADS_1