Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 62 Pernyataan Cinta


__ADS_3

Seorang pria setengah baya berjalan menghampiri mereka, dari raut wajahnya tersirat ketidaksukaan melihat para pemuda itu.


"Dimana rasa hormat kalian? anak jaman sekarang sungguh tidak punya sopan santun" hardiknya.


"Hei pak tua! jangan sok bijak di hadapan kami. Jika ingin ceramah pergilah ke masjid" sahut salah satu dari mereka yang kemudian di sambung cibiran oleh yang lain.


"Tidaklah kalian belajar etika saat di sekolah? beginikah cara bicara dengan orangtua?"


"Alah... banyak omong! mari cantik, kita pergi ke tempat yang lebih sepi"


"Hei!" teriak pria itu saat salah satu tangan dari pemuda itu mengelus dagu Rere.


"Dasar tua bangka!" erang pemuda.


Buk Buk Buk


Aaaaaahhhh.....


Pukulan demi pukulan melayang dari tinju para pemuda itu, bagi pria yang umurnya sudah tidak muda lagi tentu hal yang sulit melawan banyak orang.


Ia hanya bisa menangkis sebisanya dan memukul meski tak banyak yang kena.


"Berhenti... " teriak Rere tak tega melihat pria itu mulai ambruk.


Dengan modal tas di tangan ia mencoba membantu sebisanya namun.


Aaaaaaa.....


Bruk


Kekuatan mereka tak seimbang, hanya dengan satu dorongan Rere sudah terjatuh tanpa bisa bangkit dengan cepat.


Tiiiiiinnuuuuuuu tiiiiiiiinnnnnnnuuuuuu.....


Tiba-tiba suara sirine membuat mereka terdiam, semakin di dengar suara itu semakin kencang yang membuat nyali gerombolan pemuda itu ciut. Dengan pontang panting mereka lari meninggalkan pria yang habis mereka keroyok dan Rere yang belum bisa bangkit.


Rere sendiri cukup kaget mendengar suara itu, ia mencari-cari dimana mobil polisinya tapi yang ia lihat justru Jimy yang sembunyi di balik pot besar. Suara sirine yang mereka dengar ternyata adalah ulah Jimy, entah bagaimana caranya ia bisa menirukan bunyi sirine dengan suaranya.


"Pak, anda tidak apa-apa?" tanya Rere membantu pria itu bangkit.


Setelah dirasa cukup akan barulah Jimy keluar dari tempat persembunyian dan membantu mereka, Jimy membawa pria itu ke klinik terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama.


"Terimakasih, padahal niat ku hanya menegur mereka agar tidak mengganggumu tapi yang terjadi malah di luar dugaan" ujar pria itu setelah menerima pengobatan.


"Seharusnya aku yang berterimakasih, bapak sudah menolongku. Entah apa jadinya jika bapa tidak datang saat itu" balas Rere.


"Sebaiknya bapak hati-hati, anak-anak jaman sekarang memang seperti itu" ucap pula Jimy.


Mereka mengobrol sebentar sebelum akhirnya berpisah, Jimy sendiri kini berjalan menemani Rere.


"Terimakasih" ucap Rere.


"Apa?" tanya Jimy yang sempat melamun.


"Aku tahu kau yang membuat suara sirine itu" jawab Rere yang membuat Jimy tertunduk malu.


"Aku tidak berbuat banyak, jujur aku tidak bisa berkelahi jika tidak dengan dua temanku. Saat melihat kejadian tadi rasanya aku ingin memukul mereka, tapi aku tahu pada akhirnya aku juga akan habis di keroyok" akuinya.


"Menurut ku apa yang kau lakukan lebih hebat dari pahlawan di cerita romansa, kau menggunakan otakmu bukan ototmu dan itu lebih keren" puji Rere yang membuat Jimy lebih malu lagi.


Kini ia sudah mendapatkan satu kartu, dengan kartu inilah Jimy mulai merubah caranya untuk mendekati Rere. Ia lebih membuka diri dan hal itu cukup berhasil, Rere pun kini selalu membicarakan tentang Jimy kepada Ratna.


"Ah.... kisah cinta yang manis sesuai dengan keinginan mu" komentar Ratna.


"Apa maksud mu? kami hanya berteman" ucap Rere dengan wajah merona.


"Semua memang berawal dari teman, kau sendiri tahu dia menyukaimu"


"Meski begitu hubungan diantara kami tetaplah teman, selama dia belum menyatakan cintanya padaku maka sampai saat itu hubungan inilah yang terjalin diantara kami"


"Lalu kau ingin dia menyatakan perasaannya seperti apa? kau ingin di berikan bunga, coklat atau balon?"


"Aku tidak akan menjawabnya, biarkan dia berfikir sendiri" jawab Rere yang sadar bahwa Jimy akan mengambil keuntungan dari Ratna.


"Baiklah, aku mengerti" ucap Ratna.


Apa yang di terka Rere menang benar, setiap hari Jimy selalu menanyakan tentang Rere meskipun ia memiliki nomor ponselnya. Diam-diam mereka selalu bicara berdua dan pergi berdua hanya untuk membahas perkembangan hubungannya dengan Rere.

__ADS_1


Hal itu tanpa di sadari membuat Ardi dan Amus curiga, terlebih Jimy jadi sering mengunjungi Ratna di kedai sampai pulang bersama.


"Menurut mu apa mereka menyembunyikan sesuatu dari kita?" tanya Ardi.


"Dilihat dari gelagatnya sepertinya begitu" jawab Amus.


"Menurut mu kira-kira apa yang mereka sembunyikan?"


"Aku juga tidak tahu" akui Amus.


Kedekatan antara Ratna dan Jimy yang tiba-tiba tidak seperti biasanya itu mengandung kecurigaan lebih bagi Amus, tentu saja karena ia baru saja dekat dengan Ratna dan sudah berniat menyatakan perasaannya.


Diam-diam malam itu Amus mengintai rumah Ratna, ia sengaja sembunyi dalam kegelapan saat Jimy mengantarnya pulang.


"Terimakasih untuk hari ini" ujar Ratna saat ia sampai di depan pintu rumahnya.


"Mm, pergilah masuk dan istirahat. Kau pasti lelah karena seharian sudah bekerja"


"Kau juga, jangan sampai sakit"


"Aku lebih khawatir lagi jika kau sakit" balas Jimy.


"Hehehe jangan bicara omong kosong, sudah sana pergi" ujar Ratna sambil mendorong Jimy.


Perlakuan itu membuat Jimy gemas dan mengusap kepala Ratna dengan lembut, setelah saling tersenyum untuk beberapa saat Jimy pun pergi meninggalkan tempat itu.


"Apa-apaan mereka itu? kenapa... mereka seperti orang yang pacaran" gumam Amus setelah Ratna juga masuk kedalam rumahnya.


Seumur hidup Amus belum pernah ia melihat Jimy yang seperti itu, apalagi perlakuannya terhadap Ratna sangatlah tidak wajar tiba-tiba saja Jimy menjadi orang yang lebih dewasa dan lembut, hal itu membuat hati Amus menciut sebab harapannya untuk mendapatkan Ratna tiba-tiba lenyap.


Amus menjadi sering melamun dan tak bisa fokus pada buku pelajaran yang ada di atas mejanya, ia masih memikirkan sikap Jimy dan Ratna yang aneh.


"Amus! aku punya berita untukmu!" ujar Ardi yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.


"Ada apa?"


"Kau pasti akan terkejut mendengarnya"


"Memang kau punya berita apa?"


"Ini tentang Ratna dan master" jawab Ardi yang membuat Amus tertarik.


Ia mendengar Jimy bicara dengan pemilik toko, yang membuatnya kaget adalah Jimy mengatakan bahwa boneka itu akan ia berikan kepada gadis yang teramat berarti baginya. Setelah itu ia juga melihat Jimy pergi ke kedai tempat Ratna bekerja.


"Menurut mu apa mereka diam-diam berhubungan di belakang kita?" tanya Ardi.


"Hal itu sulit di percaya, mereka sering berkelahi dan jelas Jimy tidak suka gadis seperti Ratna. Tapi.... melihat mereka seperti ini membuatku jadi berfikir lain" jawab Amus yang mengingat saat ia mencuri dengar.


"Kau benar" jawab Ardi.


Sibuk dengan pikiran masing-masing tiba-tiba suara Ratna menyadarkan mereka, dari balik jendela mereka mengintip Jimy yang lagi-lagi mengantar Ratna pulang.


Penasaran kini mereka pergi ke pintu depan hanya untuk menguping apa yang sedang Ratna dan Jimy bicarakan, dari celah pintu mereka juga bisa melihat senyum Ratna yang tidak memudar.


"Lagi-lagi kau mengantar ku pulang, setiap hari bertemu denganmu rasanya membosankan" ucap Ratna sambil memasang raut wajah cemberut.


"Tapi aku tidak pernah bosan" sahut Jimy yang membuat Ratna menghentikan langkahnya.


"Ah aku punya sesuatu untukmu, hampir saja aku lupa" ujar Jimy yang kemudian menyodorkan sebuah boneka beruang.


Dari balik pintu Ardi menyikut Amus sebagai tanda bahwa itulah boneka yang ia lihat di toko tadi siang.


"Manis sekali.... uh lucunya! terimakasih" ujar Ratna mengelus boneka tersebut.


Jimy tampak puas melihat ekspresi Ratna yang bahagia, ia hanya tersenyum sebagai balasan dari ucapan terimakasih Ratna. Karena hari yang sudah semakin larut Ratna pun berpamitan untuk masuk ke rumahnya, Jimy mengangguk sebagai jawaban tapi tiba-tiba.


"Ratna!" panggil Jimy yang membuat Ratna kembali berbalik.


Dari ekspresi Jimy yang berubah serius ia tahu ada hal penting yang akan ia sampaikan.


"Aku mencintaimu" ujar Jimy tiba-tiba yang membuat Ardi dan Amus hampir terjatuh dan ketahuan.


"Aku.... tidak tampan, tidak populer juga tidak pintar. Kadang aku bersikap konyol tapi teman-temanku selalu mengandalkan ku, yang bisa kubanggakan saat ini hanya perasaan cinta yang tulus dan jujur" lanjutnya.


Ratna tertegun, ia tak menyangka Jimy bisa mengatakan hal seperti itu dengan serius. Melihat kesungguhan Jimy dalam menyatakan perasaannya ia tahu jawaban apa yang akan di katakan.


"Tidak apa, aku lebih suka pria jujur."

__ADS_1


Dalam satu waktu ada dua hati yang patah secara bersamaan, sedang satu hati bunganya mekar hingga harumnya semerbak.


"Kau... mau menjadi kekasihku?" tanya Jimy pelan.


Ratna mengangguk dengan mantap, membuat Jimy terharu dan segera memeluknya dengan erat.


"Terimakasih, kau membuat perasaanku lebih hangat" bisik Jimy tepat di telinga Ratna.


"Kau pasti berhasil, lakukanlah seperti tadi" balas Ratna.


Setelah puas mencurahkan isi hati Jimy pun berpamitan dan pulang dengan perasaan bahagia, begitu pun dengan Ratna yang masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang sama. Hanya tersisa dua pemuda yang duduk di balik pintu dalam keadaan syok.


* * *


Seikat bunga di tangan tak henti Jimy perhatikan dan ia cium keharumannya, sudah tiga puluh menit ia di sana menunggu dalam harapan serta cemas. Di saat-saat kekecewaan mulai memuncak suara sepatu seorang gadis membuatnya mengangkat kepala dan menatap yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba.


"Maaf... kau pasti sudah menunggu lama" ujar Rere.


"Tidak, aku hanya baru menunggu sekitar tiga puluh menit"


"Hmm... kau jadi semakin jujur" ucap Rere sambil tersenyum, hal itu tentu membuat Jimy malu.


"Ini... untuk mu" kata Jimy menyerahkan bucket bunga yang telah ia persiapkan.


"Terimakasih" jawab Rere mengambil bucket bunga itu.


Kecanggungan semakin terasa saat Rere duduk tepat di hadapannya, mereka tak banyak bicara hanya saling melempar senyum hingga makanan yang mereka pesan sudah habis. Obrolan kecil itu berakhir tak lama kemudian, Jimy mengantar Rere pulang dengan menghafal kalimat yang telah ia persiapkan sejak awal.


"Kita sudah sampai" ujar Jimy memarkir mobilnya tepat di depan rumah Rere.


"Terimakasih, kalau begitu aku pergi"


"Tunggu!" sergah Jimy menghentikan Rere yang akan membuka pintu mobil.


"Ya?" tanya Rere pelan.


Sejenak Jimy terdiam, melihat wajah Rere tiba-tiba semua kalimat yang ada di dalam benaknya hilang seketika.


"Jimy... ada apa?" tanya Rere.


"Aku tidak tahu... " jawab Jimy pelan yang membuat Rere bingung.


"Aku sudah menghafalnya dalam otak ku, aku juga sudah mencobanya dengan Ratna tapi ketika aku ingin mengatakannya tiba-tiba semua kata itu hilang. Seperti kata Jamrud, sepertinya aku butuh kursus untuk merangkai kata agar aku tidak menyia-nyiakan tiga puluh menit dari waktumu" lanjutnya.


Huft hahahaha


Rere tak bisa menahan geli hingga tertawa begitu saja, membuat Jimy hanya bisa terdiam karena malu.


"Kau bisa merangkumnya menjadi tiga kata" ujar Rere setelah puas tertawa.


Jimy tersenyum, ia bersyukur Rere sangat pengertian dan cepat tanggap sehingga membuatnya tak kesulitan.


"Aku... cinta kamu" ujar Jimy.


Mereka saling berpandangan satu sama lain, dengan harap-harap cemas Jimy menunggu jawaban dari Rere.


"Aku juga mencintaimu" jawab Rere akhirnya.


Rasa bahagia yang tak terkira menyatukan mereka dalam satu pelukan mesra, baik Rere maupun Jimy tak bisa menahan perasaan untuk saling berkasih sayang. Ingin rasanya mereka tetap bersama, namun hari semakin malam dan Rere harus segera masuk ke dalam rumahnya.


Tak mengapa, mereka berjanji akan bertemu besok untuk memulai kencan pertama sebagai sepasang kekasih. Kabar bahagia ini Jimy bawa segera kepada Ratna yang masih bekerja, ia mengatakan kesuksesannya dalam menyatakan perasaan hingga akhirnya dapat di terima oleh Rere.


Ratna ikut senang mendengar berita baik itu, sebagai ucapan terimakasih karena berkat bantuan Ratna Jimy memberikan hadiah berupa traktiran yang membuat Ratna lebih senang lagi.


Di sisi lain dua hati yang patah hati yakni Amus dan Ardi masih berkumpul di kamar meratapi apa yang terjadi pada kisah cinta mereka, keduanya sama sekali tak menyangka bahwa Ratna dan Jimy bisa saling jatuh cinta.


"Argh setelah mereka pulang pokoknya kita harus meminta pertanggungjawaban, mereka harus menjelaskan semua ini kepada kita" ucap Ardi tak tahan.


"Apa yang perlu di jelaskan? bukankah kita sudah dengar apa yang terjadi pada mereka?" balas Amus bertanya.


"Tetap saja, mereka telah menyembunyikan hal ini dari kita berdua"


"Itu adalah hak mereka, aku yakin mereka punya alasan mengapa menyembunyikan hal ini dari kita"


"Kau.... kenapa kau membela mereka?" hardik Ardi kesal.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? apa kau mau menghancurkan hati mereka dengan membuat mereka berpisah? bukankah teman itu mendukung apa yang menjadi impian kawannya? sebagai seorang teman, tidak! sebagai seorang saudara seharusnya kita mendukung mereka!" balas Amus dengan nada yang lebih tinggi.

__ADS_1


Ardi tersadar, masalah hati memang tidak ada yang tahu. Dalam kisah cinta apa pun bisa terjadi meski bagi dirinya ada hal yang tidak mungkin, sejujurnya ia merasa cemburu karena ternyata Jimy yang berhasil mendapatkan hati Ratna.


Tapi sebagai sahabat sesuai ucapan Amus seharusnya ia mendukung hubungan mereka berdua, lagi-lagi Ardi merasa buruk karena selalu menentang Ratna sedang Amus begitu pengertian kepadanya.


__ADS_2