
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Harusnya aku yang bertanya begitu, apa yang kau lakukan di sini?" balas Ratna.
Mereka saling menatap tak percaya sementara Ian dan Sela hanya bisa kebingungan.
"Apa kau mengenalnya?" tanya Sela.
"Tentu saja, dia adalah.. "
"Tetangga!" ujar Ratna cepat.
"Tetangga?" ulang Ian.
"Benar, rumah kami bertetangga. Kita belum lama pacaran dan belum punya kesempatan untuk mengenalkan mu dengan teman-teman ku, sungguh suatu kebetulan kita bertemu di sini. Perkenalkan namanya Ardi!" jawab Ratna.
"Begitu, salam kenal aku Ian" ucap Ian mengulurkan tangan.
Ardi menyambut tangan itu meski ada perasaan tak enak dalam hatinya, tentu saja sebab Ratna ternyata memiliki pacar tanpa sepengetahuan dirinya. Mereka pun mulai duduk dan memesan makanan.
"Seperti kata pepatah, dunia tak selebar daun kelor. Ternyata pasangan kita saling mengenal satu sama lain, kalau boleh aku tahu sejak kapan kalian pacaran?" tanya Sela.
"Itu... "
"Sangat baru, sebenarnya kami satu sekolah dan sudah saling mengenal sejak beberapa bulan yang lalu. Tapi untuk status ini kami baru memulainya sekitar satu minggu, jujur saat dia menyatakan cinta aku tidak bisa menjawab sebab dia memiliki banyak penggemar dan salah satunya adalah aku. Di tembak oleh idola mu sendiri itu rasanya bagaikan mimpi, aku sampai butuh waktu untuk menjawabnya" jawab Ratna sesuai rencana.
Ian hanya bisa membuang nafas lega mendengar Ratna dapat menjawab dengan lancar, sedikit pun tak ada keraguan yang membuat Sela dapat curiga. Sedang dirinya hanya bisa jadi kambing conge yang dungu, akibat kekhawatiran yang berlebih saat tahu pacar Sela ternyata bertetangga dengan Ratna.
"Begitu rupanya" ujar Sela.
"Bagaimana dengan kalian? Ardi, kau sangat kejam! punya pacar begitu cantik kau simpan sendiri tanpa mau mengenalkannya padaku dan yang lain, apa kau takut master akan merebutnya darimu?"
"Jangan bercanda! sejak kapan kau peduli siapa yang menjadi pacarku?" balas Ardi jengkel.
"Setidaknya kau harus mengenalkannya padaku, jujur aku trauma pada kasus Yuni. Beruntung kali ini aku sudah memiliki kekasih"
"Siapa Yuni?" tanya Sela.
"Oh maaf, tidak seharusnya aku menyebut namanya. Dia hanya masa lalu yang menyebalkan, kau tidak perlu khawatir akan hal itu" jawab Ratna.
Entah mengapa Ian merasakan sebuah aura yang dingin, itu berasal dari Ratna tapi ia tak tahu apa sebabnya. Jika di lihat lebih teliti ia sadar Ardi tak berhenti menatap Ratna, seakan ada sesuatu di antara mereka.
"Sebaiknya kita mulai makan, mumpung masih panas" ujar Ian mencairkan suasana.
"Kau benar, bisa tolong ambilkan aku sambal?" ucap Ratna.
Ian segera mengambilkan apa yang diminta Ratna, dengan perlahan Ratna menuangkan sambal ke dalam supnya. Karena kuahnya yang masih panas dengan perlahan Ratna meniupnya di dalam sendok, Ian yang melihat rambut Ratna jatuh dan hampir menghalangi sebab kepala Ratna yang menunduk segera mengambil ikat rambut yang dia simpan di saku dan mengikatkan rambut Ratna.
"Terimakasih" ujar Ratna seraya tersenyum.
"Sama-sama" jawab Ian membalas senyum itu.
Ardi dan Sela yang menatap keromantisan itu mulai merasa panas, dengan sengaja Ardi mengambil makanan dan menyuapi Sela di depan yang lain untuk membalas.
"Bagaimana rasanya?" tanya Ardi.
"Enak!" jawab Sela dengan suara manja.
Tentu hal itu memancing emosi Ian, sedang Ratna tak peduli karena ia hanya fokus pada makanan yang sudah terhidang di depan matanya. Atas sandiwara yang ia lakukan bagi Ratna sangat pantas ia mendapatkan makanan enak dan uang yang banyak.
"Setuju! makanan di sini enak-enak!" balas Ratna polos.
"Kau menyukai makanan di sini?" tanya Ian.
Ratna menjawab dengan menganggukkan kepalanya sebab mulutnya penuh dengan makanan.
Hahaha
"Baiklah, nanti kita datang lagi kesini" ujar Ian tak bisa menahan tawa sebab Ratna terlihat begitu lucu.
"Benarkah?" tanya Ratna setelah menelan makanan yang dia kunyah.
"Tentu saja"
"Apa boleh nanti aku memesan makanan yang lain? aku ingin mencicipi makanan yang lain, jika aku pesan sekarang aku takut perutku akan meledak karena terlalu banyak makan"
Hahaha
"Kau ini ada-ada saja, baiklah nanti jangan lupa kosongkan dulu perutmu sebelum makan di sini"
"Mm aku mengerti!" jawab Ratna.
Wajah Ratna yang manis, senyumnya yang menyenangkan dan tingkahnya yang polos membuat Ian larut sendiri. Dengan gemas ia mengusap atas kepala Ratna, rasanya seperti memiliki adik perempuan yang menggemaskan.
Sela yang melihat senyuman kedua orang itu sadar bahwa senyum mereka tidaklah di buat-buat, sebagai mantan kekasih ia tahu betul sifat Ian. Dalam benaknya berfikir bahwa Ian rupanya memang telah menemukan pengganti dirinya, Ian nampak memanjakan Ratna dan terlihat bahagia bersamanya.
Harusnya ia senang, sebab kini ia pun memiliki pacar yang sama tampannya. Ardi pun pintar dan cukup populer juga, tapi entah mengapa hatinya sakit. Statusnya dengan Ardi, hubungan diantara mereka yang di bilang sepasang kekasih anehnya ia tak merasakan kebahagiaan yang semestinya. Seolah hubungan mereka palsu.
__ADS_1
"Ah... perutku benar-benar kenyang" ucap Ratna menyenderkan tubuhnya di atas kursi.
"Kau menghabiskan semua makanan di sini, tentu saja kau kekenyangan" ujar Ardi.
"Habis... semua makanannya enak"
"Bukan berarti kau harus menghabiskannya kan!" balas Ardi.
"Tentu saja harus, kita sudah membayarnya jadi sayang kan kalau tidak di habiskan"
"Bagaimana jika perutmu meledak?"
"Tenang saja, kau lihat kan aku baik-baik saja" jawab Ratna santai.
"Hmm, ternyata kalian cukup dekat" ujar Sela.
Seketika Ardi terdiam, ia lupa bahwa di sana ada orang lain selain dirinya dan Ratna. Memang jika menyangkut Ratna terkadang ia lupa pada sekelilingnya.
"Yah, kami memang cukup dekat. Tapi kau tidak perlu khawatir sebab aku sudah memiliki kekasih" jawab Ratna sambil menggandeng tangan Ian.
Tindakan itu cukup membuat Ian kaget, tapi saat melihat ekspresi Sela yang nampak tidak senang membuat Ian membalas perlakuan Ratna dengan mengelus rambutnya.
"Bagaimana jika kita pergi ke danau? melihat pantulan bulan di permukaan air bukankah itu sangat indah?" ujar Sela.
"Itu ide yang bagus, kau mau pergi?" tanya Ian.
"Jika bersama mu tentu aku mau pergi" jawab Ratna.
Mereka pun beranjak untuk pergi, tak butuh waktu lama untuk sampai. Tempat itu sangat indah dengan tenda-tenda yang tersedia untuk para pasangan, ada juga yang menyewakan tikar dan penjual berbagai makanan dan minuman.
Mereka memilih duduk di bawah pohon dengan beralaskan tikar, meski malam hari tapi pemandangan di tempat itu memang sangat bagus.
"Udaranya cukup sejuk" ujar Ratna sambil menggosok lengannya dengan kedua tangan.
Srek
"Kau bisa masuk angin, pakai ini!" ujar Ian memakaikan jasnya kepada Ratna.
"Terimakasih" kata Ratna tak lupa tersenyum.
Lagi-lagi Sela dan Ardi terbakar sendiri melihat hal itu, rasanya Ardi ingin sekali membalas mereka tapi tak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Apa kau ingin minum?" tanya Ardi kepada Sela.
"Boleh, aku ingin sesuatu yang hangat"
"Aku juga ingin minuman, bisakah kau membelikan ku minuman yang manis?" tanya Ratna.
"Terimakasih" jawab Ratna.
Ardi dan Ian pun pergi bersama, meninggalkan para gadis untuk bicara sebagai sesama perempuan.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku" ujar Ratna tanpa memalingkan pandangannya dari danau.
"Apa?" tanya Sela tak mengerti.
"Sejak kapan kalian pacaran?"
"Oh itu... sekitar dua minggu yang lalu"
"Begitu ya, jika aku boleh tahu... siapa yang menyatakan cinta? kau atau Ardi?"
"Aku, aku yang lebih dulu menyatakan perasaan ku" jawab Sela.
Ratna sangat mengenal Ardi, secantik apa pun gadis itu Ardi tak pernah menyatakan cinta duluan. Jika di pikir lagi meski seorang playboy Ardi tak pernah menyatakan cinta yang artinya dia tidak pernah mencintai gadis mana pun.
Mendengar jawaban Sela ia tahu Sela telah berkata jujur, dengan begitu Sela yang mencintai Ardi. Tapi entah mengapa ia pun merasa rasa itu bukan cinta yang sesungguhnya.
"Dimana kau mengenalnya?" tanya Ratna lagi.
"Kami satu sekolah, hanya berbeda kelas"
"Begitu ya, sama seperti kami" ucap Ratna.
"Jujur aku tak menyangka Ian dapat menemukan gadis lain bahkan menyatakan cintanya, kami sudah pacaran lama dan itu membuatku berfikir ia tak akan bisa mencari pengganti ku" ujar Sela yang membuat Ratna terkejut.
"Hmm, kau tahukan dia memiliki banyak penggemar? pria seperti dia rasanya tak mungkin melajang" ujar Ratna seraya tersenyum tipis.
"Aku tahu, itulah alasan kami putus"
"Apa?"
"Dia sangat populer hingga membuatku muak karena selalu saja cemburu, sampai suatu hari kami bertengkar hebat gara-gara salah satu penggemarnya mengirim kado yang dia suka. Aku sudah tak tahan lagi dan memilih putus, dia pun sama kesalnya karena merasa di kekang olehku" jawab Sela bercerita.
"Begitu rupanya"
"Kau pun pasti akan melakukan hal yang sama denganku, rasa takut saat dia di dekati oleh gadis lain pada akhirnya membuatmu mengeluarkan segala peraturan yang membuatnya merasa terkekang"
__ADS_1
"Tidak! aku tidak melakukan itu"
"A.... pa?" tanya Sela kaget.
"Kami menyembunyikan hubungan kami dari yang lain, hanya kau yang tahu akan hal ini"
"Kenapa begitu?"
"Sudah jelas kan? karena akan menjadi masalah jika sampai satu sekolah tahu kami pacaran, akan ada banyak penggemarnya yang dengan sengaja mendekati Ian agar aku terbakar cemburu dan akhirnya berkelahi dengannya."
Sela terperanjat mendengar jawaban itu, seketika ia sadar bahwa bisa saja seseorang di luar sana tidak senang akan hubungan mereka dan dengan sengaja menciptakan masalah di antara mereka.
"Hubungan tanpa kepercayaan itu omong kosong, bukan sebuah komitmen melainkan hanya kompromi" ujar Ratna lagi.
"Kau... sepertinya Ian memang sudah mendapatkan gadis yang tepat" ujar Sela tersenyum ikhlas.
Sebagai sesama wanita Ratna cukup peka dan sadar bahwa Sela masih menaruh hati untuk Ian, tapi mengingat alasan mereka putus rasanya Sela sudah menyerah pada hubungan mereka. Tapi tetap saja Ratna tak tahan melihat hal itu, Ian pun belum bisa melupakan Sela terlihat jelas dari keegoisannya yang repot-repot menyewa pacar bohongan agar mendapatkan pengakuan dari Sela.
"Apakah kau masih mencintai Ian?" tanya Ratna yang membuat Sela terkejut.
"A-apa?"
"Aku tanya apa kau masih mencintai Ian? apa kau masih memikirkannya meski ada pria lain di sisimu? apa kau masih terbakar api cemburu saat Ian dekat dengan gadis lain?"
"Kenapa... kau menanyakan hal itu?"
"Jawab saja!" perintah Ratna.
"Bagaimana jika aku menjawab iya? apa kau mau melepaskan Ian untuk ku?" balas Sela.
"Jika kau memang masih mencintainya maka cobalah rebut dia dariku, jika kau berhasil melakukannya itu artinya Ian masih mencintaimu juga tapi jika tidak artinya dia sudah melupakan mu" jawab Ratna.
Sela benar-benar di buat tak mengerti oleh gadis itu, bagaimana bisa seorang gadis mengatakan hal itu kepada mantan kekasihnya. Tapi tantangan yang di buat Ratna membuat Sela memiliki sedikit keberanian dan harapan, dengan tersenyum ia menyanggupinya.
Sementara itu dilain tempat para lelaki sedang memesan minuman untuk para gadisnya.
"Pak tolong susu jahenya dua" ujar Ardi memesan.
"Dia tidak minum itu!" sergah Ian.
"Apa?"
"Sela tidak suka jahe, sebaiknya kau membelikannya kopi saja" ujarnya.
Ardi termenung sejenak tapi kemudian dia mengganti pesanannya, saat menunggu pesanan mereka yang sedang di buat Ardi pun memulai obrolan.
"Rupanya kau tahu betul kesukaan Sela"
"Tentu saja, kami pacaran cukup lama"
"Benarkah? wah.... aku salut padamu, apa kau sudah memeriksa telingamu?" tanya Ardi.
Sejenak Ian berfikir keras mengartikan maksud ucapan Ardi, tapi kemudian dia tertawa setelah sadar apa yang di maksud Ardi.
"Haha yah... terkadang cinta memang merepotkan, aku pun kaget saat sadar bisa bertahan selama itu dengannya"
"Jika di pikir lagi tentu kau beruntung, dia sangat cantik dan tubuhnya pun bagus"
"Bukankah kau juga beruntung karena berhasil mendapatkannya?"
"Begitulah, tapi aku tidak terlalu peduli"
"Kenapa?"
"Aku bukan tipe pria yang suka di atur, melihat sifat Sela mungkin besok atau lusa hubungan kami akan berakhir"
"Kau... tidak mencoba mempertahankan hubungan kalian?" tanya Ian heran.
"Untuk apa? gadis seperti Sela sering datang dan pergi dalam hidupku, mereka hanya singgah untuk mendapatkan perhatian ku saja."
Ian cukup terkejut mendengar ucapan itu, jika di perhatikan lagi hubungan diantara Sela dan Ardi memang sepertinya tidak baik. Cara Ardi menatap Sela pun berbeda, tak seperti caranya melihat Ratna.
"Apa kau menyukai Ratna?" terka Ian.
Sejenak Ardi menatap Ian sebelum akhirnya ia menjawab.
"Kami sudah berteman sejak kecil, menurutmu bisakah aku tidak memiliki perasaan pada gadis yang selalu ku temui setiap hari?"
"Itu... kemungkinannya sangat kecil" akui Ian.
"Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan merebutnya darimu. Meski aku menyukainya tapi aku tidak ingin menjadikannya pacarku, sekarang ini aku tidak punya apa-apa untuk membahagiakannya. Tapi beberapa tahun kemudian setelah aku berhasil merubah nasibku, aku pasti akan merebutnya dari pria mana pun" ujar Ardi.
Ian tak menyangka ternyata Ardi adalah pria dengan pikiran yang mandiri dan dewasa, Ardi mampu mengikhlaskan Ratna berjalan dengan siapa pun saat ini agar ia bahagia. Tidak mengekangnya dalam nasib yang buruk, justru diam-diam berusaha agar suatu saat dapat membahagiakan Ratna dengan caranya.
"Mas, ini pesanannya sudah siap" ujar seorang pedagang.
"Oh iya, terimakasih" jawab Ardi.
__ADS_1
"Ayo kembali, para gadis pasti sudah menunggu"
"Ya" jawab Ian menyusul.