Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 41 Ujian Nasional


__ADS_3

Tiga pekerjaan yang harus di lakukan oleh murid kelas tiga saat ini, yaitu belajar, belajar dan belajar. Setelah jam pelajaran usai dimana anak-anak yang lain pulang maka anak kelas tiga akan tetap di sekolah untuk mengikuti jam pelajaran tambahan atau les.


Mereka hanya di beri istirahat selama sejam sebelum les, waktu selama itu biasa di manfaatkan untuk makan siang atau tidur siang. Ratna sendiri memilih untuk makan dan bersantai sebab ia tak bisa konsentrasi jika perutnya keroncongan.


"Kau mau kemana?" tanya Ratna melihat Amus mengambil tasnya.


"Ada pertandingan futsal hari ini"


"Kau mau bolos les?" tanya Ratna.


"Hanya sekali ini saja" jawab Amus yang segera beranjak pergi.


"Ah.. jadi orang pintar memang menyenangkan ya, bisa bebas bolos tanpa mengkhawatirkan ujian nanti"


"Tidak juga, selain pintar ada satu hal lagi yang di butuhkan untuk lulus di ujian ini" timpal Ardi.


"Apa?"


"Kerapihan, percuma jika jawaban mu benar tapi caramu mengisinya berantakan tetap saja kau tidak akan lulus"


"Kau benar, aku jadi gugup memikirkan ujian nanti" ujar Ratna.


Les saja tidaklah cukup, di rumah Ratna latihan mengisi lembar jawaban dengan mengisi kolom yang dia buat sendiri. Ternyata mengisi dengan rapi lebih sulit dari belajar, kesabarannya di uji tatkala mencoba mengisi dengan cepat tapi juga rapih.


Hari demi hari ia terus latihan dan belajar lebih tekun lagi, setiap malam Sapardi selalu menemukan Ratna tertidur di atas meja belajar beralaskan buku pelajaran.


Hari itu, saat mereka pulang malam karena les Ratna berjalan dengan sempoyongan karena terlalu lelah. Sampai ia tak melihat sebuah lubang di depan karena rasa ngantuk yang tak tertahan.


"Awas!"


Ah....


Ardi datang tepat waktu untuk menarik tubuh Ratna ke belakang agar tak terjatuh.


"Itu bahaya sekali" ujar Ardi.


"Maaf, aku tak melihatnya. Aku benar-benar ngantuk sampai tidak melihat jalan dengan benar"


"Dasar kau ini!" hardik Ardi.


Ratna cemberut mendengar omelan itu, tiba-tiba Ardi menggendongnya yang membuatnya kaget.


"Sekarang kau tidak akan terjatuh meski tertidur" ujarnya.

__ADS_1


Ratna tersenyum dan melingkarkan tangan di leher Ardi, matanya terpejam kemudian tertidur dengan cepat.


* * *


Seperti biasa orangtua Jimy selalu pulang lewat dari jam sepuluh malam, sang ibu yang biasanya akan cepat pergi tidur malam itu tanpa sengaja melihat kamar Jimy yang masih terang benderang.


Biasanya Jimy selalu ada di ruang santai sedang main PS karena itu dengan penasaran Ia mengintip dan melihat Jimy yang rupanya sedang belajar, ini kali pertama ia melihatnya dan cukup terharu di buatnya.


Ia pun inisiatif membuatkan susu hangat untuk putra bungsunya itu, Jimy cukup terkejut saat ibunya masuk ke kamarnya dengan membawa susu hangat.


"Kau sedang belajar untuk ujian nanti?" tanya ibunya.


"Iya"


"Kau sangat berbeda dengan kakak mu, dulu Angga jarang sekali belajar tapi karena dia cukup pintar dia selalu lulus ujian. Dia paling tidak suka menatap buku lama-lama karena itu metode belajarnya lebih santai"


"Andai aku juga pintar seperti kakak maka aku tidak akan khawatir pada ujian ini" ujar Jimy mengadu.


"Kau tidak bodoh, jadi jangan terlalu khawatir. Yang perlu kau lakukan hanya belajar dengan sungguh-sungguh"


"Ah... aku iri sekali dengan kakak, meski tidak belajar tapi dia tetap pintar" keluhnya.


"Siapa bilang? kakak mu hanya pandai dalam mata pelajaran saja, dalam hal lain kau justru yang paling unggul"


"Tentu saja, sudah sebesar itu tapi kakak mu membuat telur goreng saja tidak bisa. Dari kecil hingga sebesar itu dia masih tidak bisa diandalkan, padahal rentang usia kalian cukup jauh tapi Angga tidak pernah bisa mengasuh mu saat kecil. Berbeda dengan mu, justru kau meski masih kecil saja bisa mengasuh Ratna dengan baik."


Jimy tertawa sebab tiba-tiba teringat masa kanak-kanaknya yang di habiskan untuk menjaga Ratna, sebagai anak bungsu Jimy mengakui sebenarnya ia ingin punya adik. Tapi sayang ibunya tak kunjung juga memberinya adik sampai suatu hari saat ia kecil mendiang ibu Ratna mengijinkannya untuk menjadikan Ratna sebagai adiknya.


Sejak saat itu meski sebenarnya Ratna lebih dulu lahir tapi ia selalu bertindak layaknya seorang kakak, caranya bicara, bertindak dan marah benar-benar seperti kakak kepada adiknya.


"Si gadis dolar itu pasti sekarang sudah tertutup pulas" gumam Jimy.


"Siapa?" tanya ibunya.


"Oh, maksudku Ratna. Tadi di sekolah dia kelihatan lelah, sepertinya dia juga berjuang keras untuk ujian nanti"


"Kalian cukup mirip dalam belajar, butuh waktu untuk mengerti sesuatu tapi sama-sama bisa diandalkan dalam waktu tertentu. Sudahlah, hari ini cukup sampai di sini saja. Cepat habiskan minumannya dan pergilah tidur, ibu tidak ingin kamu sakit gara-gara kurang tidur"


"Baik bu" jawab Jimy.


* * *


Senin, hari paling horor untuk semua murid kelas tiga. Pagi sekali mereka sudah sampai di sekolah untuk mencaritahu dimana ruangan tempat mereka melaksanakan Ujian nasional.

__ADS_1


Setelah berhasil menemukan ruangannya Ratna pergi menemui Mita dan bersama mereka mencari ruangan tempat Mita akan ujian, mereka terpisah sebab satu ruangan hanya akan di huni dua puluh siswa/siswi.


"Apa kau sudah memastikan membawa pensil yang benar?" tanya Mita setelah mereka berhasil menemukannya.


"Aku sudah mengeceknya berulang kali"


"Tinggal beberapa menit lagi dan kira harus masuk ke ruangan itu untuk melaksanakan ujian nasional, apa kau gugup?"


"Tentu saja, mengingat ujian ini adalah penentu kelulusan kita aku benar-benar di buat gugup"


"Aku kira kau tidak gugup, soalnya kau kelihatan santai" ujar Mita.


Ratna mendengus, dari luar dia memang nampak biasa saja padahal jantungnya berdegup sangat cepat sejak tadi. Bahkan ia tidak bisa sarapan saking khawatirnya, andai Sapardi tidak memaksanya mungkin perutnya akan keroncongan selama ujian berlangsung.


"Kau di sini?" tanya Jimy yang baru datang.


"Tidak, ini ruangan Mita" jawab Ratna.


"Oh, berarti aku satu ruangan dengan Mita. Ardi dan Amus juga mendapat ruangan yang sama, itu berarti kau hanya sendirian"


"Begitulah" jawab Ratna malas.


Beberapa menit kemudian bel berbunyi tanda ujian siap di laksanakan, Ratna pergi ke ruangannya dan duduk di kursinya. Dua orang guru yang bertugas sebagai pengawas masuk dengan membawa berkas yang masih di segel, isi dari berkas itu tak lain adalah lembar soal dan jawaban.


Ujian pertama adalah pelajaran bahasa Indonesia, pertama Ratna melihat-lihat lembar soal baru kemudian menulis namanya di kolom yang sudah tersedia.


Setelah mengisi biodata dengan satu tarikan nafas panjang ia mulai membaca soal pertama, di soal pertama itu Ratna masih bisa menjawab dengan mudah tapi yang tersulit adalah mengisi lingkaran jawaban dengan rapi.


Jantungnya terus berdegup kencang saat ia mengisi lembar jawaban satu persatu, hingga saat ini dalam hidupnya ini adalah peristiwa yang paling membuatnya gugup.


Selesai ujian dalam mata pelajaran bahasa Indonesia lanjut ke mata pelajaran berikutnya, dalam satu hari mereka hanya melaksanakan ujian dalam dua mata pelajaran saja.


"Kau sudah pulang?" tanya Sapardi saat melihat Ratna berjalan.


"Iya, satu hari hanya ujian dua mata pelajaran saja jadi cepat pulang"


"Bagaimana? apa putri ayah berhasil mengatasinya?"


"Aku lumayan gugup, mudah-mudahan aku tidak melakukan kesalahan" akui Ratna.


"Kau tidak perlu takut, anggap saja ini bukan ujian tapi ulangan harian. Kau hanya perlu menjawabnya dengan santai tapi tepat"


"Ayah... hmmm, baik!" jawab Ratna menemukan kembali semangatnya.

__ADS_1


Hari berikutnya ia bisa lebih tenang, saran Sapardi terus ia ingat sampai akhir.


__ADS_2