
"Kau sudah menyiapkan puisimu?" tanya Rere.
"Tentu saja" jawab Ratna santai.
"Ah baguslah, sebentar lagi lomba akan di mulai sebaiknya kau bersiap" ujar Rere.
Ratna mengangguk yakin, setelah berfikir keras mencari inspirasi akhirnya ia dapat juga puisi yang menurutnya bagus.
Tak berapa lama berselang tiba waktunya untuk lomba puisi, Ratna duduk di kursi yang telah di sediakan sedang Rere duduk di jajaran para penonton. Satu persatu peserta di panggil untuk membacakan puisi hasil pilihan mereka sendiri, sang juri yang tak lain adalah para guru duduk paling depan untuk memberi penilaian.
Awalnya Ratna masih santai, tapi ketika namanya di panggil jantungnya mulai berdegup kencang. Apalagi saat semua mata penonton dan juri tertuju padanya, untunglah dia sempat melirik Rere yang memberinya dukungan penuh.
Ratna tersenyum, menemukan keberaniannya untuk bersuara. Dengan satu tarikan nafas panjang, ia mulai membaca.
"Perjuangan"
Tak ada kata yang dapat di ucapkan cerulit
Saat pentungan berbunyi menandakan adanya maling
Kedua tangan kasar menggenggam erat bambu runcing
Satu teriakan kemudian hilang bergeming
Baru kemarin tangan mereka sibuk di pematang sawah
Menanam singkong, padi dan palawija
Tiba-tiba putus tangan itu dari badannya
Penyebab ternyata apa yang mereka tanam
Tapi benarkah itu salah tanaman?
Atau kesuburan tanah?
Katanya mau berdagang tapi nyatanya merenggang
Menyesal mereka senyum ramah menyambut tuan
Ternyata tuan ada maksud tak terbaca
Bertahun-tahun yang tak mau di hitung
Peristiwa terjadi satu demi satu
Mulai dari senapan menodong mulut
Hingga pecah kepala meregang maut
Lihat! Jendral mereka hilang entah kemana
Para pemuda kocar kacir meminta bantuan
Wanita dan anak kecil menangis di pojokan
Esok harinya hal yang sama terulang
Tidak tuan, meski bukan laras panjang yang mereka pegang
Cukup bambu seadanya
__ADS_1
Runcing kan ujungnya!
Agar sama tajamnya dengan keyakinan
Tidak ada yang dapat mengalahkan
Sebab tuan mengusik perdamaian
Agustus 1945
Tanda-tanda laras panjang berbalik arah
Mereka hanya petani dan pedagang
Tapi perjuangan bukan tentang siapa
Meski berjas maling tetaplah maling
Tak peduli tuan pintar
Bumi Pertiwi tidak akan mereka serahkan
Lihat! Merah putih berkibar di udara
Hasil keringat, darah dan nyawa
Jika berani di turunkan
Siapkan mental! perjuangan kembali diadakan.
Prok Prok Prok Prok
Ratna menurunkan tangan, menatap semua orang yang bertepuk tangan di hadapannya. Hatinya merasa puas telah tampil dengan maksimal dan mendapat sambutan yang baik.
Setelah lomba itu selesai mereka boleh pergi kemana pun asal tetap di lingkungan sekolah, Rere mengajak Ratna untuk melihat pertandingan lain yang di lakukan di ruangan lain. Namun karena tak ada yang menarik akhirnya mereka memilih menonton pertandingan futsal di lapangan.
Begitu mereka sampai riuh tepuk tangan dan teriakan nyaring terdengar, perhatian mereka tertuju pada satu nama yang kompak di teriakan.
"IAN"
Yey........
Teriakan para gadis lebih kencang lagi saat seseorang berhasil mencetak gol, mereka meneriakkan nama yang sama dan orang itu melambai sambil tersenyum. Membuat bangku penonton lebih ricuh lagi.
"Hei apa kau tahu orang itu?" tanya Ratna merujuk pada orang yang di duga bernama Ian.
"Tidak, tapi dia cukup populer di kalangan murid perempuan. Kalau tidak salah dia kelas 2 IPS 1, dengan hanya melihatnya saja aku yakin kau paham mengapa namanya di sebut-sebut" jawab Rere.
Tentu Ratna mengerti, pemuda itu memiliki tubuh tinggi yang proporsional serta wajah yang tampan. Hanya dengan itu saja ia sudah paham mengapa gadis-gadis meneriakinya.
"Di sini terlalu bising, bagaimana jika kita pergi ke kantin saja" ajak Ratna.
"Baiklah, terserah padamu."
Tak ada kegiatan yang bisa mereka lakukan, pada akhirnya mereka hanya mengobrol sampai waktu pulang.
* * *
"Oh bibi, apa kabar?" teriak Ratna melihat Yati berjalan keluar rumah.
"Ratna, kau baru pulang sekolah?" tanya Yati kaget.
__ADS_1
"Sudah sejak tadi, aku baru pulang kerja"
"Owh begitu rupanya"
"Kapan bibi pulang?"
"Tadi siang, besok ada upacara bendera di alun-alun. Bibi sengaja pulang untuk melihat Amus besok"
"Begitu rupanya, apa paman juga pulang?"
"Tidak, hanya bibi seorang. Apa besok kau mau ikut bibi melihat Amus?" tawar Yati.
"Oh, itu... aku juga besok ikut upacara hanya saja jadi peserta biasa. Semua murid di sekolah ku harus datang karena selesai upacara kami akan melanjutkan lomba"
"Begitu rupanya, eh ini sudah malam pergilah istirahat" ujar Yati.
"Baik, selamat malam bibi" jawab Ratna sopan.
Esok harinya Ratna yang sudah berjanji untuk pergi bersama-sama dengan Rere ke alun-alun menunggu di tempat janjian, sedari pukul enam ia berada di sana agar tidak terlambat.
Setiap detik satu persatu murid dari sekolah lain datang dan berkumpul di alun-alun, menunggu upacara yang akan di laksanakan sebentar lagi.
"Ratna... " panggil Rere dari kejauhan sambil melambaikan tangan.
"Kau sudah menunggu lama?" tanyanya.
"Lumayan, ayo pergi! semua murid di sekolah kita sepertinya sudah berkumpul"
"Baiklah"
"Ratna... " panggil seseorang tiba-tiba.
Ia menengok dan cukup terkejut melihat Jimy yang berjalan menghampirinya.
"Master! kau juga ikut upacara di sini?" tanya Ratna.
"Tentu saja, aku juga ingin melihat Amus karena itu aku sudah menyiapkan kamera untuk merekamnya"
"Wah... kau sudah menyiapkan segalanya rupanya, eh jika kau disini apa Ardi juga upacara di sini?"
"Sepertinya begitu, tapi aku belum melihatnya"
"Begitu ya"
"Baiklah, aku harus pergi. Oh... nanti malam datanglah ke rumah Amus, kita akan membuat perayaan untuknya" ujar Jimy sebelum pergi.
"Baiklah selesai bekerja aku akan mampir" jawab Ratna.
Jimy melambaikan tangan sebelum ia akhirnya pergi.
"Siapa dia? dan siapa yang kalian bicarakan?" tanya Rere penasaran.
"Ah maaf aku lupa memperkenalkan mu, dia master teman masa kecil ku. Dan yang kami bicarakan juga adalah teman kami yang lain, orang yang namanya Amus jika kau ingat dia adalah orang yang mengantarku ke sekolah. Dia ikut paskibra jadi kami sengaja datang untuk melihat hasil latihannya"
"Oh begitu" ucap Rere mengerti.
"Sebentar lagi upacara akan di mulai, ayo pergi!" ajak Ratna.
Rere mengangguk, mereka pun bergegas masuk ke area alun-alun dan bergabung dengan anak lain dari sekolah mereka. Ratna memilih berdiri paling depan agar bisa melihat Amus degan jelas, tak lama kemudian upacara pun di mulai.
Dengan tak sabar ia mengikuti upacara bendera hingga tiba waktunya para anggota paskibra memulai gerak langkah untuk mengibarkan sang saka merah putih.
__ADS_1
Sepatu mereka menghentak tanah dengan irama yang teratur, beriringan dengan tangan yang mengayun selaras dengan langkah. Kesan gagah muncul pertama kali bahkan saat mereka hanya berdiri, membuat semua mata kagum melihatnya.
Diantara barisan itu Ratna dapat melihat seseorang yang ia kenal, berdiri diantara barisan dengan seragam yang sama. Senyum bangga tersungging di wajahnya, hingga upacara selesai yang ia perhatikan hanyalah Amus.