Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 51 Hadiah Untuk Master


__ADS_3

Tiiiiiiittttt


Ratna terlonjak kaget mendengar suara klakson yang nyaring itu, refleks ia segera menghindar ke pinggir dan membiarkan Amus melewatinya.


"Lama-lama kau membuatku naik darah!" teriak Ratna mengomel.


Amus berhenti tepat di depan rumahnya dan memarkir sepeda motornya, Ratna cepat menghampiri untuk memberikan omelan yang lain tapi perhatiannya teralihkan oleh sebuah tas belanjaan yang di bawa Amus.


"Apa itu?" tanyanya.


"Oh, hadiah untuk master. Besok hari ulang tahunnya, kau tidak lupa kan?"


"Astaga! aku lupa" jawab Ratna yang baru ingat.


"Kau ini benar-benar.. " omel Amus.


"Ah... bagaimana ini? sebaiknya aku memberikan apa untuknya? tidak mungkin aku pergi belanja sekarang, semua toko pasti sudah tutup"


"Kau bisa membeli sesuatu besok sepulang sekolah, aku dan Ardi juga besok akan membeli kue ulang tahunnya"


"Benarkah? bagaimana kalau kita pergi bersama?"


"Boleh saja, temui kami di toko kue besok siang"


"Baiklah sampai jumpa besok!" ujar Ratna yang langsung lupa pada amarahnya dan pergi begitu saja.


Tak lupa memberitahu Hamdani bahwa dia akan datang terlambat, esoknya Ratna pergi ke pusat perbelanjaan setelah sepulang sekolah. Cukup sulit memilih hadiah untuk master karena dia telah punya segalanya, master juga tidak punya sesuatu yang ia sukai secara spesifik.


Akhirnya pilihan Ratna jatuh pada topi, beberapa menit telah berlalu ia habiskan hanya untuk memilih topi mana yang sekiranya cocok untuk master.


"Ada yang bisa aku bantu?" tanya seorang pegawai menghampiri.


"Oh.. hehe aku... sebenarnya sedang bingung mau memilih topi yang mana"


"Pasti hadiah untuk pacarmu" tebak pegawai itu.


"Bu-bukan! dia hanya teman ku, tapi kami memang sudah berteman sejak kecil jadi aku ingin memberikan topi yang bagus" jawab Ratna cepat.


"Oh seperti itu, bagaimana jika topi baseball? jenis topi ini cocok digunakan oleh semua kalangan" ujar pegawai tersebut.


Ratna mengangguk tanda setuju, setelah banyak memilah akhirnya ia putuskan membeli topi baseball dengan warna biru. Segera ia membawa topi itu ke kasir dan membayarnya, setelah mendapatkan hadiah kini waktunya ia pergi menemui Ardi dan Amus di toko kue.


Tapi di tengah jalan tiba-tiba Anggi menghadangnya, dengan wajah yang mengumbar kebencian ia berkata.


"Aku ingin bicara dengan mu, ikuti aku!"


"Ada apa?" tanyanya bingung.


Anggi tak menjawab, ia malah terus saja berjalan namun tetap memastikan Ratna mengikutinya. Mereka berjalan cukup jauh dari keramaian sampai tiba di suatu tempat yang sepi, di sana Ratna melihat sudah ada beberapa pria yang lebih dewasa sedang menunggunya.


"Kak! dia orangnya" tunjuk Anggi.


Seorang pria yang berlagak seperti pemimpin berjalan menghampirinya, Ratna hanya diam kebingungan saat pria itu mengelilinginya untuk melihat lebih jelas dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Hehe kau lumayan manis, kau juga terlihat seperti gadis lemah lembut" ujarnya.


"Jangan tertipu oleh penampilannya kak! setelah kau mengujinya kau pasti akan melihat kebusukannya" teriak Anggi tak senang.


"Apa maksud mu?" tanya Ratna merasa tersinggung.

__ADS_1


"Hei apa benar kau mendorong adik ku hingga ia sakit?" tanya pria itu.


"Astaga... hanya karena masalah itu kau mengajak ku kemari? serta membawa banyak pria, bukankah itu kekanak-kanakan?"


"Beraninya kau! asal kau tahu pinggang ku sakit sampai sekarang gara-gara kau!" balas Anggi.


"Hei! tidak ada seorang pun yang boleh menyakiti adik ku" ujar pria itu.


"Lantas apa yang akan kau lakukan?" tanya Ratna menantang.


Pria itu menatap sambil menyeringai, di liriknya tas belanjaan Ratna dan cepat mengambilnya dari tangan Ratna. Ia lempar tas itu kepada Anggi agar Anggi bisa melihat apa isinya.


"Topi? bukankah ini topi untuk laki-laki?" ujar Anggi.


"Kembalikan!" perintah Ratna.


"Baiklah... ambil ini" ujar Anggi menyodorkannya.


Ratna terpaksa berjalan untuk mengambil topi itu, tapi sebelum tangan Ratna sempat meraihnya Anggi sudah lebih dulu melemparnya kepada pria itu.


"Kau... " teriak Ratna.


"Ups.... " ucap Anggi menutup mulut dengan tangannya sambil tersenyum mengejek.


Mau tak mau kini Ratna harus berbalik arah untuk mengambil topi itu, namun lagi-lagi sebelum Ratna sempat meraihnya topi itu sudah di lempar lagi kepada Anggi.


"Anggi! aku tidak punya waktu untuk meladeni permainan mu" ujar Ratna mulai kehabisan kesabaran.


"Salah mu sendiri karena telah menyakiti ku, sekarang rasakan balasan ku" jawabnya.


Anggi melempar topi itu ke bawah dan menginjak-injaknya, sontak hal itu membuat Ratna kaget sekaligus sakit hati. Topi yang sengaja ia beli untuk Master kini kotor bercampur debu.


"Apa? kau bilang apa?" tanya Anggi.


"Ku bilang jangan!" teriak Ratna sambil menghambur ke arah Anggi.


Aaaaa........


Dengan cepat tangannya menjambak rambut Anggi hingga kepalanya tertunduk, emosi yang tak tertahankan membuat Ratna kalap hingga tak mungkin membiarkan Anggi begitu saja.


"Sial! lepaskan adik ku!" teriak pria itu.


Segera ia menarik tubuh Ratna agar menjauh dari Anggi, tapi cengkraman Ratna cukup kuat hingga rambut Anggi semakin tertarik. Pria-pria yang lain mulai membantu, mereka memisahkan tangan Ratna sementara Anggi hanya bisa menjerit kesakitan.


"Gadis sialan!" umpat pria itu.


Bruk


Ratna di dorong hingga jatuh telungkup, telapak tangannya terasa perih sebab lecet terkena gesekan kerikil. Dalam posisi itu ia melihat sepasang sepatu tepat di hadapannya, ia menengadah dan melihat Ardi berdiri tepat di sampingnya.


"Ratna! apa yang terjadi padamu?" tanya Jimy cepat menghampiri.


Dengan di bantu Jimy ia bangkit dan melihat ketiga sahabatnya berada di sana dengan tatapan penuh tanda tanya, Ratna tak mau bicara tapi sorot matanya telah menjawab semua pertanyaan itu.


Amus segera maju paling depan dan bertanya.


"Apa yang telah kalian lakukan kepadanya?"


"Hei bocah! ini bukan urusanmu jadi sebaiknya kau pergi saja" jawab pria itu.

__ADS_1


"Dia adalah adik kami, siapa pun yang berani menyakiti nya maka dia akan berurusan dengan kami" ujar Jimy.


"Owh jadi kalian saudara gadis itu, sebenarnya aku kurang percaya tapi aku juga tidak peduli. Kalian sudah ikut campur itu artinya kalian juga harus di beri pelajaran" jawabnya.


Dalam hitungan ketiga pria itu bersama kedua temannya maju, menghadapi Jimy dan yang lainnya. Perkelahian terjadi begitu saja, satu lawan satu menyisakan Anggi dan Ratna yang masih saling menatap.


Perlahan Ratna berjalan maju, melewati ketiga temannya yang sedang berkelahi. Melihat tatapan Ratna yang penuh emosi ada rasa takut dalam diri Anggi, terlebih ia sudah melihat dan merasakan kemarahan Ratna tapi dia mencoba terlihat tegar.


Plak


Satu tamparan tiba-tiba mendarat di pipi Anggi.


Aaaaaa....


Tiba-tiba Ratna kembali menjambak rambutnya, Anggi mencoba membalas tapi tangannya hanya mengais-ngais udara. Dalam beberapa menit perkelahian itu terjadi dengan sengit, sampai satu teriakan menghentikan mereka.


"Apa yang kalian lakukan? dasar anak-anak nakal, bisanya hanya berkelahi saja" omel seorang satpam.


"Gawat! cepat lari!" seru seorang pria.


Sontak mereka berlarian ke segala arah, Ratna yang paling terakhir menyadari cukup bingung hendak pergi kemana. Beruntung Jimy meneriakinya agar ikut berlari dengannya, Ratna sudah hendak berlari tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu.


Segera ia berlari ke arah Anggi saat pak satpam mencoba mengejar salah satu diantara mereka, dengan cepat Ratna mengambil sesuatu yang berharga baginya dan pergi menyusul Jimy.


"Hei berhenti!" teriak satpam kewalahan.


Jimy mengajaknya kabur ke arah yang berlawanan dengan yang lain agar dapat terhindar dari kejaran, meski pak satpam sempat ingin mengejar mereka juga namun tak jadi.


Mereka terus berlari hingga menemukan tempat untuk sembunyi, itu merupakan sebuah tumpukan kardus di samping toko. Mereka jongkok sambil mengawasi keadaan, sampai beberapa saat kemudian mereka dapat bernafas lega sebab tak ada yang mengejar.


"Hhhhhh kau baik-baik saja kan?" tanya Jimy memalingkan wajahnya pada Ratna.


Tapi Ratna tertunduk lesu, airmatanya tumpah entah sejak kapan sambil mendekap sesuatu dalam dadanya.


"He-hei apa ada yang terluka?" tanya Jimy mulai panik.


Ratna menyeka air matanya sambil menggeleng, hal itu membuat Jimy justru semakin bingung sebab Ratna tak mau bicara.


"Ada apa?" tanya lembut.


Perlahan Ratna membuka tangannya, memperlihatkan topi yang sudah kotor kepada Jimy.


"Maafkan aku.... aku... tidak bisa menjaganya dengan baik, padahal hari ini adalah hari ulang tahun mu tapi.... hadiah yang akan ku berikan sudah rusak... " jawab Ratna di sela-sela isak tangisnya.


Kini Jimy mengerti, rupanya alasan Ratna tadi berputar adalah untuk mengambil topi yang akan dia berikan kepadanya sebagai kado ulang tahun.


"Tidak apa-apa, keselamatan mu jauh lebih penting" ujar Jimy sambil menepuk atas kepala Ratna.


"Aku akan membelikan yang baru tapi.... bolehkah aku memberikannya nanti?" tanya Ratna.


Jimy menatap lekat wajah Ratna yang sedang sedih, melihat bagaimana perjuangan Ratna mempertahankan topi itu ia sangat paham hal yang terpenting bukanlah topinya melainkan keinginan Ratna untuk memberi.


"Tidak perlu, aku akan mengambil topi ini sebagai hadiah darimu" ujar Jimy yang membuat Ratna terkejut.


"Ta-tapi... topi nya sudah rusak dan kotor"


"Ini belum rusak, hanya kotor sedikit. Jika aku mencucinya nanti juga pasti kelihatan bagus lagi"


"Master.... " panggil Ratna terharu.

__ADS_1


"Terimakasih, kau sudah memberikan kado yang bagus di hari ulang tahun ku" ucap Jimy seraya tersenyum.


__ADS_2