
"Paman, aku ingin bicara" ujar Ratna saat dia baru sampai di kedai.
"Ada apa?"
"Begini... libur sekolah hanya tinggal sehari lagi besok, setelah masuk sekolah aku akan di sibukkan dengan belajar untuk persiapan ujian nasional. Aku tidak akan punya waktu lagi untuk bekerja di sini jadi.... kemungkinan besok adalah hari terakhir aku kerja"
"Mmm, paman mengerti. Ardi juga sudah bilang bahwa besok adalah hari terakhir dia bekerja" jawab Hamdani.
"Tapi paman aku masih senang bekerja di sini jadi.... jika paman ijinkan, setelah ujian selesai aku ingin bekerja lagi di sini"
"Apa kau tidak melanjutkan sekolah ke SMA?"
"Aku akan melanjutkannya, rencananya setelah pulang sekolah aku ingin bekerja sambilan di sini"
"Oh begitu rupanya, tentu saja Na. Kau boleh bekerja di sini kapan pun kau mau" ujar Hamdani mengijinkan.
"Terimakasih paman, kalau begitu aku lanjutkan pekerjaan ku dulu"
"Ya, silahkan" jawab Hamdani.
* * *
Bunyi klakson, teriakan karyawan toko, obrolan orang-orang dan deru kendaraan bersatu membentuk irama yang membuat gendang telinga Amus hampir pecah.
Seumur hidup ini adalah kali pertama ia pergi ke pusat perbelanjaan, jika bukan demi mengantar ibunya ia tak akan pernah mau pergi. Baru beberapa menit saja berjalan kepalanya sudah pening dan kakinya terasa lelah, padahal jika bermain futsal meski berjam-jam lamanya ia masih sanggup.
"Eh lihat! bajunya bagus-bagus" tunjuk Yati.
Segera ia berlari untuk melihat-lihat pakaian yang di gantung rapi itu, satu dua pakaian yang menurutnya bagus maka ia ambil dan lihat lebih jelas.
"Baju ini kayaknya bagus buat kamu" ujar Yati sambil menempelkan pakaian itu di badan Amus.
"Bagaimana menurut kamu?"
"Hah? um... bagus" jawab Amus.
Yati jelas bisa melihat ketidaknyamanan Amus berdiri di sana menunggu ibunya, memang ia juga paham tak ada lelaki yang sanggup menemani seorang wanita berbelanja.
"Ibu masih lama di sini, sebaiknya kamu tunggu di kafe aja biar gak bosen" ujarnya.
"Tidak apa-apa bu, aku bisa menemani ibu" jawab Amus yang sebenarnya sudah ingin mencari udara segar sejak tadi.
"Gak usah ngeyel! ibu sudah biasa belanja sendiri."
Amus ragu, ia tak mau mengecewakan ibunya tapi juga sudah tidak sanggup berjalan-jalan.
"Ibu yakin?" tanyanya.
"Tentu!"
"Baiklah, aku tunggu di kafe ya bu"
"Iya" jawab Yati membiarkan putranya pergi sedang dia kembali memilih pakaian.
Hhhhhhh
Amus menghembuskan nafas panjang seolah ia baru menemukan udara, dengan lemas ia berjalan melewati beberapa toko sampai tanpa sengaja ia melihat benda yang mengingatkannya pada Ratna.
Saat ia berpamitan hendak pergi Ratna sempat berpesan untuk membawakan oleh-oleh setelah ia kembali, untuk beberapa saat Amus hanya termenung sampai seorang penjaga toko menghampirinya.
__ADS_1
"Masuk aja mas, liat-liat dulu barangkali ada yang di suka" ujar penjaga toko tersebut.
"Ah nggak mbak, gak usah" jawabnya gugup.
"Masuk aja dulu gak apa-apa, mau cari buat pacarnya ya! pacar mas tipenya seperti apa? biar saya bantu carikan barang yang cocok."
Amus tertegun mendengar ucapan penjaga itu, ia berpikir mungkin penjaga toko itu memang bisa membantunya memilihkan barang yang akan di sukai Ratna. Akhirnya ia pun mencoba masuk, melihat-lihat sambil menerangkan karakter Ratna hingga akhirnya ia pun berhasil mendapatkan barang yang cocok.
Di tempat lain Yati juga membeli sesuatu sebagai oleh-oleh yang akan dia berikan kepada Ratna, ia berencana untuk menyuruh Amus memberikannya agar kedua anak itu lebih dekat lagi.
Berjam-jam belanja akhirnya Yati mendapatkan semua yang ia inginkan dan menemui Amus di kafe, ia hanya istirahat sebentar kemudian pulang agar memiliki waktu untuk berkemas.
Besok Nenek dan Amus akan pulang, ia yang tak bisa ikut hanya bisa mengantar sampai terminal dan memberikan banyak oleh-oleh untuk di bawa pulang.
Agak berat juga baginya untuk melepas Amus sebab mereka baru dekat satu sama lain, tapi libur sekolah telah berakhir. Amus akan kembali ke rutinitasnya begitu pun dengan dirinya, jika sudah punya waktu ia berjanji akan pulang lagi untuk menengok nenek dan Amus.
Esok harinya, pagi sekali Amus dan nenek sudah pergi ke terminal di antar Wijaya, banyak pesan yang ia sampaikan kepada Amus dan obrolan betapa senangnya ia akhir-akhir ini berkat Amus.
Tanpa terasa bahkan rasa haru telah membuat Wijaya menitikkan air mata, Amus hanya bisa memeluk ayahnya itu dan mengucapkan salam perpisahan dengan baik.
Beberapa jam kemudian setelah mereka sampai di rumah lingkungan tempat tinggal mereka nampak sepi sebab semua orang pergi bekerja, Amus memutuskan untuk istirahat saja sambil menunggu kepulangan Ratna.
* * *
"Aarhhh..... akhirnya hari ini selesai juga" ucap Ratna sambil menarik tangannya ke atas.
Kedai hari ini lebih ramai dari biasanya, mungkin karena ini adalah hari terakhir liburan. Banyak orang yang memanfaatkan hari ini untuk bermain sampai puas, karenanya mereka juga tutup lebih malam dari biasanya.
"Ah... kenapa waktu cepat sekali berlalu" gumamnya.
"Rasanya malas bukan, membayangkan besok kita harus masuk dan belajar lagi" ujar Ardi menanggapi.
"Sudahlah... cepat bantu aku menutup kedai" perintah Ardi.
Mereka kembali bekerja untuk membersihkan kedai dan menutupnya, sebelum pulang Hamdani memberi upah mereka selama seminggu dan bonus sebab untung yang ia dapat dua kali lipat lebih besar.
Setelah mengucapkan salam perpisahan mereka pun pulang bersama, sambil mengobrol tentang pekerjaan yang selama ini mereka nikmati. Dan tentu momen apa saja yang telah mereka lewati selama liburan, ada canda tawa juga tangis saat di bawa petugas ke kantor. Hanya debaran jantung dimana sensasi aneh mereka rasakan saat beradu pandang dalam jarak yang cukup dekat yang tidak saling mereka utarakan.
"Sampai jumpa besok di sekolah" ujar Ratna saat mereka sampai di kediaman Ardi.
"Ya, sampai jumpa" balas Ardi.
Ratna melanjutkan perjalanannya, sampai depan pintu rumah tiba-tiba Amus keluar rumahnya yang membuat Ratna menoleh.
"Eh kau sudah pulang?" tanyanya.
"Ya, aku sampai tadi siang"
"Begitu rupanya, bagaimana liburan di rumah bibi? apa menyenangkan?"
"Lumayan, tunggu sebentar di sana!" ujar Amus yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah.
Tak lama kemudian ia keluar dengan sebuah tas belanjaan di tangan, ia berjalan mendekati Ratna dan memberikan tas itu kepadanya.
"Apa ini?" tanya Ratna.
"Oleh-oleh dari ibu untuk mu"
"Ah bibi selalu saja memberikan ku hadiah, lalu... oleh-oleh dari mu mana?" tanyanya sambil menatap Amus penuh harap.
__ADS_1
"Kau pasti melupakan... "
"Ada di dalam juga!" ujar Amus memotong ucapan Ratna.
"Ini sudah malam, cepatlah tidur besok kita masuk sekolah" ujar Amus hendak pergi.
Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat ia merasakan sesuatu telah menarik bajunya, perlahan ia menengok ke belakang. Melihat tangan Ratna yang menarik bajunya dengan wajah bingung bercampur malu sambil menunduk.
"Terimakasih, apa.. kau tidak mau masuk dulu?" tanyanya pelan.
Amus merasa telinganya panas mendengar suara imut khas gadis yang sedang malu, di tambah dengan wajah manis Ratna ia mencoba menatap langit sambil menahan nafas agar tidak gugup.
"Baiklah" jawabnya.
Ratna melepas tangannya dan tersenyum senang, ia segera membuka pintu dan mempersilahkan Amus masuk. Di dalam rumah dengan rasa penasaran Ratna membongkar tas belanjaan untuk melihat apa yang telah Amus berikan padanya.
Awalnya ia menemukan satu set pakaian lengkap yang sudah bisa ia terka oleh-oleh dari Yati, kemudian ia juga menemukan sebuah kotak misterius di dalam tas itu.
Ratna mengambilnya dan melihat-lihat sebab kotak itu berwarna hitam polos, merasa curiga ia menatap Amus dengan tajam dan berkata.
"Jika isinya hal yang menakutkan aku akan membalas dendam padamu"
"Apa aku sejahil itu?" balas Amus.
Ratna kembali menatap kotak tersebut dan mulai membukanya perlahan dengan jantung yang berdebar, begitu benda itu ia tarik keluar matanya langsung terpana pada apa yang ia lihat.
Sebuah musik box balerina warna merah muda yang cantik, dengan sentuhan warna emas di dasar panggung membuat musik box itu terlihat mewah.
"Ini indah sekali, boleh aku mainkan?" tanya Ratna antusias.
"Tentu" jawab Amus datar padahal dalam hati ia juga ikut senang.
Ratna meletakkan musik box itu di atas meja, sedang ia duduk di bawah sambil ikut bersandar di atas meja. Musik mengalun lembut nan indah bersamaan dengan patung balerina yang ikut menari begitu Ratna menghidupkan benda itu.
Ini adalah benda pertama yang indah yang pernah ia miliki, saat masih kecil ia ingat Sari pernah memilikinya. Musik yang indah dan bentuk musik box yang bagus membuat para gadis terutama anak kecil menyukainya, sebab benda itu mampu membuat mereka memimpikan keajaiban yang sulit di tercapai di dunia nyata.
Ratna sendiri merasa menjadi seorang putri dari sebuah kerajaan tatkala memandang benda itu sambil mendengarkan musiknya, ia begitu menikmatinya hingga tak sengaja tertidur di sana.
Amus yang melihat hal itu tak kuasa membangunkannya, maka di gendongnya Ratna untuk di pindahkan ke dalam kamar.
Perlahan ia membetulkan posisi tidur Ratna dan menutupnya tubuhnya dengan selimut, namun tiba-tiba perlahan mata Ratna terbuka tepat saat ia sangat dekat dengan wajah Ratna.
"Amus... terimakasih, aku menyukainya" ujar Ratna pelan hampir seperti bisikan.
Mata Ratna terpejam kembali dengan senyum yang menghiasi wajah manisnya, Amus sangat bersyukur Ratna menyukai oleh-oleh yang ia berikan.
Awalnya ia takut Ratna tidak akan suka mengingat sifatnya yang perhitungan soal uang, ia pikir Ratna hanya akan senang jika di belikan makanan atau barang-barang mewah. Tapi penjaga toko itu meyakinkannya bahwa musik box adalah pilihan tepat sebab mengingat usia Ratna yang masih belia dan karakternya yang polos.
* * *
Matahari menyinari kamar Ratna dan membuatnya terbangun karena pantulan cahaya yang silau, untuk beberapa detik ia hanya duduk di atas ranjang mencoba mengumpulkan nyawanya yang semalam bergentayangan.
Setelah matanya cukup jelas untuk melihat benda pertama yang ia lihat adalah musik box di atas meja belajarnya. Samar-samar ia pun mengingat kejadian semalam, jika tidak salah ia sedang mendengarkan alunan musik box kemudian tertidur.
Tapi dalam tidurnya itu ia merasa seseorang sedang menggendongnya dengan hati-hati, kemudian tersenyum sambil mengelus rambutnya.
"Ah balerina, kenapa kau memberiku mimpi yang teramat indah sampai aku tidak mau bangun untuk menghadapi kenyataan" ujarnya menatap musik box itu.
"Ah... iya, semalam aku pasti ketiduran dan tidak sempat mengucapkan terimakasih kepada Amus. Aku harus segera bersiap masuk sekolah!" ujarnya mulai bangkit dari tempat tidur.
__ADS_1