
Lama ia menatap ponsel itu, mungkin sudah ada sekitar sejam yang lalu dan hatinya masih belum bisa memutuskan. Saat Jaya menyatakan perasaannya ia hanya bisa meminta waktu untuk berfikir, dengan baik Jaya memberinya kebebasan untuk berfikir.
Bahkan setelah pernyataan itu Jaya masih bisa bersikap biasa seolah tak ada yang terjadi, sedang dirinya di runding berbagai pikiran yang membuatnya tak bisa menikmati perjalanan itu.
Hhhhhhh
Kembali ia menghembuskan nafas, mengingat peristiwa yang terjadi sekitar delapan tahun yang lalu. Saat dimana Ardi menyatakan perasaannya, saat itupun hatinya sama seperti saat ini.
Ada senang dan sedih yang membuatnya bingung, ia mengatakan perasaan senangnya yang memang sudah lama menantikan pernyataan itu. Tapi kemudian ia perasaan sedih itu muncul dan ia juga mengutarakan alasan di baliknya.
"Di hatiku.... ada nama lain, ada seseorang yang ku cintai namun aku tidak bisa mengatakannya."
Ardi sudah tahu Ratna akan berkata demikian sebab ia tahu siapa yang di maksud Ratna, tujuannya mengatakan isi hatinya bukanlah dengan harapan Ratna akan menerimanya tapi karena ia tak tahan terus hidup sebagai pengecut yang egois.
"Aku tahu" ujarnya.
"Apa?"
"Entah sejak kapan aku mencintaimu, tapi cinta ini sangatlah egois sehingga aku tidak mau melihat mu dengan yang lain. Setelah lama merenung aku baru menyadari bahwa ini bukan cinta yang sesungguhnya, ini hanya obsesi yang di penuhi nafsu. Kalau pun kau menerima ku sudah pasti aku tidak akan memberikan kebebasan untukmu, karena itu... katakanlah perasaan mu pada orang yang kau cintai itu" jelasnya.
"Ardi... " panggilnya pelan.
"Semangatlah! aku pasti mendukungmu!" ujarnya sambil tersenyum.
Berkat motivasi itu ia sudah memutuskan akan menyatakan perasaannya, tapi ia terlambat. Amus terlanjur dan kembali hanya untuk memberitahu bahwa harapannya harus segera di musnahkan.
Kini ia kembali bimbang, haruskah ia menerima orang yang pernah hadir dalam hidupnya sebagai pacar atau tetap hidup dalam mimpi buatannya sendiri.
"Dia... apakah dia benar-benar bisa berubah?" gumamnya.
Ratna tak bisa memutuskan, ia ingin menelpon Irma untuk meminta pendapat tapi ia tak ingin menggangu waktunya. Jika menunggu Irma kembali itu cukup lama sebab ia pergi selama dua hari dan ia tak mau membuat Jaya menunggu lebih lama lagi.
"Aku harus memutuskannya sendiri, aku tidak boleh meminta bantuan atau pendapat orang lain karena ini hidup ku. Padahal sudah sejak dulu aku ingin kebebasan ini tapi sekarang setelah waktunya tiba aku malah tidak bisa apa-apa" ujarnya mengeluh sendiri.
"Hhhuuuuuhhhhh, baiklah... bagaimana kalau kita buat persentase keuntungan saja" ucapnya memutuskan.
Ia mengambil sebuah buku dan pena, di dalamnya ia menulis kelebihan apa saja yang di miliki oleh Jaya. Yang pertama tentu saja dari segi finansial Jaya tak perlu di ragukan lagi, dari segi profesi pun ia punya status yang bagus. Dari segi fisik ia sudah punya tubuh tinggi dan wajah yang lumayan tampan, tentu ia patut di banggakan akan hal itu.
Satu-satunya hal yang membuat Ratna tidak menyukainya adalah sifatnya yang suka mengekang, tapi ia berjanji akan memperbaiki hal itu.
"Sial! dia punya keunggulan yang banyak, jika begini aku tidak punya alasan untuk menolak" ujarnya setelah menulis banyak hal.
Ratna menegakkan tubuh, mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Jaya yang isinya.
"Besok temui aku jam tiga sore di depan mall."
Beberapa menit kemudian Jaya membalas dengan singkat.
"Baik"
"Baiklah... setelah pulang bekerja aku akan menemuinya" ujarnya.
Ia sudah memutuskan dan membulatkan tekad pada keputusannya itu, tapi esoknya sepanjang hari selama ia bekerja hatinya terus meragu dan sempat mengubah keputusannya. Sampai tibanya untuk pulang ia segera memakai jaketnya dan mengambil tas kemudian pergi ke mall.
Beberapa menit kemudian Jaya benar-benar datang padahal hatinya masih belum siap, saat ia melirik jam tangan pun waktu baru menunjukkan pukul 14.30 yang artinya mereka datang lebih awal.
"Cepat sekali kau sampai" ujarnya.
"Aku memutuskan untuk menunggumu, tapi ternyata malah kau yang datang duluan"
"Oh, aku pulang jam dua. Jarak dari tempat ku bekerja ke sini hanya sepuluh menit jadi aku sampai lebih cepat"
"Begitu rupanya, eh kau mau nonton film?" tanya Jaya.
"Nonton?" ujar Ratna balik bertanya.
"Ya, ada film yang ingin aku tonton. Kau mau menemaniku?"
"Um... baiklah" jawabnya.
Mereka pun segera masuk, Jaya memesan dua tiket dan tak lupa membeli popcorn untuk melengkapi acara mereka. Melihat begitu santainya Jaya ia menjadi lega sebab dengan begitu ia bisa mengatakan keputusannya tanpa rasa bersalah.
"Apakah ini kencan kedua kita?" tanya Ratna sambil mengambil popcorn di tangan Jaya.
"Bukan, ini yang ketiga"
"Apa?"
"Kencan pertama kita adalah saat pertemuan pertama kita di mall ini" jawab Jaya seraya tersenyum.
Hah... hahahaha
__ADS_1
Ratna tak kuasa menahan tawa, baginya ungkapan itu cukup menggelitik hatinya hingga hilang beban di pundaknya. Film di mulai beberapa saat kemudian, kini Ratna duduk dengan santai dan menikmatinya.
"Ah... untung saja itu bukan film horor jadi aku bisa menikmatinya" ujar Ratna saat mereka keluar dari bioskop.
"Kenapa? kau tidak suka film horor?" tanya Jaya.
"Aku tidak suka semua hal yang membuat jantung ku terancam bahaya"
Hahahahahaha
"Ada-ada saja, baiklah sekarang kita mau pergi kemana?" tanya Jaya.
"Bagaimana kalau kita makan? perutku sudah menagih"
"Ayo!" ajak Jaya sambil berjalan lebih dulu.
Pilihan Ratna jatuh pada ayam goreng tepung, itu adalah makanan favoritnya. Tanpa memperdulikan Jaya yang terus memperhatikannya fokusnya hanya pada satu tujuan yaitu makanan, sampai mulutnya belepotan karena saus.
Jaya hanya bisa menggeleng melihat tingkahnya yang tidak berubah, dengan ibu jarinya ia menghapus noda saus di mulut Ratna. Sentuhan itu membuat mereka saling pandang, sejenak Jaya kembali tergoda pada bibir yang penuh itu. Tapi ia tak mungkin melakukan kesalahan yang sama di tempat ramai itu, ia hanya tersenyum sambil berkata.
"Makanlah pelan-pelan, nanti kau bisa tersedak"
"Oh, mm baik" jawab Ratna sambil kembali me-lap mulutnya, memastikan tak ada noda apa pun lagi di sana.
Selesai makan mereka pun memilih untuk pulang, tapi saat di tempat parkir Ratna tahu ia harus segera memberitahu keputusannya.
"Sekarang kita mau kemana?" tanyanya.
"Tentu saja pulang, besok kau harus berangkat kerja kan"
"Oh... baiklah" jawabnya yang tiba-tiba kehilangan keberanian.
Selama perjalanan Ratna hanya bisa diam, masih berfikir dan memutuskan sebab keraguan selalu saja datang menghalangi sampai mereka tiba di tempat Ratna kos.
Ratna turun dari sepeda motor dan berdiri menghadap Jaya, menatapnya lekat-lekat sedang Jaya menatapnya sambil tersenyum.
"Aku akan pergi, selamat malam" ujar Jaya.
"Tunggu!" sergah Ratna sambil menarik tangan Jaya.
"Ada yang ingin aku katakan padamu, itulah mengapa aku memintamu datang sebab aku belum menjawab pertanyaan mu" ujarnya.
"Terimakasih, untuk semua hal menyenangkan yang telah kau berikan padaku. Semua itu membuatku merasa hidup lagi, terimakasih juga telah menyatakan perasaan mu secara langsung aku sangat menghargainya" ujar Ratna.
"Ini sudah jaman milenial, rasanya memalukan jika aku menulis surat cinta lagi kepadamu" sahutnya.
"Kau benar, tapi suka surat cinta yang kau tulis untuk ku. Kata-kata yang kau pilih begitu indah dan sangat romantis, aku sampai membacanya berulang kali"
"E-eh... terimakasih" ujar Jaya tersipu.
"Dari surat itu aku bisa merasakan ketulusan mu, meski pada saat kita pacaran sikapmu sangat menyebalkan. Tapi.... aku rasa sekarang kau sudah berubah menjadi lebih dewasa, karena itu... aku mohon tetaplah menjadi orang yang pengertian"
"Akan aku usahakan" jawab Jaya mengerti.
"Baiklah, selamat malam! hati-hati di jalan ya" ujar Ratna.
"Oh, mm baiklah. Tapi... bukankah kau bilang kau mau menjawab pertanyaan ku"
"Aku sudah menjawabnya"
"Kapan? aku tidak mendengarnya" ujar Jaya bersikukuh.
"Bukankah aku sudah katakan tetap menjadi orang yang pengertian?" balas Ratna.
Jaya terdiam mencerna kalimat yang di ucapkan Ratna, ia sungguh bingung apa maksud dari ucapan yang tidak spesifik itu.
"Bisakah kau menggantinya dengan kalimat yang mudah di pahami?" pinta Jaya.
"Aish.... kau ini seorang pengacara, kenapa tidak bisa memahami kalimat sederhana seperti itu?" omel Ratna.
"Jangankan pengacara insinyur saja tidak mengerti ucapan mu!" balas Jaya dengan suara yang lebih kencang.
"Aku mencintaimu" ujar Ratna cepat.
"A-apa?" tanya Jaya seolah pendengarannya bermasalah.
"Aku bilang aku mencintaimu, karena itu tetaplah menjadi orang yang pengertian karena aku tidak mau bertengkar denganmu hanya karena cemburu buta" jelas Ratna.
Jaya masih menatap tak percaya, tapi perlahan ia tersenyum dan seakan ada bunga-bunga di sekitarnya yang membuatnya bahagia.
"Sungguh?" tanyanya hanya untuk sekedar memperjelas.
__ADS_1
"Hari ini kita kembali pacaran, aku harap di kesempatan kedua ini baik kau maupun aku kita sama-sama saling pengertian dan membahagiakan satu sama lain"
"Tentu, aku tidak akan mengecewakan mu" jawab Jaya.
Mereka saling tersenyum satu sama lain, membuat Jaya perlahan terbawa suasana sampai mengelus rambut Ratna. Tangannya kini beralih ke pipi, meski hal itu membuat Ratna gugup dan berpikir hal yang bermacam-macam tapi ia membiarkannya.
"Aku akan pulang sekarang, masuklah ke kamarmu dan beristirahatlah" ujar Jaya.
"Oh baiklah" jawabnya sedikit bingung karena ia pikir Jaya akan mengecupnya.
Jaya melepaskan belaian tangannya dan membiarkan Ratna pergi, mereka sempat saling tersenyum sambil melambaikan tangan sebelum Ratna benar-benar masuk ke dalam kosan.
Ia cepat mandi dan berganti pakaian lalu berbaring di atas ranjang dengan harapan akan cepat terlelap, tapi saat ia memejamkan mata justru yang ia lihat adalah Jaya. Jantungnya kembali berdegup kencang saat pipinya kembali merasakan sentuhan tangan Jaya, entah mengapa ia merasa Jaya begitu tulus kepadanya.
"Ah... apakah semua laki-laki jika sudah dewasa benar-benar menjadi dewasa? dia benar-benar berubah sekarang, tapi... bukankah itu baik? mungkin hubungan kami akan berhasil" gumamnya.
Karena tak kunjung bisa tidur ia memutuskan untuk melihat arsipnya, membaca semua hal yang telah ia tulis dimana semua itu adalah curahan isi hatinya. Ratna mengambil pena, lalu di lembaran yang baru ia mulai menulis sambil mengingat hari dimana hatinya telah putus asa.
"Menatap kepergian mu menggetarkan jiwaku, melumpuhkan panca indra hingga melemahkan hati. Ingin aku berteriak demi menghentikan waktu agar langkah mu pun terhenti, mendekap mu erat untuk selamanya. aku ingin mengutuk demi meluapkan kekecewaan yang ada, tapi ku tahu semua salahku yang menyimpan harap padahal hal itu tak pernah kau berikan.
Adalah aku... yang hanya ingin melepasmu untuk Tuhan bukan yang lain, tapi kau malah pergi meninggalkan harapan. Di sini, aku yang selalu menjadi orang lain di hatimu *kini menemukan sesuatu yang tak pernah terfikir dalam logika.
Bagaikan takdir yang telah di tulis Tuhan kami bertemu dengan cara yang tak pernah terbayangkan, mungkin hatiku masih terpaut padamu bahkan selamanya namamu akan terpatri di sana. Tapi tanganku mulai hancur oleh lekangnya waktu, hingga tak sanggup lagi tuk menggenggam harapan itu.
Mungkin aku memang membodohi diri, tapi bukankah aku pun berhak untuk bahagia? mungkin tidak bersama dengan orang yang aku cintai, tapi cukuplah dia yang mencintaiku dengan sungguh-sungguh.
Mungkin ini seperti kompromi, tapi setidaknya aku tahu diriku bersama dengan orang yang tepat*."
Ratna menutup Arsip pribadinya dengan harapan ini adalah kali dia terakhir menulis, sebab sebagian besar dari yang ia tulis adalah mengenai Amus. Ia ingin bisa menutup kisah itu dengan damai, tanpa ada perdebatan lain lagi di dalam hatinya.
Entah mengapa tapi esoknya Ratna menjadi sumringah, sepanjang jam kerja ia terus tersenyum dan begitu ramah kepada pelanggan. Tentu hal itu membuat teman-temannya penasaran terlihat Ica yang menaruh curiga.
"Apa kemarin kau jalan dengan mantan pacarmu itu?" tanyanya tiba-tiba.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Ratna.
"Dimas mengatakan kemarin mantan pacarmu menolak saat di ajak berkumpul, dia bilang ada urusan penting dan kemarin kau juga tiba-tiba mendadak minta tukar"
"Ah.... itu aku memang kemarin jalan dengannya" akuinya.
"Apa? kalian jalan berdua? apa ini semacam kencan atau yang lainnya"
"Itu... kenapa aku harus menjawab pertanyaan mu? jangan usik hidup orang lain, sebaiknya kau pergi kerjakan tugasmu" hardik Ratna.
"Aku yakin sesuatu telah terjadi pada kalian, sungguh mengesalkan! padahal aku dan Dimas masih dalam masa PDKT, ingatlah semua ini berkat diriku! jika bukan karena aku sudah pasti kalian tidak akan bertemu" ujar Ica yang tak bisa berhenti mengomel.
Tapi Ratna tak memperdulikannya, untuk sementara ia ingin menyembunyikan status pacarannya dulu sampai hatinya siap. Tapi saat ia pulang kerja tiba-tiba Jaya berada di sana, tepat di pinggir jalan dan terlihat seperti sedang menunggu seseorang. Dengan cepat ia berlari menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya cemas.
"Akhirnya kau datang juga, ada sesuatu yang ingin ku berikan padamu"
"Apa?" tanya Ratna sambil sesekali melihat sekeliling berharap tidak ada yang melihatnya.
Jaya mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah, saat di buka ternyata itu merupakan perhiasan kalung yang sangat cantik.
"Aku baru saja mendapat uang dari pekerjaan ku, karena kita baru jadian aku ingin memberikan mu sesuatu sebagai hadiah. Jadi aku memutuskan untuk membeli ini" ujarnya sambil mengambil kalung itu.
"Itu.... apa tidak berlebihan?" tanyanya.
"Perlu kau tahu saat jaman sekolah aku bukanlah pria yang baik meskipun terhadap perempuan sekali pun, aku sering berganti pasangan dan menyakiti banyak hati seorang gadis. Kau adalah gadis pertama yang menyakiti hatiku dan membuatku berfikir ini adalah karma, semenjak itu aku semakin mengenalmu dan kagum atas kepribadian mu. Untuk seorang Gadis Dolar ini bukanlah apa-apa" jawabnya seraya tersenyum.
"Dasar!" omel Ratna sambil memukul bahu Jaya namun sambil tersenyum.
"Boleh aku pakaikan di lehermu?" tanyanya.
Ratna mengangguk, ia berjalan lebih dekat lagi kepada Jaya dan membiarkan tangan itu mengikatkan kalung di lehernya.
"Kelihatan lebih cantik saat kau pakai" ujarnya menatap kalung yang tersemat di leher putih Ratna.
"Terimakasih, aku menyukainya"
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Ada pekerjaan yang harus segera ku selesaikan, kau tidak apa kan jika tak ku antar pulang?" tanyanya.
"Mm, tentu saja"
"Baiklah sampai jumpa, jika pekerjaan ku sudah selesai nanti aku akan menelpon mu" ujarnya sebelum pergi.
Dengan tersenyum Ratna melambaikan tangannya, terus menatap sosok Jaya hingga hilang dalam pandangannya.
"Ah... jika kau seperti ini terus bisa-bisa aku yang jatuh cinta padamu" ujarnya.
__ADS_1