
"Di sepertiga malam selalu ku terbangkan harapanku meski ia akan menabrak langit dan jatuh kembali, melukai ku di tempat yang sempurna. Sampai hilang kepercayaan ku pada keadilan yang terasa memihak, sebab waktu yang ku idamkan tak jua timbul mengukir senyum. Lantas haruskah padam harapan ini? padahal tanpanya kisah ini belumlah lengkap."
Di kutip dari arsip pribadi Ratna Mangalih.
* * *
"Ratna..... " panggil Sapardi yang baru pulang dari kebun.
Sesegera mungkin Ratna berlari keluar untuk memenuhi panggilan itu.
"Iya yah!" jawabnya.
"Tolong kasih rebung ini ke neneknya Amus, tadi ayah dapat banyak dari kebun"
"Oh baiklah" jawabnya yang segera berangkat.
Jarak rumahnya dengan Amus memang sangat dekat, bahkan karena tak ada pagar di sekeliling rumah mereka Ratna bisa melihat Amus yang sedang duduk di kamarnya lewat jendela.
"Nenek.... " panggilnya dari pintu depan.
"Ya... masuklah Na" jawab nenek dari dalam rumah.
Ia membuka pintu dan segera menuju dapur, di lihatnya nenek sedang mencuci piring yang hanya ada dua biji.
"Ini, ayah memberikan rebung untuk nenek" ujarnya sambil menyerahkan tas plastik itu.
"Oh terimakasih" jawab nenek tersenyum ramah.
Setelah menunaikan tugasnya ia tak langsung pulang, justru masuk ke kamar Amus yang sibuk belajar dengan telinga di sumbat earphone.
Tanpa Amus sadari sudah lima belas menit Ratna berdiri di belakangnya memperhatikan caranya menyelesaikan sebuah rumus matematika.
"Ah... kau memang pintar, tidak salah mendapatkan peringkat kedua di kelas"
Wa..... aahhh aaahhhhh
"Ish, kau membuatku kaget!" teriak Amus akibat wajah Ratna yang tiba-tiba begitu dekat di sampingnya.
"Makanya lain kali perhatikan sekeliling mu juga, jangan hanya terfokus pada satu objek saja"
"Kau yang tiba-tiba datang, seperti hantu saja" omel Amus.
Ratna cemberut mendengar ucapan itu, tapi kemudian dia bersikap seperti biasa lagi.
"Aku sudah berdiri di belakang mu dari tadi, memang apa yang kau dengarkan sampai tidak tahu aku datang?" tanyanya mengambil satu earphone dari telinga Amus.
"Lagu siapa ini?" tanya Ratna.
"Peterpan, itu singel terbarunya judulnya ku katakan dengan indah"
"Benarkah? oh... aku sangat suka lagu-lagunya, dari mana kau dapat lagunya?" tanya Ratna antusias.
"Aku mengisi kartu memori ku dengan lagu di warnet, harganya cukup murah kau bisa dapat 100 lagu hanya dengan harga 5000"
"Kau bilang murah? dengan harga segitu aku bisa beli nasi dan lauknya. Lagi pula aku tidak punya kartu memori atau pun MP3" ujar Ratna murung.
Hhhhhhh
"Kau boleh pinjam punyaku, tapi jangan sampai rusak" ujar Amus memberikan MP3 itu.
"Benarkah? aku boleh meminjamnya?" tanya Ratna sumringah.
__ADS_1
"Sebagai gantinya tolong buatkan catatan sejarah, aku mau pergi main sepak bola dengan yang lain" ucap Amus menyerahkan buku tulisnya.
"Aish... sepintar-pintarnya anak laki-laki kenapa kalian tidak suka mencatat"
"Sudahlah tidak perlu banyak bicara, lagi pula kita saling menguntungkan. Baiklah aku pergi dulu...." teriak Amus yang segera berlalu.
"Setidaknya kita memang saling menguntungkan" ulang Ratna menatap kepergian Amus.
Ratna mulai mengerjakan permintaan Amus saat malam telah tiba, baginya yang memang sudah terbiasa mencatat hanya butuh waktu untuk menyelesaikan tugas itu.Malam itu juga ia kembalikan buku catatannya kepada Amus.
"Oh kalian di sini juga" ujar Ratna melihat Ardi dan Jimy yang sedang berkumpul di kamar Amus.
"Ini catatan mu!" ujarnya menyerahkan buku itu kepada Amus.
"Sudah selesai?" tanya Amus memeriksa bukunya.
"Tentu saja selesai, aku terbiasa membuatkan catatan saudari tiriku jadi aku bisa menyelesaikannya dengan cepat"
"Curang! kau hanya membuatkan catatan untuknya saja, kami juga ingin dibuatkan catatan" erang Ardi.
"Hei itu tidak gratis, sebagai gantinya aku meminjam MP3 milik Amus"
"Baiklah! buatkan aku catatan juga sebagai gantinya besok akan ku traktir mie instan di kantin" ujar Jimy.
"Dengan toping telur?"
"Baiklah dengan toping telur"
"Yey..... bagaimana dengan mu? apa yang bisa kau tawarkan?" tanya Ratna bersemangat kepada Ardi.
"Kau ini kepada teman sendiri penuh perhitungan" omel Ardi dengan muka di tekuk.
"Di dunia ini tidak ada yang gratis sayang" ujar Ratna dengan nada manja.
"Hei! aku tidak butuh contekan!" erang Ratna.
"Kalau begitu aku akan membelikan mu cemilan sekarang, tapi selesaikan catatan ku sekarang juga"
"Itu baru bisa diterima" ujar Ratna kembali sumringah.
Ardi dan Jimy pun pergi untuk mengambil buku mereka masing-masing dan juga membeli beberapa cemilan, mereka kembali tak lama kemudian dan menyerahkannya kepada Ratna.
"Amus tolong nyalakan radionya" pinta Ratna.
"Oh baiklah."
Sebuah lagu keluar dari radio, membuat perasaan hangat di kamar yang di penuhi muda mudi. Mereka menikmati alunan musik itu sambil sibuk dengan pekerjaan masing-masing, Ratna dengan tugas mencatat dan Amus, Jimy serta Ardi yang fokus dengan komik mereka.
"Tiga bulan lagi ujian semester satu, apa kalian sudah punya persiapan?" tanya Ratna tanpa melepas pandangannya dari buku.
"Apa yang harus di persiapkan?" tanya Ardi.
"Tentu saja mental dan otak, setelah memasuki semester kedua bahkan aku rasa kita tidak punya waktu untuk berkumpul seperti ini. Setiap hati kita akan pulang sore karena les, itu pasti melelahkan"
"Apa kau gugup?" tanya Amus.
"Tidak juga, ada hal lain yang lebih menyita otakku selain dari ujian"
"Apa itu?" tanya pula Jimy penasaran.
"Biaya ujian, kemudian persiapan masuk ke SMA."
__ADS_1
Semua terdiam, usia mereka akan menginjak lima belas tahun dan setelah masuk SMA mereka akan dianggap sudah cukup besar untuk menentukan pilihan hidup.
"Kau ingin masuk SMA mana?" tanya Jimy.
"Tentu saja SMA Negeri, sebab biayanya cukup terjangkau untuk ayahku. Setelah masuk SMA aku juga berniat untuk mencari pekerjaan sampingan"
"Kau mau sekolah sambil bekerja?" tanya Amus.
Ratna menghentikan tangannya yang sedang menulis, pandangannya menatap lurus pada tembok tapi yang ia lihat adalah bayangan masa depan.
"Aku harus melakukannya, meski SMA Negeri biayanya terjangkau tapi masih ada banyak pengeluaran untuk yang lain. Aku harus mendapatkan pekerjaan agar bisa mengatasi kebutuhan sekolah ku nanti sebab penghasilan Ayah tidak bisa diandalkan" ujarnya.
"Tidakkah itu terlalu berat untukmu? lagi pula sebagai pelajar pekerjaan apa yang bisa kau kerjakan?" tanya Jimy.
"Apa saja, mungkin menjaga toko atau mencuci piring di warung makan"
"Sebelum itu sebaiknya kau selesaikan catatannya dulu, ini sudah hampir larut aku mau pulang" ujar Ardi.
"Jika kau ingin pulang tinggal pulang! besok ku berikan catatan mu" balas Ratna.
"Baiklah kalau begitu, aku pulang duluan"
"Aku juga ikut! Na besok bukunya aku ambil!" ujar Jimy yang menyusul kepergian Ardi.
"Ini kan belum larut, tidak mungkin kan mereka mau tidur" gumam Ratna.
"Mereka mau pergi main PS" ujar Amus.
"Apa? jadi itu alasan mereka pergi! apa karena itu juga Ardi sering tidur di kelas?" tanya Ratna cukup kaget.
Amus menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Ratna.
"Ah sial! kenapa mereka bisanya hanya membuang-buang uang?" gerutunya.
"Sudahlah sebaiknya kau selesaikan tugasnya, kau tidak akan mengerti jalan pikir anak laki-laki."
Ratna kembali menundukkan kepalanya, melanjutkan tugasnya sedang Amus juga kembali ke komiknya. Ditemani lagu yang terus di putar di radio, tanpa terasa waktu terus berjalan hingga malam semakin larut.
"Ahhhh...... selesai juga.... " teriak Ratna melepas bolpoin dari tangannya.
Aw... ahhh... ahh...
"Ada apa?" tanya Amus yang kaget mendengar erangan Ratna.
"Tanganku... tanganku kram..." teriaknya menggenggam pergelangan tangan kanannya.
"Ah kau ini..."
"Aw... jangan di pegang bodoh!"
"Maaf! maaf! lalu aku harus apa?"
"Apa saja, aw... ku bilang jangan di sentuh!" teriak Ratna.
"Kau bilang apa saja!" balas Amus.
"Tapi jangan di sentuh"
"Sudahlah percayakan padaku"
Aw.....
__ADS_1
Dengan cepat Amus memegang tangan Ratna yang kram, memijitnya dengan cepat tanpa peduli teriakan Ratna semakin kencang di tambah dengan makian yang tak ada habisnya. Amus terus melakukan pijitan itu hingga lama kelamaan tangan Ratna kembali bisa berfungsi dengan baik.