
Meski cukup sulit tapi Ratna harus bisa mengatakan apa yang baru saja terjadi padanya, dengan penuh penyesalan ia menceritakan insiden itu kepada Ian. Tentu Ian sangat mengerti perasaan bersalah yang di rasakan Ratna, dengan penuh pengertian Ian berkata agar Ratna tak usah memikirkannya.
Ratna juga menceritakan hal itu kepada Ardi dan Jimy, tentu mereka bersimpati dan mentraktir Ratna untuk menghiburnya. Rupanya hal itu cukup berhasil, Ratna kembali riang setelah mendapat makanan.
"Besok kalian mau ke alun-alun tidak? ku dengar akan ada banyak pedagang, kita bisa wisata kuliner di sana" tanya Ratna.
"Jika soal makanan kau memang nomor satu" ujar Amus.
"Makanannya sangat komplit, apa pun yang kau inginkan pasti akan ada"
"Maksudmu kau?" tegas Amus.
"Baik, ayo pergi! sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama" ujar Ardi.
"Maksudku menghabiskan uangku?" rakat Jimy.
Hahahaha
Tak ada yang bisa menahan tawa mendengar hal itu sebab pada kenyataannya memang Jimy yang selalu mengeluarkan uang, jika Jimy tidak ada maka Amus lah yang bertugas mentraktir mereka.
Setelah membuat janji esoknya mereka pergi ke alun-alun setelah Ratna selesai bekerja, masih beberapa meter lagi untuk sampai tapi asap dari sate sudah tercium oleh mereka karena terbawa angin.
Melihat begitu banyaknya makanan mata Ratna langsung berbinar dan bingung untuk mencicipi yang mana dulu.
"Haruskah kita membeli sesuatu yang manis dulu?" tanya Ratna.
"Ide bagus, setelah yang manis baru yang pedas baru nikmat!" jawab Jimy setuju.
Pilihan pertama mereka jatuh pada es campur, masing-masing memegang satu gelas dan menikmatinya. Ratna terlihat senang bahkan menjadi yang pertama kali habis, dengan tak sabar ia mengajak yang lain untuk mencoba makanan lain padahal teman-temannya belum selesai makan.
"Lihat! kau sudah mencoba baso bakar?" teriak Ardi sambil menunjuk.
"Belum, mau coba?" tawar Ratna.
"Tentu saja, ayo!" teriak Ardi sambil menarik tangan Ratna.
Mereka nampak tertawa bersama, membuat Amus tertegun sebentar hanya untuk melihat sesuatu yang dia rasa tidak biasa. Mereka telah bersama dari kecil, karena itu Amus cukup mampu menyadari jika sesuatu ada yang berbeda meski itu hal kecil.
"Ada apa?" tanya Jimy melihat Ratna yang terpaku pada sesuatu saat mereka memesan makanan.
"Rasanya aku mengenali pria itu" ujar Ratna sambil menunjuk.
Jimy menatap seorang pria yang di tunjuk dan segera sadar bahwa ia mengenali pria itu.
"Itu kak Angga!"
"Mana?" tanya Ardi penasaran.
Ratna menunjuk agar Ardi dan Amus bisa tahu.
"Oh benar, kak Angga!" teriak Ardi memanggil.
Tapi suaranya tenggelam oleh kebisingan banyaknya orang-orang, bahkan keliatannya Angga benar-benar tak sadar akan keberadaan mereka di sana. Jimy berinisiatif untuk menghampirinya tapi tiba-tiba seorang gadis muncul mendekati Angga, terlihat gadis itu mengatakan sesuatu yang membuat Angga tertawa dan mencubit hidungnya.
"Bukankah itu Mita?" gumam Ratna.
Tak salah lagi, gadis itu memang Mita. Mereka terlihat sangat mesra dengan saling tertawa dan bergandengan. Tanpa bicara Jimy berjalan mengikuti mereka, akhirnya yang lain pun jadi mengikuti.
"Apa yang mereka lakukan di sini?" tanya Ardi.
"Entahlah, kita akan segera tahu" jawab Ratna.
Mereka terlihat pergi melewati kerumunan orang dan berhenti di sebuah kedai, Jimy dan kawan-kawan pun ikut berhenti tak jauh dari mereka. Mata Jimy tak lepas memandang mereka untuk melihat apa saja yang mereka lakukan, tak ada yang aneh tapi semua tindakan mereka seperti sepasang sejoli.
"Master, apa kau memikirkan apa yang aku pikirkan?" tanya Ratna.
"Ya" jawab Jimy singkat.
"Kalau begitu ayo!" ajak Ratna.
Jimy dan Ratna berjalan lebih dulu di susul dengan yang lain, mereka segera menuju tempat Angga dan Mita duduk.
"Ka-kalian... apa yang kalian lakukan di sini?" tanya kaget melihat kedatangan mereka.
Dari ekspresi Mita nampak ia pun sama kagetnya, tapi tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Sebaiknya kau yang menjawab pertanyaan itu" balas Jimy.
Angga dan Mita saling berpandangan, terlihat Mita sedikit menggeleng. Beberapa menit mereka habiskan dengan komunikasi menggunakan isyarat sampai akhirnya Jimy berdeham dengan tidak sabar.
__ADS_1
"Ah... bagaimana kalau kalian duduk dulu" tawar Angga.
"Ide yang bagus!" jawab Ardi.
Dengan cepat Ardi bergerak ke samping Angga dan duduk di sana, di ikuti oleh Amus baru yang lainnya. Untuk beberapa saat mereka masih diam tak mau menjawab.
"Jadi... " ujar Jimy memulai.
"Apa saja yang telah kalian ketahui?" balas Angga.
"Belum ada, kami hanya melihat kebersamaan kalian yang cukup intens dan patut di pertanyakan" jawab Ratna.
"Hhhhhh sepertinya tidak ada pilihan lain" gumam Angga sambil menghela nafas.
"Sebenarnya kami berpacaran"
"Apa?" tanya ke empat sekawan itu berbarengan.
Mita hanya bisa mengernyit melihat ekspresi kaget keempat temannya, sebenarnya ia ingin terus menyembunyikan hubungannya sampai dia lulus SMA. Tapi nasi sudah menjadi bubur, apa pun alasan yang dia berikan pasti tidak mudah di percaya, lagi pula tidak ada alasan masuk akal yang bisa dia buat.
"Sejak kapan?" tanya Jimy.
"Itu... beberapa hari setelah les gratis yang ku berikan saat kalian akan ujian kami mulai semakin dekat dan pada akhirnya kami berpacaran"
"Kisah cinta yang sangat mulus" komentar Amus yang membuat mereka menatapnya.
"Tapi bagaimana bisa?" tanya Jimy yang masih belum percaya.
"Apanya yang tidak bisa? namanya cinta apa pun pasti menjadi mungkin" jawab Ardi sang kelinci putih.
"Kenapa kau tidak pernah memberitahuku soal ini? bukankah kita teman?" tanya Ratna kesal.
"Maaf, aku pikir ini sangat memalukan jadi aku belum siap memberitahu mu" jawab Mita menyesal.
"Apanya yang memalukan? kau pintar dan kak Angga pintar, bukankah kalian pasangan yang sempurna?" tanya Ardi.
"Bukan begitu, Jimy dan aku teman satu kelas menurutmu apa aku masih punya muka jika hubungan kami di ketahui?"
"Ah... kalian benar-benar pintar bersembunyi, tak kusangka calon kakak ipar ku adalah teman ku sendiri" ujar Jimy.
"Kau... tidak keberatan kan?" tanya Angga hati-hati.
"Kenapa kau langsung setuju?" tanya Ratna heran.
"Mau bagaimana lagi? aku tidak bisa menghalangi kisah cinta kakak ku"
"Lalu kenapa aku tidak boleh menjadi kakak ipar mu? apa bedanya aku dengan Mita?" tanya Ratna mulai kesal.
"Jelas berbeda! kau bercanda? dia pintar sedangkan kau bodoh! dia baik sedangkan kau mata duitan! jika aku punya kakak ipar seperti mu seumur hidup aku akan mengutuki diriku"
"Master! kau yang memulai!" teriak Ratna.
Aaaahhhh...... adduuhhh...
Ratna melancarkan serangan dengan cubitan yang bertubi-tubi di sekujur tubuh Jimy yang bisa ia gapai, membuat Jimy kesakitan sedang yang lain hanya bisa menggeleng sambil tertawa.
Mita sendiri kini bisa bernafas lega, kekhawatiran yang selama ini menjadi mimpi buruknya akhirnya sirna. Jimy dan yang lain rupanya cukup pengertian dan mampu menerima hubungan itu dengan baik, tapi jika di pikir lagi Jimy memang punya pribadi yang lebih dewasa sehingga tidak egois.
Sebagai gantinya Angga mentraktir mereka makanan, tentu Ratna yang di buat bahagia sebab perutnya kenyang tanpa mengeluarkan satu perak pun.
Hingga kenyang mereka menjajal setiap makanan asing yang bisa mereka makan dan lelah kaki mereka terus berkeliling, Angga dan Mita pamit pulang lebih dulu.
Ke empat sekawan itu juga memutuskan untuk pulang sebab hari sudah larut, besok mereka harus bangun pagi demi menjalani rutinitas seperti biasa.
Ardi dan Jimy lebih dulu pulang karena rumah mereka yang paling dekat dari gang, kini tinggallah Amus dan Ratna yang kembali berjalan menuju rumah masing-masing.
"Aku masih tak menyangka kak Angga ternyata punya hubungan spesial dengan Mita, rasanya bagaikan mustahil mereka bersama dengan usia yang terpaut lumayan jauh" ujar Ratna.
"Kadang cinta memang tidak masuk akal, orang bilang cinta itu buta. Mungkin itulah sebabnya meski usia mereka terpaut jauh tapi dengan perasaan yang sama mereka akhirnya bisa berjalan bersama" balas Amus.
"Menurut mu apakah hubungan mereka akan langgeng?"
"Sepertinya begitu! aku tidak menemukan alasan yang mengharuskan mereka berpisah"
"Begitu ya, mereka memang sama-sama orang baik dan pintar. Benar kata Ardi, mereka pasangan yang sempurna" ujar Ratna.
Mereka berhenti melangkah tepat di depan rumah Ratna, keheningan tiba-tiba mengisi kekosongan di malam itu. Baik Amus maupun Ratna sama-sama larut dalam benak mereka masing-masing, memikirkan kisah cinta mereka sendiri yang entah akan berakhir seperti apa.
"Bukankah ini sangat lucu? ternyata jodohmu adalah orang yang kau kenal, jika.... hal itu terjadi padamu kau mau bagaimana?" tanya Ratna.
__ADS_1
Sejenak Amus teriak hanya untuk menatap wajah Ratna lekat-lekat sebelum akhirnya dia menjawab.
"Mau bagaimana lagi? kita tidak pernah tahu siapa jodoh kita"
"Kau benar, baiklah sampai jumpa!" ujar Ratna melambaikan tangan.
Amus sedikit tersenyum dan masih di sana dengan tangan yang melambai sampai Ratna masuk ke dalam rumahnya.
"Jika jodoh ku adalah orang yang ku kenal, aku harap itu dirimu" gumamnya sambil menatap rumah Ratna yang telah sepi.
* * *
Bel istirahat berbunyi, membuat para murid berhamburan keluar kelas seperti anai-anai yang keluar sarang. Hampir semua pergi ke kantin karena sudah lapar atau cuma mau bersantai sambil ngemil, sedang Ratna sendiri masih duduk di kursinya.
"Apa yang kau baca?" tanya Ratna melihat Rere yang tengah fokus pada sebuah buku.
Dengan antusias Rere memperlihatkan buku itu sehingga Ratna dapat mengetahuinya, ada sebuah tulisan besar di sampul buku itu yang di baca 'Kumpulan Cerpen Romantis'.
"Sejak kapan kau membaca hal semacam ini?"
"Kemarin" jawab Rere seraya tersenyum.
"Hhhhhhh, kisah cinta itu benar-benar menarik. Ternyata kita tidak pernah tahu siapa jodoh kita, mungkin saja dia adalah orang yang selama ini kita kenal dan ada untuk kita aaahhh...... aku ingin sekali merasakan kisah cinta yang manis itu" lanjutnya dengan mata berbinar.
Ratna hanya menatap dengan ekspresi aneh, ia tak menyangka Rere yang pendiam akan sangat antusias jika membicarakan soal cinta.
"Bicara hal itu aku jadi teringat teman ku waktu SMP" gumamnya.
"Kenapa?"
"Semalam kami memergokinya berjalan dengan kak Angga, ah... aku masih tak menyangka ternyata teman ku berpacaran dengan kakak sahabat ku"
"Benarkah? lalu bagaimana dengan sahabat mu itu?"
"Dia menyetujuinya, dia bilang kalau masalah hati sudah tidak bisa di apa-apakan lagi. Jika mereka memang berjodoh maka nanti sahabat dan teman ku akan menjadi saudara ipar"
"Astaga... sudah seperti cerita-cerita romansa saja" ujar Rere menanggapi.
"Kau sendiri bagaimana?" tanyanya tiba-tiba.
"Apa maksud mu bagaimana?" tanya Ratna tak mengerti.
"Apa kau juga memimpikan kisah cinta yang seperti itu?"
"Ah tidak, aku hanya ingin kisah yang sederhana dan logis. Untuk saat ini dalam pikiranku hanya ada uang, selama aku memilikinya hidup ku sudah sempurna"
"Aish..... sebagai wanita penting sekali untuk memikirkan hal ini, masa SMA adalah masa keemasan. Hanya di masa ini kau bebas berekspresi dan melakukan hal yang kau suka, itu termasuk dengan jatuh cinta karena setelah kita lulus dunia kita akan benar-benar berbeda. Jika pun jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah akan ada banyak faktor yang harus di timbang terlebih dahulu agar masa depan kita cerah"
"Astaga.... kenapa pikiranku sangat melanglang buana? kita masih kelas satu! masih ada dua tahun lagi sebelum lulus SMA, dari pada membicarakan hal seperti itu akan lebih menyenangkan jika kau habiskan waktu dengan bersenang-senang bersama teman mu" ujar Ratna tak perduli.
"Kau ini, pokoknya aku sudah memperingatkan mu! jangan sampai kau menyesal jika pria yang menjadi target mu lepas" jawab Rere ketus.
Ratna hanya menggelengkan kepala, entah mengapa tiba-tiba teringat Mita yang pernah mengatakan hal serupa saat mereka masih SMP. Memang pada waktu itu Ratna sendiri yang memilih mundur sebab tak ingin merusak persahabatan mereka.
"Na! ada yang nyariin kamu tuh!" ujar salah satu teman kelasnya.
"Siapa?" tanya Ratna.
"Udah samperin aja di luar, orangnya udah nunggu."
Dengan cukup penasaran Ratna pergi keluar kelas, dari banyaknya orang yang lalu lalang perhatiannya tertuju pada seorang murid laki-laki yang berdiri tepat di samping pintu kelas.
"Kau mencariku?" tanya Ratna.
"Um... iya, bisakah kita bicara berdua?" tanyanya.
"Oh baiklah" jawab Ratna pelan.
Mereka pergi ke tempat yang lebih sepi, setelah hanya tinggal berdua saja tiba-tiba laki-laki itu menyodorkan sebatang coklat kepada Ratna dan berkata.
"Mungkin kau tidak mengenalku, tapi aku sangat mengenalimu. Aku Agus, dari kelas 1-7 beberapa kali kita sudah berpapasan tapi mungkin kau tidak menyadarinya. Setiap hari kau pergi bekerja di sebuah kedai, sebenarnya jalan yang kita lewati itu sama dan aku selalu berjalan di belakang mu sebab rumah ku cukup dekat dengan kedai."
Ratna hanya diam terpaku mendengarkan, masih dengan kebingungannya.
"Ratna... aku menyukaimu... apakah... kau mau menjadi pacarku?" ujarnya.
"Apa?" tanya Ratna yang merasa salah dengar.
"Aku sudah lama menyukai mu, aku tahu ini terlalu mendadak. Tapi aku takut jika tidak cepat-cepat aku ungkapkan maka kau akan ada orang lain yang lebih dulu menyatakan cintanya kepadamu, aku tidak ingin kehilangan kesempatan ku untuk itulah... apa kau mau menerima pernyataan cintaku?."
__ADS_1