Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 65 Hati Yang Kembali Hancur


__ADS_3

"Baru saja retakan itu dapat ku perbaiki secara perlahan, tiba-tiba kau memecahkannya kembali. Sekarang aku harus memulainya lagi dari awal, dari ujung dimana retakan itu bermula hingga dapat membesar. Tapi kali ini aku tidak yakin akan dapat membuatnya seperti baru lagi, sebab aku tahu salahku adalah telah menaruhnya di sembarang tempat"


Di kutip dari arsip pribadi Ratna Mangalih.


* * *


Cukup lama Ratna berkonsultasi pada motivator cintanya hingga berhasil memutuskan hadiah apa yang akan ia berikan, kini sejam telah berlalu dan dia masih saja berjalan dari satu etalase ke etalase yang lain. Melihat, melirik dan merenung tanpa bisa memutuskan.


Saking bingungnya pegawai toko pun sampai ikut pusing karena semua barang yang ia sarankan selalu ada saja kekurangannya.


"Dia pasti pria yang sangat berarti untuk mu" ujar pegawai itu.


"Ah... itu... " Ratna tak bisa mengakuinya begitu saja.


"Kau terus saja berfikir dan mencari yang terbaik, kau pasti takut hadiah yang kau berikan tidak di sukai olehnya"


"Itu.. akan sayang kan jika sudah di beli tapi tidak di pakai"


"Sebenarnya semua barang itu sama meski dengan model yang berbeda, sebuah hadiah dari orang yang spesial akan terlihat istimewa meski banyak kekurangannya begitu pun sebaliknya" ujar pegawai itu.


Ratna terdiam, ia tahu sudah terlalu lama ia berdiri di sana dan semakin lama akan semakin berat baginya untuk memutuskan.


"Aku ingin yang ini" tunjuknya.


Pegawai itu tersenyum dan mengambil barang yang Ratna inginkan, ia segera membungkusnya agar Ratna bisa segera membayar sehingga tidak bimbang lagi.


"Terimakasih, maaf telah merepotkan" ujar Ratna.


"Terimakasih kembali, tidak masalah" jawab pegawai itu.


Ratna segera pergi dari toko untuk pulang ke rumah, hatinya tak mau berhenti berdebar saat langkahnya semakin mendekati rumah Amus. Ia bingung dengan waktu yang pas untuk memberikan hadiah itu, sebaiknya memang sebelum hari ulangtahunnya seperti kata Rere agar saat pesta Ratna bisa melihat apakah Amus mengenakannya atau tidak.


"Baiklah, memang harus seperti itu" gumamnya memutuskan.


Dengan menyiapkan hati ia berjalan ke rumah Amus, kebetulan ia melihat nenek berada di luar dan mengatakan Amus sedang belajar di kamarnya.


"Amus... " panggilnya sambil membuka pintu kamar.


"Ada apa?"


"Selamat ulangtahun" ujar Ratna sambil menyodorkan hadiah yang baru saja ia beli.


"Oh terimakasih, tapi... ulangtahun ku besok"


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin memberikannya sekarang karena... aku takut lupa" jawab Ratna beralasan.


"Oh baiklah" ujar Amus menerima hadiah itu.


"Kalau begitu aku pergi dulu" ucap Ratna hendak pergi, tapi saat ia sudah membalikkan badan dengan pelan ia berkata.


"Aku harap... kau memberitahu ku jika kau menyukainya."


Setelah ucapan itu ada senyuman penuh harapan yang Amus lihat di wajah Ratna, entah mengapa hal itu membuat dadanya sesak. Perlahan ia membuka kotak kado yang Ratna berikan, di dalamnya ia melihat jam tangan berwarna hitam yang bagus.


Dengan susah payah ia menelan ludah, mengingat ucapan Ratna yang baru saja ia dengar. Di ambilnya jam tangan itu dan ia pakai di tangan kanannya, angannya melayang saat menatap jam tangan yang masih baru itu. Membuat bayangan wajah Ratna di dalam jam yang berdetak setiap detik, tapi kemudian pernyataan Ardi membuat tangannya bergetar.


"Kenapa? kenapa harus dia?" tanyanya lebih pada diri sendiri.


Amus membaringkan tubuhnya di atas ranjang, terus bertanya dalam benaknya tentang keputusan mana yang akan dia ambil. Sudah sering dia mengalah pada cintanya dan saat dia akan meraih apa yang menjadi mimpinya dia malah di hadapkan pada pilihan antara sahabat atau cintanya.


"Tuhan... tolong aku" gumamnya memendam wajah dalam bantal.

__ADS_1


Tanpa terasa ia terlelap begitu saja tahu-tahu sinar matahari membangunkannya di pagi hari, dia menggosok kedua matanya dan sadar masih memakai jam tangan pemberian Ratna.


Beberapa menit ia berpikir sebelum akhirnya ia melepaskan jam tangan itu dan menyimpannya di dalam laci, bergegas ia pergi mandi untuk berangkat sekolah.


Pagi itu ia tak bertemu siapa pun karena dengan sengaja ia memang tidak ingin bertemu dengan siapa pun, di hari ulangtahunnya Tuhan sudah memberi ujian yang cukup menyakitkan sehingga yang ia inginkan hanya menyendiri.


* * *


"Bagaimana?" tanya Rere tak sabar begitu melihat Ratna masuk ke dalam kelas.


"Bagaimana apanya? aku bahkan belum bertemu dengannya" jawab Ratna ketus.


"Oh, tenanglah kalian akan bertemu nanti malam kan?"


"Aku sampai tidak bisa tidur semalam, untung aku tidak kesiangan" keluhnya.


"Sudahlah, nanti juga kau pasti tahu jawabannya"


"Bagaimana jika dia tidak memakainya?" tanya Ratna cemas.


"Berfikir positif lah, kenapa kau langsung putus asa begitu?" balas Rere.


Meski Rere terus meyakinkannya tapi hatinya tetap cemas tak karuan, ia terlalu takut untuk berharap lebih karena setiap ia berharap hatinya selalu hancur. Tanpa bisa tenang ia melewati harinya begitu saja, sampai malam tiba setelah berpamitan dengan Hamdani dengan cepat ia berlari pulang.


Jantungnya semakin berdetak dengan cepat saat ia telah berdiri di depan pintu rumah Amus, mencoba untuk tenang ia menarik nafas dan mengembangkan senyum.


"Aku datang... " teriaknya sambil membuka pintu.


"Oh astaga... kau memang tidak pernah terlambat jika soal makanan" sambut Jimy.


Ratna tersenyum dan berjalan masuk ke dalam rumah, saat itulah Amus datang dengan membawa makanan dari dapur. Mata mereka sempat beradu pandang sebelum mata Ratna tertuju pada kedua tangan Amus yang kosong, tak ada apa pun di sana.


Prang......


"Kau kenapa?" tanya Ardi melihat air mata yang mengalir di pipi Ratna.


"Ah, mataku kemasukan debu, bisakah kau meniupnya?" tanya Ratna sambil tersenyum.


Amus hanya bisa menatap bagaimana Ratna mencari tempat untuk mengobati luka itu, luka yang ia torehkan dengan sengaja. Pesta tetap berlanjut meski Amus kehilangan selera sejak kemarin, sedang Ratna tetap makan banyak seperti biasa bahkan ia menghabiskan semua makanan itu dan berkelahi dengan Jimy seperti biasa.


"Tubuhmu begitu kecil bagaimana bisa kau menghabiskan semua makanan ini?" tanya Jimy.


"Kapan lagi aku bisa makan enak?" balas Ratna.


Ia terus memasukan segala macam makanan seperti orang kerasukan, menelan berbagai macam rasa yang telah bercampur menjadi satu meski kemudian setelah pulang ke rumah ia memuntahkan semua itu.


Esoknya dengan sisa-sisa harapan yang masih ada pagi sekali ia sudah berdiri di pinggir jalan hanya untuk melihat Amus, saat Amus lewat dengan sepeda motornya mata Ratna cukup jeli untuk melihat bahwa tangan Amus masih kosong tanpa apa pun uang terpajang di sana.


"Sampai kapan kau akan bermimpi? dia tidak seperti yang kau harapkan!" ujar Ratna pada hatinya yang telah hancur.


Sedang Rere begitu antusias melihat kedatangan Ratna ke kelas dan sudah siap bertanya, tapi wajah Ratna yang lesu sudah menjawab pertanyaan yang belum ia lontarkan.


Tiga hari lamanya dengan sengaja Ratna menunggu Amus di pagi hari hanya untuk melihat kedua tangannya, tapi setiap matanya tidak menemukan apa yang ia cari hatinya semakin hancur dan hancur lagi.


Hingga tiba di satu titik dimana Ratna kehilangan gairah dalam hidupnya, saat sedang sendiri ia tak berhenti mengutuki dirinya dengan berbagai cacian. Ia juga menjadi lebih tempramen dan jarang berkumpul dengan yang lain hingga Jimy kembali menaruh curiga pada hubungannya dengan Amus.


"Permisi mbak, bisa pesan satu cangkir tawa?" tanya Ardi berdiri tepat di meja kasir.


"Maaf kedai kami tidak menaruhnya di daftar menu, artinya kami tidak memilikinya" jawab Ratna mengikuti lelucon itu meski tanpa senyum.


"Ku dengar taman bermain menjualnya, apa kau mau membelinya di sana bersama ku?" tawar Ardi.

__ADS_1


Sejenak Ratna mematung, menatap sosok pria yang selalu ia anggap sebagai kakaknya. Tiba-tiba terlintas dalam benaknya bagaimana jika kecupan di danau itu Ardi yang melakukannya, beberapa waktu yang telah lalu mereka pernah berada di satu momen yang mendebarkan.


Dengan berbagai hal yang telah terjadi diantara mereka Ratna mulai berfikir mungkin Ardi yang selama ini menaruh hati, meski dia memiliki kekasih tapi tidak satu pun dari gadis itu yang ia sukai.


"Bisa tunggu sampai jam kerjaku selesai?" tanya Ratna.


"Tentu saja" jawab Ardi senang.


Hari itu tidak banyak pelanggan yang datang, sesuai jam kerja Ratna bebas mulai dari pukul delapan malam. Segera mereka pergi ke taman bermain untuk menyegarkan pikiran yang ruwet, mereka mencoba beberapa permainan mudah hingga yang menantang.


Perlahan senyum Ratna kembali hingga tawanya yang ceria, Ardi telah berhasil mengembalikan warna hidup Ratna yang sempat memudar. Lelah bermain mereka memutuskan untuk istirahat sambil menikmati eskrim yang segar dan manis, Ratna begitu menikmatinya hingga tanpa sadar bibirnya belepotan.


"Kau ini seperti anak kecil saja" ujar Ardi sambil me-lap noda di wajah Ratna.


Sialnya tangannya menyentuh bibir Ratna yang lembut dan penuh, perhatiannya pun kini tertuju ke sana. Ia tak bisa membohongi diri yang tergoda akan kelembutan itu dan ingin merasakannya secara langsung, perlahan ia mendekatkan wajahnya. Membuat Ratna terpaku pada mata, lalu hidung dan bibir Ardi yang semakin mendekatinya.


Ratna tetap terdiam, menunggu bibir itu sampai padanya. Tapi saat mereka cukup dekat ada satu perasaan yang mengganjal hati Ratna, hingga rasa dingin ditangannya akibat eskrim yang meleleh membuatnya memalingkan wajah.


Saat itulah Ardi baru sadar atas apa yang baru saja akan ia lakukan, ia tak menyangka Ratna begitu menggoda hingga membuatnya kalap sendiri. Dengan canggung ia pun mengajak Ratna pulang terlebih karena malam sudah semakin larut.


Apa yang baru saja terjadi membuat Ardi tak bisa tenang, ia takut Ratna akan membencinya tapi yang terjadi justru Ratna bersikap seolah tak ada yang terjadi. Ia kembali menjadi Ratna yang ceria dan si dolar yang doyan makan, tentu hal ini membuat Ardi senang.


Di kelas pun Ratna yang sudah kembali ceria membuat Rere sangat senang.


"Hidup ku tidak boleh berakhir hanya karena harapan ku tidak terlaksana dengan baik, di masa depan nanti aku akan lebih banyak menerima penolakan. Baik itu dalam asmara, pekerjaan atau mungkin pilihan hidup lainnya" ujar Ratna.


"Aku senang kau bisa tabah tapi jangan sampai hatimu mati karenanya, kisah cintamu mungkin saja dengan orang lain yang selama ini tidak kau duga" ucap Rere.


Seketika wajah Ardi lah yang Ratna ingat, mungkin saja sejak awal pangeran itu adalah Ardi. Tapi ia tidak mau memutuskan dengan cepat, jika memang harus di coba maka akan ia mulai dengan sangat perlahan hingga hati-hati sebab ia tak mau kecewa untuk yang kesekian kalinya.


* * *


Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari dan waktu yang terus berputar ini membuat pernyataan di buku rapot. Ratna dan kawan-kawan kini resmi naik ke kelas dua, dengan begini Ratna di hadapkan pada pilihan untuk mengambil jurusan yang ia inginkan.


Dengan mantap Ratna memberitahu wali kelasnya bahwa ia ingin masuk di jurusan IPS, ia ingin terus mengembangkan ilmunya dalam bidang perbankan. Hal itu di dukung penuh oleh wali kelas serta ayahnya sebab Ratna memang pandai mengolah uang, jika dia punya nasib mujur kelak ia akan kuliah dengan mengambil jurusan perbankan lagi.


Rere sahabat baiknya dari kelas satu ikut mengambil jurusan yang sama, itu artinya selama dua tahun tersisa mereka akan kembali satu kelas dan terus bersama.


Menginjak usia enam belas tahun kini Ratna tampil lebih cantik lagi, seperti biasa sifatnya yang ceria tidak hilang begitu pun kecintaannya kepada makanan dan minuman.


Namun ada yang berbeda di sini, ia semakin berfikir dewasa dan tidak mudah untuk terjatuh baik dalam urusan cinta atau kehidupan. Hal inilah yang membuat Ardi harus bekerja ekstra untuk membuat Ratna menyadari perasaannya, mereka sudah dekat tanpa adanya saingan dan itu keberuntungan yang harus Ardi manfaatkan sebaik mungkin.


Pada waktu liburan sekolah seperti biasa Ratna menghabiskannya dengan berkerja di kedai Hamdani, kali ini Ardi ikut bekerja juga agar bisa mendapatkan banyak momen dengan Ratna.


"Kalian baru pulang?" tanya Jimy yang tak sengaja bertemu saat keluar dari rumahnya.


"Ya, kalian sendiri sedang apa?" balas Ardi melihat Amus yang juga ada disana.


"Biasa... " jawab Jimy sambil menggerakkan tangan seperti sedang bermain PS.


"Kau tidak pergi liburan ke rumah ibumu?" tanya Ratna.


"Tidak, besok ibu dan ayah yang akan datang kemari" jawab Amus.


"Begitu rupanya" balas Ratna seraya tersenyum.


Mereka saling terdiam, semenjak Ratna tahu bahwa Amus tidak menyukainya sebab jam tangan yang ia berikan satu kali pun tidak pernah ia pakai mereka menjadi jarang bicara.


Sesekali mereka bercanda juga tapi tidak sesering dulu, mereka seperti dua orang dewasa yang terjebak di tubuh remaja. Seperti itulah Jimy menggambarkan keadaan Ratna dan Amus yang menjadi lebih pendiam


"Baiklah sampai jumpa besok" ujar Ratna mengangkat satu tangannya.

__ADS_1


"Dah.... " balas Jimy sambil menatap kedua sahabatnya yang berjalan bersama.


"Amus, entah mengapa aku merasa Ardi dan Ratna memiliki hubungan yang lebih. Apa kau juga merasakannya?" tanya Jimy.


__ADS_2