
Tanpa terasa ujian semester satu tinggal sebulan lagi, semua guru sudah mulai sibuk begitu pun dengan muridnya yang mendapat banyak tugas. Terlebih murid kelas tiga yang dimana setelah memasuki semester kedua mereka tak akan punya lagi waktu untuk hal lain kecuali belajar.
"Ahh..... entah mengapa aku merasa gugup padahal ini hanya ujian semester satu" ujar Ratna mengerang.
"Mungkin karena kau bodoh" sela Amus tanpa ekspresi.
"Apa? kau ingin ku pukul?" bentak Ratna sambil mengepalkan tangan.
"Apa kalian sudah menentukan SMA mana yang akan kalian masuki?" tanya Jimy.
"Kita masih punya banyak waktu untuk memikirkan hal itu" jawab Ardi.
"Kau benar, tapi orang tua ku sudah menanyakan hal ini. Mereka ingin aku masuk ke SMK tapi aku lebih suka masuk SMA biasa, entah mana yang akan ku pilih nanti"
"Entah aku bisa melanjutkan atau tidak, perekonomian ayah ku tidaklah bagus" gumam Ratna.
"Arrhh... kenapa harus pusing sekarang, bagaimana jika kita pergi ke pekan raya malam ini? aku ingin naik kora kora" usul Ardi.
"Boleh juga, bagaimana? kalian ikut?" tanya Ratna sambil menengok ke kiri dan kanan dimana Jimy dan Amus duduk.
"Tentu saja aku ikut" jawab Jimy.
"Terserah kalian" sahut Amus.
"Baiklah kita pergi jam tujuh malam" umum Ardi.
Cukup lama Ratna tak pergi ke tempat itu, yang ia ingat terakhir kali ia pergi saat kecil bersama orangtuanya. Itu pun ia hanya bisa naik kereta kecil dan membeli gula kapas, meski begitu ia sudah senang bisa pergi.
Dengan antusias ia bersiap setelah selesai makan malam, Sapardi yang sudah memberi ijin memberikan sedikit uang saku agar putrinya bisa membeli apa pun yang ia mau.
"Ayah aku pergi dulu" ujarnya setelah selesai memakai sepatu.
"Hati-hati di jalan, jangan pulang terlalu larut juga"
"Aku mengerti"
"Oh Amus!" teriak Sapardi saat tak sengaja melihat Amus yang baru keluar rumah.
"Iya paman" sahutnya.
"Tolong jaga Ratna, pastikan dia baik-baik saja"
"Ayah aku bukan anak kecil lagi! ayah tidak perlu sampai menitipkan aku padanya" erang Ratna malu.
"Ayah hanya sedikit khawatir, tidak ada salahnya ayah meminta Amus menjagamu. Lagi pula selama ini kalian selalu bersama"
"Sudahlah, aku pergi dulu" ujar Ratna beranjak pergi.
"Kami pergi dulu paman" ucap Amus berpamitan.
Mereka berjalan beriringan menemui Ardi dan Jimy yang sudah menunggu di depan gang, bersama keempat sekawan itu pergi sambil bercanda. Harum manis dari gula kapas di dekat pintu gerbang menyambut kedatangan mereka, Ardi yang sudah tak sabar menarik tangan Ratna dan Amus agar berjalan lebih cepat.
Karena tujuan utama Ardi adalah menaiki wahana kora kora maka permainan itulah yang pertama kali mereka coba, teriakan kencang saling bersahutan saat wahana itu di mulai.
__ADS_1
Degup jantung yang berdetak cepat akibat adrenalin yang berpacu membuat Ratna cukup pusing saat ia turun dari wahana itu.
"Apa kau baik-baik saja? wajahmu terlihat tegang" ujar Ardi.
"Yah.... aku hanya butuh waktu istirahat sebentar"
"Arrhh... kau hanya merepotkan saja, jika tidak sanggup naik kenapa harus ikut? kau bisa menunggu di bawah kan?" erang Amus.
"Aku tidak selemah itu, mungkin karena selama ini aku kurang tidur" balas Ratna tak mau kalah.
"Kau hanya beralasan, sebaiknya kau tidak usah naik wahana lain lagi"
"Sudahlah tidak perlu bertengkar, ucapan Amus ada benarnya sebaiknya kau tidak usah naik apa-apa lagi, aku takut kau tumbang nanti" ujar Jimy.
"Baiklah... " jawab Ratna pelan.
"Kalau begitu ayo jalan!" teriak Ardi bersemangat.
"Kalian duluan saja, aku mau ke toilet dulu" ucap Ratna.
"Kau bisa pergi sendiri?" tanya Ardi.
"Tidak perlu khawatir, aku akan menyusul nanti"
"Baiklah sampai ketemu nanti"
"Dah... " ucap Ratna melambaikan tangan.
Butuh waktu beberapa menit hanya untuk menyelesaikan urusan di toilet sebab antriannya yang panjang, kini wajahnya lebih berseri lagi dan siap menyusul temannya yang lain.
Ratna mencoba mempercepat jalannya agar tak kehilangan jejak sampai orang itu berhenti tepat di depan seorang gadis, nampak gadis itu tersenyum riang dan mereka pun pergi bersama sambil bergandengan tangan.
Rasa penasarannya semakin menjadi saat beberapa kali ia melihat mereka saling berbisik dan tertawa bersama, sempat juga mereka berpelukan hingga saling menyuapi.
"Hei!" ujar seseorang sambil menepuk pundaknya.
"Hah?" tanya Ratna kaget.
"Kenapa kau malah keluyuran sendiri? kami menunggu mu dari tadi" tanya Ardi.
Ratna tak menjawab, malah wajahnya nampak bingung dan sedikit resah.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ardi khawatir.
"Aku.... aku... ya!"
"Ada apa dengan mu?"
"Tidak ada! ayo pergi" ajak Ratna sambil berjalan lebih dulu.
Namun beberapa langkahnya terhenti saat sadar Ardi tak berjalan bersamanya, ia nampak berdiri mematung sambil menatap sesuatu. Ratna menatap arah pandangan Ardi dan sadar bahwa Ardi telah melihat apa yang sedari tadi ia lihat.
"Ardi!" panggil Ratna khawatir saat di lihatnya Ardi berlari menghampiri orang yang sedari tadi ia ikuti.
__ADS_1
Drap Drap Drap
Buk
Kyaaa.....
Teriakan nyaring gadis itu menarik perhatian semua orang termasuk Ratna yang melihat jelas kemarahan Ardi yang ia luapkan dengan memukul Jaya tepat di wajahnya.
"Ardi! Ardi... cukup Di... berhenti!" teriak Ratna mencoba memisahkan mereka.
"Cukup Di.. cukup!"
"Cih! lepasin Na! biar aku kasih pelajaran dia" teriak Ardi yang tak bisa menahan emosinya.
Gadis itu bergegas menghampiri Jaya untuk melihat seberapa berat luka yang ia alami akibat pukulan Ardi.
"Aku bilang apa Na? dia bukan pria baik-baik! aku kenal baik dia dan tahu semua kebusukannya"
"Busuk? sedekat apa pertemanan kita sampai kata busuk lu ucapin buat nilai gue?" balas Jaya.
"Heh, masih tanya? Ratna itu pacar lu tapi berani-beraninya lu main sama perempuan lain di belakang dia! lu udah berkhianat dan masih tanya kebusukan lu dimana?"
"Pacar? pacar macam apa yang bahkan gak pernah ngehargai pasangannya?" tanya Jaya yang membuat Ratna memalingkan wajah.
"Apa maksud kamu.... selama ini aku gak menghargai kamu?" tanya Ratna pelan.
"Ya, kita pacaran Na.. tapi kamu gak pernah ada buat aku, kamu selalu lebih mentingin teman-teman kamu sampai kita gak ada waktu buat jalan berdua, bahkan kamu gak kasih aku ijin buat megang tangan kamu doang"
"Apakah pacaran itu harus pegangan tangan? apa pacaran itu kita harus jalan berdua terus? apa pacaran itu hidup aku cuma buat kamu? aku udah berusaha sebaik mungkin jadi pasangan yang terbaik buat kamu" balas Ratna.
"Terbaik apanya? hanya karena kamu mau datang ke pesta ulang tahun aku aja itu gak cukup Na! lagi pula kalau aku gak ngelarang mereka datang kamu pasti bakal bareng mereka lagi dan kita gak punya waktu buat berdua, aku cuma minta hak aku sebagai pacar"
"Apa hak itu memaksakan kehendak kamu yang ingin nyentuh aku, meluk aku sampai cium aku? itu bukan hak Jaya itu cuma nafsu!" teriak Ratna dalam penghujung emosinya.
"Apa salahnya? kita pacaran Na!"
Plak
Tanpa di duga satu tamparan keras mendarat di pipi Jaya, Ratna hanya bisa menatap Ardi yang menampar dengan matanya yang mulai berair.
"Gue kasih ijin lu buat pacaran sama Ratna hanya karena kita teman satu tongkrongan, ingat! kalau lu berani nyakitin Ratna gue gak bakal tinggal diam" ujar Ardi.
Buk
Secepat kilat Jaya membalas dengan pukulan yang mengenai rahang Ardi.
"Gak usah sok hebat! lu cuman teman masa kecil dia doang, ini masalah hubungan kami jadi lu jangan ikut campur" teriak Jaya.
"Cih, brengsek...... " teriak Ardi bersamaan dengan kepalan tangannya yang melayang ke arah Jaya.
Buk Buk Buk
Perkelahian kembali terjadi di depan mata Ratna, tubuhnya yang tiba-tiba kaku hanya bisa menatap sambil menangis tanpa suara.
__ADS_1
"STOP!"