
Awalnya Amus berniat menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi kepada Jimy dan Ardi, tapi Ratna melarangnya dengan alasan tidak ada gunanya melakukan hal itu jika hati mereka sudah tertutup.
Sebisa mungkin ia pun bersikap biasa saja tanpa memihak siapa pun, ia tetap berkumpul dengan Ardi dan Jimy tapi juga mengobrol dengan Ratna.
Hari itu pun mereka tengah berkumpul seperti biasa di kamar Amus sambil mendengarkan radio dan mengobrol dengan asyiknya sampai Ratna datang berkunjung, suasana yang ramai tiba-tiba hening tatkala mata Ratna beradu pandang dengan Ardi dan Jimy.
"Mus kau punya jarum jahit?" tanya Ratna yang kembali mengacuhkan mereka.
"Ada, untuk apa?"
"Aku mau menjahit jaket ayah yang robek, besok dia pergi jauh untuk bekerja dan tidak pulang. Aku khawatir dia akan kedinginan jika tidak memakai jaket jadi aku mau memperbaikinya terlebih dahulu sebelum di bawa pergi"
"Oh, tunggu sebentar!" ujar Amus mencoba mencari jarum jahitnya di setiap laci.
"Ini!" ucap Amus sambil menyerahkan benda itu setelah berhasil menemukannya.
"Terimakasih"
"Eh tunggu!" sergah Amus menghentikan Ratna yang hendak pergi.
"Jika ayah mu tidak pulang berarti kau sendirian di rumah, apa kau bisa?"
"Um.... ya, kenapa? kau mengkhawatirkan aku?" tanya Ratna sambil tersenyum.
"Tidak! siapa yang akan mengkhawatirkan mu? aku hanya berpikir kau akan merepotkan aku jika di tinggal sendiri" ujar Amus menampik ucapan Ratna.
"Ish... aku tidak seburuk itu! lihat saja nanti! aku tidak membutuhkan pertolongan mu dalam hal apa pun, aku bisa menjaga diriku sendiri" jawab Ratna yang kemudian pergi dengan kesal.
Amus menatap kepergian Ratna sambil mengumpat dengan tidak jelas, ia kembali duduk namun tiba-tiba merasakan risih saat mata Ardi dan Jimy menatapnya dengan pandangan yang tidak biasa.
"Kenapa kalian memandangku seperti itu?" tanyanya.
"Tidak apa-apa, aku hanya bingung bagaimana kau bisa bersikap seperti biasa seolah tak terjadi apa pun" jawab Jimy.
"Memang apa yang terjadi?"
"Oi! jangan bilang kau sudah melupakan peristiwa itu, ini baru lewat beberapa hari saja" tukas Ardi.
"Lalu kenapa? apa hubungannya denganku? Yuni pacar mu bukan pacarku, lantas kenapa aku harus marah pada Ratna hanya karena orang asing? lagi pula perkelahian diantara perempuan itu biasa" jawab Amus yang membuat Jimy merenung.
Baru kali ini pikiran logisnya kalah oleh kedewasaan Amus dalam menyikapi masalah Ratna, jika di pikir lagi dia hanya syok melihat sifat negatif dari Ratna yang baru ia lihat. Dan mungkin hatinya tak terima pada sifat yang bertolak belakangan dengan karakter Ratna yang polos dan ceria.
Perasaan bersalah mulai merundung benak Jimy yang membuatnya tak nyaman, ia menjadi lebih pendiam dari biasanya. Bahkan tidak fokus pada pelajaran karena sering mencuri pandang menatap Ratna yang kini kembali seperti dulu, Ratna yang polos dan si gadis dolar.
Hingga malam tiba, biasanya dia akan menghabiskan waktu dengan bermain PS tapi tidak kali ini. Ia mencoba mengingat kembali peristiwa dimana Ratna menyakiti Yuni, saat itu ia terlalu kalap dan kaget melihat sosok baru dalam tubuh Ratna sehingga tidak bisa berfikir jernih.
"Ah... pakaian itu!" gumamnya mengingat seragam sekolah Ratna yang kotor dan basah kini terlihat jelas karena posisinya yang berdiri tegak sambil mencekik Yuni.
"Kenapa seragam Ratna kotor?" ucapnya bertanya-tanya.
Ia pun kembali mengingat penjelasan Yuni saat di mintai keterangan, yang Yuni katakan hanya ia menyinggung Ratna yang tidak berperasaan dan Ratna terbukti mengakui hal itu.
"Tidak mungkin ada api jika tidak ada asap, Ratna memang menyerang Yuni dan mengakui perbuatan itu karena tersinggung. Tapi apa benar hanya karena di bilang tidak berperasaan lantas Ratna bertindak sejauh itu? jika di pikir lagi tidak mungkin Ratna menyerang karena hal sepele, mungkinkah.... Yuni mengatakan hal lain yang lebih menyakiti hati atau berbuat sesuatu yang kelewat batas" ujar Jimy menemukan titik terang.
Ia tak bisa tinggal diam saja, meski malam sudah larut tapi ia tetap pergi mencoba menemui Ratna berniat menanyakan peristiwa itu lebih detail lagi. Tapi begitu ia sampai di depan pintu rumah Ratna nyalinya tiba-tiba menciut, ia takut respon Ratna tidak baik.
"Lagi pula ini sudah malam, mungkin dia sudah tidur" gumamnya.
Jimy hendak melangkahkan kaki untuk pergi dari sana, tapi kemudian.
"Ah... tapi aku tidak bisa tidur dengan tenang jika ada hal yang mengganjal di hatiku" gumamnya frustasi.
"Baiklah, akan aku ketuk saja pintunya."
Tangannya terangkat siap mengetuk tapi berhenti di udara dan mematung, rasanya cukup berat melakukan hal itu di malam yang larut dengan perasaan takut menganggu. Pada akhirnya Jimy hanya bisa mondar mandir di depan pintu rumah Ratna sambil sesekali mencoba mengintip lewat jendela.
__ADS_1
* * *
Hooaaammmmmm
Ini merupakan ketiga kalinya ia menguap, dengan mata setengah terbuka di lihatnya jam dinding yang menunjukkan waktu pukul sebelas malam.
"Sudah larut rupanya, aku harus cepat gosok gigi dan tidur" gumamnya.
Ratna beranjak dari meja belajarnya dan pergi keluar kamar.
Kya...
Pekiknya cepat menutup mulut saat di lihatnya bayangan seseorang di luar rumahnya, Ratna jatuh terduduk sambil menatap bayangan yang hilir mudik dan sesekali mencoba mengintip. Dengan cepat ia beralih ke balik kursi untuk bersembunyi.
"Si-siapa yang berkeliaran di luar rumah ku?" bisiknya sambil mengelus dadanya untuk menenangkan jantungnya yang berdegup dengan kencang.
"Ah, jangan-jangan pencuri! bagaimana ini? ponsel di bawa oleh ayah aku tidak bisa menghubungi siapa pun" gumamnya ketakutan.
Perlahan Ratna merangkak pindah ke depan pintu kamar ayahnya, saat di lihatnya tongkat pemukul terlintas sebuah ide untuk melindungi diri menggunakan benda itu.
"Aku harus mencari tahu siapa pencuri itu, jika sudah di pastikan aku bisa berteriak minta tolong" ujarnya memutuskan.
Menarik nafas panjang ia pun memberanikan diri berjalan mendekati jendela sambil memegang erat tongkat, setiap langkahnya pasti dengan mengangkat tongkat tepat di atas kepalanya.
Jantungnya kembali berdegup kencang saat ia sudah cukup dekat dengan jendela, perlahan satu tangannya menjulur siap menyibakkan gorden untuk melihat sang pencuri itu.
Sraaakk....
Wa......
Kyaaaaa.......
Ratna reflek mundur dan jatuh saat matanya melihat wajah Jimy yang menempel di kaca, begitu pun dengan Jimy yang jatuh karena kaget saat gorden tiba-tiba di buka.
"Kenapa kau tidak mengetuk pintu saja? mengendap-endap seperti pencuri kau hampir membuat ku mati karena jantungan" omel Ratna setelah mereka tenang.
"Jika tidak mau membangunkan ku kenapa masih diam diluar?"
"Aku.... ada yang ingin aku tanyakan" ujar Jimy mengumpulkan keberaniannya.
"Apa?"
"Kenapa pakaian mu kotor pada hari itu? dan apa Yuni hanya mengatakan itu saja? tidak ada yang lain?" tanya Jimy mengeluarkan rasa penasarannya.
Sejenak Ratna tertegun, mengingat hari dimana sisi negatifnya muncul demi membalas perbuatan Yuni.
"Kenapa kau bertanya hal itu?"
"Karena.... aku merasa kau tidak akan menyerang Yuni hanya karena masalah sepele, aku merasa ada sesuatu yang tidak ku ketahui. Ini bukan dirimu, sekeras apa pun orang menindas mu kau hanya akan diam menangis karena itu.... aku pikir Yuni pasti melakukan sesuatu yang membuat mu marah"
"Jika kau berfikir begitu kenapa kau menjauhiku?" teriak Ratna tiba-tiba.
Jimy menatap kaget mata Ratna yang ternyata sudah berlinang air mata.
"Kau merasa ada yang salah tapi kau diam saja, kau... bahkan marah padaku dan tidak mau bicara padaku hanya karena aku mengiyakan ucapan Yuni padahal kau tahu ada yang salah, kenapa? kau baru bertanya sekarang... "
Jimy hanya membisu, mengakui kesalahannya yang ragu pada sahabatnya sendiri. Malu karena pada sikapnya yang keterlaluan, membiarkan harta berharganya sendirian dalam kegelapan yang sepi.
"Maaf" hanya kata itu yang bisa ia ucapkan.
"Dia... cemburu karena kedekatan ku dengan Ardi, perasaan itu membuatnya bertindak kasar padaku. Awalnya dia mengancam ku dan aku masih bisa menahannya, tapi kemudian dia berbuat lebih jauh lagi. Dia mendorongku, menjatuhkan ku hingga aku tak sanggup untuk bangkit. Dia menertawakan ku, dia mencemooh ku, dia menindas ku" ujar Ratna menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku hanya membalas perbuatannya, semuanya sudah cukup! aku... tidak akan biarkan siapa pun menindas ku lagi, tidak Yuni, Ardi atau pun kau. Aku tidak perduli meski kita teman sejak kecil atau bahkan keluarga, jika kalian tidak percaya padaku apa gunanya hubungan itu? aku bisa menjalani hidupku sendiri!"
"Tidak!" teriak Jimy.
__ADS_1
Bruk
Tanpa di duga Jimy menjatuhkan dirinya tepat di hadapan Ratna, menangis di hadapannya.
"Hukum aku, kutuk aku sesuka hatimu. Lampiaskan semua amarah mu karena aku memang pantas mendapatkan itu semua, tapi aku minta satu hal... jangan suruh aku pergi dari hidupmu, ijinkan aku terus berada di samping mu dan menjagamu. Aku berjanji hal ini tidak akan terjadi lagi, aku tidak akan ragu lagi dan meninggalkan mu sendirian " pinta Jimy dalam penyesalannya.
Ada kehangatan lain di dalam hatinya saat mendengar ketulusan itu, seolah ia telah menemukan jalan untuk pulang. Perlahan Ratna duduk untuk mengangkat dagu Jimy dan menghapus air matanya.
"Cengeng! kau seorang laki-laki kenapa begitu mudah menangis?" tanya Ratna lembut.
"Karena hatiku terluka, oleh rasa malu dan penyesalan akibat kebodohan ku sendiri" jawab Jimy dalam isak tangisnya.
"Ckckck kalau begitu ayo kita beli makanan untuk menyembuhkannya"
"Heh dasar gadis dolar! makanan hanya menyembuhkan penyakit lapar mu bukan sakit hati ku" ujar Jimy kembali tersenyum.
Pada akhirnya sebuah kesalahpahaman dapat di luruskan kembali asal salah satu berani untuk memulainya, kadang di setiap hubungan memang akan ada keraguan tapi itu hanya perasaan takut akibat rasa sayang yang berlebih.
Jimy menceritakan apa yang telah terjadi sebenarnya kepada Ardi, awalnya tentu Ardi tetap marah tapi dengan bantuan Amus akhirnya matanya terbuka juga.
"Ku pikir aku bisa menganggapmu sebagai kakak ku, tapi ternyata kau hanya teman yang bisa hilang kapan saja"
Ucapan Ratna waktu itu kembali terngiang di kepalanya, serta raut wajah Ratna yang menunjukkan kekecewaan. Sama seperti Jimy ia pun merasa malu karena sudah membenci Ratna tanpa mencari tahu kebenarannya.
Untuk menebus kesalahannya ia menemui Yuni dan memutuskan hubungan mereka secara sepihak.
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku! kenapa kau lebih memilih dia dari pada aku? kau bilang dia hanya teman lalu kenapa kau lebih mementingkan teman dari pacarmu sendiri? atau... jangan-jangan kalian memiliki hubungan" teriak Yuni yang tak terima.
"Satu-satunya hubungan yang ada diantara kami hanya teman, tapi dia memang lebih berarti darimu. Aku bahkan malu karena lebih percaya ucapan mu dari pada dia padahal jelas kau yang memutar balikkan fakta"
"Oh begitu, apa aku salah melakukan hal ini? sebagai pacar apa salah aku takut kehilangan mu? semua orang akan bertindak sama jika melihat orang yang di cintainya dekat dengan orang lain! justru kau yang aneh karena memihak teman mu dari pacar kecuali kau tidak mencintai ku tapi dia yang kau cintai!"
"Ya aku memang mencintainya!" teriak Ardi membungkam mulut Yuni.
"Aku mau berpacaran dengan mu karena aku tidak mau menyakiti hatimu! meski begitu aku tetap berusaha menjadi pacar yang bisa kau banggakan dan membuatmu bahagia. Asal kau tahu saja aku tidak pernah menolak wanita mana pun yang menyatakan perasaannya padaku, sebab bagiku tak masalah memiliki status pacaran meski tanpa rasa cinta"
"Ardi... kau... kejam! kau brengsek! kau memang seorang playboy! aku sudah berikan semua yang ku punya dan ini balasan mu? aku bersumpah rasa sakit hatiku ini akan kau rasakan juga, kau tidak akan pernah mendapatkan hatinya! cinta mu tidak akan terbalaskan sama seperti cintaku."
Kutukan itu masih terdengar di telinga Ardi saat ia berjalan meninggalkan Yuni seorang diri, hatinya ikut sedih karena telah berpisah dengan cara tidak baik namun hanya ini satu-satunya jalan menebus kesalahannya.
Satu hal lagi yang ia lakukan untuk menebus semua dosanya, yaitu membelikan semua makanan kesukaan Ratna. Jimy yang bertugas menjemput Ratna segera kembali ke rumah Amus dengan membawa Ratna yang memakai penutup mata.
"Ah... sebenernya kau ingin menunjukkan apa? kenapa aku harus pakai penutup mata segala?" omel Ratna yang kesusahan berjalan.
"Sudahlah, kau tidak perlu banyak bertanya kita sudah sampai kau bisa membuka matamu sekarang" jawab Jimy.
Ratna melepas kain yang menutup matanya dan berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatan, ketika ia bisa melihat dengan jelas ia cukup kaget melihat banyak makanan yang tersedia di sana.
"Aku rasa ulangtahun ku masih lama" ujarnya.
"Ini bukan perayaan ulang tahun siapa pun, tapi permintaan maaf dari ku" ujar Ardi.
"Aku sudah melakukan kesalahan yang sangat besar, ini semua tidaklah cukup untuk menebus kesalahan ku tapi aku berharap setidaknya kau mau bicara lagi dengan ku" lanjutnya.
Senyum Ratna hilang seketika, setelah kepergian ibunya hanya mereka bertiga yang memberikannya kebahagiaan. Karena itu saat mereka lebih percaya pada orang lain maka tidak ada alasan lagi baginya untuk tersenyum, atau percaya pada siapa pun.
Tiba-tiba Ratna membuka kerah bajunya dan memperlihatkan sebuah garis panjang di bagian bahunya.
"Ini adalah hadiah pertama yang diberikan Sari kepadaku, aku sendiri tak menyangka saudari tiriku akan memberikan hadiah pertemuan pertama kami dengan sayatan pisau di sini. Aku memberitahu ibuku tapi ia memarahiku karena aku membalas perbuatannya dengan memukulnya, sejak saat itu aku mengerti bahwa hidupku hanya untuk patuh pada perintah ibuku tak perduli meski tubuhku di penuhi luka karenanya."
Ardi, Amus dan Jimy hanya bisa diam menatap ngeri pada bekas luka itu.
"Lukanya memang sudah sembuh tapi bekasnya tidak akan pernah hilang sampai kapan pun. Luka inilah yang mengingatkan ku pada wasiat ibu, sudah saatnya aku mengangkat kepalaku dan membalas setiap kekejaman orang yang mencoba menindas ku" lanjutnya.
"Sekarang... tanganku sudah ternoda oleh ambisi yang tidak mau kalah, tangan ini pernah membungkam mulut yang mencoba mengikatkan rantai padaku. Jika kalian membenciku karena tangan ini maka itu tidak masalah" ujar Ratna sambil menatap kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Perlahan ia mengangkat wajah, menatap setiap mata yang memandangnya dan berkata sambil tersenyum.
"Setiap hubungan adalah ujian, pada akhirnya aku akan terbiasa menghadapinya."