Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 11 Salah Paham


__ADS_3

"Kurajut untaian kata dengan penuh kehati-hatian, berharap ia akan menjadi indah. Dan bilamana tiba waktunya untuk terungkap maka sudah ku pastikan ia bergaung megah, tapi tidak! sayangnya rajutanku yang terlanjur jadi harus terkubur sia-sia. Tak mengapa, aku masih bisa tersenyum seperti biasa. Sebab ini bukan luka yang baru, aku hanya perlu meneruskan sandiwara seperti biasa."


Di kutip dari arsip pribadi Ratna Mangalih.


* * *


Mereka tiba di sekolah terlalu pagi, terlihat dari kelas-kelas masih kosong. Hanya beberapa murid yang nampak lalu lalang diantara kelas itu, Ratna segera masuk ke kelasnya sedang Amus memutuskan untuk pergi ke tempat lain.


"Lama sekali kau datang" ujar Amus yang ternyata menunggu kedatangan Jaya.


"Ini sudah sangat cepat bagiku"


"Sesuatu yang kau nantikan sudah ada, apa kau ingin aku memberikannya disini?"


"E-eh, jangan! sudah ada ya! ayo pergi ke tempat biasa" ujar Jaya girang sambil segera mengajak Amus pergi.


Jaya membawa Amus ke tempat dimana mereka biasa berkumpul setelah istirahat, dari dalam saku celana Amus mengeluarkan sepucuk surat yang ia terima kemarin dari Ratna.


"Wah... dia benar-benar membalasnya!" teriak Jaya bersemangat.


Beberapa hari yang lalu, keberanian Ratna untuk menghentikan mereka menghisap rokok membuat Jaya cukup tertarik pada Ratna meski kesan di awal itu adalah gadis dollar yang hanya menginginkan keuntungan sendiri. Tapi setelah beberapa kali bertemu lagi ia melihat senyum manis dan pribadi yang berani, dimata Jaya Ratna menjadi gadis keren yang cantik.


Perasaan itulah yang membuat Jaya menulis surat dan menyuruh Amus untuk menyerahkannya, sebab hanya Amus yang akan mengerjakan permintaan itu tanpa banyak bertanya atau pun bicara.


Setelah menunggu beberapa hari dengan perasaan penuh harap, akhirnya Amus mengabarkan berita baik sekaligus memberikan surat balasan kepadanya. Dengan hati berdebar Jaya menerima surat itu, mengelusnya dan menciumnya.


"Sudah ya, aku mau kembali ke kelas" ujar Amus yang tak tahan melihat ekspresi Jaya.


"Tu-tunggu! bisakah.... kau bacakan isi suratnya" ujar Jaya memohon.


"Apa? kau bisa membaca kan?" teriak Amus kaget.


"Aku... aku terlalu takut membacanya, aku takut dia menolakku" akuinya.


'Dasar! bahkan pria berandalan sepertinya pun mendadak menjadi pengecut di hadapan cinta' batin Amus menggerutu.


Hhhhhhhhh


"Baiklah.... " jawab Amus akhirnya sebab ia pun ikut penasaran apa jawaban yang di berikan Ratna.


Jaya mengembalikan surat itu, dengan perlahan Amus pun mengeluarkan sepucuk surat yang ditulis tangan dari dalam amplop.


"Lewat surat ini ku ucapkan terimakasih, sebab kau sudi mengirimiku surat dan maaf karena kau harus menunggu lama surat balasan dariku.


Bukan aku tak peduli, tapi jujur aku butuh waktu untuk memikirkannya sebab bukan hal mudah bagiku untuk memutuskan, aku harap kau mengerti.

__ADS_1


Senang rasanya dapat menerima surat darimu, hampir hilang akal ku karenanya bahkan berulang kali ku baca surat itu demi memastikan bahwa ini bukanlah mimpi. Setiap kata demi kata dalam suratmu nampak jelas kesungguhan, maka dari itu telah ku putuskan dengan segenap hatiku akan kuterima dirimu apa adanya.


Ku harap, kedepannya hubungan kita semakin baik.


Salam,


Ratna."


Degh


Hampir jatuh kertas itu dari tangan Amus, tak pernah ia duga Ratna akan menerima Jaya meski mereka baru saling kenal.


Bruk


"Dia... dia.. menerimanya... dia menerimaku, artinya... mulai saat ini kami resmi pacaran" ujar Jaya yang saking senangnya jatuh terduduk.


Teng... Teng.. Teng...


Bel tanda masuk berbunyi tepat waktu saat Amus ingin menghilang dari bumi, tanpa kata ia berikan surat itu kepada Jaya sebelum pergi.


Sedang di kelas, saat guru sudah memulai pelajaran kegelisahan merundung hati Ratna. Hatinya cemas menantikan Amus yang tak juga datang padahal pagi tadi mereka jelas-jelas berangkat bersama, hingga pada jam istirahat Amus belum kelihatan batang hidungnya juga.


"Master, apa kau tahu Amus pergi kemana?" tanya Ratna.


"Tidak"


"Di jam sekolah? dia bolos hanya untuk itu?" tanya Ratna yang tak lantas percaya.


"Dia penggila bola, apalagi jika ada seseorang yang mengajaknya bertanding meskipun di hari ujian aku rasa dia tetap akan pergi" ucap Jimy.


"Jadi dia benar-benar menyukai bola ya!"


"Bukan hanya menyukai, tapi cita-citanya juga menjadi pesepak bola" jawab Ardi.


Jika Ardi dan Jimy berkata demikian maka Ratna bisa percaya, sebab bukan satu dua tahun mereka bersama. Meski masih cemas tapi kini Ratna bisa lebih fokus lagi dalam belajar hingga waktu pulang tiba.


"Biar ku bantu!" ujar Ratna melihat Mita yang kerepotan membawa setumpuk buku yang harus di kembalikan ke perpustakaan sekolah.


"Terimakasih" ucap Mita bersyukur.


"Aish... seharusnya kau menyuruh anak laki-laki untuk membawanya, buku ini cukup berat apalagi di bawa sendiri" omel Ratna.


"Tidak apa-apa, ini sudah menjadi bagian tugasku"


"Kau ini benar-benar bertanggung jawab ya!"

__ADS_1


Hahahaha


"Ayo pergi!" ajak Mita.


Mereka berjalan berbarengan sambil mengobrol, sampai tiba di perpustakaan bahkan mereka menyimpan buku-buku itu di tempatnya semula. Namun obrolan mereka berhenti saat Jaya terlihat berdiri seperti menunggu seseorang, mereka pun menghampirinya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Ratna.


"Oh, hai Na" sapanya.


"Na, aku pulang duluan ya!" ujar Mita seolah mengerti isi pikiran Jaya.


"Baiklah, hati-hati di jalan" sahut Ratna.


"Kau belum jawab pertanyaan ku" ujar Ratna kepada Jaya yang masih terdiam.


"Aku.... aku menunggu mu" jawabnya sambil tersipu.


Tentu Ratna heran mendengar jawaban itu, sebab ia merasa tidak memiliki urusan dengan Jaya.


"Anu... itu... aku... "


"Bicaralah yang jelas!" ujar Ratna menanggapi kegugupan Jaya.


"Aku.. hanya ingin bicara langsung dengan mu, terimakasih kau telah membalas surat ku dan.... dan.. menerimanya" ujar Jaya setelah mengeluarkan seluruh keberaniannya.


"Surat? surat apa?" tanya Ratna bingung.


"Tentu saja surat yang ku titipkan kepada Amus, aku... tidak mengira kau akan menerimaku karena itu... terimakasih."


Jaya masih bicara hal yang lainnya meski masih seputaran isi hatinya yang senang dan untaian kata yang di tulis oleh Ratna dalam balasan surat itu, tapi telinga Ratna tak mendengarnya.


Benaknya berfikir keras atas apa yang telah terjadi padanya, surat yang ia terima dari Amus nyatanya berasal dari Jaya. Amus hanyalah merpati yang bertugas untuk mengirim surat itu, dia juga menjadi merpati yang memberikan surat balasan.


'Apa... yang telah kulakukan? kenapa? kenapa aku bisa berfikir Amus yang menulisnya?' batinnya penuh sesal.


"Ratna!" panggil Jaya untuk yang ketiga kalinya.


"Maaf, kau bilang apa barusan?" tanya Ratna kembali dari lamunan.


"Kau terlihat pucat, apa kau sakit? kenapa kau tiba-tiba terdiam?"


"Aku.. aku hanya teringat ayahku, tadi pagi dia kelihatan tidak sehat jadi aku khawatir dia akan sakit"


"Oh begitu rupanya"

__ADS_1


"Maaf, aku harus pulang duluan" ujar Ratna segera pergi dari tempat itu.


__ADS_2