Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 60 Hubungan Yang Lebih Dekat


__ADS_3

Ratna menyambut pagi di tanggal satu Januari itu dengan senyum yang merekah indah, semalam adalah hari yang paling membahagiakan untuknya. Sudah lama ia tidak berkumpul dan bersenang-senang seperti itu dengan yang lain, terlebih ia merasa ada perkembangan dalam hubungannya dengan Amus.


Ia merasakan perasaan itu saat mereka saling bergandengan tangan, tanpa kata cukup dengan tatapan yang mengartikan segalanya. Ia cukup optimistis Amus juga merasakan hal yang sama, oleh karena itu ia tidak akan menyerah dan mencari waktu yang pas untuk menyatakan perasaannya.


Ia berangkat seperti biasa ke kedai, melayani beberapa pelanggan yang datang. Hari itu cukup sepi meski masih di waktu libur, karenanya Ratna bisa lebih bersantai.


Setelah tiba waktunya pulang ia menyempatkan diri mampir ke rumah Jimy, sebab ia tahu teman-temannya ada di sana.


"Kalian sedang apa?"


Bruk


Pertanyaan Ratna yang datang secara tiba-tiba membuat yang lain kaget, bahkan Jimy terjatuh di lantai meski ia sedang duduk.


"Ti-tidak sedang apa-apa" jawab Ardi gugup.


Ratna menatap curiga sebab dari gerak gerik mereka jelas ada sesuatu yang sedang di sembunyikan, perhatiannya segera tertuju pada bantal yang berada tepat di belakang Amus dan Ardi.


"Apa kalian sudah makan?" tanya Ratna mencoba bersikap biasa padahal jelas ia hanya mengecoh saja.


"Kenapa? kau lapar?" tanya Jimy.


"Mm, kau punya makanan?"


"Aish... kenapa perutmu selalu kelaparan" ujar Jimy sambil beranjak dari tempatnya.


Ratna mulai duduk tanpa menimbulkan kecurigaan, di saat Ardi dan Amus mulai lengah pada saat itulah secepat mungkin dia menyibakkan bantal dan mengambil sesuatu yang telah mereka sembunyikan.


Aaaahhhhhh....


"Apa ini?" bentak Ratna memegang sebuah buku terlarang untuk anak di bawah umur.


Ardi, Amus dan Jimy hanya mampu memandang sambil menyiapkan hati mereka.


"Menjijikkan, kalian... benar-benar menjijikkan" gumam Ratna.


"Hei tidak perlu sampai segitunya kan? lagi pula wajar pemuda seperti kami memilikinya" ujar Jimy membela diri.


Ratna memalingkan wajah pada Jimy, tatapannya penuh kebencian dan.


Buk


Aw....


"Bodoh, bodoh bodoh!" teriak Ratna sambil memukul Jimy tanpa henti.


"Ampun, baiklah... aku minta maaf... lepaskan aku!" ujar Jimy memohon.


Ardi dan Amus hanya bisa menatap tanpa bisa menolong karena takut akan kena juga, mereka tetap diam sampai Ratna puas memukul. Beberapa menit kemudian Ratna mengancam akan melaporkan mereka kepada orangtua Jimy jika kedapatan melihat buku itu lagi.


Masih dengan emosi Ratna membawa buku itu pulang untuk memusnahkannya, sedang yang lain hanya bisa menghela nafas.


"Padahal aku baru membelinya" gumam Jimy.


"Aku belum melihat semuanya" ujar Amus.


"Aku juga belum puas membandingkannya" sahut Ardi.


Hhhhhhhh


Mereka merebahkan diri menyayangkan pemusnahan buku itu tanpa ada rasa sesal.


"Kenapa wanita tidak suka pria melakukan hal yang mereka sukai? bukankah ini menyebalkan?" tanya Jimy.


"Karena itu adalah takdir kita, wanita memang suka mengganggu kesenangan pria" jawab Ardi.


"Padahal wanita suka hal-hal yang romantis, tapi kenapa mereka benci sesuatu yang berbau mesum?" tanya Jimy lagi.


"Itu hal yang berbeda!" jawab Ardi dan Amus secara bersamaan.


"Mereka senang di sentuh dengan lembut, di beri pujian, di manjakan dan di beri kejutan yang manis itu baru namanya romantis" lanjut Ardi.


Hhhhhhh


Mereka kembali menghela nafas panjang, urusan wanita memang selalu bikin pusing. Ardi yang sudah banyak gonta ganti pasangan pun masih saja bisa salah jika di hadapkan dengan seorang gadis.


"Ngomong-ngomong wanita di halaman kedua sangat **** kan?" ujar Jimy pelan.


"Kau benar, tapi aku lebih suka wanita dengan pipi yang lebih tembem kesannya lucu dan menggemaskan" jawab Ardi.


"Bagaimana dengan mu?"


"Aku lebih suka yang manis, tidak terlalu tinggi dan cukup berisi" jawab Amus yang segera terbayang wajah Ratna.


"Ah kenapa selera kalian sangat biasa? aku tidak menyangka ternyata pria tampan seleranya tidak khusus! tapi... apa kalian menyadari kalau akhir-akhir ini Ratna terlihat lebih cantik?" tanya Jimy.


"Sejak dulu dia memang sudah cantik dan manis, dia juga sebenarnya tipe gadis yang pendiam tapi setelah semua hal yang terjadi tiba-tiba dia menjadi gadis yang arogan. Sifatnya yang sekarang menutupi kecantikannya, ah.... sungguh di sayangkan" lanjutnya.


Baik Ardi maupun Amus tak ada yang menyahut, mereka setuju pada ucapan Jimy tapi hal itu tidak mengurangi perasaan mereka. Mau bagaimana pun Ratna, tetap saja ia adalah gadis luar biasa yang istimewa.


"Hei kalian mau donat?" tanya Ratna yang datang kembali dengan satu piring berisi donat.


"Wah.. kau dapat dari mana?" tanya Jimy segera bangkit.

__ADS_1


"Nenek yang membuatnya" jawab Ratna yang segera duduk dan menyimpan piring itu di tengah.


Mereka segera mengambil donat itu masing-masing satu, tapi wajah Ratna mendadak cemberut saat ia sadar donat dengan toping coklat sudah habis dan hanya sisa yang toping keju saja.


"Kenapa?" tanya Amus.


"Aku ingin yang coklat... " jawab Ratna pelan.


Amus menghela nafas dan memberikan donatnya kepada Ratna, hal itu dilihat oleh Ardi yang sadar memang ada sesuatu di antara mereka. Amus tersenyum dan mengambil donat dengan rasa lain sedang Ardi tak bisa lagi makan dengan lahap sudah kehilangan selera.


* * *


Hari itu Ratna berangkat kerja lebih awal dari biasanya, itu karena Hamdani mengatakan akan merubah suasana kedai agar tidak membosankan. Jadi dia harus berangkat lebih awal untuk mengatur semua perabotan yang ada.


"Ah bibi mau berangkat lagi?" tanya Ratna melihat Yati dan suaminya keluar rumah dengan membawa tas.


"Benar, cuti kami sudah selesai karena itu kami akan berangkat lagi"


"Sebentar sekali, padahal bibi belum lama di sini"


"hehe ya... mau bagaimana lagi, kau mau berangkat kerja?"


"Iya"


"Astaga di saat orang lain masih liburan kau malah terus saja bekerja, apa kau tidak lelah?" tanya Yati.


"Aku sudah biasa, lagi pula jika di rumah saja rasanya membosankan"


"Ah kau ini memang pekerja keras um.... Amus! antarkan Ratna ke tempat kerjanya" perintahnya yang membuat Ratna diam-diam merasa senang.


"Tapi... bagaimana dengan ibu?"


"Ibu kan sudah biasa, lagi pula ibu pergi dengan ayahmu. Sudah antarkan Ratna, kasian kan dia harus berangkat sediri"


"Baiklah kalau begitu, aku ambil motor dulu" jawab Amus yang tidak bisa melawan perintah ibunya, lagi pun ia juga senang akan hal itu.


Tak lama kemudian Amus datang dengan motornya, setelah berpamitan dengan Yati dan yang lainnya mereka pun pergi. Di sepanjang jalan mereka saling terdiam, merasakan sebuah kecanggungan yang tidak biasa.


Duk


Ah...


Ratna cukup kaget saat tanpa sengaja Amus melewati lubang yang membuat guncangan, sadar akan hal itu Amus berkata.


"Berpegangan lah pada ku"


"Apa?" tanya Ratna pura-pura tak mendengar.


Tanpa mengulangi ucapannya Amus menarik tangan Ratna hingga berpegangan pada pinggangnya, hal itu membuat Ratna lebih kaget lagi namun kemudian perlahan ia pun melingkarkan tangannya pada perut Amus.


"Terimakasih" ujar Ratna mencoba terlihat biasa saja.


Amus hanya mengangguk tanpa menjawab sepatah kata pun.


"Akhirnya kau datang juga, paman membeli beberapa kursi baru dan hiasan dinding. Ayo cepat! paman ingin siang hari semuanya sudah beres" ujar Hamdani begitu melihat Ratna.


"Oh baiklah" jawab Ratna.


"Apa yang sedang terjadi?" tanya Amus penasaran sebab kedai terlihat begitu berantakan.


"Paman merenovasi kedai sedikit, um..... apa kau mau membantu? aku yakin paman membutuhkan bantuan mu"


"Paman atau kau?" tanya Amus memperjelas.


"Memangnya kalau aku kenapa? kau tidak mau membantu ku? begitulah sikap seorang teman?" balas Ratna mulai emosi.


"Ah... kau selalu merepotkan ku saja, baiklah akan ku bantu!" ujar Amus menyerah.


Yey.....


Sorak Ratna kegirangan, setelah memarkir motor Amus ikut masuk ke dalam kedai dan membantu merenovasi. Hamdani tentu dengan senang hati menerima bantuan itu, terlebih Amus tinggi hingga bisa menjangkau tanpa bantuan tangga.


Hamdani memasang hiasan dedaunan di dinding agar terlihat lebih sejuk, ia juga mengganti beberapa kursi dengan kursi model rotan. Beberapa bagian tembok di cat ulang dan di tambah dengan lampu pernak pernik yang di peruntukkan malam hari agar lebih cantik.


"Amus aku ingin mencoba memasang paku!" ujar Ratna melihat keterampilan Amus dalam bekerja.


"Jangan, nanti kau yang kau pukul bukannya paku malah tanganmu" jawab Amus melarang.


"Aku tidak sepayah itu!" erang Ratna.


"Baiklah... kau tidak perlu merengek."


Ratna tersenyum sebab Amus mau mengalah, dengan menggunakan tangga lipat ia naik dan mulai memasang paku di tempat yang sudah di tandai. Awalnya ia memukul dengan perlahan, tapi karena merasa bahwa itu pekerjaan yang mudah ia pun mulai memukul dengan cepat alhasil.


Buk


Aaaaa....


"Ratna! kau baik-baik saja?" tanya Amus khawatir.


Ratna turun dari tangga dan memperlihatkan jempolnya yang berdarah karena terpukul, rasa sakit yang berdenyut membuat air matanya menetes.


"Apa aku bilang? kau ini selalu ceroboh mana bisa melakukan sesuatu dengan benar!" omel Amus.

__ADS_1


"Tolong obati aku dulu... marahnya nanti saja... " rengeknya menahan sakit.


Amus mendengus dan meski kesal ia tetap mengobati luka di ibu jari Ratna, dengan penuh hati-hati ia memberikan obat antiseptik dan pereda nyeri. Perhatian kecil itu membuat rasa sakitnya berkurang, bahkan ia menikmati saat-saat dimana Amus meniup lukanya secara pelan.


"Sudah selesai, sebaiknya kau kerjakan yang lain saja" ujar Amus.


"Baiklah"


"Jangan kerjakan yang berbahaya lagi"


"Aku mengerti" jawab Ratna pelan.


Amus membiarkan Ratna dan kembali mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai. Selama tiga jam lebih mereka merenovasi dan akhirnya selesai dengan hasil yang memuaskan, sebagai ucapan terimakasih Hamdani membuatkan jus untuk mereka dan mempersilahkan mereka istirahat.


"Terimakasih, berkatmu renovasinya selesai dengan cepat" ucap Ratna.


"Bukan masalah, lagi pula jika aku tidak ada entah bagian mana lagi dalam tubuhmu yang akan terluka"


"Kau tidak perlu mengungkit hal itu" ujar Ratna sambil mendengus.


"Permisi... aku ingin pesan jus" ujar seorang pelanggan yang baru datang.


"Oh silahkan masuk, anda mau pesan jus apa?" tanya Ratna yang dengan cepat bangkit untuk melayani.


Amus tetap duduk di sana, memperhatikan bagaimana Ratna saat bekerja. Rupanya di kedai ini ia lebih banyak tersenyum dan bicara, tubuhnya pun tak berhenti beraktivitas. Sesuai ucapan ibunya Ratna memang seseorang yang pekerja keras, padahal ibu jarinya masih sakit tapi itu tak menjadi penghalang baginya.


Setelah jus di gelasnya habis Amus pun pamit pulang, ia kembali ke rumah dan menghabiskan waktunya dengan menonton kemudian bermain di rumah Jimy.


"Membosankan! bagaimana kalau kita pergi menonton?" tawar Jimy.


"Boleh saja" jawab Amus.


"Aku tidak ikut" sahut Ardi.


"Kenapa?"


"Aku ada janji dengan pacarku"


"Ah.... kau ini selalu saja sibuk dengan pacarmu, ya sudah kita pergi berdua saja" ucap Jimy kecewa.


"Kenapa? kau iri?" goda Ardi.


"Siapa yang iri? aku? kenapa aku harus iri padamu?"


"Tentu saja karena kau tidak punya pacar"


"Memang kenapa aku jika tidak punya pacar? Amus juga tidak punya"


"Tapi setidaknya aku punya teman perempuan, lagi pula aku juga cukup populer" ujar Amus.


Jimy menatap Amus seakan menuduhnya tidak setia kawan, sedang Ardi tak bisa menahan tawa karena ucapan itu.


"Kita sudah akan naik ke kelas dua dan satu-satunya teman gadis mu hanya Ratna, bagaimana bisa kau bilang tidak iri padaku? makanya carilah pacar agar kau punya kesibukan sendiri" tukas Ardi.


"Tidak perlu, masih ada kau kan?" ujar Jimy sambil merangkul Amus.


"Kau lupa aku masuk tim futsal? aku juga masuk paskibra dan masih harus menemani nenek" ujar Amus yang membuat Jimy kehilangan senyuman.


Kini ia benar-benar tidak bisa berkata lagi, ucapan Ardi memang sebetulnya benar. Diantara yang lain hanya dirinya yang tidak populer bahkan Ratna yang seperti itu saja pernah memiliki pacar dan hebatnya lagi pernah jadi pacar sewaan.


Dia tidak tampan, tidak tampan dan kurang menarik juga yang membuat para gadis tidak ada yang memperhatikannya, awalnya ia masih bisa menerima keadaan itu tapi semakin ke sini semuanya semakin sibuk dengan urusan masing-masing sehingga ia juga mulai kesepian.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Ratna saat pulang bekerja tak sengaja melihat Jimy duduk di luar rumahnya.


Nampak dari wajahnya ia sedang murung dan hal itu memancing rasa penasaran Ratna.


"Kau sakit?" tanyanya.


"Tidak"


"Laku kenapa kau terlihat lesu begitu?"


"Aku hanya sedang meratapi nasib"


"Maksudmu?" tanya Ratna tak mengerti.


Jimy menatap Ratna cukup lama sampai membuat Ratna salah tingkah, tapi kemudian dia ceritakan juga alasan mengapa ia menjadi lesu.


"Dasar payah! kenapa kau termakan ucapan si kelinci putih begitu saja?" omel Ratna.


"Ini bukan karena ucapnya, tapi ini memang kenyataannya. Kau tidak pernah merasa di posisiku jadi kau tidak akan mengerti" balas Jimy.


"Astaga... aku tidak menyangka bahkan seorang master pun punya masalah seperti itu" gumam Ratna.


"Kalau begitu kenapa kau tidak coba cari pacar saja?" usul Ratna.


"Cari dimana?"


"Sekolah mu mungkin"


"Di sekolah ku rata-rata murid laki-laki" jawab Jimy.


Mereka saling terdiam karena Ratna juga tidak punya ide, namun beberapa saat kemudian Jimy menatap Ratna dengan senyum yang mengembang.

__ADS_1


"Apa?" tanya Ratna.


"Kau bisa membantuku" jawabnya.


__ADS_2