Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 53 Layak


__ADS_3

Meski malam semakin larut tapi Ratna tak bisa menutup matanya juga, ia masih saja memikirkan perjanjian dirinya dengan Ian. Sebenarnya ia hanya bercanda, ia pikir Ian akan menyerah jika di tantang seperti itu tapi kenyataannya Ian malah setuju.


Satu sisi hatinya mengatakan apa yang telah ia perbuat sangatlah tidak terpuji, tapi sisi yang lain mengatakan tak ada yang di rugikan dalam hal ini sebab mereka pada dasarnya saling menguntungkan.


"Lima ratus ribu, aku bisa membeli handphone dengan uang itu" gumamnya tak sabar menerima uang itu.


Ratna mulai membayangkan membelanjakan uang itu dengan segala macam yang ia inginkan, mulai dari makanan hingga barang-barang kebutuhannya yang lain. Bayangan itu terus ia bawa ke dalam mimpi, membuatnya tertidur nyenyak hingga pagi menjelang.


Esoknya Ian menemuinya sepulang sekolah, ia mengantarkan Ratna pergi bekerja sekaligus kembali mendiskusikan rencana mereka.


"Aku akan menjemputmu tepat pukul tujuh malam, satu jam lebih awal dari pertemuan kita dengan Sela" ucap Ian.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin bersiap saja"


"Oh baiklah" jawab Ratna singkat.


Mereka sudah tiba di tempat kedai, Ratna hendak keluar dari mobil tapi Ian tiba-tiba menahannya. Dengan raut wajah khawatir ia bertanya.


"Acaranya besok malam, kau akan memenuhi janjimu kan?"


"Tenang saja, aku bukan tipe orang yang suka berbohong"


"Baiklah... " jawab Ian membiarkannya pergi.


Masalah cinta memanglah rumit, ia pun tidak bisa menyatakan perasaannya kepada Amus tapi ia masih tidak paham mengapa Ian sampai nekat berbohong juga.


Perjanjian sudah di tetapkan, apa pun yang di pikirkan Ian bukanlah tanggungjawabnya. Ia hanya perlu melakukan sesuai permintaan Ian dan semua berakhir dengan cepat. Malam itu, selesai bekerja Ian tiba-tiba muncul dan mengatakan akan mengantarnya pulang.


"Sudah ku bilang kan kau tidak perlu melakukannya" ujar Ratna.


"Aku harus tahu dimana rumah mu agar aku bisa menjemput mu besok, lagi pula aku ingin memberikan ini" jawab Ian sambil menyerahkan tas belanjaan.


"Apa ini?" tanya Ratna menerima tas itu.


"Besok malam kenakan pakaian ini, aku ingin kau terlihat layak bersanding denganku"


"Apa maksud mu? apa aku begitu rendah di matamu sehingga kau berkata demikian? asal kau tahu saja gadis-gadis bodoh yang mengaku penggemarmu lebih rendah dari pada aku" ujar Ratna kesal.


"Maaf, aku tidak bermaksud berkata demikian" ucap Ian sadar akan ucapannya yang salah.


"Maksudku, aku hanya ingin kau terlihat hebat agar Sela mengakui bahwa pacar baru ku lebih baik darinya" lanjutnya menjelaskan.


"Sudahlah kau membuatku naik darah saja, ayo pulang!" ujar Ratna ketus.

__ADS_1


Seumur hidup baru kali ini Ian berhadapan dengan gadis yang tempramennya buruk, tapi jika di pikir lagi ucapannya barusan memang sudah keterlaluan. Sepanjang jalan menuju rumah Ratna mereka tak ada sedikit pun bicara, Ratna masih saja marah karena hal tadi dan itu membuat Ian khawatir.


"Berhenti di depan" ujar Ratna memberitahu.


"Oh baiklah."


Ian memberhentikan mobilnya tepat di depan gang sesuai permintaan Ratna, mereka berdua keluar dan masih dengan wajah kesal Ratna bicara.


"Besok jemput aku di sini pukul tujuh"


"Baiklah" jawab Ian.


Ian hendak bicara lagi tapi Ratna sudah membalikkan badan dan pergi meninggalkannya sendirian, dengan hati yang masih kesal ia berjalan sambil menggerutu sendiri.


"Kau baru pulang?" tanya Ardi yang baru keluar dari rumah Jimy.


"Hmm"


"Kenapa? apa ada sesuatu yang membuatmu kesal?" tanya Ardi yang jelas melihat kerutan di dahi Ratna.


"Tidak, aku hanya lelah"


"Sungguh?"


"Jangan buat aku semakin kesal lagi, aku benar-benar lelah dan ingin pergi tidur" ujar Ratna mengingatkan.


Ratna tak menjawab ucapan itu, ia pergi begitu saja menuju rumahnya. Cepat pergi tidur agar rasa lelah dan kesalnya hilang, besok paginya ia pun bangun dengan suasana hati yang lebih baik.


Dengan tak sabar ia melewati aktifitas di sekolah hingga tiba waktunya pulang, bergegas ia pergi ke kedai dan memberitahu bahwa hari ini dia akan pulang lebih awal sebab ada urusan.


Hamdani mengijinkan, tepat pukul enam Ratna sudah dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Saat melewati rumah Ardi tanpa sengaja mereka berpapasan.


"Tumben sekali kau pulang cepat, apa hari ini banyak pelanggan?" tanya Ardi.


"Tidak, aku ada urusan jadi sengaja minta pulang cepat"


"Urusan apa?"


"Bukan urusanmu!" jawab Ratna yang membuat Ardi kesal.


"Apa-apaan sikap mu ini? apa kau sedang datang bulan?" tanya Ardi yang tak nyaman dengan tingkah Ratna.


"Sudahlah aku mau mandi, bye!" ujar Ratna berjalan pergi.


Tiba di rumah ia segera bersiap, dengan mengenakan pakaian yang sudah Ian berikan padanya Ratna memoles wajahnya dengan sedikit make up agar terlihat lebih cantik. Di hadapan cermin ia berkaca untuk melihat apakah penampilannya sudah pantas, ia ingin Ian puas dengan penampilannya agar tidak mendapat komentar jelek lagi.

__ADS_1


Tepat pukul tujuh malam Ratna memberikan sentuhan terakhir pada penampilannya dengan mengikat rambutnya, setelah itu ia pun pergi ke depan untuk menemui Ian yang rupanya sudah menunggunya.


"Bagaimana? apa sekarang aku sudah pantas bersanding dengan mu?" tanya Ratna.


Ia melihat dari ujung kaki hingga ujung rambut, pakaian yang ia berikan rupanya memang cocok dan pas di pakai oleh Ratna. Dengan sedikit riasan kini Ratna tampil lebih manis hingga membuat Ian cukup kaget atas perubahan itu.


"Tunggu sebentar" ujar Ian.


Tiba-tiba ia mendekat dan melepaskan ikat rambut Ratna, merapihkan rambutnya sedikit kemudian berkata.


"Biarkan rambutmu terurai, itu lebih baik"


"Baiklah" jawab Ratna pelan sebab saat Ian melepaskan ikat rambutnya tubuhnya begitu dekat hingga membuat jantungnya berdegup kencang.


"Ayo pergi!" ajak Ian.


Mereka segera naik ke dalam mobil, dalam perjalanan Ian kembali mengingatkan skenario yang telah ia buat untuk menyempurnakan sandiwara mereka.


Mereka tiba di kafe tempat dimana dalam waktu sejam lagi Sela akan datang beserta pacar barunya, Ian nampak gelisah sambil sesekali menengok ke arah pintu.


"Kau akan bertemu mantanmu bukan pak presiden, jadi berhentilah cemas" ujar Ratna.


"Aku tidak cemas, aku hanya tidak sabar menunjukkan pacar baruku padanya"


"Hei! ingat bahwa ini hanya pura-pura"


"Aku tahu.. " balas Ian.


Sejam pun berlalu begitu saja tapi Sela belum juga datang, Ratna yang dari tadi menunggu sambil minum pergi ke toilet dulu meninggalkan Ian yang harap-harap cemas.


Saat ia mengira Sela akan ingkar janji barulah pintu kafe terbuka, memperlihatkan Sela yang datang dengan pacar barunya.


Dengan tangan yang menggandeng pacar barunya Sela berjalan mendatangi Ian, nampak wajahnya berseri dan penuh percaya diri saat melihat Ian hanya seorang diri disana.


"Maaf kami sedikit terlambat, kau tahu sendiri seorang gadis membutuhkan waktu yang lebih lama untuk berdandan" ujar Sela.


"Tidak masalah" jawab Ian.


Malam itu Sela nampak cantik seperti biasa, hanya saja keromantisan yang di perlihatkan Sela dengan pacar barunya membuat Ian kesal dan mengurungkan niatnya untuk memuji.


"Lalu.... dimana pacarmu? kau tidak lupa mengajaknya kan?" tanya Sela.


"Dia sedang ke toilet, sebentar lagi dia pasti kembali"


"Oh begitu"

__ADS_1


"Ah itu dia, sayang!" panggil Ian saat melihat Ratna yang baru saja kembali.


Sela dan pacar barunya segera menengok ke belakang untuk melihat Ratna, senyum yang telah Ratna persiapkan untuk menyambut Sela seketika lenyap saat ia melihat sosok pria yang berdiri tepat di sampingnya.


__ADS_2