
Sapardi pulang dengan raut wajah ceria, dalam kepulangannya itu ada kabar baik yang tak bisa ia tahan lagi untuk dikatakan kepada Ratna. Sebuah proyek besar datang kepadanya lewat teman lama, ada seorang pastur yang membutuhkan jasanya untuk memperbaiki kursi di gereja.
Bukan hanya satu kursi saja tapi ada banyak, setelah di hitung paling kecil Sapardi bisa meraup untung hingga dua juta.
"Ayah akan berangkat sore ini juga, paling lama mungkin seminggu lebih ayah pergi. Kau tidak apa-apakan tinggal di rumah sendirian?" tanya Sapardi sedikit khawatir.
"Ayah tenang saja, aku bisa menjaga diriku"
"Baiklah, tapi hati-hati ya!" ujarnya yang di sambut anggukan oleh Ratna.
Segera Ratna membantu ayahnya membereskan pakaian dan peralatan kerjanya, hingga tiba waktu bagi Sapardi pergi Ratna pun mengantarkan ayahnya hingga ke jalan raya.
Lambaian tangan Ratna mengiringi kepergian ayahnya hingga hilang dari pandangan, ini adalah kali pertama mereka berpisah di usia Ratna yang terbilang dewasa. Rasa sedih bercampur sepi membuatnya tertegun beberapa menit menatap jalan yang kosong.
"Ayahmu sudah pergi?" tanya nenek yang melihat Ratna berjalan kembali ke rumahnya.
"Oh iya... baru saja pergi"
"Makan malamlah di rumah nenek, kau pasti kesepian jika sendirian di rumah. Nenek akan membuat masakan enak untukmu"
"Baiklah, biar aku bantu nenek memasak" ujar Ratna yang kembali ceria.
Ratna membantu nenek masuk ke dalam dan menyiapkan semua bahan masakan, kepiawaiannya dalam memotong sayuran mendapat pujian dari nenek yang membuatnya sedikit malu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Amus yang datang tepat saat makan malam sudah siap.
"Membantu nenek memasak"
"Kenapa berdiri saja? duduklah!" ujar nenek membawa hidangan terakhir.
"Kenapa nenek masak banyak makanan?" tanya Amus menatap semua hidangan di atas meja.
"Karena aku ikut makan di sini" jawab Ratna.
"Ah... kenapa nenek merepotkan diri sendiri hanya demi si Dollar? bagaimana kalau pinggang nenek sakit?"
"Apa maksudmu? apa aku begitu merepotkan?" erang Ratna.
"Tentu saja! kau membuat nenek ku kerepotan" balas Amus.
"Aish... berhentilah berkelahi, kalian ini seperti tikus dan kucing saja! nenek baik-baik saja cepat makan sebelum nasinya dingin" ujar nenek melerai.
Baik Amus maupun Ratna tak ada yang berani bicara lagi, hanya tatapan yang saling beradu dan gerak bibir tanpa suara. Mereka mulai menyantap makanan yang terhidang di meja meski sesekali beradu mulut, selesai makan Ratna tak lupa membantu nenek membereskan meja dan mencuci semua piring kotor.
"Kau sedang apa?" tanya Ratna saat tak sengaja melihat Amus duduk di meja belajarnya.
__ADS_1
"Mengerjakan tugas, apa lagi?" jawab Amus.
"Tugas? memangnya kita ada tugas?"
"Dasar bodoh! kau lupa tugas biologinya?"
"Astaga.... aku lupa... " erang Ratna.
Dengan cepat ia berlari keluar rumah dan masuk ke dalam rumahnya hanya untuk membawa buku tugasnya, dengan nafas yang memburu ia berlari kembali ke kamar Amus.
"Ah... hhhhhh hhhhhh aku benar-benar lupa!" erangnya sambil mencoba mengatur nafas.
"Selain makanan dan uang sepertinya tak ada lagi yang kau pikirkan" komentar Amus.
"Aku bilang aku lupa!" teriak Ratna.
"Baiklah baiklah" ujar Amus menyerah.
"Ah... bagaimana ini? apa waktu ku cukup untuk mengerjakannya?" gumamnya sambil membalikkan halaman demi halaman.
Amus tertegun menatap wajah khawatir Ratna yang nampak lucu, apalagi saat ia menggaruk kepalanya sampai rambutnya berantakan.
"Nih! kau bisa mencontek dariku" ujar Amus menyerahkan bukunya.
"Kau sudah selesai mengerjakannya?" tanya Ratna.
"Um..... kau baik sekali... terimakasih... kau adalah penyelamat ku" ujar Ratna mengembangkan senyum.
Segera Amus pindah ke ranjangnya, membiarkan Ratna memakai meja belajarnya untuk mengerjakan tugas. Di malam yang semakin larut kamar itu terasa hening meski ada dua orang di sana, Ratna sangat fokus pada tugasnya sedang Amus sibuk sendiri dengan game di ponselnya.
Hingga tanpa terasa sejam telah berlalu begitu saja, rasa ngantuk mulai menyerang kelopak mata Amus. Saat ia memutuskan untuk hendak tidur di lihatnya Ratna yang sudah tertidur duluan di atas meja, wajahnya nampak polos bak malaikat.
Untuk beberapa saat ia menikmati pemandangan di atas meja belajarnya, jarang sekali ia bisa melihat momen saat Ratna tidur. Wajah imut yang mampu membuat degup jantungnya berpacu cepat, serta menyunggingkan senyum bahagia.
Tapi, teringat status Ratna yang kini sudah di miliki oleh pria lain membuat senyum itu memudar.
"Kenapa kau selalu merepotkan ku?" gumamnya menatap sendu.
Perlahan Amus mengangkat kepala Ratna, menyenderkannya di kursi sebelum ia mengangkat tubuh Ratna dan memindahkannya ke atas ranjang. Secara perlahan ia membaringkan tubuh Ratna dan menutupnya dengan selimut.
"Ah... kau tidur seperti bangkai" gumamnya melihat Ratna yang pulas tidur meski sudah di pindahkan.
Karena rasa ngantuk kembali menyerangnya dengan cepat Amus membereskan buku-buku di atas meja belajarnya dan menutup pintu kamar sambil berjalan keluar.
Ddrrrrrtttt..... Ddrrrrrtttt...
__ADS_1
Mmmmm...
Ratna menggeliat saat terbangun karena mendengar suara jam weker, beberapa kali matanya mengerjap menyesuaikan penglihatan sebab cahaya mentari yang masuk lewat jendela membuat kamar itu terang.
Ddrrrrrtttt... Ddrrrrrtttt...
Ting
Dimatikannya jam weker yang sejak tadi berbunyi sambil melihat jam.
"Ah.. baru jam enam... tapi kenapa cahaya mataharinya terik?" gumamnya.
"Astaga... " teriaknya saat teringat semalam ia sedang mengerjakan tugas.
Dilihatnya sekeliling kamar dan barulah ia sadar bahwa ia tertidur di kamar Amus, perlahan ia bangkit dan pergi keluar. Di atas sofa di ruang tamu ia menemukan Amus masih tertidur dengan berbalut selimut, perlahan ia pun berjalan dan duduk tepat di bawah sofa hanya untuk melihat wajah Amus yang sedang tidur.
"Hmm, ternyata wajahnya sangat manis jika sedang tertidur" gumamnya menatap wajah itu.
Ada perasaan senang bercampur geli mengingat sifat Amus yang bandel dan sering marah-marah, cukup berbanding terbalik dengan wajah damainya saat tidur.
Hhhhhh
"Kenapa terkadang aku merasa kau menyukaiku? kadang kau perhatian dan baik, kadang tatapanmu terasa menyejukkan hingga membuatku nyaman. Jika aku katakan aku menyukaimu.... apakah kau akan membalasnya?" ujar Ratna pelan.
"Hmmm, mungkin sebaiknya kita memang terus berteman seperti ini... dengan begitu kita bisa terus bertengkar dan tertawa kemudian" gumamnya sambil tersenyum.
Perlahan tangannya terangkat, menyingkirkan rambut yang menghalangi mata Amus. Namun gerakan itu membuat Amus menggeliat yang justru mengundang tawa kecil bagi Ratna, dengan rasa penasaran ia pun mencoba membelai pipi Amus.
Perlahan tangannya bergerak mulai dari tulang pipi hingga ke dagu, sentuhan pertama itu cukup aman sebab Amus tak bergerak. Ratna mencoba membelainya kembali namun kali ini sentuhannya cukup terasa hingga membuat Amus membuka mata, sontak Ratna kaget melihat mata Amus yang terbuka dan.
Aaarrrhhhh...
Kyaaaa.....
Dugh...
Aw....
Mereka berteriak bersamaan, membuat Ratna mundur dengan cepat tapi akibatnya kepalanya terbentur ujung meja.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Amus bangkit.
"Aaarhhh.... kepalaku... " erang Ratna menggosok belakang kepalanya.
"Kau... baik-baik saja?" tanya Amus.
__ADS_1
"Tentu saja tidak! cepat bangun! ini sudah siang" teriak Ratna bangkit dan berlalu meninggalkan Amus yang masih bengong.