Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 22 Hari Baru Yang Bahagia


__ADS_3

"Segala perasaan yang menimbun di dalam hati perlahan membusuk, menyebarkan aroma pedih dan perlahan membunuh rasa. Bilamana awan berbisik membawa kabar mendung ku biarkan hujan mengikis perlahan masa , menghanyutkan cerita yang memberi duka. Terkadang hal yang tak di harapkan memang cukup memuakkan, tapi perjalanan yang telah di lewati akan terkubur sendirinya. Setidaknya satu waktu ingin ku akhiri, agar langkahku yang berikutnya tanpa bayang-bayang menakutkan."


Di kutip dari arsip pribadi Ratna Mangalih.


* * *


"Aw.... pelan-pelan" erang Ardi mengernyit.


"Ini sudah pelan, luka seperti ini jangan kan di kompres didiamkan saja pasti berdenyut sakit" ujar Ratna.


Jika tidak dihentikan bisa di pastikan Ardi akan terus berkelahi hingga lebih bonyok lagi, emosinya yang tak bisa di kontrol terkadang memang menyulitkan hingga membuat khawatir.


"Aish.... dia bukan pria tertampan di dunia kenapa kau masih saja menangisinya?" tanya Ardi menatap mata Ratna yang berkaca-kaca.


"Bodoh! aku menangisimu bukan dia, bagaimana jika terjadi sesuatu padamu? kenapa kau sangat pemarah hingga harus berkelahi seperti itu?" bentak Ratna.


Ardi cukup tertegun mendengar jawaban itu, ia tak mengira Ratna sangat mengkhawatirkan dirinya. Namun hal itu membuat hatinya cukup senang, di usapnya atas kepala Ratna dengan lembut sambil berkata.


"Aku tidak perduli pada diriku, selama kau baik-baik saja itu tidak masalah"


"Berhentilah mengkhawatirkan ku secara berlebihan, sebaiknya kau pikirkan tentang dirimu sendiri. Aku hanya kaget Jaya berani selingkuh di belakang ku tapi itu tidak masalah, lagi pula aku sudah berniat mengakhiri hubungan kami"


"Tetap saja aku tidak terima" balas Ardi.


"Sudahlah tidak perlu di bahas lagi" ujar Ratna lelah.


Setelah beberapa menit istirahat mereka pergi menemui Amus dan Jaya, kedatangan Ardi dalam kondisi babak belur tentu membuat pertanyaan yang Ratna jawab apa adanya. Awalnya Jimy dan Amus ikut naik pitam sebab Jaya tak hanya membuat Ardi babak belur tapi juga mengkhianati Ratna, tapi untungnya Ratna berhasil meredam emosi mereka.


Dengan kondisi yang sudah kacau mereka pun memutuskan untuk mengakhiri perjalanan mereka di pekan raya tersebut.


* * *


Ia sudah siap sejak tadi, namun belum juga berangkat justru bulak balik di kamar sambil sesekali mengintip dari balik jendela kamarnya sampai di dengarnya sebuah teriakan gadis di luar.


"Ayah aku berangkat dulu."


Dengan cepat Amus merapikan seragamnya dan pergi keluar sambil menggandeng ranselnya.


"Oh kau belum berangkat?" tanya Ratna saat melihat Amus keluar rumah.


"Hmm, aku kesiangan" jawabnya.


"Tumben kau kesiangan, kau kan yang paling rajin di antara kita"


"Kau pikir aku robot yang sudah di setel? aku juga manusia bisa bangun kesiangan" bentak Amus.


"Baiklah baiklah, tidak perlu marah juga"


"Kau... baik-baik saja?" tanya Amus yang merasa aneh sebab Ratna tiba-tiba menjadi penyabar.


"Tentu saja, kenapa?"


"Tidak! ayo pergi, kita sudah terlambat" ajak Amus mengambil langkah lebih dulu.


Ratna memang tak pernah mau kalah dari Amus, jika ia di marahi maka dia akan lebih marah lagi. Baginya Amus adalah teman bercanda yang keras sebab ucapan atau tindakannya kadang terlewat batas, meski begitu ia selalu senang dengan cara pertemanan mereka. Namun hari ini, hari baru bagi dirinya yang menyandang status sendiri ingin lebih di perlakukan lembut layaknya seorang gadis.


"Besok adalah hari ulang tahun restoran keluarga ku dan orangtua ku mengundang kalian semua untuk makan malam bersama di restoran kami" ujar Jimy di jam istirahat.


"Benarkah? boleh aku pesan ayam goreng?" tanya Ratna ceria.


"Jangankan ayam, orangtuaku sudah menyiapkan sup kikil bahkan sate kambing"


"Wah... aku harus mengosongkan perutku kalau begitu" ujar Ardi.


"Jangan lupa beritahu orangtua kalian, pokoknya nanti malam kita akan pesta besar" ucap Jimy.


"Bisakah kita pergi bersama? aku tidak yakin bisa menuntun nenek dengan benar" tanya Amus.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu aku akan menyuruh kakak ku membawa mobil"


"Itu lebih baik" ucap Amus.


Menantikan pesta yang akan di gelar nanti malam membuat Ratna terus melirik jam setiap saat, jarinya terkadang memainkan pensil dengan tak sabar bahkan berdecak kesal.


Hingga akhirnya waktu pulang sekolah tiba dengan buru-buru ia pulang ke rumah dan memberitahu ayahnya.


"Ah... aku tak sabar menunggu nanti malam" ujar Ratna masuk ke dalam kamarnya.


Ia segera mengganti pakaian dan saat mengeluarkan buku-buku pelajarannya tanpa sengaja ia melihat MP3 milik Amus yang sudah lama ia pinjam.


"Aku lupa belum mengembalikannya" gumamnya.


Segera di ambilnya benda itu dan pergi ke rumah Amus untuk mengembalikannya, nampak Amus sedang asik sendiri membaca komik di kamarnya.


"Ini Mp3 mu, aku sudah selesai memakainya" ujar Ratna.


"Taruh saja di atas meja" jawab Amus tanpa memalingkan wajahnya.


"Geser" ucap Ratna yang terus duduk di samping Amus untuk melihat isi komik itu.


Awalnya ia hanya penasaran karena tak ada hal yang bisa ia kerjakan namun tanpa di sadari komik yang di baca Amus cukup menarik hingga tanpa terasa ia tetap di sana membaca berdua sampai tamat.


"Menarik sekali, kau dapat dari mana komiknya?" tanya Ratna.


"Aku pinjam dari teman"


"Oh..." ujar Ratna.


Hhhhhhh


Ia menghembuskan nafas panjang saat melirik jam yang baru menunjukkan pukul empat sore, menunggu memang bukanlah hal yang menyenangkan.


"Kau punya sesuatu yang menarik?" tanya Ratna.


"Aku bosan"


"Kenapa kau tidak menonton TV saja"


"Tidak ada acara bagus jam segini"


"Bagaimana kalau main bola?"


"Aku ini seorang gadis! tapi sebenarnya boleh juga, baiklah ayo kita main di depan" ujar Ratna plin plan.


Amus hanya menggelengkan kepala menanggapi ucapan Ratna sambil mengambil bola ia pun pergi keluar.


Jalan di depan rumah mereka tidaklah besar tapi cukup untuk di pakai bermain, terlebih karena rumah mereka yang paling pojok sehingga jalan itu bisa di bilang jalan mati sebab tak ada yang lalu lalang kecuali keluarga mereka.


Dengan sandal sebagai patokan Amus membuat gawang tanpa kiper, permainan itu di buat sederhana dengan aturan siapa yang paling banyak mencetak gol dialah yang menang.


Dalam permainan ini tanpa bermain pun sudah jelas Amus lah yang menang, tapi kegigihan Ratna tak bisa di anggap remeh. Rupanya ia berjuang cukup keras bahkan saking ingin mencetak gol Ratna menarik tangan Amus hingga ia terjatuh.


"Gol..... " teriak Ratna girang sebab setelah beberapa menit yang melelahkan ia baru bisa mencetak gol.


"Curang! kau menarik tanganku" protes Amus.


"Aku hanya memegang sedikit" balas Ratna.


"Apa? aku sampai terjatuh kau tahu!"


"Kau terjatuh karena tidak pandai menjaga keseimbangan"


"Oh... jadi ini cara mainmu, baiklah aku akan mengikutinya" ujar Amus serius.


Mereka mulai kembali, kini Amus bermain dengan sungguh-sungguh. Ia tidak memberi Ratna sedikit pun celah dan terus mencetak gol sampai Ratna kesal dan marah-marah, tentu hal itu membuatnya senang dan tertawa.

__ADS_1


"Arrhhh... aku lelah sekali" ujar Amus menjatuhkan tubuhnya di atas tanah.


"Kau benar-benar keterlaluan, seharusnya kau mengalah!" teriak Ratna masih kesal.


"Salah mu sendiri membuatku kesal, jika sudah seperti ini tak perduli siapa kau pasti akan ku kalahkan"


"Kau memang benar-benar tidak menyukai ku" gumam Ratna.


"Apa?" tanya Amus sebab ia tak mendengar dengan jelas.


"Hah? apa? aku tidak bilang apa-apa!" jawab Ratna cepat sadar bahwa ia telah bergumam sesuatu yang bisa membocorkan isi hatinya.


"Ya sudah, aku mau mandi dan bersiap" ucap Amus beranjak.


Kini senja telah temaram, saat-saat yang Ratna tunggu akhirnya tiba juga. Ia pun bergegas pulang untuk membersihkan diri dan bersiap, bersama dengan ayahnya ia pergi ke restoran keluarga Jimy memenuhi undangan.


Meski di pintu restoran terpasang kata 'tutup' tapi mereka tetap masuk ke dalam, kedua orang tua Jimy menyambut kedatangan mereka dengan bahagia.


Rupanya semua orang sudah berkumpul di sana dan menunggu kedatangan mereka berdua, nampak juga Angga kakak Jimy yang baru bertemu dengannya setelah sekian lama.


"Aku tidak menyangka kau tumbuh dengan cepat, rasanya baru kemarin kau berlarian di depan rumah kami bersama Jimy sekarang kau sudah menjadi gadis yang cantik" ujar Angga.


"Kakak bisa saja, aku tidak secantik itu" ujar Ratna tersipu malu.


"Dia benar, bahkan dia juga masih suka berlarian" ujar Jimy.


"Apa maksud mu?" tanya Ratna memasang wajah serius.


"Tidak ada" ujar Jimy mengangkat kedua kedua alisnya sadar tatapan Ratna yang mengancam.


"Apa kau sudah punya pacar?" tanya Angga lagi.


"Um... itu... tidak ada" jawab Ratna yang tiba-tiba teringat kepada Jaya.


"Baguslah, kau masih kecil jadi sebaiknya jangan pacaran dulu. Tunggu kau besar nanti kakak akan datang kerumah dan melamar mu"


Bruuuhhh uhuk uhuk uhuk


Ratna dan yang lainnya hanya bisa bengong mendengar ucapan itu, sedang Amus terbatuk-batuk akibat tersedak.


Hahahahah


"Lihatlah wajah kalian, aku hanya bercanda" ujar Angga yang tak bisa menahan geli.


"Ish, kau ini membuat kami kaget saja" ujar ibu Jimy.


"Tapi jika Ratna mau aku juga tidak keberatan"


"Aku yang keberatan! aku tidak mau punya kakak ipar yang mata duitan seperti dia" ujar Jimy.


"Aku tidak mata duitan" bantah Ratna.


"Dalam otak mu hanya ada uang dan makanan, kau pikir itu apa?" timpal Amus.


"Hmm, sekali gadis dolar tetap gadis dolar" ujar pula Ardi menyetujui.


"Ah... kenapa kalian memojokkan ku?" erang Ratna.


"Sudahlah jangan menggodanya terus, kalian ini sejak kecil bukannya mengasuh dengan baik malah membuatnya menangis terus" ujar ibu Jimy.


Hahahaha


"Begitulah anak kecil, tanpa bertengkar pertemanan mereka tidaklah lengkap" ujar Sapardi yang memaklumi.


"Kau benar" ujar nenek setuju.


Tawa para orangtua pecah di malam yang semakin sunyi, hidangan yang baru matang terus di taruh di atas meja sampai perut mereka kenyang hingga tak bisa bergerak.

__ADS_1


Puas hati Ratna menatap setiap senyum di wajah semua orang, batinnya kini kembali berpelangi lagi setelah melewati hari suram yang melelahkan. Ia harap kebahagiaan seperti ini akan terus berlanjut tanpa ada masalah yang berarti.


__ADS_2