
Satu jam sudah berlalu dan meski kamar itu hening namun bukan berarti masalah sudah selesai, Amus kembali pada PS-nya dan Ratna duduk di pojokan sambil sedikit-sedikit makan keripik.
Pintu masih di kunci sehingga mereka belum bisa keluar, bingung dengan keadaan baik Amus maupun Ratna sibuk dengan pikiran mereka sendiri.
Kkkruuyykkk
Suara perut Amus yang keroncongan tiba-tiba memecah keheningan.
"Kau lapar?" tanya Ratna meski jelas-jelas ia mendengar suara perut yang bunyi.
"Aku melewatkan makan malam" akui Amus meski dengan menahan malu.
"Bukankah di sini banyak cemilan? kenapa tidak kau makan?"
"Karena kau menghabiskannya"
"Aku tidak menghabiskannya! lihat ini semua masih ada" balas Ratna dengan suara tinggi.
Amus bergerak menghadapi Ratna dan mengambil semua makanan yang ada padanya.
"Jika tidak ku ambil akan kau habiskan semua kan?"
"Sembarangan menuduhku, dasar payah!" hardik Ratna.
Ia bangkit hendak memukul bahu Amus, namun lututnya kepeleset hingga kehilangan keseimbangan dan.
Aaaahh...
Ia jatuh tepat menimpa Amus, saat membuka mata hal yang pertama kali ia lihat adalah mata Amus yang bening. Nampak lebih indah dan cerah dari jarak sedekat itu, bahkan Amus terlihat lebih tampan yang membuat Ratna tak bisa berpaling.
"Ratna.... " panggil Amus pelan.
"Ya.... " jawabnya.
"Sakit"
"Oh, maafkan aku."
Ratna segera bangkit dan duduk di samping Amus.
"Semakin hari sepertinya kau semakin gemuk, astaga... kau berat sekali" gerutu Amus sambil mencoba bangkit.
"Apa katamu! aku tidak segemuk itu"
"Mungkin tidak terlihat saja karena kau cukup tinggi, bayangkan jika kau pendek aku yakin kau akan terlihat seperti bola"
"Sialan!"
aw... aw... aduuhh...
Ratna terus melancarkan serangan dengan memukul-mukul bahu Amus hingga hatinya puas.
"Aku tidak gemuk, pacar mu lebih gemuk dariku dan jelek!" bentak Ratna penuh emosi.
"Apa? kau bilang apa?" tanya Amus menghentikan Ratna.
Sadar bahwa ia telah keceplosan Ratna hanya bisa diam sambil berfikir untuk mengalihkan pembicaraan.
"Pacar siapa? aku tidak punya pacar" ujar Amus.
"Jangan bohong! aku melihatnya sendiri, kalian bermesraan setelah pulang sekolah" jawab Ratna tak tahan.
"Apa maksud mu bermesraan?"
"Kau minum air yang dia berikan, tidak hanya itu kau juga memboncengnya sambil tertawa-tawa"
"Kapan aku membonceng seorang gadis?"
"Tidak perlu bersandiwara! tadi siang pulang sekolah kau melakukannya" ujar Ratna mengingatkan.
Saat sadar gadis mana yang tengah Ratna bicarakan hati Amus menjadi geli, ia tak menyangka Ratna akan salah paham kepadanya dan itu cukup lucu sehingga membuatnya tertawa.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Ratna kesal.
"Gadis yang kau maksud bukan pacarku, dia teman ku. Tadi siang aku ada rapat dengan anggota paskibra, karena dia juga anggota paskibra jadi kami berangkat bersama. Dan masalah minum itu memang aku yang minta karena haus" jelas Amus.
Ratna terdiam, ia tak berfikir akan salah sangka seperti itu. Kini tiba-tiba ia merasa malu sampai-sampai wajahnya menjadi kemerahan, ia tak tahu harus bicara apa lagi atau bersikap seperti apa.
"Aku... pikir dia pacarmu" ujar Ratna pelan.
"Jika aku punya pacar pasti akan ku kenalkan pada kalian semua" jawab Amus.
__ADS_1
Tidak hanya di kenalkan, tapi semua juga mengenalnya. Suatu hari nanti ia bertekad akan menyatakan perasaannya kepada Ratna, dan untuk itulah tidak mungkin dia dekat dengan gadis mana pun saat peluangnya mendapatkan Ratna menjadi lebih besar.
"Kau pun, jika punya pacar harus memberitahu kami. Jangan rahasiakan apa pun dari kami" pinta Amus.
Tentu saja karena dia tidak ingin tiba-tiba patah hati seperti kemarin, beruntung itu hanya pura-pura.
Setelah kesalahpahaman itu selesai mereka kembali seperti semula, bicara, bercanda hingga berkelahi hanya karena hal sepele.
* * *
Tanpa terasa kini saatnya libur panjang, rasanya baru kemarin Ratna masuk ke SMA kini satu semester telah ia lewati begitu saja. Libur semester satu selama dua minggu lebih menyenangkan karena bertepatan dengan pergantian tahun.
Meski libur tapi Ratna tetap memilih mengisi waktunya dengan bekerja di kedai meski tidak full, tentu karena ia juga ingin melewati liburan yang menyenangkan seperti teman-temannya yang lain.
Setelah pulang bekerja ia akan mampir ke rumah Amus hanya untuk nonton TV bersama dengan yang lain, sepanjang liburan itu ada banyak film bagus yang di putar. Seperti film WARKOP DKI, SUZANNA dan masih banyak lagi.
"Besok orangtuaku akan pulang, kami mau mengadakan acara bakar ayam. Apa kalian mau ikut?" tanya Amus.
"Tentu saja, akan lebih meriah jika ada kembang api" sahut Jimy.
"Pasti indah sekali, kau harus membeli yang banyak" saran Ratna.
"Menyambut tahun baru itu memang seru, aku jadi tidak sabar" ujar Ardi.
Ardi adalah orang yang paling menantikan acara tahun baru itu, ia telah menunggu cukup lama untuk ini sebab ada sesuatu yang sangat ia harapkan.
Itu mengenai hubungannya dengan Ratna, selama ini ia sudah membuat banyak kenangan yang tak terlupakan atas kebersamaan mereka. Bahkan ia rasa Ratna sudah mulai peka pada perasaannya, itu terbukti dari sebatang coklat yang Ratna berikan hanya untuknya.
Karena itulah, pada malam tahun baru itu ia berniat untuk menyatakan perasaannya. Di bawah langit malam yang cerah dan kilauan kembang api yang berwarna warni, itu merupakan momen yang pas untuk menyatakan perasaan.
Orangtua Amus tiba di rumah siang hari dan tanpa lelah segera menyiapkan segala sesuatu yang mereka butuhkan untuk nanti malam, mereka juga mengajak orangtua Ardi, Sapardi dan orangtua Jimy untuk ikut bergabung.
Dengan senang hati mereka mau ikut, tentu karena sudah lama juga para orangtua tidak berkumpul bersama. Mereka memilih pekarangan depan rumah Jimy untuk melakukan acara itu sebab halamannya yang luas, sore hari saat Ratna pulang bekerja ia mendapati semua orangtua sudah sibuk atas berbagai macam hal.
"Kalian sudah berkumpul rupanya" ujar Ratna melihat ketiga sahabatnya tengah sibuk membantu.
"Cepatlah mandi, sebentar lagi acaranya akan di mulai" ujar Ardi.
"Oh baiklah" jawab Ratna hendak pergi.
Namun tiba-tiba ia melihat Angga datang diikuti Mita tepat di belakangnya, sontak Ratna yang kaget segera berlari menghampiri Mita dan memeluknya dengan senang.
"Aku juga merindukanmu" balas Mita.
"Aku tak menyangka kau akan datang kemari"
"Ini karena kak Angga, dia sampai minta ijin kepada kedua orang tuaku agar bisa membawaku kemari"
"Astaga orang dewasa memang penuh kuasa, baiklah mumpung kau di sini bagaimana kalau kita ke rumah ku dulu" ajak Ratna.
"Baiklah, sudah lama juga kita tidak mengobrol" jawab Mita setuju.
Mereka berpamitan pada yang lain dan segera pergi ke rumah Ratna, Mita di biarkan sendiri hanya untuk sebentar selagi ia pergi mandi.
"Cantik sekali, kau dapat dari mana?" tanya Mita menatap musik box sekembalinya Ratna dari kamar mandi.
"Itu dari Amus"
"Benarkah? dia menghadiahi mu benda ini? manis sekali... " ujar Mita tak percaya.
"Itu oleh-oleh yang dia berikan setelah kembali dari liburannya"
"E-hm, sepertinya hubungan kalian sudah masuk ke tahap yang lebih indah" goda Mita.
"Apa maksud mu?" erang Ratna menyembunyikan rasa malunya.
"Jadi... kapan kau akan mengatakannya?" tanya Mita yang membuatnya terdiam.
"Jujur aku tidak tahu, perasaanku masih sama tapi.... saat aku mencoba mengatakannya rasanya begitu sulit, dia tidak pernah berubah dan tidak peka pada perhatian yang terus aku berikan. Malah aku merasa Ardi yang lebih peka" jawabnya.
"Pria cuek seperti Amus memang cukup sulit di sadarkan, tapi apa kau melihat bahwa ada perubahan pada dirinya? dia memberimu oleh-oleh yang begitu manis, mungkin dia sebenarnya sudah sadar tapi takut bahwa itu hanya perasaannya saja"
"Entahlah, aku benar-benar takut di tolak olehnya"
Hahahaha
"Aku tidak menyangka gadis pemberani seperti mu akan bisa takut pada hal semacam itu" ujar Mita geli.
"Aku juga manusia normal, eh ngomong-ngomong apa orangtua kalian sudah tahu tentang hubungan kalian berdua?"
"Sudah, bahkan yang membuat ku kaget mereka merestui kami"
__ADS_1
"Secepat itu?" tanya Ratna kaget.
"Astaga.... lurus sekali kisah cinta mu, tanpa ada kerikil sedikit pun"
"Siapa bilang? ada satu kerikil yang membuat kami hampir putus" bantah Mita.
"Apa itu?"
"Cita-cita ku! aku ingin sekali melanjutkan studi ku ke Universitas setelah lulus SMA, tapi mengetahui aku sudah punya pacar orangtuaku ingin setelah lulus aku menikah saja"
Ratna mengerti apa yang di rasakan Mita, ia pun sempat melupakan perasaannya demi mengejar masa depan yang cerah. Tapi seperti yang di katakan Rere hidup bukan hanya soal cita-cita, di masa keemasan ini ia pun berhak menikmati hal lain yang bisa membuatnya bahagia.
"Aku yakin kak Angga akan dapat membahagiakan mu, dia pasti akan mengambil keputusan yang tidak akan membuatmu kecewa" ujarnya.
"Terimakasih, ayo bersiap! mereka pasti sudah menunggu kita" jawab Mita.
Ratna segera menyisir rambutnya, memoles wajahnya dengan sedikit riasan dan mereka pun pergi ke kediaman Jimy.
"Oh lihatlah para gadis kita, entah kesulitan apa yang mereka hadapi hingga begitu terlambat" ujar Wijaya bergurau.
Hahahaha
Tawa setiap orang itu membuat Mita tersipu malu sedang Ratna ikut tertawa seperti yang lain, acara pun di mulai dengan pihak laki-laki menyiapkan arang sedang yang perempuan menyiapkan bumbu dan tempat makan.
Acara berlangsung begitu meriah, semakin malam semakin meriah lagi dengan beberapa kembang api yang di luncurkan untuk menandai malam yang penuh pesona itu.
"Ah... suaranya cukup mengagetkan" ujar Ratna sambil duduk.
"Tapi indah bukan?" tanya Ardi.
"Mm, sangat indah dan meriah" jawab Ratna sambil menatap langit yang penuh warna itu.
Beberapa detik Ardi habiskan hanya untuk menatap gadis yang ia sukai, wajah imut yang selalu tertawa itu membuat malam semakin sempurna. Ia melihat sekeliling dan sadar semua orang berada cukup jauh di depannya, di tempat itu hanya ada dirinya dan Ratna artinya tak ada yang akan mendengar percakapan mereka.
"Ratna.. " panggilnya.
"Apa?" tanya Ratna.
"Aku...."
Dooooorrrr........
"Mencintaimu... "
"Lihat! yang itu lebih besar!" teriak Ratna sambil menunjuk langit.
"Ayo bergabung lagi dengan yang lain, nanti kita kehabisan ayam bakanya" ajaknya sambil berdiri dah berlari menghampiri yang lain.
Ardi diam terpaku, pernyataan cintanya tak terdengar sebab kalah oleh suara kembang api yang nyaring. Dengan lesu ia menundukkan kepala, baru tersadar bahwa meski momennya sudah bagus tapi waktunya kurang tepat.
Ia ingin mengulanginya lagi hal itu tidak akan sama seperti yang pertama dan ia rasa malam itu memang bukan waktu yang cocok, dengan putus asa ia menatap Ratna yang sibuk berebut ayam bakar dengan Amus.
Ia hanya bisa tertawa melihat kelucuan Ratna yang tak mau kalah, begitu pun dengan Amus. Tapi semakin lama ia memperhatikan semakin ia menyadari akan sesuatu hal.
Amus menggigit ayam itu tepat di depan wajah Ratna, yang tak di sangka Ratna ikut menggigitnya sehingga wajah mereka begitu dekat. Amus melepaskan ayam itu dan memberikannya kepada Ratna, dengan rakus Ratna memakan ayam itu tanpa peduli mulutnya kotor karena hal itu.
Amus tak bisa menahan tawanya melihat wajah Ratna, tawa yang membuat Ratna jengkel dan memukulnya tanpa henti. Setelah puas tertawa ia me-lap noda di mulut Ratna dengan tisu, mata mereka kembali saling berpandangan untuk beberapa saat.
Syuuuuuuuuttttt
Doooooooorrrrrr
Jimy kembali menyalakan kembang api yang besar, percikan yang indah di langit malam membuat mata mereka berdua beralih pada hal itu. Namun perlahan tangan mereka saling bersentuhan hingga akhirnya saling menggenggam, saat hal itu terjadi mata mereka kembali saling beradu.
"Selamat tahun baru" ujar Amus pelan yang membuat Ratna tersenyum senang.
"Selamat tahun baru juga untukmu" balasnya.
Mereka saling tersenyum, senyum yang berbeda dari biasanya. Masih dengan saling bergenggaman tangan mereka kembali menatap langit dan menikmati akhir tahun yang penuh kebahagiaan, tanpa menyadari ada seseorang di belakang yang sedari tadi memperhatikan mereka.
Ardi, yang sedang mencerna tentang apa yang sedang ia saksikan. Tanpa di duga kebersamaan perlakuan kedua sahabatnya itu selama ini terbayang dalam benaknya, ingatan saat tingkah mereka yang selalu berkelahi.
Ternyata hal itu merupakan bentuk mereka mengekspresikan perasaan mereka, lalu saat kasus Yuni yang membuat persahabatan mereka meregang. Hanya Amus yang tetap berdiri di samping Ratna, caranya memandang Ratna, perhatian kecilnya, semua itu bukan hanya karena persahabatan saja tapi karena bagi Amus Ratna lebih dari sekedar sahabat.
"Betapa butanya mataku, hingga tak bisa melihat cinta padahal begitu besarnya" gumamnya.
Ada rasa pedih di sana, perasaan kecewa yang tiada tara. Harusnya malam ini menjadi momen yang indah untuknya, menjadi raja yang bahagia sebab menemukan ratunya tapi yang terjadi ia malah menjadi bayangan yang bahkan tidak di sadari.
Ardi menatap langit sambil mencoba menghembuskan kekecewaan, ada rasa iri dalam hatinya yang membuat senyum pahit mengembang di wajah. Dalam balutan emosi itu ia hanya mampu mengutuk diri sendiri, menertawakan sifatnya yang besar kepala dan bergumam.
"Ternyata aku yang salah karena telah masuk ke dalam kisah kalian, tak apa... aku hanya terluka."
__ADS_1