
"Aku ingin bertemu dan berjalan bersamamu setiap pagi, aku ingin bercanda dan tertawa hingga mata berkaca-kaca. Aku ingin kau cerita 'pacarku' membuat onar dan aku akan memelukmu hingga terdengar suara rengekan yang membuat wajahmu semakin imut.
Aku ingin merenggut mu dari pria lain dan mengumpat agar kau sadar keberadaan ku, lalu kau berkata 'pahlawanku' sehingga aku bisa membusungkan dada.
Setiap malam aku selalu berfikir 'besok waktunya' tapi hari berlalu dengan mulut ku yang masih terkunci, pada akhirnya aku hanya bisa menggenggam hari-hari yang telah kita lewati di tangan. Memang kita harus memilih jalan masing-masing, saat logikaku mengolok dengan panggilan pengecut tolong katakan saja aku terlalu baik dan kini harus ku buang kemana hati yang sepihak ini?"
Isi hati Amus yang tak pernah diabadikan dalam bentuk apa pun.
* * *
Amus masih menggenggam tangan Ratna, berharap ia segera membuka mata dan melihat ada dirinya di sana.
"Apa ini hukuman untuk ku? karena aku meninggalkan mu tanpa berpamitan, sekarang kau membalas ku dengan cara ini. Aku minta maaf untuk itu, aku sengaja pergi tanpa menemui mu karena aku tidak ingin kau melihat diriku yang sedang kacau. Sebab aku... harus berbesar hati merelakan mu demi yang lain, sebab aku... mencintaimu."
Akhirnya pernyataan cinta itu terucap juga, perasaan yang telah ia pendam sejak dulu. Bahkan saat mereka masih kecil, dimana ia akan selalu bertengkar demi mendapatkan perhatian Ratna.
Tahun berlalu begitu saja saat Ratna pergi di usia sembilan tahun, ia tak menyangka akan bertemu lagi saat mereka menginjak usia remaja.
Hari dimana hatinya senang sebab tim sepak bola yang ia dukung keluar sebagai pemenang, seorang gadis pun dengan matanya telah memenangkan hatinya.
Dengan raut wajah yang takut, matanya merah berkaca-kaca dan hampir saja menangis. Gadis itu memeluknya sangat erat sambil meminta bantuan, dia adalah Ratna yang kemudian tangannya ia genggam erat.
Hari-hari pun kembali ceria dengan gadis polos di sana, ia kembali menarik perhatian dengan mengajaknya bertengkar tapi selalu ada di setiap Ratna membutuhkan.
Seperti saat ia tenggelam di danau, tanpa pikir panjang ia menceburkan diri ke dalam danau untuk menyelamatkan Ratna. Hampir Ratna tenggelam tapi ia berhasil meraih tangannya, menariknya dan mendekapnya erat.
Diberikannya sebuah kecupan di detik-detik sebelum Ratna tak sadarkan diri, setelah itu barulah Ardi datang untuk ikut menolong.
Kisahnya hampir saja selesai dengan manis, terlebih Ratna memberikan jam tangan sebagai bukti pengakuannya. Sayang, hatinya memilih untuk mengalah kepada sahabatnya yang lain. Sebab hari itu pun saat ia mencuri dengar, Ratna begitu senang mendengar pernyataan cinta dari Ardi itulah mengapa ia memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan.
Saat ini pun rasanya ia tak pantas berada di sana, karena seharusnya yang duduk sambil memegang tangannya adalah Ardi. Maka ia pun berdiri, sempat memandang Ratna dan mengecup keningnya dengan lembut sebelum ia pergi keluar.
Jaya menyambutnya dengan sekaleng minuman, mereka duduk bersama sambil menunggu kabar terbaru dari Dokter.
"Kenapa kau berpakaian formal?" tanya Amus.
"Aku sekarang pengacara, aku baru selesai dari pekerjaan ku dan langsung kemari"
"Ternyata kau jadi orang sukses"
"Bagaimana dengan mu?"
"Kameramen"
"Benarkah?" tanya Jaya lebih tak percaya.
"Aku baru selesai meliput di daerah perkampungan yang sinyalnya jelek, itulah mengapa ponsel ku bermasalah" jelasnya.
"Kau juga jadi orang sukses" ujar Jaya.
"Tidak sesukses dirimu" balas Amus.
Tak berapa lama kemudian Sapardi datang kembali bersama Ardi, Jimy dan Angga. Begitu melihat Amus berada di sana Jimy langsung geram dan menghardiknya.
"Dari mana saja kau? sudah ku telpon berapa kali tapi tidak kau angkat"
"Maafkan aku... yang penting aku sudah datang kan?" ujar Amus.
Jimy masih ingin marah-marah tapi ia di hardik Rere karena mereka berada di rumah sakit yang artinya tidak boleh berisik, maka mereka pun memutuskan untuk mencari tempat lain.
Mereka banyak mengobrol untuk melepaskan kerinduan sambil menikmati makanan yang ada, kadang mereka tertawa kadang pun terdiam pilu sebab kisah itu memiliki banyak kenangan.
__ADS_1
"Ah... bukankah kita keterlaluan? gadis dolar itu masih terbaring di atas ranjang tapi kita malah makan-makan di sini" ujar Jimy merasa menyesal.
"Hehehe benar kata orang, saudara yang sering berkelahi adalah mereka yang saling merindukan ketika jauh" ucap Jaya.
"Dia itu satu-satunya adik ku yang rakus, dia tidak pernah membiarkan ku makan enak seperti ini"
"Ya, dia juga sangat teledor. Dia sering terluka karena tidak pernah hati-hati, baik luka kecil maupun luka besar" sahut Amus.
"Egois dan cinta uang adalah hal yang paling menonjol darinya, itulah mengapa ku beri nama gadis dolar" tambah Jaya.
Hahahaha
"Kau benar" ujar Ardi setuju.
Meski Ratna terkadang menyebalkan tapi dia adalah satu-satunya orang yang di anggap adik oleh mereka semua, gadis kecil yang selalu mereka jaga dengan sepenuh hati. Kini setelah besar saat ia mengambil langkah sendiri, baru juga ia menginjak usia dua puluh empat tahun nyawanya hampir meregang dan meninggalkan mereka semua.
Perasaan bersalah karena tidak bisa melindunginya dengan baik muncul di hati mereka, kemudian permintaan mendiang ibu Ratna yang menyuruh mereka untuk menjaganya menjadikan hati mereka semakin terpuruk.
Puas dengan makanan itu dan hanyut dalam kesedihan mereka kembali ke rumah sakit, tapi di bangku itu baik Sapardi atau Rere dan Mita tidak ada. Amus mencoba melihat ke dalam kamar dan Ratna pun sudah tidak ada di sana, mereka segera bertanya ke seorang perawat dan di beritahu kalau Ratna sudah di pindahkan ke ruang inap.
Mereka pun segera pergi ke ruangan itu, saat sampai di sana mereka menemukan Sapardi dan yang lain tengah berbincang dengan seseorang yang duduk di atas ranjang. Sebuah tawa yang sangat familiar terdengar renyah sampai setelah mereka masuk Ratna menengok dengan senyum yang mengembang.
"Oh kalian sudah kembali?" tanya Ratna.
"Ratna... " panggil Jimy yang segera menghampiri.
Ia memeluk Ratna di susul oleh Ardi dan Jaya, hanya Amus yang masih berdiri di sana sambil memandang lega.
"He-hei... kalian membuatku sesak!" teriak Ratna sambil mencoba melepaskan diri.
"Oh maafkan aku, aku sangat senang melihat mu sudah sadar" ujar Jimy.
"Aku baru sadar dan bisa mati gara-gara pelukan kalian" hardiknya.
"Ah sudahlah... aku masih lemas dan belum punya tenaga untuk meladeni kalian" ujar Ratna.
Mereka tertawa lega karena meski Ratna terlihat lemah ia masih bisa mengomel, itulah tanda bahwa Ratna baik-baik saja.
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Amus pelan saat mereka beradu pandang.
"O-oh... aku sudah lebih baik" jawab Ratna yang merasa canggung sebab ia melihat jam tangan yang di kenakan Amus mirip dengan jam tangan yang ia berikan dulu.
Karena kini Ratna sudah lebih baik maka mereka pun dapat berhenti kuatir, Dokter juga mengatakan Ratna hanya perlu istirahat beberapa hari lagi untuk memulihkan tubuhnya.
Angga dan Mita pamit pulang lebih dulu karena mereka sudah terlalu lama meninggalkan anak mereka yang masih kecil, di susul oleh Rere dan Jimy dua hari kemudian. Tinggallah Ardi, Jaya dan Amus yang masih berada di sana, tentu termasuk Sapardi yang tidak mau meninggalkan putrinya barang selangkah pun.
"Siang... aku bawakan makanan kesukaan mu" ujar Irma yang baru pulang bekerja.
"Ah... kau memang sahabat terbaik ku" ujar Ratna yang dengan senang hati menerima makanan itu.
"Untuk ku mana?" tanya Ardi.
"Kau bisa mencarinya sendiri" tukas Irma.
"Jangan seperti itu.. aku ingin makan hasil masakan mu" goda Ardi.
"Tunggu setelah kau membawa ku ke penghulu" balas Irma.
"Bisakah kalian bicara di luar saja? aku hanya ingin fokus pada makanan ku bukan kisah romansa kalian! ah.... kenapa jaman sekarang orang pacaran tingkahnya sangat menyebalkan" keluh Ratna.
"Sensi sekali, baiklah kami keluar" ujar Ardi yang kemudian membawa Irma pergi.
__ADS_1
"Pacaran? maksudnya Ardi dan gadis itu?" tanya Amus heran.
"Oh... ya, mereka pacaran bahkan berniat untuk tunangan" jawab Ratna sambil kembali memasukkan makanan ke mulutnya.
"Bukankah kau yang menjadi pacar Ardi? atau... kalian sudah putus?" tanya Amus sebab ia ingat hari itu di saat Ardi menyatakan cinta Ratna dengan senang menerima pernyataannya.
"Dari mana kau dengar gosip itu? aku dan Ardi tidak pernah berpacaran"
"Aku mendengar langsung pembicaraan kalian di malam setelah kelulusan"
"Tidak mungkin!"
"Kenapa tidak mungkin? aku mendengar Ardi menyatakan cintanya padamu dan kau senang mendengarnya"
"Karena jika kau mendengarnya kau pasti tahu aku menolaknya, aku memang senang mendengarnya tapi bukan berarti aku menerimanya!"
"Apa maksud mu? bagaimana bisa kau senang tapi kau tolak?"
"Karena aku mencintaimu! aku sudah berniat menyatakan cintaku tapi kau tiba-tiba pergi begitu saja tanpa berpamitan" ujar Ratna mengakhiri debat mereka yang menguras tenaga.
Amus terdiam tentu karena ia baru saja mendengarkan pernyataan cinta dari gadis yang selama ini ia cintai, sementara Ratna yang baru sadar tentang apa yang ia katakan menjadi salah tingkah dan berpura-pura makan seperti biasa.
"A-aku mau ke toilet dulu.. " ujar Amus yang merasa canggung.
"Oh, baiklah" jawab Ratna.
Beberapa hari kemudian barulah Dokter mengijinkannya untuk pulang, dengan perasaan senang Ratna memilih pulang ke kosannya sebab ia masih akan bekerja lagi jika sudah cukup istirahat.
Sapardi yang trauma akhirnya menuruti keinginan Ratna dan ikut tinggal di kosan itu, sementara Ardi dan Amus pun pamit pergi.
Tiga hari setelah keluar dari rumah sakit Ratna istirahat di rumah baru kemudian masuk kerja lagi, teman-temannya menyambut kedatangan Ratna dengan gembira bahkan mengadakan pesta sebagai perayaan.
Ratna pun kini kembali ke hari-harinya yang biasa, namun kini Sapardi melarangnya untuk bekerja ekstra sehingga ia keluar dari pekerjaannya di salon. Meski begitu ia masih suka menata rambut dan Irma menjadi modelnya seperti biasa.
Tiga bulan kemudian Irma memberitahu bahwa dia bertunangan dengan Ardi, tentu saja itu merupakan berita yang sangat hebat. Ia tak menyangka Ardi bisa sangat serius padahal umur mereka terbilang masih muda untuk ke jenjang pernikahan.
Di kampung Ardi mengundang Jimy dan Amus untuk merayakan pertunangan dirinya dengan pesta kecil, sekalian meminta maaf karena tidak mengundang mereka. Sementara itu Irma juga mengadakan pesta kecil untuk sahabat-sahabat terdekatnya.
Mereka berpesta semalaman penuh, memanfaatkan waktu libur mereka di esok hari yang bisa di pakai tidur sepuasnya. Tapi Ratna hanya tidur beberapa jam saja dan sudah berpakaian rapi sebab Jaya meminta bertemu.
"Apa aku kelihatan kacau?" tanya Ratna saat mereka bertemu.
"Tidak, kau kelihatan cantik seperti biasa" jawab Jaya.
"Dasar! semalaman aku berpesta untuk merayakan pertunangan Irma dan Amus karena itu ada lingkaran hitam di bawah mataku"
"Kau menutupnya dengan make up yang bagus, tidak terlihat ada lingkaran hitam di sana" ujar Jaya.
Ratna tersenyum atas pujian itu dan mereka pun masuk ke dalam kafe, seperti biasa Ratna memesan hidangan ayam kesukaannya. Melihat Ratna makan dengan lahap ia merasa senang dan terus memperhatikan Ratna.
"Jangan menatap ku seperti itu, kau membuatku malu" ujar Ratna tak nyaman.
"Hahaha maaf, kau sangat lucu saat sedang makan" ujar Jaya.
Mereka melakukan perbincangan ringan sampai makanan itu habis, untuk beberapa saat Jaya menikmati momen kebersamaannya dengan Ratna yang begitu damai sebelum ia mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ratna bertemu.
"Ratna... aku ingin mengatakan sesuatu padamu" ujar Jaya mulai serius.
"Apa?" tanya Ratna.
"Aku... ingin kita akhiri hubungan ini"
__ADS_1
"Apa?" tanya Ratna seolah dia salah dengar.