Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 83 Bucket Bunga


__ADS_3

Entah ia melakukan kesalahan apa, tapi jika memang ia berbuat salah sudah pasti Jaya akan marah padanya. Dalam kebingungan itu Jaya hanya mengatakan hubungan mereka tidak bisa di teruskan, sebab tidak ada masa depan bagi hubungan itu.


Dalam benaknya Ratna terus berfikir namun tak ada jawaban yang bisa menjelaskan situasi itu, ia hanya bisa menerima keputusan Jaya tanpa memaksanya untuk memperjelas alasannya.


Kalung dari Jaya sebagai hadiah pun ia kembalikan, jika memang harus berpisah Ratna tak mau ada satu pun barang yang tertinggal.


Irma menjadi satu-satunya tempat curhat bagi Ratna untuk mencurahkan isi hatinya yang kacau, dalam keadaan bingung Ratna terus mengoceh tentang nasibnya yang malang dalam hal percintaan.


"Seolah dunia sedang mengolok ku, pertama Kak Angga yang tiba-tiba berpacaran dengan Mita bahkan sampai memutuskan untuk tunangan di masa kuliah Mita yang belum lama. Lalu Rere dan Master yang berhasil jadian meski sempat putus tapi balikan lagi dan awet sampai sekarang, dan kau dengan Ardi yang ternyata sudah lama pacaran tanpa aku ketahui. Mengapa kisah cinta kalian sangat mulus?" ujar Ratna bertanya-tanya.


"Salah jika kau katakan kisah cinta kami tulus, kau yang jomblo tidak tahu rasanya khawatir saat pacar jauh dan tidak tahu apa yang sedang dia lakukan. Belum lagi rasa rindu dan susahnya berkomunikasi"


"Setidaknya pada akhirnya kalian tetap bersama kan? bahkan sampai tunangan" ucap Ratna.


"Yah... mungkin ini memang nasib ku, sebaiknya aku terima dengan lapang dada" lanjutnya dengan perasaan yang masih kacau.


Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan Ratna memutuskan untuk move on, ia menyibukkan diri dengan pekerjaan dan bersenang-senang dengan teman-temannya.


Ia pikir akan sulit melupakan Jaya sebab hubungan mereka sudah sampai angka bulanan, tapi ternyata ia mampu melakukannya. Mungkin karena sejak awal Ratna tak begitu menaruh hati kepada Jaya sehingga ia bisa dengan cepat move on.


Empat bulan kemudian sebuah surat undangan datang kepadanya dan nama yang tertulis di sana adalah Irma dan Ardi.


"Kau.... akan menikah?" tanya Ratna tak percaya.


"Ya... dan kau punya waktu dua minggu untuk mencari seseorang yang bisa kau gandeng" jawab Irma.


Ah.. hahahaha


"Irma... selamat... selamat... " ujar Ratna yang ikut bahagia untuk sahabatnya itu.


"Terimakasih.. " jawab Irma membalas pelukan yang di berikan oleh Ratna.


Masih ada waktu dua minggu dan Ratna memutuskan untuk mencari kadonya dari sekarang, setelah pulang kerja dia akan pergi ke mall hanya untuk berjalan-jalan mencari kado yang cocok.


Tentu bukan hal mudah karena ia akan berikan hadiah untung pasutri muda, sesuatu itu haruslah bagus, dapat di manfaatkan dengan baik dan cocok untuk pasangan.


Berhari-hari ia mencari sampai akhirnya memutuskan untuk membeli sepasang piyama tidur untuk suami istri, meski masih ada waktu satu minggu lagi tapi Ratna memutuskan untuk memberikannya langsung kepada Irma.


"Kau ini... kami belum sah menjadi suami istri" ujar Irma saat mendapat hadiah itu.


"Pada hari H nanti aku akan datang sebagai keluarga mempelai pria, Ardi adalah kakak ku dan untuk itu aku harus berada di sampingnya" ujar Ratna.


"Aku mengerti, tolong kau jaga dia untuk satu minggu ini. Pastikan dia tetap sehat dan fit sampai waktu pernikahan kami tiba"


"Tentu saja, lalu... bagaimana dengan pekerjaan mu?"


"Setelah menikah aku akan berhenti kerja, aku ingin menemani ibu mertua ku di rumah. Selama ini dia selalu sendirian, aku ingin di usianya yang sudah tak lagi muda ada seseorang yang menemaninya"


"Kau memang calon menantu idaman" puji Ratna.


Ratna memutuskan untuk mengambil libur dua hari sebelum pernikahan Ardi dan Irma di berlangsungkan, ia pulang ke kampung dan di sambut senang oleh ayahnya. Keesokan harinya keluarga Amus pun pulang untuk ikut dalam pesta pernikahan itu, seperti biasa kini geng itu telah berkumpul dan menghabiskan waktu bersama di rumah Jimy.


"Aku tidak menyangka kau yang akan lebih dulu melangkah ke pelaminan" ujar Jimy.


"Hehe aku juga tidak percaya" jawab Ardi.


"Setelah ini, kira-kira siapa yang akan menyusul?" tanya Ratna.


"Aku punya firasat itu adalah kau, bukankah hubungan mu dengan Rere sudah mulai serius?" sahut Amus.


"Tidak.. aku masih sibuk dengan pekerjaan ku. Aku ingin membuat cabang baru karena itu aku harus lebih fokus dalam bekerja"


"Mungkinkah itu kau?" terka Ardi.


"Kurasa tidak, Jaya baru saja memutuskan ku" ucap Ratna.


"Apa? ta-tapi kenapa?" tanya Jimy kaget.


"Entahlah, dia tidak memberikan jawaban pasti"


"Sejak dulu sifatnya memang susah serius, itulah mengapa aku tidak setuju dulu kau pacaran dengannya" ujar Ardi.


"Sudahlah... aku tidak ingin membahasnya" ucap Ratna.


Mereka mengubah topik pembicaraan, namun malam itu Ratna membubarkan mereka setelah lewat jam sepuluh malam. Itu karena permintaan Irma yang ingin calon suaminya tetap sehat dan fit, akhirnya mereka pun pulang ke rumah masing-masing.


"Sudah lama sekali buka?" tanya Amus saat mereka berjalan bersama untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Apa?"

__ADS_1


"Aku lupa kapan terakhir kali kita berjalan bersama seperti ini, rasanya itu sudah sangat lama sekali"


"Oh ya... saat-saat kita masih sekolah dan memiliki banyak waktu untuk bermain" ucap Ratna.


Tiba di depan rumah Ratna mereka berhenti melangkah, pada saat itu Ratna melihat tatapan Amus yang menatapnya lekat-lekat.


"Aku tahu ini sudah sangat terlambat, harusnya ku katakan beberapa tahun yang lalu. Tapi... maafkan aku karena telah pergi tanpa berpamitan" ujar Amus bersungguh-sungguh.


"Ah... itu.. tidak masalah, aku sudah melupakannya" jawab Ratna yang terasa canggung.


"Baiklah, selamat malam" ucap Amus.


"Selamat malam" balas Ratna.


* * *


Hari Bahagia itu pun tiba, bak dejavu Ardi, Jimy dan Amus sudah rapi dengan stelan jas mereka. Pagi sekali mereka sudah berkumpul di depan rumah Amus menunggu sang putri yang masih bersiap.


"Kenapa seorang gadis selalu lama untuk berdandan?" tanya Jimy.


"Itu artinya dia gadis yang normal" jawab Ardi.


Sedang Amus sibuk dengan dasinya yang tidak bisa rapi setelah beberapa saat kemudian barulah Ratna keluar dari rumahnya, ia mengenakan gaun indah yang membuatnya tampil semakin cantik.


Para pria itu terpana melihat Ratna yang dengan anggun berjalan ke arah mereka, ia terus berjalan dan melewati Ardi hanya untuk membetulkan dasi Amus yang tidak rapih. Kali ini dalam hati Ardi dia senang, sebab Ratna tetap pada pendiriannya yang tidak berubah.


Setelah siap semua mereka pergi dengan menggunakan mobil ke gedung tempat berlangsungnya acara, saat tiba mereka di sambut dengan sangat meriah.


Acara berlangsung dengan cukup khidmat sampai saat inti dari acara tersebut yaitu akad nikah, tanpa terasa Ratna ikut menitikkan air mata setelah Ardi berhasil melaksanakan akad dengan sah.


Ia dan teman-temannya ikut bersorak dan bergembira atas sahnya pasangan itu menjadi suami istri, tiba dalam acara lempar bunga Ratna berniat ikut untuk memeriahkannya.


Para gadis berkumpul di belakang menunggu Irma melemparkan bunganya, mereka berteriak histeris saat Irma berpura-pura melempar.


"Baiklah... aku ulangi.. satu.... dua.... tiga... " teriak Irma.


Tapi bucket bunga itu tidak ia lempar, justru ia berjalan ke arah para pria dan memberikannya kepada Amus. Sontak hal itu membuat semua orang heran, sedang Ratna mulai gugup saat Amus berjalan ke arahnya.


Tanpa di duga Amus berlutut di hadapan Ratna sambil mengeluarkan sebuah cincin yang ia sodorkan kepada Ratna.


"Ratna... maukah kau menikah dengan ku?" tanya Amus.


"A-apa? ta-tapi... kau... kan punya pacar... " ujar Ratna syok.


Sebenarnya pada saat seseorang menelpon Amus waktu itu ibunyalah yang menelpon, Amus sengaja keluar untuk menerima telpon itu sebab di dalam terlalu berisik. Saat ia kembali dan di tanyai siapa yang menelpon ia hanya bergurau kalau itu pacar, bahkan foto wanita yang bersamanya itu adalah sepupunya dari keluarga ayahnya.


Ia tak menyangka gurauan itu ternyata di anggap benar oleh yang lain termasuk Ratna, saat masih belum sadar dari kecelakaan yang menimpanya ia bicara dengan Mita dan Rere.


Dari mereka berdua Amus tahu bahwa Ratna mencintainya, apalagi hari itu Ratna telah mengungkapkan isi hatinya secara tak sengaja.


Setelah berpikir cukup lama ia pun memutuskan untuk bicara dengan Jaya, ia tahu Ratna dan Jaya sudah berpacaran tapi ia juga sudah bosan untuk terus mengalah.


Ia mengatakan bahwa akan menyatakan perasaannya kepada Ratna meskipun status Ratna adalah pacar Jaya, meskipun ada kemungkinan dia akan di tolak.


"Ratna.... bisakah kau jawab sekarang? aku mulai pegal" ujar Amus.


Hahahaha


"Dasar... kalau begitu berdiri!" hardik Ratna dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku tidak akan berdiri sampai kau menjawabnya"


"Terima... Terima... Terima... " ujar Jaya yang baru datang.


"Kau..." panggil Ratna.


"Aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita bukan untuk melihatmu menjomblo, tapi untuk mengakhiri harapan mu dan menjadikannya kenyataan" ujar Jaya.


"Sial! kau membuatku menangis.. " gumam Ratna kini dengan pipi yang basah.


Ratna beralih menatap Amus yang terus memandangnya dengan penuh harapan, sambil mengangguk Ratna menjawab.


"Aku... bersedia.. "


Yey.... uuu.....


Sorak para tamu undangan dan kelurga yang menyaksikan momen itu, Amus segera memasangkan cincin itu di jari manis Ratna kemudian memberikan bucket bunga yang di berikan Irma.


Mereka saling memeluk di iringi tepuk tangan yang meriah, tertawa bahagia melepaskan beban yang selama ini terpikul berat di pundak masing-masing.

__ADS_1


Dua tahun kemudian.


"Kau sudah memutuskan?" tanya Amus.


"Yang ini bagus, tapi yang ini juga bagus. Menurut mu kita pilih yang mana?" tanya Ratna.


"Kalau beli keduanya"


"Menurut mu ukurannya pas tidak?" tanya Ratna lagi.


"Ukurannya cukup besar, untuk bayi yang baru lahir tentu saja ini akan kebesaran" jawab Amus.


"Baiklah.. kita beli keduanya" ujar Ratna memutuskan.


Mereka pun mengambil dua pakaian bayi itu ke kasir dan minta untuk sekaligus di bungkus kado, setelah selesai membayar mereka segera menuju rumah sakit.


Rupanya yang lain sudah hadir di sana, Ratna dan Amus yang baru sampai pun segera ikut bergabung.


"Hai... cantik... oh.. dia manis sekali! ini, aunty belikan hadiah untuk mu" ujar Ratna kepada bayi yang di gendong oleh Ardi.


"Boleh aku menggendongnya?" tanya Amus.


"Tidak! gendonglah anak mu sendiri, kalau sampai kau salah gendong anak ku bisa kesakitan" tolak Ardi.


"Aku juga ingin menimang anak ku sendiri, tapi ibunya bahkan belum siap ku ajak ke penghulu" sahut Amus.


"Tunggulah setahun lagi sampai kuliah ku selesai, sekian lama aku bekerja akhirnya bisa kuliah jadi tolong mengertilah" tukas Ratna.


"Iya sayang.... " jawab Amus sambil mengusap kepala Ratna.


Semua tertawa melihat pasangan yang masih di mabuk asmara dan tersenyum melihat bayi mungil yang baru lahir ke dunia, kelak dia pun pasti punya kisah cintanya sendiri dan julukannya sendiri.


......TAMAT......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


NB :


Berikut adalah wawancara author dengan para pemain, sedikit tambahan agar readers lebih mengenal dengan para tokoh.


Pertanyaan : apa makanan favorit mu?


Ratna : tentu saja ayam, apalagi ayam yang di goreng dengan menggunakan tepung. Itu sangat enak sekali sebab di makan tanpa nasi pun bisa.


Amus : Tidak ada yang spesifik, tapi masakan ibu adalah makanan yang paling enak.


Jimy : Jika di tanya makanan favorit aku lebih suka cemilan, mungkin karena aku pintar masak dan selalu makan sendiri jadi cemilan lebih ku sukai sebab cemilan adalah pendamping saat main PS.


Ardi : Sebenarnya aku suka yang manis dan lembut, seperti gadis.


Pertanyaan : Menurut mu apa perbedaan teman, kawan dan sahabat?


Ratna : Teman itu adalah orang kita kenal namun hanya sebatas itu saja, kawan itu adalah orang yang selain kenal tapi juga cukup dekat dengan kita tapi tidak mudah di percaya, dan sahabat adalah orang yang selalu ada di setiap kita butuh.


Amus : Tidak ada bedanya.


Jimy : Teman itu hanya saling mengenal, kawan itu sering minta traktir dan sahabat itu adalah orang pertama yang akan tertawa saat kita terjatuh.


Ardi : Teman dan kawan aku rasa tidak ada bedanya, mereka orang yang sering bertemu dengan kita dan menghabiskan waktu bersama sedang sahabat adalah orang yang kita anggap keluarga sendiri.


Pertanyaan : Apa itu cinta?


Ratna : Sesuatu yang sulit di ungkapkan, kadang menyakiti hati tapi juga membuatnya nyaman secara bersamaan.


Amus : Ibu dan Ratna.


Jimy : Harga yang harus di bayar dengan banyak pengorbanan, entah itu rasa sakit atau ikhlas.


Ardi : Getaran di hati saat melihat seseorang yang terlihat istimewa, kadang membuat munculnya nafsu tapi sebenarnya dia teramat suci, hanya kita sebagai wadah yang penuh dosa sehingga terkadang menodainya.


Pertanyaan terakhir : Pertanyaannya bebas kalian pikirkan sendiri, jawab dengan cepat pilih Cinta atau Sahabat?


Ratna : Sahabat


Amus : Sahabat


Jimy : Cinta, sahabatku penuh pengertian jadi mereka akan memaafkan ku.


Ardi : Tidak keduanya.

__ADS_1


Dengan begini berakhir sudah kisah Gadis Dolar, author mengucapkan terimakasih kepada para readers yang telah mau mensuport kisah ini. Semoga kita bisa mengambil hikmah di balik kisah Gadis Dolar dan membuang yang jeleknya.


Author dan segenap para tokoh mengucapkan terimakasih dan sampai jumpa.


__ADS_2